Tuesday, April 7, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Cahaya Indah Pengubah Segalanya



Genre: Romance


Foto itu memang foto mendiang ayahnya. Namun gadis itu malah mengucapkan terimakasih pada Tuhan. Akhirnya, bisa juga dirinya meninggalkan neraka ini. Jepang di musim panas memang bak seperti neraka. Khususnya lagi Tokyo. Meskipun negara yang jadi destinasinya itu malah sebuah negara tropis yang sama-sama tengah musim panas. Justru mungkin suhunya lebih ekstrem daripada di Jepang. 

Tapi masa bodoh. Gadis itu tak peduli. Yang penting ganti suasana. Ia jengah dengan situasi Tokyo yang sudah tak bisa lagi memberikan kesejukan untuk hatinya yang sungguh gelap. Belum lagi, setelah riset yang tiada henti selama kurang lebih seminggu, ia mungkin bisa ke Bali. Atau setidaknya... bukankah Jakarta juga memiliki pantai yang seindah Bali? Jaraknya lumayan dekat dengan apartemen si abang mungkin. Siapa tahu angin pantai Jakarta bisa menghadirkan kembali arti dari namanya tersebut. 

"Hikari!" teriak ibunya dari lantai bawah. "Turun dulu, tabemashou!"

"Haiiii!!!" balas teriak Hikari. Dalam hati, ia mendumel seraya mempermainkan untaian-untaian kuncir rambutnya yang berjumlah delapan tersebut. 


Dokumentasi pribadi.



"Jadi bagaimana? Mau tidak menjemput adikku di bandara besok?" Kagerou berusaha mengonfirmasi kembali. Ia tahu temannya ini sungguh peragu. Plin-plannya luar biasa. Kadang bicara x, lain waktu bicara y. 

"Eee..." ujar sang teman tergugu.

"Ayolah, tolong aku. Aku benar-benar tak bisa menjemput adikku. Besok aku seharian di laboratorium--dan itu tak bisa ditinggal."

Temannya itu tersenyum seperti berusaha mengatakan "ya" sekali lagi. Namun Kagerou tahu bahwa itu bukan berarti "ya". 

"Tolong yah, Bagus. Aku mohon, tolong jemput adikku di bandara. Hanya sebentar saja kok. Berikutnya kamu bisa langsung memenuhi janji kencan dengan pacarmu itu. Dan lusa aku pasti akan menemanimu pergi ke sana. Belum lagi kamu pasti akan kutraktir makan siang dan makan malam sekaligus."

Mendengar kata 'traktir', sekonyong-konyong dan tanpa ba-bi-bu lagi temannya itu menyanggupi. Butuh waktu cukup lama dan perjuangan luar biasa untuk bisa mendapatkan pertolongan dari orang peragu macam Bagus. 

*****

Jangan sekali-kali berbicara seenaknya di depan umum. Jangan mentang-mentang kau bisa satu bahasa, lantas seenaknya mengeluarkan kata-kata makian dalam bahasa tersebut. Itulah pelajaran berharga yang didapatkan oleh Hikari setibanya di Indonesia.

Hikari sama sekali tak menyangka dirinya akan dipelototi dan diseringai oleh seorang pria Indonesia seperti sekarang ini. Siapa pula pria ini? Mengapa lancar sekali bahasa Jepang-nya? Malah lebih fasih daripada ia yang Jepang tulen.

"Kenapa? Kaget? Kamu kira aku tak mengerti bahasamu?" Pria itu terkekeh, masih berbicara dalam bahasa Jepang. "Makanya punya mulut itu dijaga."

Hikari memendamkan kepala pelan-pelan. "Gomen, aku tidak sengaja. Maaf karena kamu jadi pelampiasan emosiku. Aku kesal karena Onii-chan tak kunjung menjemput."

"Oh, terus karena Onii-chan-mu tak datang menjemput, aku--dan orang-orang ini--bisa jadi pelampiasan emosi kamu?"

Ada apa dengan pria ini? Sensitif sekali. Hikari kan sudah minta maaf. Tak perlu juga harus dipermalukan di hadapan puluhan pengunjung bandara yang mengamati keributan kecil yang berlangsung dalam bahasa Jepang. Katanya orang Indonesia itu ramah-ramah. Mana buktinya? Sejengkal kuku pun, orang ini tak ada ramahnya sama sekali.

"Hai, mou ichido gomen'nasai, gaijin-dono." ujar Hikari membungkukkan badan sembari tersenyum bercampul merengut. "Aku minta maaf. Beribu kali aku minta maaf. Atau aku harus sujud dulu, baru kamu mau menerima maafku?"

Pria itu berdecak. "Onamae wa?"

"Hikari."

"Namamu itu tak seperti 'hikari' (baca: cahaya), tahu!" sembur pria yang tampaknya sebaya dengan Hikari. "Kali ini kau kumaafkan. Lain kali tiada maaf untukmu."

"Eh? Apa maksud pria ini? Lain kali? Memang siapa dia ini? Dia kan,--" O-oh, Hikari keceplosan lagi mengumpat dalam bahasa Jepang. Pria balik menatapnya nyalang dan memaki.

"Oi, kamu ini diajari sopan santun sama orangtuamu, tidak? Masih saja mengumpat. Masih kurang fasihkah bahasa Jepang aku? Dan satu lagi, aku bukan orang asing. Aku ini teman dari Onii-chan-mu. Aku diminta untuk menjemput, sebab Onii-chan kamu itu tengah sibuk."

"Jyoudan nee?" tanya Hikari kaget bercampur tak percaya.

Kontan pria itu langsung merogoh saku jaket tebal Hikari--sungguh tak sopan! Lalu pria itu mengambil ponsel Hikari yang masih menggunakan ponsel flip.

"Ini kamu telepon Onii-chan tersayangmu yang selalu sibuk sekali di laboratorium. Telepon sendiri untuk memastikan. Saa!"

Hikari menerima kembali ponselnya.

"Hayaku!" desak pria ini. "Waktuku terbatas. Dua jam lagi aku ada janji kencan dengan pacarku."

"Sou sou. Hayakunai dake, chikyuu ga owari janai nda." kata Hikari mulai geregetan, dengan tangan sibuk menekan tuts-tuts ponsel yang begitu ketinggalan jaman. Namun ia tetap tak mau mengganti ponsel. Sebab ponsel itu pemberian dari mendiang Papa.

Tersambung. Terjadi obrolan yang cukup singkat sekali. Intinya, yah memang benar, pria ini utusan dari Kagerou-niisan yang tak bisa karena urusan kuliah.

"Shinjiranai ka?" delik pria yang belum kunjung diketahui namanya oleh Hikari.

"Un, shinjirou," kata Hikari mendesah kesal. "Eto.. Aku belum tahu namamu. Tapi kamu malah sudah tahu namaku."

Pria itu mengangsurkan tangan. "Hajimemashite, watashi wa Bagus desu. Yoroshiku nee."

"Yoroshiku." kata Hikari membalas jabatan itu seraya membungkukkan badan.

"Oh iya, selera fashion kamu buruk sekali. Buat apa sih, rambutmu digelung ke atas seperti itu? Dan lihat, kamu pakai high heels. Dan celanamu itu jins butut yang sepertinya pemberian ibumu. Tua sekali."

"Ini namanya Harajuku style, tahu!" alibi Hikari yang makin menekuk bibir.

"Aku tahu apa itu Harajuku style."

"Ya sudah, kalau sudah tahu, ya diam saja!"

"Tapi Harajuku style, kurasa, tak seburuk penampilan kamu. Sumpah, ini penampilan terburuk dari seorang gadis Jepang. Bikin mataku sakit saja."

"Oh, kamu seorang pengamat fashion ternyata. Lantas gaya berbusana yang baik itu yang seperti apa?"

"Ck, nanti sajalah kujelaskan kalau bertemu lagi. Sekarang, ayo! Aku sudah bilang kan, aku ada kencan. Jadi jangan bikin hubungan dengan pacarku jadi berakhir." ujar Bagus menyeret Hikari untuk segera meninggalkan bandara yang makin ramai saja.

Kembali Hikari mengumpat; Bagus berusaha untuk tidak meledak kembali. "Aku rasa, kamu tak bisa menjawabnya. Penampilanmu saja payah. Masa pergi ke bandara dengan kaus oblong kumal dan celana jins yang bawahnya itu koyak-koyak? Belum lagi sendal jepit yang kamu kenakan."

*****

Aduh, mengapa ada perempuan ini lagi? Mengapa perempuan ini yang malah membukakan pintu apartemen? Mana Kagerou? Jangan bilang laki-laki kacamata tebal itu masih mendengkur di atas tempat tidur. 

Tapi tunggu. Diamati baik-baik perempuan ini manis juga. Cantik juga. Padahal dandanan perempuan ini nyaris berantakan layaknya orang yang memang baru bangun tidur. Segala rambut panjang yang awut-awutan, kotoran yang masih menggumpal di ujung mata, dan tampang kusut itu sama sekali tak merusak kecantikan perempuan ini. Mungkin perempuan ini--siapa namanya, ah Hikari--memang memiliki kecantikan alami. 

"Onii-chan masih tidur. Kalau mau menunggu, silakan saja masuk ke dalam." kata Hikari ketus. Nyaris tak ada senyuman yang bikin Bagus jadi meradang kembali. Mendadak teringat kejadian kemarin. Dimulai sejak di bandara hingga kejadian di restoran, yang mana pacar Bagus main pergi begitu saja dan hanya meninggalkan sebongkah pesan di messenger. Isinya? Jangan ditanya, yang jelas hubungan Bagus dan pacarnya sungguh sudah berakhir. Dan itu semua karena perempuan yang ada di hadapannya. 

Brengsek! Masih kurang apa Bagus harus menjemput Hikari demi Kagerou, sahabat terbaiknya di fakultas Kedokteran? Dan kemarin ia harus menemani Hikari sampai perempuan itu benar-benar menemui abang si perempuan tersebut? Buntutnya kan, Bagus jadi terlambat yang benar-benar, menuju restoran dimana ia dan kekasihnya janji untuk bersua. 

"Kamu ini yah, benar-benar tidak sopan! Bisa tidak berbicara dengan intonasi yang lebih halus sedikit?" sembur Bagus.

"Oh, jadi aku perlu berbicara sopan pada laki-laki yang sudah mempermalukan aku di depan umum? Padahal aku sudah minta maaf." sembur balik Hikari sengit. 

"Salah kamu sendiri, kenapa sok mengumpat pakai bahasa Jepang?"
 
"Aku belum bisa bahasa Indonesia. Lagian mana kutahu kalau Onii-chan meminta kamu untuk menjemputku di bandara."

"Tapi tak harus mengumpat juga kan?"

Hikari mengertakan gigi. Darahnya jadi super mendidih. "Kamu mau masuk atau tidak?"

Bagus berdecak. Sekonyong-konyong lelaki itu masuk dengan langkah yang sengaja dientak-entakkan. Pintu main hempas saja. 

"Jadi begitu cara orang Indonesia masuk ke rumah orang lain? Sopan sekali! Sungguh sopan!" Hikari mengumbar senyuman sinis sesinis-sinisnya. 

Tak butuh waktu lama, dua menit kemudian, orang yang dicari pun akhirnya muncul. Kagerou berjalan terhuyung-huyung dengan mata masih menahan kantuk. 

"Oi, kalian berdua ini berisik sekali. Haruskah ribut-ribut di pagi yang indah seperti ini?" ujar Kagerou lesu. "Dan kamu, Bagus, kenapa datang sepagi ini? Tumben, tak biasanya." Yang ini diucapkan Kagerou dalam bahasa Indonesia; bagian dialog untuk Bagus, maksudnya. 

"Kamu lupa? Kamu kan janji mau menemaniku pergi ke rumah sakit demi tugas itu?!"

"Oh iya, aku lupa." Kagerou menepuk dahi. "Tunggu sebentar, aku bersiap mandi dulu. Oh iya,--" Kagerou mendelik pada Hikari, kembali menggunakan bahasa Jepang. "Hikari, tolong bikinkan temanku secangkir teh dulu."

"Hei, hei, hei, jangan cemberut begitu. Lagipula, kalau dilihat dari keributan kecil tadi, kamu dan teman abang ini tampaknya berjodoh."

Kata terakhir membuat Hikari--pun dengan Bagus--jadi mulas dan sontak saja menjerit berbarengan. "APAAAAAA??? BERJODOH?? USO!!! JYOUDAN JANAI YO!!!"

*****

Bagus jadi terkekeh-kekeh. Ia teringat kembali momen awal bertemu dengan kekasihnya sekarang. Lucu juga, siapa sangka sinetron yang amat ia benci, sekarang malah masuk ke kehidupannya. Ia justru tokoh utama dalam sinetron yang satu ini. Ia dan gadis itu. 

Sudah dua tahun dirinya menjalin hubungan dengan gadis tersebut. Dipandanginya lamat-lamat foto gadis itu. Harus ia akui, gadis itu memang cantik. Tak sekadar cantik, tapi memang cantik. Gadis ini memiliki kecantikan di dalam diri. Bagus jadi ingat kejadian di apartemen abang dari gadis tersebut. Bahkan dalam kondisi yang mungkin baru bangun tidur pun, si gadis masih terlihat jelita. Aaahh...--Bagus jadi menghela napas. 

"Hei, kenapa jadi cengar-cengir seperti itu? Kowai zo!" 

Sekarang sang gadis mulai terlihat fasih berbicara bahasa Indonesia. Memang tak sesempurna abangnya, tapi lumayan. Lumayan buat Bagus yang tak perlu sesering mungkin bercakap-cakap dalam bahasa Jepang. Walaupun sudah sedari lama sekali Bagus ingin memperlancar kemampuan bahasa Jepang yang selama ini paling hanya digunakan di sekitar Kagerou atau mereka yang bisa.

Bagus hanya tersenyum dan menggeleng. Ia menatap sang gadis lama sekali. Hingga sang gadis menatap balik. Mereka pun bersitatap. Well, laki-laki dan perempuan bersitatap di sebuah restoran bernuansa gothic dan ditemani oleh lilin yang memancarkan sinar--seperti nama si perempuan. Lalu di kejauhan, di langit-langit, beberapa speaker mengalunkan sebuah lagu. Lagu bertema kasih sayang intinya, kalau tak dapat dikatakan romantis. 

Menatap si gadis, Bagus kembali pun teringat kata-kata beberapa temannya, termasuk Kagerou. Tak sedikit yang bilang, dirinya banyak berubah seusai berjumpa dengan gadis yang duduk di hadapannya. Bagus jadi pribadi yang lebih asertif, melek fashion, dan bawel. Semuanya karena Hikari, nama gadis tersebut. 

Hikari pun sama. Kagerou-niisan mengamati perubahan datang pula menghampiri sang adik semata wayang. Kesentimentilan Hikari bertahap mulai menyusut. Juga jarang mengeluh dan mengumpat seenaknya. Sorot mata Hikari kembali berbinar. Hikari yang sinarnya mulai bersinar yang entah sudah berapa lama cahaya itu terus meredup tak keruan. 

Baik Bagus maupun Hikari sudah mengalami perubahan banyak, walau tak bisa dikatakan drastis. Dan perubahan itu datang sendiri tanpa ada satu pun yang memaksa harus berubah seinstan mungkin. Mungkin lima huruf itu penyebab perubahan itu muncul di antara keduanya. Lima huruf yang jikalau bumi diliputinya, pasti keadaannya jadi penuh damai sejahtera, jauh dari konflik. 






PS:
Tabemashou: Mari sarapan!
Gomen: Maaf.
Hai, mou ichido gomen'nasai, gaijin-dono: Iya, iya. Sekali lagi minta maaf, orang asing yang terhormat.
Onamae: Nama kamu siapa?
Jyoudan nee: Bercanda kan?
Saa: Ayo!
Hayaku: Buruan deh!
Sou sou. Hayakunai dake, chikyuu ga owari janai nda: Iya, iya. Tapi tidak usah buru-buru. Bumi belum berakhir kan.
Shinjiranai ka: Tidak percayakah?
Un, shinjirou: Iya, aku percaya. 
Hajimemashite, watashi wa... yoroshiku nee: Perkenalkan, nama saya.. salam kenal!
Uso! Jyoudan janai yo: Bohong! Jangan bercanda deh!


3 comments:

  1. Di awal aku berharap kalau Hikari akan jadian sama Bagus, ternyata jadi kenyataan :) Oh ya pacarnya Bagus kemana kok gak di ceritakan ya.

    ReplyDelete
  2. Dari sebel jadi jatuh cinta ya.. :P

    Ah.. Baca postingan ini kayak balik lagi ke kuliahan. Tapi mau benerin dikit ngga papa yah, Nuel.. E~to huruf 't' nya ngga dabel :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha,... Oke sama-sama. Aku juga kadang suka lupa. Thanks udah diingatkan.

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^