Tuesday, May 26, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Ibu, Ke mana Saja Kau Selama Ini?




Genre: Drama



Dokumentasi pribadi. 


Yang kuingat, ada salah satu legenda Eropa yang berkata bahwa bayi itu berasal dari seekor bangau yang datang membawanya dalam paruh mereka. Burung itu lalu mengantarkannya ke salah satu rumah dari pasangan suami-istri yang amat memerlukan kehadiran seorang anak. 

Saat itu, aku tak tahu apakah mitos itu benar atau tidak. Aku hanya mendengarkan mitos itu dari Mbak Hayu, salah satu pengasuh di Bangau Kasih, sebuah panti asuhan kecil di sebuah kota yang kecil pula. Namun kutahu, mitos itu keliru. Mitos itu datang hanya untuk menghindarkan anak kecil dari sebuah kata tabu yang belum saatnya mereka ketahui. 

Untung saja, aku sudah lama sekali meragukan kebenaran dari mitos tersebut. Yang benar saja, masakan manusia itu berasal dari kedatangan seekor burung bangau ke rumah-rumah pasangan suami-istri? Lantas aku dan anak-anak panti ini, apakah berasal dari burung bangau juga? Padahal di panti asuhan ini sama sekali tak kutemukan pasangan suami-istri. Semua orang dewasa di sini berada dalam status lajang (atau setidaknya janda atau duda seperti Pak Kurdi dan Ibu Wanda, sang kepala panti). 

Namun, mau itu dari burung bangau maupun dari hubungan seksual semata, aku tak peduli. Sudah lama sekali aku kehilangan hasrat untuk memiliki sepasang orangtua yang lengkap, yaitu ayah dan ibu. Sedari SMP, aku sudah terbiasa untuk tidak mengharapkan seseorang yang bisa kusapa 'papa' atau 'mama'. Bagiku, aku ini hanyalah makhluk yang terlahir ke dunia begitu saja tanpa lewat rahim seorang wanita. Atau, anggap saja aku dibawa oleh seekor burung bangau ke sebuah rumah sepasang suami-istri, namun malah tersasar hingga ke panti asuhan ini--yang jumlah penghuninya di atas seratus anak. Terakhir kudengar, ada seratus lima puluh anak asuh.  

Lagipula, ada-tidaknya Papi atau Mami, nyatanya aku bisa mandiri. Hal itu sudah terbukti selama di panti asuhan ini. Tak sedikit dari para pengasuh yang mengatakan bahwa aku ini anak yang memiliki kedisiplinan sangat tinggi, tegar, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Bukti lainnya, tahun depan aku sudah tak berada di negara ini. Aku sudah menjadi bagian dari tim primavera Internazionale Milan. Selangkah lagi aku akan menjadi pemain sepakbola jempolan. Mungkin kelak aku akan bersua dengan Lionel Messi, pebola yang menjadi role model-ku. 

Tapi...

...oh, kumohon, Tuhan, kumohon, jangan Engkau rusak kebahagiaanku. Di saat hari ulang tahunku yang (mungkin) terakhir di Jakarta ini, mengapa wanita itu harus datang? Dari mana pula ia tahu bahwa aku akan direkrut oleh sebuah tim yang memiliki rekor belum pernah terdegradasi di Serie A? Cih, apa dia menyimak berita olahraga juga? Apa dia datang hanya untuk mengakuiku sebagai anak biologisnya? Ke mana dia selama tujuh belas tahun ini? Kalau dia sampai berani berkoar-koar di media, aku akan menuntutnya. 

Aku gemas. Aku mendengus. Aku melengos. 

Lalu Ibu Wanda datang mengejarku hingga kamar yang sekarang sudah sepi. Mayoritas memang berada di aula Bangau Kasih. Dan cukup lama aku berdebat dengan beliau, yang berakhir dengan kata-kata pamungkasku. Kata-kata itu membikin Ibu Wanda membiarkanku sendiri saja dalam kamar. 

"Ibu bilang, orang di bawah itu bisa dibilang sebagai seorang mama? Ke mana saja dia selama ini? Kenapa baru datang saat aku jadi orang?"



Jumlah kata: 500 kata



PS: Cerpen ini khusus dibuat dalam rangka memperingati hari jadi aku yang keduapuluhtujuh tahun. Yuk, guys, ucapkan selamat ulangtahun untukku! Ditunggu, lho, kado dan permohonannya! Ha-ha-ha.