Wednesday, July 1, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Trauma van Verleden



Genre: Tragedi


Dokumentasi pribadi



Bogor, 1 Juli 2015

Krieet...







Seorang gadis memasuki sebuah ruangan seraya menjepitkan hidung lancipnya. Sesekali tangannya mengibas-ibas. Walau sudah dibersihkan berkali-kali, gudang tetap saja gudang. Selalu identik dengan ruangan yang berdebu, bersarang laba-laba, penuh tikus dan kecoa, serta suram (kalau lampunya tak dinyalakan). Sebetulnya ia malas untuk mendatangi gudang ini lagi. Ia benci dengan segala yang kotor-kotor. Selaput hidungnya itu begitu lemah. Maka dari itu, beberapa kali ia bersin-bersin.

Di tangan kiri, ia sudah membawa kemoceng. Ia terbatuk-batuk saat menyapu debu-debuan yang menutupi hampir seluruh perabot, perkakas, dan barang-barang antik yang berada di gudang ini. Matanya pun ikutan menyapu. Ia heran dengan ayahnya. Kalau dipikir, barang-barang ini kan bisa dijual. Pasti bernilai-jual tinggi. Daripada mengendon di gudang, lebih baik jual saja. Museum pasti berani bayar mahal. Namun ayahnya terus saja bersikukuh untuk menyimpan barang-barang tua ini. 

Matanya tertumbuk pada satu lukisan tua. Dibuat dengan cat minyak yang katanya paling berkualitas di jamannya. Lukisan seorang perempuan muda yang mengenakan gaun kebangsawanan warna ungu terang--mendekati marun. Perempuan ini terlihat begitu sebaya dengannya. Cantik juga. Senyumannya menawan. Sama sekali tak terlihat bahwa perempuan ini sebetulnya gadis Eropa. Lebih mirip perempuan Asia soalnya. Itu kalau mengecualikan hidung, rahang, dan dagunya. 

Kata ayah, nama perempuan ini Sylvie Van Huis. Blasteran Belanda, Tiongkok, Menado, Bali, dan Jawa. Juffrouw, jij erg charmant, katanya dalam bahasa Belanda. Sampai sekarang, ayahnya--yang dari buyut dan buyut sebelumnya--masih rutin mengajarkan tiap generasi bahasa Belanda. Kata mereka, jangan pernah melupakan warisan leluhur. Ia tak boleh lupa bahwa akarnya itu dari negeri Kincir Angin. 

Ia terkekeh. Iya sih, ayahnya benar. Tapi selama ini dirinya dan keempat adiknya itu tinggal di Indonesia. Buat apa pula harus menguasai bahasa leluhur? Toh, kepada siapa ia harus gunakan bahasa Belanda ini, selain pada keluarga besarnya yang otomatis masih bisa berbahasa Belanda, terlebih generasi ayahnya? 

Gadis itu masih terus memandangi lukisan Nona Sylvie tersebut. Ah, mengapa ia baru sadar sekarang? Rupa Nona Sylvie ini kan cukup mirip dengannya. Matanya dan mata Nona Sylvie itu sama-sama mungil cantik. Sama-sama mancung. Sama-sama tirus. Sama-sama berahang kokoh ala wanita-wanita Kaukasoid. Pipinya sama-sama tembam dan berlesung pipit (walau berapapun massa tubuhnya). 

"Zus," seru seseorang. Ternyata adiknya yang nomor dua, Rafael. Rafael ini sangat Eropa perawakannya. Terlebih bola matanya yang biru langit. "Oproep van vader, snel!"

Yah, seperti itulah suasana di rumah gadis tersebut. Bahasa pengantarnya itu bahasa Belanda. Sesekali--dan amat jarang sekali--bahasa Indonesia digunakan. Paling bahasa Indonesia hanya digunakan saat berbicara ke pembantu rumah tangga serta sopir yang sering datang dari pedalaman Jawa. 

"Godverdomme!" Gadis itu menekuk bibir. "Vader maunya apa sih? Tadi suruh aku buat bersih-bersih gudang, sekarang dia malah panggil aku buat menghampirinya. Ck."

"Sabar, Zus. Sabar. Orang sabar itu pantatnya lebar." Rafael nyengir, berusaha menghibur sang kakak. 

"Sama sekali tidak lucu, Rafael." Matanya nyalang, sang adik tetap saja belum surut nyalinya untuk terus menggodai sang kakak. 

"De shijten! Aku tak berniat untuk melawak, kok. Aku hanya berusaha menenangkan emosi Zus Mona. Tapi akhir-akhir ini kau memang mudah sekali tersinggung. Ada apa? Apa karena Vader selalu membahas soal pernikahan dalam beberapa hari terakhir ini?"

Rafael langsung bergegas menghampiri pintu masuk gudang itu sebelum dirinya mengacak-acak rambut si adik yang cukup tebal dan kaku. Namun beberapa menit kemudian, Rafael menjulurkan kepalanya dan berkata, "Well, aku lupa bilang, Vader ingin membicarakan sesuatu sama Zus Mona. Katanya, nanti sore calon berikutnya mau datang."

Komplet sudah. Selain kesal, Mona juga menghela napas. Mengapa ayahnya tak mau memberikannya kesempatan untuk mencari pasangan sendiri? Pun bukan salah dia jika sampai sekarang belum kunjung mendapatkan pasangan atau menikah. Ayahnya sendiri yang sejak masih bersekolah itu gencar melarangnya untuk berpacaran dahulu. 

Ah semoga saja yang ini cocok. Ia bosan terus menerus harus diperkenalkan oleh banyak lelaki baik oleh ayah, ibu, maupun Om dan Tante. 

Mona lalu balik memandangi Nona Sylvie lagi. Ia tersenyum pasrah. Dalam benaknya, dirinya penasaran apakah Nona Sylvie pernah mengalami hal yang sama dengannya. Kalau iya, apa reaksinya? Ah, pasti pernah. Bukankah, dari buku Sejarah-nya semasa sekolah dulu, pernah diceritakan bahwa pemerintah Belanda menetapkan hierarki dalam masyarakat Hindia Belanda? Golongan Eropa, Pribumi, dan Timur Asing. Sudah jelas Nona Sylvie pernah senasib dengannya. Pasti ayah Nona Sylvie juga sekolot ayahnya. Sama-sama mengesalkan dalam hal kehidupan asmara. Banyak maunya. Jangan-jangan Nona Sylvie tak boleh sembarangan memilih pasangan? Pasangannya harus berasal dari kaum elit, syukur-syukur dari golongan Eropa. 

"Juffrouw, apa yang kau lakukan dulu jika benar bernasib sama denganku? Kau dulu senasib denganku, kan?" kata Mona berbicara pada lukisan tersebut seolah-olah lukisannya hidup. 

Kriiiet! 

De shijten! Mona mengertakkan gigi. Awas saja kalau Rafael datang lagi. Akan ia cekik kalau masih merundunginya. Godverdomme, anak satu itu sungguh menyebalkan. 

Tapi ternyata dugaannya salah. Yang masuk, adiknya yang nomor dua, yang masih duduk di kelas 11. Erika namanya. Orangnya unik. Wajahnya memang lebih Eropa daripada dirinya. Namun Erika malah menggemari segala hal yang berbau jepang-jepangan. Bahasa Jepang-nya sama lancarnya dengan bahasa Belanda. Dan kini tampangnya kusut. Pasti karena ayahnya memarahinya lagi. 

Mona tersenyum geli. Erika semakin merengut, balas nyalang. 

"Ada apa lagi? Pasti Vader memarahimu gara-gara menyetel lagi lagu-lagu Jepang itu, ya kan?" terka Mona nyengir lebar. Kekesalannya pada Rafael dan ayahnya perlahan luntur. 

Erika mengangguk kesal. "Vader itu kolot sekali. Lagian apa salahnya punya selera musik yang berkiblat ke Jepang daripada ke Belanda? Jujur saja, tak hanya lagu-lagu berbahasa Belanda, sedikit sekali lagu-lagu Indonesia yang aku suka. Lagian lagu-lagu Belanda itu tak ada yang menarik perhatianku. Aku lebih suka lagu-lagu Jepang. Lebih enak iramanya."

Mona terpingkal. "Kamu ini beda sekali dengan Rafael. Dia malah hapal mampus lagu-lagu apa saja yang lagi tren di Belanda sana. Mulai dari Armin van Buuren, Krystl, I Am Aisha, O'G3NE, Trijntje Oosterhuis, Leonie Mejer, Kensington, sampai Dotan. Aku bahkan sampai bosan mendengarkan Mooie Dag itu."

Erika ikut terpingkal dari awalnya senewen. Lalu gadis berambut keriting itu mulai menyanyikan sebagian lirik dari lagu yang dinyanyikan oleh Jayh tersebut.

"...een hele mooie dag... oh-oh-oh-oh.... een hele mooie dag... oh-oh-oh... een hele mooie dag..."














Mona pun mulai terpengaruh untuk ikut menyanyikannya. Suasana dalam gudang itu jadi bising. Mungkin perlahan Nona Sylvie akan menggerakkan otot-otot lengannya untuk menarik diri mengikuti irama lagu tersebut.

Erika masih terpingkal. Pun dengan Mona. Di tengah-tengah itu, Rafael masuk lagi. Mona mulai menyurutkan tawanya. 

"Apa lagi? Kau masih mau mengejek kakakmu ini? Hah?" tukas Mona. 

"De wachten, aku ke sini datang dengan maksud baik, mengapa terus dicurigai? Lagipula,--" Rafael mendelik ke arah Erika. "--hei, ada apa? Tumben. Bukannya katamu lagu-lagu Belanda itu tak semenarik lagu-lagu Jepang?" Rafael mengikik. 

Erika tersipu. "Memang. Dan kalau aku menyanyikannya juga, belum tentu aku suka dengan lagu itu. Kau jangan salah paham dulu, snap het?"

"Dasar!"

"Oh iya, kalian sadar tidak?" Erika mulai beralih ke topik lain. 

"Sadar apa?" Rafael dan Mona menyahuti berbarengan. Mona merasa tersinggung, Rafael terkekeh. 

"Mungkin ini hanya perasaanku saja. Tapi, aku merasa sepertinya--baik Vader, Om, maupun kerabat yang lainnya--mereka begitu antipati dengan segala hal berbau Jepang. Sinis sekali. Kakak ingat kan, waktu kau membawa temanmu itu ke rumah. Begitu tahu namanya, Vader langsung berang dan tak segan-segan menyuruhnya pulang. Yah memang tak blak-blakan. Tapi perlakuan Vader itulah yang kurasa menyebabkan si Kenji itu pulang."

Kepala Mona berjengit. 

"Benar juga," ucap Rafael. "Bahkan tanpa mau berpikir dulu, Vader langsung menolak mentah-mentah keinginanku untuk kuliah di Jepang. Kalau saja Vader mau, aku sudah di Tokyo sekarang ini."

Erika mengangguk. "Sebetulnya ada apa?"

Baik Mona maupun Rafael mengangkat bahu nyaris berbarengan. Lagi-lagi. 

*****

Tarakan, Desember 1943

Selama ini, rakyat hanya tahu kekejaman bangsa kate itu dari media yang amat begitu memihak kaum pribumi. Yang mereka tahu, kaum pribumi disiksa sedemikian rupa oleh tentara Nippon. Mereka dipaksa kerja romusha. Bikin ini-bikin itu. Tak di Indonesia, tak pula di luar Indonesia, nasibnya sama saja. Bekicot jadi makan siang paling lezat. Karung goni jadi selimut jenazah sebelum dibaringkan di liang lahat. 

Rakyat Indonesia, khususnya pribumi, tak akan pernah tahu bahwa penderitaan mereka tak sebanding dengan golongan Eropa. Golongan yang sebelum Nippon datang itu begitu digdaya, kini nyaris seperti zombie. Sebagian dari mereka yang tertangkap itu diasingkan tentara Nippon ke sebuah titik yang sama sekali tak terdeteksi oleh rakyat Indonesia hingga berpuluh-puluh tahun setelahnya. Mereka diletakkan di dalam sebuah kamp konsentrasi yang dari luar lebih mirip sebuah loji. Tentara Nippon selalu menjagai tempat itu siang dan malam. Masyarakat sekitar selalu mengira tempat itu sebagai sebuah barak saking cukup banyaknya tentara Nippon berkerumun di sana. Itulah yang diharapkan pemerintah Jepang di Indonesia. 

Pemerintah Jepang sama sekali tak mengharapkan masyarakat Indonesia tahu apa sesungguhnya bangunan tersebut. Mereka selalu bilang itu barak, juga sebagai kantor pemerintahan. Selalu seperti itu. Kalau ada pribumi yang bisa masuk ke dalamnya, ada beberapa titik di dalam bangunan itu yang sungguh disegel. Terlebih ruang bawah tanah. 

Dan di tengah kegelapan mulai datang mencekam, beberapa tentara Jepang bergerak dengan sangat hati-hati menuju ruang bawah tanah. Mereka sangat menjaga sekali yang namanya janji. Haram namanya--melanggar janji tersebut. Kerahasiaan laboratorium dan kamp konsentrasi itu harus dijaga ketat. Tak satu pun boleh tahu keberadaan ruang bawah tanah tersebut. 

"Oi, kali ini giliranku, yah, untuk mencicipi gadis itu," pinta salah seorang tentara yang memiliki tahi lalat di sekitar bibir bawah. "Aku sudah lama sekali ingin bisa merasakan tubuh gadis tersebut. Ayolah, yakusoku shita nee?"

Teman-temannya terpingkal. Cukup keras. Mereka tak usah risau. Toh sudah berada di bawah tanah. Kecil kemungkinan ada pribumi yang mendengar. 

"Silakan, silakan," Yang lain menanggapi. "Kita semua cukup adil, kok. Aku juga tahu kau begitu berhasrat sekali melihat gadis Belanda yang satu itu. Tiap malam, kau selalu menyebut-nyebut namanya. 'Amanda, Amanda,...' Hahahaha...."

"Sampai-sampai air liurmu itu menetes-netes hingga bantal,"

"Itu menjijikan sekali! Hontou ni kowai!"

"Sialan!" rutuk tentara yang tadi terkekeh. Begitu teman-temannya membukakan jalan, ia mempercepat langkahnya menuju suatu ruangan kecil yang berisi setidaknya oleh lima orang. Tentara tersenyum-senyum melihat gadis berambut emas tersebut. Cantiknya. Tubuhnya sungguh berisi. Walau tubuhnya kumal, kesempurnaan fisik gadis itu sama sekali masih terjaga.

"Oi," Salah seorang dari tentara yang menjaga ruangan itu terkekeh. "Sepertinya kau benar-benar sudah tidak sabar yah?"

"Sialan, sepertinya sudah banyak yang tahu rahasia kecilku yah," Tentara itu terkekeh-kekeh. 

Kedua penjaga itu tertawa. Lalu, begitu pintu dibukakan, tentara itu memanggil si gadis tersebut. Gadis itu paham. Pasti ia harus memuaskan syahwat tentara-tentara Jepang yang tak pernah ada habisnya itu. Sebelum menghampiri tentara Jepang itu, salah seorang temannya yang ternyata sepupunya itu membisikkan sesuatu dalam bahasa Belanda.

"De rustig, Mona. Aku pasti akan mencari cara bagaimana kita bisa keluar dari tempat ini. Aku juga sudah mulai bosan hanya menjadi pelampiasan seks tentara-tentara Jepang ini." Setelah berkata seperti itu, satu-dua-tiga tendangan didapatkan sepupu dari gadis bernama Mona tersebut. Mungkin disangka para tentara Jepang tersebut, sang gadis tengah menjelek-jelekkan pemerintah Jepang; atau tengah merencanakan untuk kabur. 

*****

Jakarta, Desember 1945

Berbulan-bulan sudah terlewati. Konon tempatnya Mona tinggal sekarang itu sudah berubah menjadi sebuah ibukota dari negara yang baru saja terbentuk Agustus silam. Namanya bukan Hindia Belanda lagi. Kata masyarakat sekitar, namanya Indonesia. Untuk ia sendiri, cukup senang dengan kemerdekaan Indonesia. Apalagi setelah pasukan kate mundur dari tanah air di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. 

Yah, Mona memang lahir di Indonesia. Di kota Jakarta inilah wanita itu lahir. Walau lahir dan besar di Indonesia--dengan tak pernah balik lagi ke Amsterdam, tetap saja Mona dianggap sebagai orang asing. Ditambah lagi, karena namanya yang sangat berbau Belanda; sesuatu yang oleh masyarakat Indonesia itu masih menimbulkan suatu rasa tersendiri. Kalian bisa menyebutnya itu sebagai trauma. 

Dijauhi oleh masyarakat sekitar, pun oleh keluarga besarnya sendiri, Rijsbergen. Pasalnya bayi perempuan kecil yang tengah ditimang oleh Mona. Bayi itu agak berbeda rupa darinya. Tak terlalu mirip Eropa, apalagi bertampang khas masyarakat Indonesia. Matanya sipit--yang mengingatkannya lagi pada masa-masa itu. Sebetulnya ia kesal dengan mata si bayi. Ingin rasanya tak mau diasuhnya si bayi. Namun nuraninya berkata lain. Si bayi yang keberadaan ayah biologisnya belum bisa ditentukan juga itu harus dibesarkan. Kalau dibuang (atau dibunuh), bukankah ia sama dengan masyarakat sekitar yang mengucilkannya. Plus sama pula dengan perlakuan keluarga besarnya yang dua bulan lalu balik ke Indonesia dari Amsterdam. 

Mona menatap nanar bayi kecil nan menggemaskan tersebut. Lirihnya: "Sylvie, Sylvie, Ik hoop dat je niet van de Japanse soldaten, waarvan één het is je echte vader."





PS: 
Trauma van Verleden: Trauma masa lalu.
Juffrouw, jij erg charmant: Nona, kamu cantik sekali.
Oproep van vader, snel: Dipanggil Papa, buruan.
Godverdomme: Bangsat.
De shijten: Shit.
De wachten: Tunggu.
Snap het: Mengerti?
yakusoku shita nee: Sudah janji kan?
Hontou ni kowai: Buruk sekali.
De rustig: Tenang saja.
Ik hoop dat je niet van de Japanse soldaten, waarvan één het is je echte vader: Aku harap kamu tak seperti tentara-tentara Jepang yang salah satunya merupakan ayah kandungmu. 

4 comments:

  1. panjang amat yaa tulisannya, pegel mata nih :)
    ini cerita tentang apa ?? novel bukan??
    salam kenal :)

    ReplyDelete
  2. kasihan ah jangan sampai dibuang, udah dipelihara aja bayinya

    ReplyDelete
  3. wah nambah kosa kata bahasa blanda ni

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^