Thursday, May 7, 2015

ANOTHER FICTION: Pecah Sudah Akuarium Itu




Genre: Romance


Artwork by Felix Salvata. Kebetulan cerpen ini khusus memenuhi tantangan yang Bro Felix kasih.
Jika ada yang gambar buatannya itu kubikinkan cerpen, boleh nih hubungi aku di: namaku-noel@hotmail.com.
Tapi bayar, lho!  ^_^v




Jakarta, 5 Mei 2015

Tristan sepertinya begitu terpukau dengan apa yang ada di depan mata. Sebuah seni. Anggap saja seperti itu jikalau istilah 'maha karya' terlalu hiperbolik. Benda itu juga bisa dibilang seni, bukan? Kalau bukan, buat apa pengelola museum rela merogoh kocek sampai ratusan juta demi bisa memajangnya di salah satu stan?




Mungkin benda itu bukan sebuah maha karya. Terlalu sering kita menyaksikan yang seperti itu di mana-mana. Apa yang istimewa dari sebuah miniatur sebuah galeon yang diletakkan secara seksama dalam sebuah botol kaca? Di museum-museum tetangga juga ada. Bahkan sekarang, Tristan dengar bahwa ada semacam kursus untuk membikin yang seperti itu. Pelajar sekolah dasar pun bisa membuatnya.

Tapi buat Tristan, benda itu tetaplah maha karya. Tak peduli seberapa seringnya retina matanya mulai muak menangkap obyek-obyek seperti itu. Alasannya bukan karena pengerjaannya yang ekstra sulit. Melainkan karena benda itu sudah membangkitkan kembali serpihan kecil memorinya.

Tristan menghela  napas. Ia menengadah ke atas. Bibirnya mengucapkan sebuah nama. Butuh perhatian yang sangat untuk mengetahui nama yang diucapkannya. Yang jelas, mungkin itu nama seorang perempuan. Kalau tidak, buat apa Tristan sampai cengar-cengir sendiri?

Nama perempuan itu...

...Brigitta Morais.

Nama belakangnya memang berbau Portugis. Tapi jangan salah, perempuan itu  bukanlah berkewarganegaraan Portugal, Brasil, atau sejenisnya. Perempuan itu warga negara Meksiko, walau tak bisa dipungkiri, juga memiliki darah Brasil. Ayahnya itu keturunan Brasil generasi ketiga yang menetap di Meksiko karena dulunya sang buyut itu seorang pekerja di sebuah kedutaan besar Brasil di Meksiko.

Brigitta memang perempuan yang luar biasa cantik. Rambut panjang dan bergelombang, brunette, mata hijau, hidung runcing.  Belum lagi senyuman Brigitta selalu saja melebarkan daun hidung Tristan. Jantung Tristan tak hentinya berdetak-detak tiap bertatap muka. Kau bisa menyebutnya bahwa Tristan sudah jatuh cinta dengan Brigitta. Hanya saja...

...Tristan tahu, Brigitta itu bukan perempuan yang boleh ia sentuh. Bukan karena Brigitta sudah bersuami. Bukan karena Brigitta seorang pengidap penyakit-penyakit berbahaya (walau untuk yang satu ini, Tristan memilih untuk bersikap masa bodoh). Namun karena Brigitta itu kekasihnya Tuhan.

Brigitta Morais adalah kepunyaan Tuhan. Perempuan itu sudah dipersunting Tuhan sendiri semenjak merayakan sweet seventeenth birthday. Sehingga Tristan tak boleh mendekati apalagi menggodainya.

Miris? Kadang hidup seringkali memberikan kita banyak kemirisan yang bikin hati menjadi kelu saja. Tristan--dan insan-insan lainnya--harus terbiasa dengan fakta menyakitkan tersebut.

*****

Tokyo, 5 Mei 2015

Taman bermain itu selalu saja hiruk. Meskipun di Tokyo punya segudang taman bermain, tetap saja taman bermain yang memang turunan dari taman bermain sejenis yang ada di California itu selalu dalam keadaan ramai. Tak ayal, film-film keluaran studio animasinya saja memiliki banyak penggemar di seluruh negara. Termasuk Indonesia. Negara di mana tinggal seorang lelaki yang menggetarkan dada perempuan berambut pendek kaku itu.

Mata perempuan yang mirip mata kucing itu tersenyum penuh makna pada barisan manusia dengan bahasa yang tak lagi asing. Ia selalu saja begitu tiap menemukan segala hal yang bisa menjadi pemantik ke segala memori berbau lelaki tersebut.

"Tristan Raharja," desis perempuan itu sepelan mungkin; tentunya seraya menyunggingkan senyuman manis. Tak seperti kebanyakan manusia di negaranya, ia mengucapkan nama pertama si lelaki sefasih orang Indonesia mengucapkannya. Terutama di bagian yang ada huruf 'r'-nya.

Naomi Hiura, itulah nama perempuan itu. Sesungguhnya perempuan itu bukanlah asli Jepang. Ia peranakan. Ayahnya itu orang Jepang-Peru yang mana sudah setengah abad tinggal di negara yang merupakan basis suku Inca. Sementara ibunya itu seorang mestizo yang lahir di Monterrey, kota kecil Meksiko yang terletak lumayan tak jauh dari Corpus Christi, sebuah kota di mana ia pernah mengenyam pendidikan.

Bahasa Jepang Naomi pelajari secara otodidak. Tak sulit bagi perempuan itu untuk mempelajarinya. Apalagi Naomi kan memiliki darah Jepang dalam raganya. Selain bahasa Spanyol-Meksiko dan Spanyol-Peru, ayahnya yang suka kedatangan sanak dari Prefektur Chiba itu masih suka bertutur bahasa Jepang. Sesekali, saat isengnya kumat, Naomi suka minta diajari bahasa Jepang sama ayahnya. Tentunya Senor Ricardo tak keberatan. Walau tergolong langka untuk kembali ke Jepang, Ricardo-san tak ingin tradisi leluhurnya sirna begitu saja. Tradisi itu harus terus dipupuk, meskipun status kewarganegaraan sudah berganti.

"Naomi!!!" pekik salah seorang perempuan sembari melambai-lambai padanya.

Naomi pergi ke Disney Land bersama rombongan teman-temannya sesama pekerja di sebuah studio animasi. Terpaksa. Sebetulnya Naomi sedang tak dalam suasana hati yang bagus untuk berjalan-jalan di sebuah taman bermain. Apalagi untuk menyaksikan sekumpulan orang yang berdandan ala tokoh Disney, yang tengah beratraksi semenarik mungkin. Pikiran Naomi masih saja terus terpusat ke sebuah kota yang ia harus menyeberangi samudera dulu untuk mencapainya.

Ini tak berlebihan. Sebab kota itu memang terletak bermil-mil jauhnya dari Tokyo. Kota itu bernama Mexico City. Yah, itu ialah ibukota sebuah negara yang terkenal dengan suku Aztec-nya. Dan, tepatnya lagi, pikiran Naomi tertuju ke sebuah panti asuhan yang ada di Mexico.

Salahkan mimpi-mimpi yang Naomi dapatkan selama tiga malam berturut-turut. Itulah penyebab mengapa Naomi jadi sering hilang fokus di kantor.

Naomi tertatih-tatih untuk beringsut pada temannya yang ujung rambutnya bak ombak. Karena sudah tak sabaran, temannya mempercepat langkah dan menatapnya jengkel.

"Naomi, yamete. Wasure nda kudasai!" ujar temannya yang mendadak berubah mimik. "Lupakan soal mimpi itu. Mimpi yah hanya mimpi. Itu tak lebih dari sekadar teman saat kamu tidur. Jangan terlalu dianggap serius begitu. Lebih baik kamu nikmati segala hiburan di Disney Land ini."

Naomi menggeleng. "Kamu tidak akan pernah mengerti ini, Rei-chan. Mau kujelaskan sampai beribu kali pun, kamu tidak bakal mengerti."

"Nande?" tanya Rei nyengir. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"

"Aku sudah cerita hingga enam kali, tapi kamu selalu saja menyarankanku untuk mengabaikan mimpi-mimpiku itu." Nada Naomi terdengar begitu pasrah sekali.

"Aku kan hanya mau yang terbaik untuk kaigai nakama-ku. Jangan sampai saja, kau jadi hilang akal sehat hanya karena mimpi belaka. Aku tak ingin sahabatku ini jadi gila karena terus memikirkan serangan mimpi-mimpinya itu." ujar Rei tersenyum, lalu merangkul Naomi.

"Demo--" Tampak Naomi hendak melancarkan balasan ofensifnya.

"Demo-demo tte janai yo," Rei meletakkan telunjur di bibir tipisnya. "Sudahlah, lupakan. Atau kalau kamu mau, kenapa tak menghubungi saja panti asuhan itu? Kamu masih menyimpan kontaknya kan? Oh iya, apa nama panti asuhan itu?"

Bahasa Spanyol yang sangat fasih itu akhirnya deras keluar setelah sekian lama. "El orfanato de la manzana de ángel."

"Eru nani?" Ini bukan selorohan atau selorohan. Hanya saja Rei memang kesulitan untuk bisa menangkap kata-kata Naomi tadi.

*****

Mexico City, 21 April 2015

Pastor Alfredo hanya bisa geleng-geleng kepala saat nyaris seluruh panti asuhan itu mengerubungi pintu kediamannya yang tak jauh dari sebuah kapel kecil nan indah. Anak-anak yang sebagian besar sudah akil balig itu memprotes kejadian perginya Suster Brigitta dari Manzana de Ángel.

"Padre, por favor decir en nuestro, mengapa Suster Brigitta tidak lagi berada di panti asuhan ini? Bapak tidak mengusirnya kan?" kata seorang anak lelaki dengan rahang yang menegang.

Yang lain menimpali, "Padre, kami tak keberatan kalau Suster Brigitta sudah melakukan kesalahan yang mungkin sudah bikin malu Manzana de Ángel atau pun kapel ini. Bagi kami, itu tak masalah."

"Kami tak masalah tak jadi diadopsi gara-gara rumor tersebut. Bagi kami semua, Suster Brigitta adalah suster yang terbaik di Manzana de Ángel ini." imbuh yang lain, seorang perempuan berambut panjang dan hitam.

Berikutnya, kompak paduan suara itu melantunkan sebuah syair, "Kembalikan Suster Brigitta pada kami! Retorno! Retorno! Retorno!"

Pastor Alfredo mengangkat tangan. "SILENCIOOOOOOOO!!!!"

Hening. Pastor Alfredo kembali berbicara, "Kalian ini apa-apaan? Bukankah suster-suster di sini dan aku sendiri itu selalu mengajarkan untuk tidak membeda-bedakan orang? Tak baik menuhankan manusia itu. Suster Brigitta itu juga sama kedudukannya dengan suster-suster lainnya. Malah seharusnya kalian lebih menaruh respek pada suster kepala ini."

Pastor Alfredo menunjuk pada Suster Amanda yang sudah berusia lanjut, lebih tua daripadanya. Suster Amanda hanya bisa tersenyum saja.

"Lagipula, Suster Brigitta mengundurkan diri menjadi suster itu murni karena hatinya. Ia sendiri yang memutuskan untuk menyudahi saja kaulnya tersebut."

"Tapi apa alasannya, Padre?" tanya seorang remaja lelaki yang berdiri paling depan. "Bukan karena gosip itu, kan?"

Gosipnya, Suster Brigitta kepergok tengah mengunjungi sebuah losmen tua bersama dengan seorang pria paruh baya. Ada yang bilang, suster itu menyalahgunakan kepercayaan Tuhan dengan berbuat senonoh di dalam losmen itu. Walhasil, Suster Brigitta jadi mengandung. Begitulah kabar anginnya yang sudah membuat seluruh penghuni Manzana de Ángel cukup gempar selama dua bulan ini. Karena gerah yang sudah ditahan-tahan, anak-anak itu lantas berdemo depan kediaman sang pastor yang sekaligus pengelola Manzana de Ángel tersebut.

*****

Jakarta, 7 Juni 2015

"Que usted serio?" Mata Tristan berbinar-binar. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya dari Naomi yang berada di seberang Laut Tiongkok Selatan.

Tristan merasa doanya sudah terkabul. Pecah sudah akuarium itu. Dan Suster Brigitta tak lagi terkurung dalam akuarium yang sudah sepuluh tahun terus memenjarakan kecantikannya yang luar biasa. Karena akuarium itulah, banyak laki-laki yang hanya bisa gigit jari saat akan mendekati Suster Brigitta. Siapa juga yang berani mendekati kalau harus berhadapan dengan Tuhan terlebih dahulu--selaku sang kekasih utama dari suster yang dulu memilih menjadi seorang biarawati atas nurani sendiri.

Mungkin Naomi sedang mengangguk saat mengucapkan ini, "¡Sí, sí, sí, sí, sí,... hontou ni hontou!" Seolah bahasa Spanyol tak cukup meyakinkan teman lelakinya itu, Naomi juga berkata dalam bahasa Jepang yang dimengerti pula oleh Tristan. "Informasi ini juga kudapatkan langsung dari dia, kok. Seminggu lalu, Suster Brigitta--eh, maksudku Brigitta--meneleponku dari Meksiko sana. Dan menurut penuturannya, seharusnya hari ini dia sudah berada di Jakarta."

"Thank, God!" ujar Tristan yang lalu membikin tanda salib. Tristan terlalu girang, sehingga tak lagi fokus pada kata-kata Naomi terakhir tadi.

"Ya ampun, yang girang sekali. Sebegitu cintanyakah kamu dengan Brigitta? Harusnya kamu merasa berdosa. Tak banyak orang yang berani menantang Tuhan demi seorang perempuan." seloroh Naomi jahil.

Tristan cengar-cengir. "Tidak juga. Sebetulnya aku juga sudah ikhlas melepaskannya sewaktu pertama bertemu di panti asuhan itu. Aku sudah mati-matian coba melupakannya. Tapi sepertinya sia-sia saja. Semakin coba melupakan, malah semakin teringat."

Di Jepang sana--yang sudah waktunya maghrib, Naomi terbahak.

"Please don't laugh at me!" pinta Tristan tegas.

"Cinta memang gila yah. Bahkan saking gilanya, Tuhan sampai angkat tangan, lalu menyerahkan salah satu dari gadis-gadis kesayangannya untuk seorang pemuda dekil sepertimu."

"Shit!" rutuk Tristan yang masih nyengir. "Kamu berkata seperti itu bukan karena dulu pernah kutolak, kan?"

"Ya tidaklah. Walau sempat susah move-on darimu, akhirnya aku bisa juga menambatkan hati dengan seorang pria yang jauh lebih baik dari kamu yang super berantakan itu."

*****

Samudera Pasifik, 3 Juni 2015

Brigitta Morais tersenyum memandangi pemandangan di luar pesawat yang akan membawanya ke Indonesia. Sesungguhnya ia tak tahu harus ke mana. Tapi biarkan hati ini yang akan memandunya untuk menemui seorang lelaki yang akhirnya berhasil membuat dadanya berdebur kencang. Konon, yang masih ia ingat, lelaki itu tinggal di ibukotanya. Tambahan lagi, lelaki itu bekerja sebagai seorang jurnalis. Mungkin sesampainya di Jakarta, ia bisa melihat-lihat beberapa koran sembari bertanya apakah mengenal seorang jurnalis bernama Tristan Raharja. Kali saja lelaki itu punya nama yang cukup kondang di Jakarta khususnya.

Sesungguhnya berat untuk seorang Brigitta meninggalkan kaulnya itu. Dulu, selepas merayakan ulang tahun yang ketujuhbelas, ia bersumpah akan menjadi seorang biarawati. Keputusan sempat ditentang oleh ayah, teman-teman, dan keluarga besarnya; hanya ibunya yang mendukung. Bagaimanapun Brigitta memiliki kecantikan tiada tara. Tubuhnya proporsional. Brigitta sangat cocok menjadi seorang model. Calon supermodel. Mungkin juga calon Miss Mexico.

Sembari menyeruput teh, Brigitta mengingat kembali alasannya menjadi biarawati. Itu karena dirinya merasa semua lelaki di Mexico itu tak ada yang menarik perhatiannya. Kasarnya, semuanya berengsek. Ia juga bersumpah (yang khusus ini, hanya dia dan Tuhan yang tahu) bahwa akan melepaskan kaulnya apabila menemukan seorang lelaki yang sanggup membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama. Lelaki itu juga harus sama-sama bermata hijau.

Sekarang, setelah menunggu sekian lama, lelaki itu tiba. Layaknya seorang Putri Fiona (yang akhirnya malah jatuh ke pelukan seorang ogre) yang menunggui seorang pangeran untuk menyelamatkannya dari seekor naga ganas, lelaki itu sendiri yang menghampirinya ke Manzana de Ángel--datang jauh-jauh dari  Jakarta. Sayang saat itu, Brigitta tak cepat merespon. Lagi-lagi butuh waktu untuk bisa mencernanya bahwa permohonannya sudah dikabulkan Tuhan.

Brigitta membentuk tanda salib. Kedua tangannya saling menapak. Bibirnya merapalkan sebuah doa. Intinya, ia berterimakasih telah dipertemukan dengan seseorang yang menurut lubuk hatinya, orang itu ialah belahan jiwanya. Demi sang belahan jiwa, Brigitta rela menebusnya dengan harga yang sangat mahal sekali. Saking mahalnya, fisik taruhannya.

Ah, Brigitta tak sabar untuk bisa segera bersua dengan pangeran impiannya. Siapa namanya? Tristan Raharja.




PS:
Yamete. Wasure nda kudasai: Hentikan. Kumohon, lupakanlah.
Nande: Kenapa?
Demo-demo tte janai yo: Enggak usah tapi-tapian deh.
Eru nani: El apa?
Hontou ni hontou: Serius banget dong.
Kaigai nakama: Rekan asing.
Padre, por favor decir en nuestro: Bapak/Romo, mohon jelaskan pada kami.
Silencio: Tenang!
Retorno: Kembalikan.
Que usted serio: Apa kamu serius?
Sí: Iya.

11 comments:

  1. Tema'a d tokyo mlu mas, jdi tambah pingin liburan jepang“ψ(`∇´)ψ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, bukan kok. Cuma ambil setting di sana aja. Dan kebetulan juga, hehehe.....

      Delete
  2. Replies
    1. Kabarin aja ke blog yang bersangkutan. ^_^

      Delete
  3. Keren Dari sebuah judul yang sipmle bisa jadi cerita yang keren, salut deh mas sama hasilnya (y)

    ReplyDelete
  4. Serasa Paulo Coelho.
    Mungkin soal deskripsi karakternya agak gimana gitu ya, kerasa rada dipaksakan soal latar belakang rasnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah suatu kehormatan. Baru kali ini ada yang bandingin ceritaku sama Paulo Coelho. So flattered. •_•

      Thank.

      Hahaha... Gitu ya, ga tau ni, tiba-tiba pengen bikin cerita kayak gini aja. Kadang juga ngerasa gitu juga. Bikin deskripsi karakternya rada maksa. Hahaha

      Delete
    2. Mungkin neranginnya bisa coba ditambahin secara naratif, bukan deskriptif tok. Pernah baca soal ini tuh di artikel bikinan Dee, tapi lupa lagi link-nya apa euy, udah lama banget bacanya.

      Delete
    3. Oh gitu. Oke, oke. Nih juga masih dalam tahap pembelajaran sih, hehehe.

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^