Tuesday, June 23, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Ngapura Kula





Genre: Fantasi, Komedi






Dokumentasi pribadi



Aji mendelik ke sana-ke mari. Ia bingung. Super bingung. Sebetulnya dia tengah berada di mana. Bola matanya hampir saja meloncat keluar. Perasaan pemandangan dusunnya itu tak seperti ini. Sejak kapan rusa-rusa jadi memiliki kecepatan luar biasa? Biasanya dirinya bisa menangkap satu rusa. Kini ia yang malah diseruduk.

"Brengsek!!!" hardik salah seorang yang menaiki rusa itu. Ah mungkin itu kuda, bukannya rusa. Dari bentuknya, lebih mirip kuda. "Jangan di jalan kenapa sih!? Dasar udik! Baru pertama ke kota yah?"

Ini kota? pikir Aji berkernyit dahi. Selama ini ia kira tempat ini dusun. Sudah lama sekali ia ingin bisa ke kota. Di kota segalanya serba ada. Berhubung jarak dusun ke kota cukup memakan waktu, ia hanya bisa sekali seminggu ke kota untuk menjual buruannya. 

Masih dalam kebingungan, Aji menepi. Berkali-kali lelaki yang mengikat ikat kepala itu mengentak-entakkan kaki. Mengapa tanah ini lebih tinggi daripada yang itu? Apa ini? Ilmu sihir apa yang mereka gunakan? Mereka pasti sungguh memiliki kesaktian mandraguna yang tiada tara. 

Aji terus mengentak-entakkan kaki. Tak peduli ia harus diperhatikan beberapa lusin mata. Pemandangan di hadapannya sungguh bikin pusing tujuh kepalang. Gila, daerah apa ini? Ia sama sekali tak paham. Yang ia ingat, ia keluar dari rumah kecilnya yang begitu nyaman sekali untuk pergi berburu. Di sabana, mendadak cuacanya berubah total. Dari cerah menjadi berawan. Angin berembus kencang. Awan kumulo-nimbus yang pekat, datang mengepung langit. Sejenis topan datang. Namun topan yang ini cukup aneh. Lebih tampak sebuah lubang besar yang perlahan beringsut padanya. Entah mengapa ia jadi bergidik. Pikirnya, lubang itu berisi sekumpulan dedemit yang siap menyantapnya. Mau kabur, tapi sudah telat. Lubang itu menelannya hidup-hidup beserta beberapa makhluk hidup yang juga telat melangkah. Hingga, hasil akhirnya, selain bokongnya yang sakit, yah pemandangan absurd depan matanya. 

Tempat apa ini? 

Di tengah kebingungan, seorang gadis menghampirinya. Aji terpana. Luar biasa, jangan-jangan gadis ini putri kerajaan? Pasti putri ini memiliki pembawaan yang sangat merakyat sekali. Sebab, seingatnya, para penghuni istana itu memiliki sifat yang cukup buruk. Sepertinya mereka jijik sekali saat bersentuhan dengan kaum seperti dirinya. Padahal mereka kan ciptaan sang Gusti juga. Tapi apa mungkin mereka turunan dewa-dewi?

Si gadis tersenyum. Aji berusaha tetap berkonsentrasi. Jantungnya berdebar-debar kencang. Kenapa pula dengan si jantung? Apa mungkin gadis ini memiliki ilmu sihir? Mungkin dirinya tengah terkena hipnotis atau reramuan tertentu. Mungkin. Siapa yang tahu juga. Aji juga tak begitu paham ilmu sihir.  

Dari atas ke bawah, Aji memerhatikan detail dari penampilan si gadis. Mini sekali roknya. Dan kemban jenis apa yang dikenakannya? Tulisan apa itu? Seingatnya huruf Sansekerta tak seperti itu.  Yang di rambutnya, juga apa? Seingatnya, bukankah hanya kaum pria yang mengenakan ikat kepala? Ini gadis bukan? Bukannya seorang laki-laki? Ia mulai berpikir keras, berusaha mencari jawaban. 

"Hei," ucap Aji galak. "Katakan padaku, ini di mana? Aneh sekali tempat ini."

Aji kesal. Ditanya, mengapa gadis ini malah terbengong-bengong. Bukankah ia berkata dalam bahasa yang bisa dimengerti? Apa mungkin dia mendarat di daerah lain yang berbeda bahasanya? Kalau begitu, mampuslah ia. Ia tak bisa berbahasa lain selain daripada bahasa Sansekerta atau Jawa kuno--seperti yang dipraktekkannya barusan. 

Orang di tempat ini semuanya tak punya sopan santunkah? Ditanya, eh malah mengernyitkan dahi, dan sekarang malah melengos. Sopan sekali. Pun berarti si gadis juga bukan kaum bangsawan. Seingatnya pula, di luar tabiat arogan tersebut, para kaum bangsawan sangat tahu etika. 

Aji menelengkan kepala ke kanan, memandangi sesuatu. Sekarang yang di depannya itu apa? Kereta kuda? Atau apa? Bentuknya aneh sekali. Lebih pipih. Merah menyala seperti bara yang menyala-nyala. Suaranya pun aneh. Aduh, kepalanya pusing sekali! 

Gusti, ke manakah Engkau kirim hamba-Mu ini? 

Kini dari sesuatu yang Aji sangka kereta kuda itu, keluarlah gadis-gadis yang lain. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,.. total ada tujuh gadis. Semuanya jelita sekali. Matanya nyaris sulit mengerjap. Lagi-lagi mereka berbahasa yang tak bisa ia pahami. Mengertilah ia sudah. Pasti ini kahyangan. Dan ketujuh gadis ini bidadari. Mendadak di benaknya terputarkan sebuah legenda yang ia kenal baik. Ibundanya sering mendongengkannya. Ia sangat menggemari cerita tersebut, sehingga terus bermimpi dirinyalah sang Jaka Tarub. 

Muncul pula satu skenario: apa pula yang terjadi jika Aji mengambil selendang dari salah satu bidadari ini? 

Tapi tunggu, hanya satu dari mereka yang mengenakan selendang. Itu pun selendangnya aneh sekali. Sama seperti kendaraan yang ditunggangi, sama-sama pipih. Warnanya hitam. Dan, bukannya mengalungi leher, selendang itu malah dijulurkan hingga daun telinga. Hebat sekali, selendang bisa dimasukkan ke lubang telinga. Memang hanya dewa-dewi yang bisa seperti ini. Sekali lagi, Aji takjub dengan amat sangat. 

Lebih anehnya lagi, seharusnya kan, Aji yang menculik salah satu dari mereka dengan memperdaya salah seorang. Ia ingat sekali legenda tersebut. Namun, ia seperti kerbau saja, hanya bisa manut-manut kepalanya saat diajak masuk ke dalam kereta tersebut. Ke mana pula bidadari-bidadari ini membawa Aji? Ah pastinya ke istana dewa. Atau mungkin...

Bergidik Aji seketika. Ia teringat kisah lainnya. Ia takut dirinya akan diperbudak di istana tersebut. Sama seperti kisah yang satunya itu. Yang mana seorang ratu yang gemar berkemban hijau, suka menggoda lelaki yang lewat pantai, kemudian dibawa pergi ke istana bawah laut untuk diperbudak. Tapi...

...lagi-lagi analisa yang keliru. Jelas-jelas ini daratan. Bukankah Aji masih bisa bernapas? Jadi, ini di mana? Seandainya ini di kahyangan, seharusnya pemandangan sekitarnya itu hanya ada awan, awan, dan awan. Namun, lihat, awan-awannya malah ada di atas kepala. 

INI DI MANA? teriaknya dalam hatiAji mulai frustrasi. 

*****

"Cowok ini ganteng juga," ujar salah seorang gadis yang mengenakan jaket blu jins dan high heel menyerupai bot hitam. Gadis yang mengenakan bando merah jambu itu tersenyum genit. 

"Iya, cakep. Tapi medok. Mana gue ngerti bahasa Jawa. Satu pun enggak ada kata dalam bahasa Indonesia yang keluar dari cowok ini." ujar yang lain sembari mengernyitkan dahi. Yang ini seorang gadis yang mengenakan kaus bertuliskan 'I Love New York'. "Bau pula lagi. Ini bau mataharinya menyengat banget. Ih!"

"Mana enggak ada satu pun dari kita yang bisa bahasa Jawa." timpal gadis yang lain, yang mengenakan hot pants gelap; sementara atasannya ia mengenakan tank-top hijau dan kardigan biru tua. 

"Aku mah bisanya bahasa Sunda atuh," kata gadis lainnya. Gadis yang ini tampak terlihat seperti gadis rumahan. Terlihat dari pakaiannya yang lebih sopan (untuk ukuran orang-orang di era 2000-an; bukan eranya si Aji). Atasannya itu kaus oblong berwarna hijau muda, bawahannya itu celana denim yang tak sekumal yang lain. Sementara alas kakinya itu hanyalah sendal perempuan yang tak terlihat mewah, namun cukup bisa bersanding dengan alas kaki teman-temannya yang lain. Gadis ini juga tak mengenakan anting, kalung, atau gelang yang norak sekali.

"Iya, iya, kami tahu kok, Aya," sindir seorang yang lain, yang lebih tomboy. "Kamu kan dari Garut. Tiap Lebaran, pasti bawa oleh-oleh dodol."

Gadis bernama Aya hanya tersenyum, nyaris terkekeh mengikuti yang lainnya. Sepertinya baginya, kata-kata temannya itu bukanlah sebuah ejekan. 

"Orangtua gue memang dari Jogja. Tapi mana mengerti gue bahasa Jawa. Waktu mereka ngoceh pake bahasa Jawa pun, gue cuma bisa manggut-manggut doang." ucap yang lain menyusul. Kali ini seorang gadis dengan blazer warna ungu menyala. 

"Hadeuh, ini cowok ngomong apa sih? Ganteng emang, tapi bau, dekil pula. Udah gitu medok. Enggak bisa apa dia berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Jangan-jangan dia baru datang dari desa terpencil di Jawa sana?" sahut sang sopir yang bergaun terusan yang berwarna abu-abu. 

Kepala tujuh orang gadis itu pusing sekali. Satu persatu dari mereka terus memandangi wajah Aji yang masih memasang raut muka bingung. Berkali-kali Aji menundukkan kepala seraya berkata, "Ngapura kula, panjenengan ayu kabeh. Kula ini ora bikin salah apa-apa. Ing Gusti Wisnu, kula mung goleki kewan. Maneh kula ngandika, ngapura kula."

"BERISIK LO!!!" raung gadis berbando tersebut. "Lo itu bisa ngomong pake bahasa Indonesia enggak sih? Di mobil ini, enggak ada satupun yang bisa bahasa Jawa. Ngerti lo?"

"Sabar, Pretty. Kan lu juga yang bawa si Medok ini ke dalam mobil. Gue sih dari awal udah nolak. Tapi lu sama yang lainnya tetep aja ngotot buat bawa si Medok ini." ujar yang ber-blazer

"Alah, ngeles aja lu. Setahu gue, enggak ada satupun yang nunjukin reaksi-reaksi penolakan. Kalian semua kan sepaham sama gue. Iya kan? Ngaku aja deh--semuanya." tukas Pretty. 

"Ya sudah, enggak usah ribut-ribut. Sudah kejadian juga kan. Sekarang, ini gimana? Cowok ini gimana nasibnya? Enggak mungkin kan, cowok ini menginap di salah satu rumah kita." Aya berusaha mendinginkan suasana. "Soalnya Emak aku itu orangnya nyinyir banget. Aku takut dia malah mencurigai aku yang bukan-bukan. Harus kubilang apa ke dia kalau kubawa ke rumah?"

"Enggak hanya lu doang, Ay. Gue sama yang lain juga sama. Alasan kita bawa ke rumah masing-masing itu apa? Yang ada, si cowok ini malah disangka pacar gue lagi. Idih, amit-amit jabang bayi, ogah gue punya cowok kayak gini." kata gadis ber-hot pants seraya mengernyitkan dahi. Tampak dia benar-benar tak tahan dengan bau badan Aji. Maklum saja, Aji kan memang tengah berburu sebelum terbawa ke tahun 2015. 

"Lagian lu sih, Pret. Ngapain pula pake dibawa masuk cowok ini? Paling juga baru dateng dari kampung. Masa sih lu belum pernah lihat cowok kampung sebelumnya?" kata gadis berkaus tulisan 'I Love New York' tersebut. 

"Ya, ya, ya,... ya gimana lagi? Gue penasaran soalnya sama cowok ini. Entah kenapa gue ngerasa cowok ini bukan cowok biasa. Lugu banget." dalih Pretty. 

"Jadi lu suka sama cowok ini?"

Teman-temannya kompak men-cie-cie-kan Pretty yang mulai bersemu merah. "Yeee!!! Sembarangan aja lu, siapa juga yang suka? Ih!"

Sementara gadis-gadis itu terus berceloteh tak keruan, Aji terus memandangi tiap gadis sembari menundukkan kepala dan berkata berulang kali, "Ngapura kula,"





PS:
Ngapura kula, panjenengan ayu kabeh. Kula ini ora bikin salah apa-apa. Ing Gusti Wisnu, kula mung goleki kewan. Maneh kula ngandika, ngapura kula: Maafkan aku, gadis-gadis yang cantik sekalian. Aku ini tidak salah apa-apa. Demi Tuhan, aku hanya tengah berburu hewan. Sekali lagi, maafkan aku.

14 comments:

  1. Wah beruntung yah Aji diajak 7 cewe naik mobil :D

    ReplyDelete
  2. kasian banget si aji di celotehin sama gadis gadis cantik

    ReplyDelete
  3. Jangan bilang yang jadi Aji kamu, tapi beruntung banget si Aji diajak 7 cewe naik mobil trus mau di ajak kerumahnya lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idih alah, kerasa yah kalau cerpen ini kayak yang ada di gambaran aku yah? Tau aja niat belang aku, hahaha..

      Delete
  4. Aji di bully nih sama cewe-cewe :)

    ReplyDelete
  5. oalah, ora ngerti bahasa jowo to :D *eh hihi
    ciee aji di ajakin sama 7 cewe, witwiwww :D
    coba kalau di jadiin sinetron pasti bakalan seru tuh kayaknya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiiin....

      Moga ada orang PH yang baca dan tertarik buat beli idenya. Diajakin kerjasama juga. Amiiiiiiin.... ^_^

      Delete
  6. Ora ngerti aku toh masss

    *coba cob ahahahah*

    Awesome plot as usual
    Deskripsi nya yg sekarang kuat banget yaa..

    keep it up bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... makasih pujiannya, moga ga jatuh karena ini. xD

      Btw kapan nih Aul nulis fiksi lagi? :p

      Delete
  7. Hehe... Aji berasal dari abad berapa sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kira-kira berasal dari abad berapa hayo? Hahaha

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^