Thursday, June 4, 2015

SERIAL ALTK chapter 5: Cinta Pertama Papa

Kelanjutan dari sini




Dokumentasi pribadi. 


Sebetulnya dirinya masih lelah dengan seabrek aktivitas di kantor. Apalagi dengan segala intrik di kantor. Maunya itu, tiap sabtu-minggu bisa ia habiskan dengan bergolek-golek ria di atas tempat tidur. Sayangnya, tak bisa. Ia bukan lagi seorang bujangan. Ia kini memiliki dua orang putra-putri.

Setelah dua jam lebih memiliki waktu berkualitas dengan keluarga tercinta, Samuel langsung duduk di atas sofa. Ia menyelonjorkan diri seraya memerhatikan anak-anaknya yang sibuk dengan buku-buku bacaan mereka. Sementara istrinya tengah berada di dapur; entah apa yang dikerjakan, padahal bukankah sudah makan malam di salah satu restoran yang ada di mal tadi?



Salah seorang anaknya--lelaki dan sudah duduk di kelas 2 SD--mendadak menoleh ke arahnya. Ia tersenyum.  

"Papa, Papa," ujar anak itu yang menunjukkan padanya komik yang tengah dibaca. "Cinta pertama itu apa?"

Samuel tak marah. Lumrah menurutnya. Tiap orang pasti memiliki cinta. Tiap orang pun pasti pernah punya pengalaman menyukai seseorang. 

"Mmmm,..." Samuel berdeham pelan, berusaha memikirkan jawaban apa yang terbaik. "Cinta pertama itu..."

"Cinta pertama itu apa sih, Pa?" desak si anak itu lagi. Tampaknya mimik si anak begitu menggemaskan. 

"Cinta itu sendiri..."

Si anak masih menunggu jawabannya. 

Ia tersenyum, lalu beranjak duduk di atas tikar, dirangkulnya sang anak. "Mmmm... Adrian punya seseorang yang lagi ditaksir enggak? Maksud Papa, ada enggak anak perempuan di kelasmu yang kamu sukai?"

Anak bernama Adrian itu berusaha berpikir. 

"Oke, oke, Papa ganti pertanyaannya deh," Samuel tahu bahwa sepertinya kata 'cinta' masih terlalu berat untuk Adrian yang masih berusia tujuh tahun. "Ada enggak seseorang yang saat kamu lihat wajahnya itu bikin jantung kamu--" Ia menunjuki posisi hatinya. "--jadi berdebar-debar?"

Adrian kembali memutar bola mata. "Yang cakep sih banyak, Pa,"

Samuel terbahak mendengar selorohan spontan Adrian. Dan, adiknya Adrian pun ikut tertawa saja, padahal tak tahu menahu apa yang tengah dibicarakan. Mungkin bagi anak perempuan yang baru masuk taman kanak-kanak itu tampang ayahnya begitu lucu. 

"Adrian, Adrian. Kamu enggak tahu apa artinya cinta, tapi udah tahu mana yang cakep, mana yang enggak. Memangnya menurutmu, anak perempuan yang cakep itu yang seperti apa?"

"Mmmm, yang rambutnya panjang, yang bola matanya itu kayak mata kucing. Terus, yang pipinya tembem gitu." jawab Adrian seraya menggelembungkan kedua pipinya.

Samuel mau tertawa lagi, namun berusaha ditahan. Kepalanya berjengit mendengarkan jawaban Adrian yang sungguh polos. Di samping itu pikirannya jadi terbawa jauh. Tak bisa ia cegah bayangan gadis di SMA-nya yang dulu menyia-nyiakannya. Masih terngiang segala kata menyakitkan dari gadis tersebut. Matanya sembap.  




Jumlah kata: 400



Bersambung...