Sunday, June 7, 2015

KIMBAP DI TANAH SAKURA chapter 2: Kiriko Iwate




Kelanjutan dari sini







Tokyo, 14 Desember 2015,

Sekali lagi, Kim Sarang telah membuat Aldo begitu terkesima. Bukan, bukan karena wajah Kim Sarang yang memang aduhai. Namun lebih pada ke latar belakang gadis Korea tersebut. Terlebih pada status sosialnya. Lihat saja rumah ini. Begitu mewahnya. Bak istana saja. Dan letaknya begitu strategis. Yaitu di pinggiran kota Tokyo yang masih terlihat keasriannya. 

Kimi memang sudah bilang bahwa ayahnya dulu pernah bekerja di kedutaan besar Korea Selatan yang ada di Jepang. Keluarganya sempat tinggal di Tokyo selama kurang lebih satu dekade. Namun gadis itu tak pernah bilang soal rumah mewah yang ada di pinggiran kota Tokyo ini. Rumah ini bahkan lebih besar daripada rumahnya yang ada di Dokji-ri. Sangat jauh bedanya. Yang ini jauh lebih memesona. Pagar rumahnya yang begitu vintage. Dinding demi dinding yang aura gothic sangat terasa. Terakhir fasilitas di dalam rumahnya yang berani sumpah kalian pasti jadi malas ke mana-mana. 

Pun untuk kali kedua, Aldo kembali merasakan indahnya bangun dari sebuah mimpi yang sangat indah. Lelaki yang lebih tinggi lima centimeter dari Kimi itu memimpikan tengah menikah dengan Thea. Pernikahannya diselenggarakan di pantai. Tak tanggung-tanggung, bukan Bali atau Senggigi atau Belitung, mereka menikah di Guam. Lalu, karena kebaikan Kimi (yah namanya juga mimpi!), Aldo dan Thea diperbolehkan tinggal di rumah mewah ini selamanya. Mereka membangun sebuah hubungan harmonis di luar negeri.  Membesarkan anak yang lucu-lucunya di salah satu kota terpadat di dunia--Tokyo, maksudnya. 

DUK! DUK! DUK!



Aldo mulai senewen. Ia tahu siapa itu. Siapa lagi kalau bukan gadis Korea yang sering sekali merundungnya sampai darah naik ke ubun-ubun. Dengan tersaruk-saruk yang amat begitu dipaksa, ia berjalan ke arah pintu. 

"Michin paen--" Begitu melihat wajah sewot Aldo, Kimi langsung mengganti kata sapaannya. "--maksudku, Aldo-kun..."

"Ada apa?" ucap Aldo malasnya. Sengaja ia menguap di depan Kimi. Mungkin biar terlihat baru bangun tidur. 

"Kamu ini, selalu saja begitu. Enggak di Korea, enggak di Jepang, kenapa kamu selalu pasang musik keras-keras? Ini kan baru jam setengah tujuh pagi. Walaupun mau di jam berapa pun, tetap saja enggak boleh menghidupkan musik sekeras itu."

"Iya, iya, aku minta maaf," Kepala Aldo berjengit beberapa kali. 

Kimi menghela, kepalanya menjulur ke arah dalam kamar. "Dan... ya ampun, Aldo, Aldo. Bahkan musik yang kamu dengar itu juga lagu mereka, kan? Apa nama idol group itu? Yang itu, lho, sister group-nya AKB48. Yang salah satu member-nya ada yang jaim banget."

"Namanya JKT48, dan enggak ada yah--member-member JKT48 yang jaim. Jangan asal kalau ngomong."

Kimi menggeleng gemas. "Ya ampun, Aldo, segitu nge-fans-nya sama JKT48. Kamu memang dibayar berapa buat belain idol group pertama di Indonesia tersebut?"

"Kamu yang juga seorang fans, seharusnya tahu." tukas Aldo yang mulai makin meradang. 

"Harus kuakui, aku ini memang fans juga. Tapi aku tidak se-freak kamu. Dan minggir, aku mau masuk ke dalam. Aku penasaran mau lihat video idol group tersebut." Kimi langsung merangsek dengan susah payah. Tak sulit. Sebab pertahanan Aldo kali ini lemah. Sekarang lelaki itu sudah tak malu lagi sebagai seorang fan JKT48. 

Memang benar. Aldo tengah memasang video klip JKT48 yang diadaptasi dari "Manatsu no Sounds Good"-nya AKB48. Luar biasa fanatisme seorang Aldo ini. Hingga Tokyo, ia memaksakan diri untuk membawa CD JKT48 tersebut. 

Mata Kimi langsung mengawasi video klip tersebut. Tampak di matanya itu, sekelompok gadis muda tengah menari-nari di atas pasir pantai. Lompat sana-lompat sini, pasang muka manis untuk menarik perhatian fan (yang kebanyakan lelaki), bahkan ada satu-dua member menunjukkan mimik yang sudah bikin Kimi jijik. 

"Sok imut!" Kimi berdecak. "Lihat kan tadi, si member dari Jepang itu. Apa kali maksudnya bikin tanda cinta dari kedua tangannya? Senyum sok imutnya bikin aku sakit perut."

"Emang Haruka imut, kok," bela Aldo. "Dia lebih cute dari kamu, Kim."

"Termasuk dari pacarmu juga?" serang balik Kimi ofensif. Gadis itu tertawa lebar, merasa sudah menang. 

"Eee... eee.. eee..." Aldo mulai pasi. "...apaan seeeh? Apa hubungannya sama Thea?"

"Ya ada hubungannya. Kamu itu pacarnya. Kalau aku jadi dia, aku tentu marah. Untungnya--"

Aldo menoleh ke belakang. Rupanya ada Thea yang memaksakan diri untuk tersenyum. Di sebelah kiri Thea berdiri seorang gadis Jepang yang sebaya Aldo maupun Thea. Gadis itu berambut panjang keriting nan tebal. Ia seorang pembantu rumah tangga di rumah Kimi. Oh iya, jangan termakan oleh komik-komik Jepang juga. Walaupun bisa dibilang pelayan, gadis itu tak mengenakan pakaian-pakaian ala maid-maid yang ada di manga. Tidak seperti itu. Gadis itu malah berpakaian kasual dengan celana legging selutut yang begitu mengepres sekali. Dan gadis yang semalam menjemput Kim Sarang itu tampaknya begitu antusias sekali menyaksikan video klip JKT48 tersebut. 

Kimi menghela napas kembali. Kali ini ia mengeluarkan napas yang lebar sekali. Sembari tersenyum, ia mendekati gadis yang lebih muda kelihatannya dari dirinya itu. Dengan bahasa Jepang yang sama fasih dengan bahasa Indonesia, Kimi berujar, "Kiriko-san, ada apa? Kamu suka dengan idol group itu?"

Kiriko memerah mukanya. Pelan-pelan kepalanya mengangguk. Sekarang Kiriko beringsut menuju Aldo. Dengan bahasa Inggris terbata-bata, Kiriko berujar, "Mister (di telinga Aldo, terdengar sebagai mista'), are they JKT48? You fans, right? Wota, too?"

Aldo nyengir lebar, mengangguk. Kimi jengkel. Thea tersenyum sambil menelengkan kepala ke kiri. 

"You often visit their theater?" tanya Kiriko yang antusias sekali untuk mendengar jawabannya. 

"Ummph, yes..."

Kiriko spontan memegang erat kedua tangan Aldo. "Hontou ne? Anata wa JKT48 no fansu?"

"Totemo, Iwate Kiriko-san. Mecha kucha hen na wota nda." sindir Kimi nyengir. "Dan, aku baru tahu kamu juga fans dari idol group itu, Kiriko-san."

Mata Kiriko berbinar-binar, mengangguk mantap. "Dan aku juga sudah lama sekali menjadi fans AKB48, Kimura-sama." Kimura adalah nama marga keluarga Kim selama di Jepang. Di Jepang, nama Kim Sarang berubah menjadi Ai Kimura. 

Kimi berdecak beberapa kali. "Sejak kapan? Kenapa aku baru tahu? Aku tidak pernah melihat kamu sedemikian antusiasnya dengan 48 Group?"

Perlahan Kiriko menundukkan kepala. Sepertinya gadis itu enggan untuk menjawab. 

Omong-omong, seperti yang sudah dikatakan, Kiriko berprofesi sebagai pelayan di rumah keluarga Kim. Selama ini, setelah keluarga Kim nyaris tak pernah kembali ke Tokyo, Kiriko--bersama ayah, ibu, dan tiga orang saudaranya--yang merawat rumah tersebut. Hubungan antara keluarga Kimura dan Iwate malah hampir tak terlihat sebagai majikan dan bawahan. Lebih mirip hubungan dua orang sahabat yang sudah lama bersahabat sejak taman kanak-kanak. 

"Ya terserah," sahut Kimi menyiulkan lagu "Let It Be"-nya The Beatles. "Oh iya, Thea, masa kamu tidak tahu kalau pacarmu ini membawa satu CD yang berasal dari masa lalumu itu ke Jepang?"

"Mana kutahu, Kim. Aldo juga punya privasi. Walau pacarnya, tetap saja kurang ajar memeriksa tasnya, kan?" sembur Thea. 

"Santai, dong. Aku hanya bertanya, tidak sedang mau menerkam kamu dan pacarmu itu. Sinis sekali caramu berbicara itu."

"Aku bicara dengan nada biasa-biasa saja, kok. Kamu saja yang terlalu sensitif." 

Aldo langsung menengahi. "Sudah, sudah, kok malah jadi berantem gitu sih? Mending kita jalan-jalan yuk."

Kimi memutar bola mata. "Dan karena aku membiayai perjalanan ini, aku yang mengatur ke mana kita pergi yah."

Aldo gigit jari. Alamat ia mungkin tak bisa mengunjungi AKB48 theater padahal sudah berada di Jepang. Sepertinya ia harus buang jauh-jauh keinginannya untuk bisa melihat lebih dekat Miho Myazaki, Haruka Shimazaki, Rena Kato, Miyu Takeuchi, atau Sakura Miyawaki yang paling muda dari yang sudah disebutkan. 

Kimi terkekeh. "Sepertinya kamu sudah bisa menebak jalan pikiranku yah?!"

"Iya, iya aku tahu. Pasti kamu tidak akan mau ke sana, kan?"

Kimi mengacung-acungkan pistol jarinya. "Pingpong! Lagian buat apa jauh-jauh ke Jepang hanya untuk pergi ke AKB48 theater? Ya ampun, Jepang punya segudang tempat menarik, kamu malah lebih tertarik untuk pergi sana? Pleaseeeeeeeeee, Aldo, jangan bikin aku ngakak yah."

"Ya kan, mumpung ada di Jepang, Kim," alibi Aldo cengar-cengir. 

"Biarinlah, Kim. Bawa saja Aldo ke sana. Dia sudah susah payah bawa CD JKT48 ke Jepang, kan tujuannya untuk minta oshimen-nya, Miho Miyazaki kasih tanda tangannya di atas CD JKT48. Terus minta ditulisin dalam bahasa Jepang, 'Untuk fans tercintaku yang ganteng sekali, Aldo Hutomo.'" kata Thea tersenyum, lalu melengos begitu saja. 

Kali ini mata dan mulut Kim Sarang melebar. Sementara Kiriko kembali dengan susah payah sekali berkata dalam bahasa Inggris, "Mister, who is your oshimen? For me, I love Shania Junianatha. I like the way she gives the audience a very beautiful smile. And, in Koisuru, her dance is better than the others. Could you please give my regards to her when you visit that theater again?"

Untuk kali ini, Aldo-lah yang tertawa paling kencang. Senang sekali lelaki itu. Akhirnya ia bisa membuat seorang Kim Sarang merasa tersudut. 





Even Shania looks energetic and little naughty, she looks pretty. Her prettiness is quite really different with the other girls. Shania is the prettiest of the universe!!!!!
 








Seoul, 15 Desember 2015

Ah! Kim Min-soo girang sekali. Siapa sangka, di antara semua toko musik, hanya di Saranghae Music Store,  ia bisa mendapatkan CD musik itu. CD musik JKT48 yang terbaru pula; bukan yang lawas-lawas. Sebelum dibawa ke kasir, ia menimang-nimang CD tersebut. Ia pandangi dengan seksama kavernya. Bagus juga. Kavernya eye-catchy. Dan kreatif. Mungkin beberapa member yang membentuk logo hati itu semacam fan service. Tak usah heran, JKT48 itu kan sister group AKB48, pasti tahu betul teknik menjual sehingga barang dagangannya laku. Bukankah orang Jepang itu sangat pintar dalam hal marketing? Lihat saja contohnya perusahaan-perusahaan otomotif dari negara tersebut. Honda, Suzuki, Yamaha, Toyota, atau Nissan. Pantas saja, dari yang ia baca di internet, jalan-jalan Jakarta selalu disesaki dengan kendaraan-kendaraan dari Jepang. 

Harga CD pun tak terlalu mahal. Hanya 5500 won. Tak terlalu menjebol dompetnya yang bermotif bunga-bunga sebunga-bunga perasaannya ke seorang laki-laki yang berada nun jauh di Indonesia sana. Gara-gara lelaki itulah, ia jadi tertarik untuk mendengarkan lagu-lagu 48 Group, terlebih lagi JKT48. Meskipun sebetulnya tak jauh berbeda musik JKT48 dengan para sister group-nya yang ada di Jepang.

"Seberapa bagus sih JKT48 itu--sampai-sampai toko ini pun berani menjual CD mereka di Seoul ini? desah Kim Min-soo. "Apa bedanya mereka dengan sister group-nya itu? Yang memang, setelah kusimak-simak beberapa video klip-nya, AKB48 tak kalah dengan Girls Generation atau Sistar."

Mendadak seorang lelaki menghampirinya. Tampan juga lelaki ini. Tapi sayangnya...

"Yaa, kamu juga suka JKT48? Atau baru tertarik? Kuberitahu yah, JKT48 itu keren." kata si lelaki itu mengacungkan dua jempolnya. "Apalagi yang namanya Jessica Veranda, Beby Chaesara, atau Cindy Yuvia, Ah jangan lupa juga, Andela Yuwono, member generasi ketiganya. Aku suka sama cara bicaranya. Lucu sekali. Aku baru tahu ada dialek Indonesia seperti itu."

Kim Min-soo sungguh-sungguh-sungguh... speechless. Tak dapat berkata-kata. Pertama, dengan sopannya lelaki ini bertutur banmal padanya. Kedua, lelaki ini terus mengoceh soal JKT48 seolah memaksanya untuk menyukai idol group tersebut. 

Tapi... ia penasaran seberapa bagus JKT48 tersebut? Dahsyat sekali pengaruhnya hingga Seoul ini. 







Bersambung...








PS: 
Banmal: bahasa informal Korea
Totemo, Iwate Kiriko-san. Mecha kucha hen na wota nda: Sangat, Kiriko Iwate. Dia beneran wotalay yang aneh banget.
Hontou ne? Anata wa JKT48 no fansu: Beneran nih? Kamu beneran fannya JKT48?