Wednesday, April 1, 2015

Punya Dua Passion? WHY NOT?





"Know yourself. Find your passions. Follow your dreams. Do what you love." -- no name. 






Entah sugesti, entah memang pengaruhnya begitu kuat, semenjak menulis "Spongebob Syndrome", aku amat sangat begitu sering sekali mendengar kata 'passion' diucapkan di mana-mana.

Passion itu apa?

Baca di sebuah blog seorang blogger, passion itu jika kamu dengan hati yang senang untuk melakukan sesuatu dibanding tidur. Terus, kamu dengan sukarela melakukan hal itu, bahkan jika tidak dibayar. Ketika kamu suka menjalani pekerjaan yang kamu lakukan, nah itu artinya, kamu sudah menemukan passion kamu (Kurang paham lagi?  Mungkin bisa dibaca tulisan Sanchia ini). 

Sama seperti aku. Passion aku yah menulis. Rasa-rasanya tuh yah, kalau nggak ada laptop atau komputer itu terasa nggak ada gregetnya hidup ini. Minimal kalau nggak ada dua benda itu, yah ada ponsel begitu. Cukup dengan memperbaharui status Facebook saja, aku sudah girang tak ketulungan. Tak dibayar pun, tak masalah. Aku cinta sekali dengan dunia tulis-menulis ini. Bahkan saking cintanya, aku sempat berhasrat, ingin melahirkan banyak anak yang imut-imut--yang bisa bikin dunia terkagum-kagum--dari si istri ini (baca: menulis). 

Tapi, yah itu dia. Sejak 2014 kemarin, aku sadar. Ada salah seorang teman SMP yang menyadarkanku bahwa hidup juga harus realistis. Hidup kan tidak serta-merta dari cinta, bukan? Otak kiri juga harus bekerja. Atas dasar pemikiran itulah, sepertinya kecintaanku pada sang istri ini harus tergadaikan. Aku harus juga memikirkan soal finansial. Itulah sebabnya, aku sempat pontang-panting cari peluang di bidang yang aku sukai ini. Bagaimanapun aku penulis profesional. Menurutku, suatu pekerjaan yang sudah masuk taraf 'profesional', maka sudah tak bisa lagi bertingkah amatiran. Segalanya harus dipikirkan secara terkonsep, termasuk soal kemungkinan remunerasi yang kita dapatkan kelak. Maaf kasar, tapi hanya seorang amatir yang rela tak dibayar. 

Aku cinta menulis. Tapi aku harus realistis. Aku butuh uang juga. Dan ini bukan berlaku materialistis juga. Makanya, itulah kenapa aku suka gemas sendiri saat tiap kali mengirimkan tulisan ke media apa saja, balasannya itu lama, dan seringkali berujung penolakan (Lebih jengkel lagi saat tak mendapatkan respon sama sekali). Sering aku berpikir, kenapa harus terus menemui kegagalan demi kegagalan. Padahal selama enam tahun blogging, sudah banyak teman blogger yang menyukai tulisan-tulisanku. Tak hanya itu, teman-teman offline pun berkata sama. Jadi salah di mana? Di mana letak kesalahannya--sehingga sering mentok tembok penolakan? Padahal aku juga pengin berkembang lebih jauh. Dan dengan diterimanya satu tulisanku saja di salah satu media saja, itu sudah jadi moodbooster yang luar biasa untukku. Aku jadi makin bersemangat menulis yang lebih baik dan bagus lagi. Kesempatan itu yang aku belum pernah dapatkan. Aku lelah harus terus bermain-main di dunia maya ini. Ingin sekali bisa juga aku unjuk kemampuan di ranah offline (baca: lewat media atau buku). Ingin juga bisa merasakan dapat uang dari hasil menekuni mati-matian passion menulis ini. Ingin rasanya menemukan seseorang atau beberapa orang yang sudah tahu kualitas tulisan-tulisanku (lalu mencintainya), lantas mengajakku gabung ke beberapa proyek menulis. 

Heh... (* menghela napas lebar-lebar)

Bicara soal passion juga, kurang lebih dua bulan sebelumnya, aku pernah baca sebuah artikel koran. Adalah seorang bintang sinetron--yang mana kita inisialkan saja sebagai NW--yang berkata bahwa dia sudah menemukan passion-nya. Si artis pengin bekerja di bidang hukum gara-gara menghadiri beberapa kali sidang pengadilan. Hal itu menarik perhatianku. Cukup sangat. Pikirku: "Berarti selama ini, dia tidak mencintai apa yang sudah dia lakukan selama ini dong. Karena, menurut hemat pendapatku, passion itu kan ibarat seperti sebuah cinta. Dan cinta yang lebih baik itu jika kita HANYA mencintai satu saja." 

Yah begitulah pikirku. Terasa cetek mungkin, aku harus akui. Karena, hingga detik ini, aku mulai sadar bahwa mungkin saja kita punya dua passion. Kita bisa mencintai dua atau beberapa hal sekaligus. Toh cinta passion itu kan tidak sama dengan cinta romance dua anak manusia. Apalagi passion itu juga muncul karena hobi, bukan? Jadi wajar-lah kalau kita memiliki dua atau beberapa passion

Sama seperti Spongebob, bukan? Mungkin passion utamanya itu yah memasak Krabby Patty. Tapi bukan mustahil jika Spongebob memiliki passion-passion lainnya. Seperti menangkap ubur-ubur misalnya. 

Dan aku juga sadar, punya dua atau lebih passion itu malah suatu keuntungan. Terkadang saat kita stuck di satu passion, kita bisa beralih ke passion lainnya. Andai kata kita punya passion di bidang menulis dan menggambar. Kalau kita jengah dengan menulis, kita bisa bikin komik atau ilustrasi-ilustrasi lucu. 

Tapi tetap kita harus menemukan apa yang menjadi passion utama kita. Karena keberhasilan dalam hidup bakal terjadi jika kita sungguh menyeriusi SATU passion saja. Jarang yah, aku menemukan ada orang yang bisa sukses di dua atau lebih bidang sekaligus. Seringnya yang terjadi orang itu bisa sukses atau terkenal karena satu passion. SATU PASSION

Ambil contoh, Leonardo Da Vinci. Beliau dianggap sebagai seniman berbakat. Melukis bisa, menyanyi bisa, memahat bisa, bikin fresko bisa, malah tertarik pula jadi ilmuwan. Tapi tetap Da Vinci lebih dikenal sebagai seorang pelukis. Apalagi hasil gambar-gambar dia jauh lebih banyak daripada hasil-hasil passion lainnya. Passion utamanya memang jadi pelukis. 

Kembali ke soal NW itu, mungkin si artis tengah jemu dalam menekuni karir seni perannya. Makanya dia seperti kepeleset lidah berkata bahwa dirinya ingin kuliah hukum. Lagipula, bukankah banyak contohnya di dunia showbizz, para selebritas yang punya dua passion--atau lebih. Tak cukup dengan hanya menyanyi, VA juga mengasah passion-nya di bidang bisnis. DT pun sama. Sudah kondang jadi penyanyi, ia tetap buka klinik untuk memanfaatkan gelar dokternya. Terakhir, NG yang tak melupakan perjuangannya menjadi dokter, padahal si suara cempreng itu sudah mantap jadi entertainer

Dengan memiliki dua atau lebih passion, aku sadar itu memang keuntungan. Itu bisa bikin hidup jadi tak bosan untuk dijalani. Bayangkan kalau kita hanya menjalani satu passion, lalu tiba-tiba kita merasa jemu, dan kita sama sekali tak menemukan alternatif lainnya. Yang seperti ini bisa memancing bunuh diri namanya. 

Heh... (* kembali menghela napas lebar-lebar)

Aku bersyukur, beberapa minggu sebelumnya, telah menemukan passion-ku yang lainnya. Yaitu, dunia fotografi--yang sudah kugeluti sejak masih di sekolah dasar. Aku cinta fotografi sama besarnya dengan rasa cinta ke dunia tulis-menulis (terlebih menulis fiksi). Namun tetap aku ingin lebih dikenal sebagai penulis daripada fotografer. 

Dan semoga saja aku menemukan passion-passion lainnya. Sehingga aku bisa menghindarkan diri dari rasa jemu yang menyergap saat menjalani sang passion utama (baca: menulis).



created by+kausar armada sukardi 




"Saya berhasil karena saya menyukai apa yang saya kerjakan (di satu bidang saja), dan menikmati setiap menit dan detiknya secara profesional." - Rezka Octa

9 comments:

  1. Nah ya.. Aku pribadi saat ini ngga mengharuskan passion ku sebagai penghasilan, Nuel.. Justru aku rela kerja di luar bidang yang aku mau, demi bisa puasin passion ini. Karena passion ku cukup menguras uang, yaitu traveling dan makan. Hahahaaaa.. :D

    Yah.. Itung-itung sambil memperdalam skill dalam mereview makanan, misalnya. Tapi ngga menutup kemungkinan kalok suatu saat nanti bakalan dapet rejeki dari situ. :3

    Jangan terpaku dari passion aja. Kadang Tuhan ngasih rejeki kita dari hal yang sama sekali ngga kita duga. :D

    ReplyDelete
  2. Dua passion ya, nyari atu aja susah! Hehehe. Kalo pribadi passion tuh ya satu path, satu titik, Gairahnya apa, bidang seni yang macem-macem difokusin satu-satu, suka ilmu pasti difokusin jadi satu kaya Stephen Hawking (Stephen Hawking mulu). Banyak orang sukses denga passion mereka walau terlihat gak realistis, dulu pernah ada artis ngomong di tv, seinget gue Sophia Latjuba, passion dan idealis itu penting, tapi harus menghasilkan, kalau enggak menghasilkan itu hobi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya kata 'menghasilkan' itu masalahnya. Menghasilkan dalam artian apa? Finansial? Atau karya? Karena bagi gue, ketika gue udah nyaman lakuin sesuatu dan ga mikir soal duit dulu, itulah passion. Hahaha

      Delete
  3. Dapat sebuah diagram venn menarik dari 9gag, soal irisan antara passion, mission, vocation, dan profesion. Nah, passion itu perpaduan antara "I love it" dan "I am great at it".

    Kalau nyemplung ke hobi fotografi, hati-hati aja sama kutukan Gear Acquisition Syndrome.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.... Ya semua orang beda-beda sih anggapan nya soal passion. Kalau soal fotografi, aku mah nggak terlalu tertarik buat ngikutin nama2 tenar lainnya. Sama kayak nulis ini, udah cenderung punya style sendiri. Hahaha

      Delete
  4. sebenarnya saya masih bingung passion itu apa,

    Tapi bang saya juga sempat tertarik dengan dunia fotografer dan sekarang saya juga tertarik dengan musik klasik...
    Tapi saya ingin fokus ngeblog dulu aja...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau untuk aku, buat memahami soal passion, cukup lihat spongebob. Hahaha.... Kalau di dunia nyata, belum pernah ketemu sih orang-orang yang kerja berdasarkan passion. Yang ada juga kerja karena duit. Hahaha

      Delete
  5. cari passion lain biar fresh ya jadi nantibisa nulis lagi yang keren

    ReplyDelete
  6. kita bebas milih mau menjadi apa, tapi jadilah yang terbaik di bidang itu. Mau jadi pelukis, jadilah pelukis terbaik, mau jadi penari, jadilah penari nomor 1.. kata orang sih gitu. haha

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^