Friday, June 5, 2015

SERIAL ALTK chapter 6: Petir terdahsyat



Kelanjutan dari sini


Dokumentasi pribadi. 




Aishiteru...

I love you...

Aku cinta kamu...

Tiga ungkapan cinta dalam tiga bahasa itu terus memenuhi otak Kezia. Ia tersenyum-senyum sendiri selama di meja makan. Papa, Mama, dan ketiga adiknya jadi bingung. Hanya satu yang tahu mengapa. Tentunya Noel.

Noel memepetkan diri ke Kezia, lalu berbisik, "Kayaknya Kakak udah tahu arti surat itu yah?"

Kezia menoleh, cekikikan, dan mendengus. "Mulai lagi deh kamu. Sok tahu! Emang kamu bisa tahu pikiran Kakak apa?"

"Ketahuanlah. Kakak itu persis kayak orang yang lagi kasmaran."

"Kayak yang udah pernah pacaran aja,"

"Ckck,... gini-gini aku punya lima gebetan, Kak."

"Masa?"

Di tengah bisik-bisik misterius tersebut, Papa menyela. Matanya tajam sekali. "Kezia, Noel,... bisik-bisik apa kalian? Makan yah makan, ngobrol yah ngobrol. Kalau mau ngobrol, ada waktunya juga; bukan di ruangan ini."

Baik Kezia dan Noel menundukkan kepala dan kompak meminta maaf.

"Lagian, kamu ini kenapa Kezia? Dari tadi Papa lihat senyam-senyum saja, ada apa? Ada yang sedang kamu taksir? Atau kamu baru saja jadian? Atau bagaimana ini? Cerita dulu ke Papa."

Pipi Kezia semerah buah jambu yang ada di halaman tetangganya, Pak Wahyu. "Eeee..."

"Enggak usah malu-malu. Kamu juga sudah bekerja, usiamu tahun ini dua puluh lima juga, sudah sepatutnya juga untuk berpikir ke jenjang pernikahan."

"Uhuk, uhuk,..." Kezia tersedak sampai terbatuk-batuk. Tergesa-gesa ia minum segelas air putih.

Seisi keluarganya yang tengah sarapan bareng dengannya itu jadi tergelak ringan. Kezia memandangi satu persatu wajah keluarganya dengan menggelambirkan cengiran.

"Kamu itu kenapa, Kezia?" tanya Mama geli. "Mama rasa, Papa kamu ada benarnya juga. Buat apa juga kamu malu ngomongin soal cinta. Lagian, perempuan-perempuan lain yang seusiamu juga sudah banyak yang menikah."

Kezia merasa tertohok sekali. Mengapa semua ibu sepertinya sama saja? Suka sekali membanding-bandingkan anaknya dengan prestasi anak orang lain. Menyebalkan!

"Kamu tahu, enggak, Kezia,--" kata Mama setelah menghabiskan sesuap yang tadi dikunyah. "Teman kamu itu, si Manda, sudah menikah juga, lho."

"Amanda teman kecilku dulu, Ma? Yang rumahnya di ujung perempatan itu? Mama serius dia udah menikah?"

Mama mengangguk. "Dan kalau Mama tak salah ingat, nama suaminya itu Samuel Bramanto. Dengar-dengar juga, mereka sudah dikarunia dua orang anak dan mau punya momongan satu lagi."

Samuel Bramanto? Ujung telinga Kezia sontak berdiri. Masa bodoh dari mana si Mama tahu informasi yang begitu detailnya. Paling Mama dapat segala informasi tersebut sewaktu berbelanja sayur. Yang jadi perhatiannya itu nama Samuel Bramanto itu. Ia merasa familier dengan nama tersebut.

Nama lengkap kakak kelasnya itu...




Jumlah kata: 400




Bersambung...