Thursday, June 4, 2015

KIMBAP DI TANAH SAKURA chapter 1: Narita



Aloha! 

Immanuel's Notes kembali dengan serial fan fict bertema idol-idol-an. Sebetulnya malas juga sih meneruskan kisah cinta Aldo dan Thea. Tapi the show must go on, bukan? Alhasil, aku berusaha untuk tetap konsisten. Dari awal itu, serial sebelumnya "Wota Korea" itu memang seharusnya selesai di chapter 20. Namun, karena sesuatu hal yang hanya penulis dan Tuhan yang tahu, terpaksa harus kandas di angka 14, yang mana enam chapter sisa berlanjut ke "Kimbap Sakura". 

Oke deh, tiada basa-basi, lanjut saja. Check it out! 










Bandara Narita, Desember 2015

Yea, kali ini tak salah lagi. Aldo mengepalkan penuh erat kedua genggamannya. Kali ini pasti di Jepang. Ya iyalah, sejak di Soekarno-Hatta hingga harus transit dulu di Bali, berkali-kali lelaki yang langsung mengenakan topi bertuliskan JKT48 itu mengecek tiket pesawatnya. Syukurlah, tiketnya memang tiket masuk menuju negeri sakura. 

Aldo menoleh. Terlihat Thea begitu murung walau senyum gadis itu umbar. Sepertinya lelaki itu tahu alasannya. Langsung saja ia copot topi tersebut. 

"Maaf, The. Aku lupa kalau kamu pengin move-on dari segala hal yang berbau JKT48. Harusnya aku enggak perlu pakai topi dengan corak yang bisa mengingatkan kamu ke masa lalumu itu lagi. Aku beneran minta maaf."

"Enggak apa-apa kok. Aku bisa ngerti. Kan sejak kelas sepuluh, kamu udah nge-fans banget sama yang namanya AKB, SKE, NMB, HKT, JKT, hingga SNH. Dan sekarang mimpi kamu terkabul, kan? Kamu berada di Jepang, negeri kelahiran AKB, kakaknya JKT48." 

"Ih, kamu pengertian banget sih sama aku," kata Aldo seraya menjawil hidung Thea yang agak mancung tersebut. 

Persis di sebelah Thea, terdengar suara dehaman. "Halooooo... asyik banget nih, sampai lupa yah, kalau ada satu orang lagi yang ikut dalam tur menuju AKB48 theater."

Aldo terkekeh, Thea terkikik. 

"Hei, Mousou Wota!" Mata Kim Sarang nyalang, telunjuk mengacung ganas pada Aldo yang cengar-cengir tak keruan. "Kamu jangan lupa, utangmu itu belum lunas. Kamu masih jadi pembantuku selama di Jepang ini."

"Oke deh, mi-chin-pa-en!" balas Aldo dengan pelafalan yang lucu sekali (untuk orang Korea) di kata 'michin paen' tersebut.

Kim semakin melotot saja. "Saekki-ya! Wota kita yang satu ini lagi mencoba belajar meledek dalam bahasa Korea. Sayangnya pengucapannya itu salah banget. Aneh!"

*****

Dokji-ri, Desember 2015

Berisik sekali suasana di lantai atas. Pasti Kim Min-soo kembali memasang CD musik dari girlband favoritnya dengan volume yang bisa meledakkan rumah megah tersebut. Kim Daebu yang tengah memusatkan perhatian untuk ujian, jadi jengah. Lelaki itu berjalan menuju kamar sebelahnya. 

Eh tapi sebentar. Sepertinya musik ini bukan khas Girls Generation. Lafal Jepang-nya pun ciamik sekali. Fasih. Begitu menderas laksana penutur asli yang mengucapkannya. Apalagi... ah Kim Daebu tahu sesuatu. Ini kan lagu idol group itu. Apa namanya?

Kim Daebu berhenti sejenak di depan kamar kakaknya yang berambut pendek tersebut. Alih-alih mengetuk pintu, ia menatap langit-langit berusaha mengingat nama idol group yang pernah ia lihat music video-nya tersebut. Apa yah? Sepertinya ada hubungannya dengan nama salah satu distrik di Tokyo. 

Harajuku? Bukan. Shinjuku? Juga bukan. Shibuya? Pun sama saja. Apalagi Roppongi dan Kandasurugadai. Jangan-jangan tak ada hubungannya dengan Tokyo? Tidak-tidak-tidak. Hati kecil Kim Daebu masih yakin bahwa memang ada hubungannya dengan Tokyo. 

Ah iya, Kim Daebu ingat. Akihabara. Idol group itu kan asal muasal terbentuknya itu karena berhubungan dengan kota itu yang sudah dikenal sebagai pusat otaku. Makanya Akihabara yang dipilih. Dan, jadilah idol group itu bernama AKB48. 

Tapi sejak kapan Min-soo-nuna itu tertarik dengan musik Jepang, apalagi dengan AKB48? Bukankah tiap kali salah satu lagu idol group itu berkumandang di radio atau televisi, Nuna selalu merepet? Bukankah Nuna itu seorang sone sejati? Oh iya, hampir lupa, Nuna itu juga anggota Elf yang aktif. Saking aktifnya, Nuna hampir selalu terlibat di tiap acara meet and greet antara Elf dan Super Junior.

Terlalu banyak melamun, Kim Daebu sampai tak sadar pintu Nuna-nya itu sudah terbuka. Sang Nuna berdiri di hadapannya menuntut jawaban, pastinya. Andai saja Nuna itu bukan kakak kandungnya, sudah pasti ia jatuh hati. Nuna terlihat cantik sekali dengan setelan kardigan krem, jins hitam, sepatu dengan heel yang tak terlalu tinggi, dan rambut pendek Nuna yang dibikin kepang dua kecil. Begitupun dengan campuran pheromone Nuna dan parfum Perancis yang begitu melegenda tersebut. Sumpah, hari ini Nuna sempurna sekali penampilannya. Sayang Nuna itu saudara kandung. Walhasil Kim Daebu harus sadar diri dan jadi bertingkah sebiasanya.. 

"Yaaa, apa yang sedang kamu lakukan di sini, Daebu?" semprot Kim Min-soo. "Mau mengintip?"

"Siapa bilang, seenaknya saja!" balik semprot Kim Daebu. "Aku ke kamar Nuna, sebab Nuna berisik sekali. Kenapa hobi memasang lagu dengan volume kencang-kencang sih? Dengan volume normal memangnya tidak bisa?"

"Kalau merasa terganggu, sumbat saja lubang telingamu dengan sesuatu. Gampang, bukan?" 

"Nuna tetap saja menyebalkan. Padahal kalau bukan karena aku, Nuna mungkin sudah diusir gara-gara menyembunyikan fakta tersebut."

"Oh, jadi kamu mulai main hitung-hitungan dengan kakakmu sendiri? Arasseo, aku paham. Mulai sekarang, jangan pakai Hyundai Nuna itu lagi, bagaimana?"

Kim Daebu langsung kelu. "Eeee..."

Kim Min-soo terkekeh sinis. Sekali lagi, kharismanya itu digunakan untuk sesuatu yang salah. Tapi memang seperti itulah Kim Min-soo. 

"...eee, Nuna, Nuna sejak kapan suka dengan AKB48?"

Kim Min-soo nyengir. "Sudah terpojok rupanya. Memang, tiap orang yang sudah kalah itu suka mencari-cari topik tak penting guna mendapatkan perhatian lagi."

Kim Daebu hanya terkekeh.

"Kamu beda sekali dengan dia yang sangat ngotot. Kamu malah cenderung plin-plan."

*****

Bandara Narita, Desember 2015

"Kalian berdua boleh  berkeliling bandara ini dulu kalau mau. Tapi jangan jauh-jauh. Ya kalian kan tak begitu lancar berbahasa Jepang." saran Kim Sarang nyengir jahil.

Walau dibalas dengan rutukan, Aldo tetap membawa Thea berjalan-jalan mengitari beberapa titik yang ada di Narita. Hitung-hitung menghilangkan jet lag. Selama itu, Aldo pun merasa ada yang janggal dengan kekasihnya tersebut. Tak biasanya Thea semanja ini. Semenjak jadian, baru kali ini Thea berlaku seperti ini. Biasanya Thea paling risih jika Aldo merangkul atau memegang tangan di keramaian publik. Namun kali ini berbeda. Malah Thea yang berinisiatif untuk memepetkan diri lalu memeluk sebelah tangan Aldo. 

Aldo sebetulnya kikuk, tapi senang juga. Pula rasanya ganjil mendapati ekspresi keimut-imutan yang dipancarkan oleh wajah Thea yang biasanya itu cenderung lebih pecicilan gayanya. 

"The," kata Aldo nyengir. "Kamu ada apa sih? Tumben manja begini. Ini kayak bukan Thea yang aku kenal dulu, deh."

Thea menarik otot-ototnya demi memberikan satu senyuman paling manis untuk Aldo. "Masa sih? Perasaan aku masih sama yang kayak dulu."

"Serius, The, ini bukan kamu yang biasanya. Thea yang kukenal dulu itu malah suka jutek kalau aku coba rangkul bahunya."

"Oh, kamu mau kurangkul?" Sigap Thea berubah posisi. Perempuan itu menyampirkan sebelah tangannya di kedua bahu Aldo. Pacarnya itu jadi makin salah tingkah. 

Aldo semakin salah tingkah lagi saat beberapa pengunjung bandara memerhatikan dirinya dan Thea. Mungkin pemandangan yang mereka berdua pertunjukkan itu tak biasa ada di bandara yang merupakan pintu masuk utama ke Jepang. Di tengah kekikukan lelaki itu, terdengar sebuah musik yang tak asing. Musik itu rupanya sebuah ringtone dari ponsel milik salah seorang pengunjung. Buntutnya, Thea malah memasang tampang datar. Hal itu cukup kontras dengan aksinya yang melilit kedua bahu Aldo. 

"Kayaknya pengunjung itu dari Indonesia, deh," kata Aldo asal saja. 

"Masa?" respon Thea nyaris tanpa nada apapun. Tidak dengan nada gembira, sedih, maupun kesal.

"Itu kan bukannya lagunya Pareo Wa Emerald versi JKT48. Aku ingat banget sama suaranya Melody."

"Iya kali."

"Kamu kok sinis gitu?"

"Enggak kok."

"Tadi manja-manja, sekarang sinis, kamu itu maunya apa?" Aldo terkekeh. Lelaki itu mengacak-acak rambut Thea. Kalau Thea yang biasanya, perempuan itu pasti akan mencak-mencak. Kali ini, Thea malah terpaksa tersenyum lagi. 

"Ini, aku sudah tersenyum kan?"

Perut Aldo jadi mulas menyaksikan Thea yang hari pertama di Tokyo itu sudah lumayan kocak. "Hahaha... Thea, Thea. Kamu ini sejak graduate, kok malah timbul keahlian baru yah?"

Thea mengernyitkan dahi. "Keahlian? Keahlian apa?"

"Melawak. Kamu itu cocok jadi pelawak. Kayaknya setiba di Indonesia lagi, kamu wajib ikut audisi stand-up commedy, The. Sekarang ini saja, kamu sudah bikin aku mau ngakak, tahu." seloroh Aldo yang berusaha agar tak tertawa lepas. 

Thea menekuk bibir. "Apaan sih? Dimanjain salah, dijutekin salah, terus mau kamu apa sih, Do?"

Aldo terkekeh. "Thea, Thea,... kayak aku pernah kesal aja waktu kamu jutekin. Aku kan selama ini suka kamu apa adanya, The. Mungkin pasangan-pasangan di Indonesia sana itu belum terbiasa dengan gaya pacaran yang enggak ada rangkulan, pegangan tangan, pelukan, hingga mengumbar cumbuan dan ciuman di tempat-tempat ramai. Tapi aku enggak peduli juga. Masa bodoh sama gaya pacaran kita yang mungkin rada aneh untuk kebanyakan pasangan lainnya. Toh kita ini yang jalani dan enggak merasa risih satu sama lain kan?!"

Thea tertegun. Baru saja perempuan itu akan merespon, atau setidaknya Aldo yang kembali berkata-kata untuk meledekinya, ponsel kekasihnya itu mulai melantunkan "Kibouteki Refrain" yang sengaja dipasang sebagai nada dering. 

Belum sempat Aldo ber-say hello, Kim Sarang sudah menyahut lebih dahulu, "Hei, kalian di mana? Cepat kemari! Temanku sebentar lagi mau datang. Lagian kalian lama sekali jalan-jalannya."

"Iya, iya, Kim. Aku sama Thea minta maaf. Kami berdua langsung ke sana yah," kata Aldo nyengir. 

"Kalian masih tahu jalan kan? Enggak sampai tersasar kan? Yah kalau sampai iya, aku juga yang akan repot mencarinya. Kan tak ada satupun dari kalian berdua yang fasih bahasa Jepang-nya. Kamu saja belum bisa baca huruf-hurufnya."

 "Yeee, sembarangan! Enggak kok, enggak sampai kesasar juga. Kamu itu kenapa sih Kim, hobi banget ngeledekin aku?"

Terdengar suara tawa membahana di ujung telepon yang satunya lagi. "Iya, iya, aku minta maaf, michin paen."

"Hei, berhenti pakai sebutan itu kenapa!? Kita kan sama-sama fans juga. Kalau kata sopir truk di Indonesia, sesama fans dilarang saling menghina."

"Kamu ini bicara apa sih?" Kim Sarang tak henti-hentinya tergelak; cukup terdengar dari suaranya. "Ya sudah, kalau masih tahu jalan, segera kembali ke sini. Tahu kan?"

"Iya, iya, aku sama Thea bakal ke sana."






Bersambung...