Tuesday, April 21, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Yusmira Sang Chaos





Genre: Romance




Aku bingung. Pun syok. Rasanya masih tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku. Perempuan ini betulan dia?

Dia...

Maksudku Yusmira, teman lamaku di SD Kenanga. Seorang gadis kecil yang dulu sering dirundung oleh teman-teman sekelas. Dulu ia tak seperti yang tertangkap oleh kornea ini. Jauh sekali bedanya.

Yusmira yang kukenal dulu itu berambut panjang ikal. Tubuh nyaris kerempeng, sehingga dagunya nyaris seruncing pensil yang baru diserut. Gigi-giginya dikawat. Kacamata ukuran frame sebesar kepalan tangan itu membuat dirinya jadi semakin buruk rupa. Namun bukan itu yang membuatnya dirundung nyaris tiap hari di kelas.

Bau. Yah persoalan baulah yang menyebabkan aku dan lainnya itu gemar meledekinya. Terlebih rambutnya itu. Aku heran, sampo jenis apa yang ia pakai tersebut? Baunya menyengat sekali. Kontras sekali dengan pheromone yang ia miliki. Dulu aku menganggap pheromone yang dimiliki Yusmira itu merupakan yang terbaik dari tiap perempuan yang pernah kujumpai.

Oh aku memang sudah dianugerahi kemampuan penciuman yang bagus sedari kecil. Saking bagusnya, aku bahkan bisa mencium pheromone seseorang. Dan seperti yang kukatakan tadi, pheromone milik Yusmira adalah yang terbaik.

Sayang pheromone itu harus bersaing dengan bau sampo yang digunakan. Di rumahnya itu, ia pakai sampo jenis apa. Sepertinya sampo-sampo yang kugunakan di rumahku itu tak ada yang baunya semenjijikan itu.

Entah karena soal bau rambutnya, entah karena Yusmira yang tak bisa berpenampilan yang indah dipandang, aku dulu sama sekali tak bisa melihat sisi cantik alami dari dirinya. Anggapanku dulu--yang sangat sadis, Yusmira itu memang gadis buruk rupa. Dari sudut mana pun, dari ekspresi apa pun, Yusmira tetap saja jelek. Mungkin Yusmira sungguh terlahir sebagai gadis yang daya tariknya itu bukan di penampilan. Mungkin andaikata ada pria yang kelak mau menikahinya, pasti bukan karena fisik Yusmira. Pasti karena sebab lainnya.

Mungkin otaknya. Sebab dulu Yusmira itu langganan tiga besar. Mungkin pula karena kebaikan hatinya. Sebab ia tak pernah sekali pun membalas, merengut, atau mendendam. Mengadu pada kedua orangtuanya pun tak pernah. Beda dengan Alfa, si Pepaya, yang ayahnya selalu datang tiap dirinya dirundung sampai termehek-mehek.

Namun sekarang Yusmira berubah seratus delapan puluh derajat. Ia tak berkacamata sebesar kepalan tangan lagi. Ganti kacamata frameless ia kenakan. Gigi-giginya tak dikawatkan lagi. Rambutnya terurai lurus dan selembut sutra; malah sengaja dicat jadi brunette pula. Kulitnya putih mulus. Kali ini aku bisa merasakan aura cantik alami terpancarkan dari dalam tubuhnya. Yusmira sangat cantik sekarang ini. Malah lebih cantik daripada tunanganku ini, Tere.

Gara-gara perubahan drastis Yusmira ini, Tere jadi mencubitiku kuat-kuat. Tere melotot dan menyembur, "Biasa saja kali melihatnya. Aku juga tak kalah cantik, kok, sama teman lamamu ini."

Yusmira terkikik. Aku tersentak, pun ikutan terkikik pula. Tere makin sewot. Apalagi saat aku keceplosan bicara, "Gila kamu yah. Drastis sekali perubahannya. Dulu kamu tidak secantik ini perasaan deh."

Yusmira terkekeh. "Masa sih aku cantik? Bukankah aku masih seburuk rupa yang dulu? Aku juga masih bau kan?!" Ia mencium-ciumi ujung rambut panjangnya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tersenyum. "Aku serius, Yusmira. Kamu luar biasa cantiknya. Dan soal bau itu, harumnya itu malah melebihi tunanganku ini."

PLAK!

Tere melengos, meninggalkanku berdua saja dengan Yusmira di atas butiran-butiran pasir pantai nan indah yang berada di Puerto Rico. Aduh, apes. Karena pertemuanku dengan Yusmira, buyar sudah rencana itu. Rencana melamar Tere yang sudah hampir sepuluh tahun menjalin hubungan denganku.


Dokumentasi pribadi.


Tere ngambek. Lagi dan lagi. Aku kembali mendapatkan sorot matanya yang selalu bikin aku membeku seketika. Biasanya ia selalu menyapaku sebelum masuk kamar. Kali ini tidak. Ia langsung masuk begitu saja. Aku tidak dipedulikan. Tapi biarlah.

Aku tahu Tere seperti apa. Sudah sepuluh tahun hubungan kami. Waktu yang sangat cukup untuk tahu luar-dalam Tere seperti apa. Pasti nanti jika ada perlu apa-apa, ia akan datang sendiri padaku. Apalagi di negara ini, yang mana mayoritas penduduknya berbahasa Spanyol. Mana bisa Tere bahasa Spanyol.

Mari lupakan soal Tere terlebih dahulu. Aku masih terngiang bagaimana waktu sudah mengubah Yusmira sedemikian rupa. Yusmira sungguh terlihat jelita. Aku tak menyangka dewa waktu sudah mengubah si buruk rupa menjadi seorang putri kahyangan.

Aku pun sama sekali tak menyangka bahwa Yusmira tinggal di negara ini. Memang aku sudah berjumpa dengannya sejak masih duduk di kelas lima. Semenjak tak bisa naik ke kelas enam, Yusmira pindah sekolah. Tak sekadar pindah sekolah, pindah tempat tinggal pula. Konon keluarganya pindah ke Bali. Setelah itu, aku hilang kontak. Tak ada lagi berita tentang Yusmira yang kuperoleh. Yusmira terlupakan seperti biasanya. Seperti saat aku dan dia masih seorang pelajar berseragam putih-merah. Bukankah selain jadi bahan ejekan, Yusmira sering tak diacuhkan, baik oleh rekan sekelas maupun guru-guru?

Ah, kini semuanya berubah. Yusmira sudah berdiri tegak di atas roda kehidupannya. Ia tak lagi diabaikan. Ia tak lagi dirundung. Sebaliknya, di negeri Borinquen ini, Yusmira ibarat seorang putri. Ia begitu dipuja. Lihat saja, waktu tadi siang, ia menemaniku berjalan-jalan ke Rio Piedras. Tak sedikit yang menyapa, malah ada yang menggodainya. Bahkan ada pula yang sempat mencemburuiku. Itu akibat beberapa pria--yang dari selentingan yang sempat kudengar--tak suka aku berjalan berdampingan dengan Yusmira.

Oh aku jadi ingat dengan kata-kata Alfredo, si sopir taksi. Waktu kubilang siapa pemanduku dan Tere, ia langsung berbinar-binar. Katanya, "Señor Ferdinand, usted es la mas fortunas. Maravilloso opción."

Aku terkekeh. Jujur saja, bukan aku juga yang memilih. Pihak agen perjalananlah yang memilihkan.

Tapi...

Wah Yusmira, kamu sangat beruntung. Entah apa yang sudah kamu lalui selama ini. Sehingga fisikmu berubah drastis. Dari yang kutangkap, kamu itu ibarat seorang putri kecantikan. Kamu sangat dipuja. Kamu benar-benar beruntung.

*****

Oke, oke. Lupakan soal Yusmira. Teman lamaku ini sungguh sudah melenakan diriku. Sampai-sampai aku lupa dengan niat awal mengunjungi Puerto Rico ini. Bukankah tiket mahal yang kubeli ini demi misi itu? Aku berencana akan melamar Tere di Condado yang terkenal akan buih-buih air lautnya. Sekonyong-konyong aku bangkit dan bergerak menuju kamar Tere yang berada di seberang kamarku. 

Tapi...

Pintunya terkunci. Ah mungkin dia masih terlelap. Kucoba untuk menggedor-gedor seraya memanggil-manggil namanya.

"Tere, Tere,... Bangun dong, Tere. Yuk, bangun. Hari ini aku mau mengajak kamu jalan-jalan lagi. Kali ini ke tempat spesial. Dan kali ini juga aku tidak akan bikin kamu kesal lagi seperti kemarin. Maaf yah yang kemarin."

Tak ada suara juga. Apa mungkin aku sebaiknya menghubunginya lewat telepon? Ada baiknya begitu. Tapi nihil. Muncul suara bahwa nomornya sedang berada di luar area servis. Tiap--hingga tujuh kali--meneleponnya, hasilnya selalu begitu. Aduh, mengapa pula aku tak bisa mengontrol perilakuku? Aku sudah tahu Tere itu tipe perempuan yang mudah cemburu. Harusnya aku bersikap lebih sewajarnya sewaktu bersua dengan Yusmira setelah sekian lama. 

Kucoba gedor-gedor pintunya lagi. Semoga ada hasilnya. Bisa saja kan Tere masih ada di dalam kamar. Bisa saja pula ponselnya dimatikan dan tengah di-charge. Namun masih nihil. Sampai akhirnya...

"Lo siento, señor," Seorang bellboy beringsut padaku. Aku tersenyum balik. "Puedo ayudar?"

Aku menggeleng. "Tidak ada kok, gracias. Ini hanya masalah pribadi antara saya dan tunangan saya."

"Lo siento de nuevo, señor. Maaf saya ikut jadi ikut campur. Tapi tadi--kurang lebih satu jam lalu mungkin--tunangan anda telah meninggalkan kamarnya dengan terburu-buru sekali. Sepertinya ia mau check-out dan tidak akan kembali lagi. Sebab ia juga menyeret-nyeret kopernya."

Aku mengernyitkan dahi. "Anda serius?"

"Sí , señor." Ia mengangguk, masih setia membagikan senyum. "Kalau tidak percaya, anda bisa bertanya pada bagian resepsionis. Oh iya, saya hampir lupa. Sepertinya tunangan anda sungguh orang yang terlalu merendah sekali."

Aku nyaris terkekeh. Yang benar saja, Tere itu orang suka merendah? Ini pasti lelucon khas negara ini. Seumur-umur, selama aku mengenalnya, yang kutangkap, Tere itu justru kebalikannya. Perempuan itu selalu saja membanggakan hal-hal yang tidak penting. Contohnya seperti saat ia begitu membanggakan aku yang baru saja naik jabatan. Ya ampun, padahal tak ada yang istimewa dengan hal tersebut. Itu kan sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Tiap orang bisa naik jabatan, bukan? Yah kecuali kalau NASA menghubungiku untuk ikut proyek tur angkasa luar mereka. 

"Que no bromeando?"

Ia menggeleng.

"Qué quieres decir?"

"Saya kira selama ini tunangan anda itu tak bisa berbahasa Spanyol. Ia selalu mencoba berbicara pada saya dan karyawan-karyawati hotel dengan bahasa Inggris. Atau kalau dengan anda, ia lebih sering berbahasa Indonesia. Tapi sewaktu bertemu tadi, saya kaget, señor. Ternyata tunangan anda bisa berbahasa Spanyol. Dan cukup fasih."

Wow, kunjungan ke Puerto Rico ini sungguh sudah memberikan banyak kejutan. Dimulai dari bertemu Yusmira yang berubah drastis hingga sekarang ini. Aku sama sekali tak percaya bahwa Tere bisa berbahasa Spanyol. Setahuku, ia sama sekali tidak paham bahasa Spanyol. Selama beberapa hari di San Juan ini pun, Tere selalu meminta bantuanku untuk mengerti beberapa dialog. Bahkan karena Tere juga, aku harus menyewa jasa seorang pemandu tur. Apa maksudnya ini?

"Lo siento, anda benar-benar tidak sedang mengerjai saya, kan? Tunangan saya itu sama sekali tidak fasih berbahasa Spanyol."

"Soy serio," Kuamati baik-baik, ia sungguh mengangguk mantap. Tatapannya pun tak terlihat tengah menjahiliku.

Ditengah kebingunganku, ponsel berdering. Di layar, muncul nama 'Mi Amor'. Segera ku-accept.

"Buenos dias, mi matador," ujar Tere dengan lafal suara yang membuatku menduga mungkin di sana dirinya sedang tersenyum lebar. "Que ha despertado? Nyenyakkah tidur semalam? Pasti nyenyak, kan. Kan pasti habis memimpikan teman lama tercintanya. Siapa namanya? Oh iya, aku lupa, Yusmira kan namanya."

Aku tidak tersinggung dengan kata-katanya yang bermuatan sindiran. Aku malah kaget sekaget-kagetnya. Sumpah, demi Tuhan, Tere berbicara dengan bahasa Spanyol dengan lumayan fasih. Nyaris tak ada kesalahan dalam hal tata bahasa. Sebetulnya apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ia tidak pernah memberitahukanku bahwa ia menguasai bahasa Spanyol sefasih itu? Seharusnya aku yang akan memberikannya kejutan; bukannya kebalikannya.

"Halo, Ferdinand. Kamu masih ada di sana?" Tere masih menggunakan bahasa Spanyol.

Aku masih bergeming.

"Ferdinand,... Ferdinand,... Ferdinand,..."

"Eh y-y-y-ya,..."

"Kenapa, kaget? Kaget karena aku ternyata bisa berbahasa Spanyol? Yah sebetulnya aku memang awalnya tidak bisa. Tapi aku memaksakan diri untuk belajar dan akhirnya tak sia-sia juga. Bagaimana? Lumayan kan bahasa Spanyol-ku. Tadinya mau aku praktekkan saat berada di Condado nanti. Saat kamu mau melamarku. Ya kan kamu mau melamarku?"

Aku mengertakkan gigi. Dahi mulai mengilat.

"Adikmu, Jennifer, yang memberitahukanku,"

Jennifer sialan!

"Atau, apa aku salah? Kamu mungkin tidak berencana mau melamarku. Kalau misalkan iya, kenapa kamu sampai begitu terpesonanya dengan teman lamamu itu? Kamu bahkan tidak berusaha mengejar atau mencari saat aku pergi begitu saja dari hadapanmu. Sebetulnya kamu membawaku ke tempat ini buat apa? Apa hendak memanas-manasiku? Jangan-jangan kamu sudah merencanakan semua ini dengan teman lamamu itu?  Heh... Aku benar-benar tidak bisa memahami kamu, Ferdinand."

"Sekarang kamu berada di mana, Tere?"

"Luis Muñoz Marín International Airport,"

Di bandara?

"Fortunadisisimo! Aku berhasil mendapatkan tiket menuju Miami dengan penerbangan jam dua belas siang nanti. Oh iya, Ferdinand, kutunggu kamu di Jakarta untuk menjelaskan semuanya. Ya itu kalau kamu masih mencintaiku."

Panggilan berakhir.

Yusmira, Yusmira. Mengapa aku harus berjumpa dengan kamu di negara ini? Mengapa pula fisiknya jadi berubah drastis sehingga membuatku lupa akan rencana awalku? Kamu sungguh chaos!



PS:
Usted es la mas fortunas: Anda sangat beruntung.
Maravilloso opción: Pilihan yang sangat bagus.
Puedo ayudar: Ada yang bisa saya  bantu?
Lo siento de nuevo: Maaf sekali lagi.
Que no bromeando: Anda tidak sedang bercanda kan?
Qué quieres decir: Apa maksudmu?
Soy serio: Saya serius.
Buenos dias, mi matador: Selamat pagi, Matador-ku.
Que ha despertado: Sudah bangunkah?
Fortunadisisimo: Beruntungnya (aku)





* Cerpen ini terinspirasi dari salah seorang teman di SD Markus dulu. Namanya Steffy, dan ia dulu sering dijauhi dan dijadikan bahan bullying oleh teman-teman sekelas. 

10 comments:

  1. Waduh!

    Semoga Ferdinand dan Tere bisa rukun kembali....

    Tapi di dunia nyata memang ada lho anak yg pas masih kecil dijauhi, tapi pas udah besar berubah drastis: berwibawa, rupawan, pintar, dan akhirnya jadi didekati banyak orang :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, aku juga sering alami kok. Banyak yang kayak gitu. Yang sebaliknya juga sering.

      Delete
  2. jangan berantem-berantem, ntar kayak mafia spanyol... hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang mafia Spanyol tuh berantemnya kayak apa? Hahaha

      Delete
  3. Hayooo, yang dulu suka nge-bully Yusmira .... sekarang kayaknya naksir, nih? Bhahaha

    ReplyDelete
  4. Ferdinand menyusul Tere ke Badara gaknih akhirnya? atau malah mau mengejar Yusmira

    ReplyDelete
  5. Ferdinand seharusnya tau kalok kecantikan Yusmira pada akhirnya akan pudar seiring berjalannya waktu, sedangkan cinta tulus dari Tere tak akan pernah lekang.. Yah namanya jugak cowok.. Boleh sih terpesona, tapi jangan sampek menyakiti pasangannya.. Apalagi uda 10 taun bersama :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca komentar yang ini, ditambah yang di atasnya, kok bikin jadi pengen lanjutin ceritanya yak? :3

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^