Sunday, March 29, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Tanda Sebuah Janji





Genre: Romance


Di sebuah bandara yang selalu hiruk-pikuk, ada sebuah pemandangan menarik. Dua bocah bersitatap layaknya seorang kekasih yang sudah mafhum soal cinta. Orangtua masing-masing hanya bisa tersenyum menahan geli. Mungkin mereka membiarkannya, karena bagaimanapun itu hanya cinta monyet. 

"Harus yah kamu pergi?"
"Ya iyalah, Mita. Aku harus pergi. Terus kalau nggak pergi, aku mau tinggal di mana, sementara Papi-Mami aku pergi ke Jepang?"





Dokumentasi pribadi.





Gadis itu langsung meringkuk. Dengan susah payah, matanya memandang arloji. Masih jam lima. Percuma juga tidur lagi, sebentar lagi ia harus berangkat kuliah. Kuliah jam delapan pagi sungguh merepotkan. Masih dengan sayu, Paramita mengingat kembali mimpinya. Mimpi itu... 

...mimpi itu hanya repetisi dari serpihan-serpihan memorinya. Memori-memori masa kanak-kanaknya. Ah itu masa-masa yang indah. Yang ada di pikirannya selalu bermain, bermain, dan bermain. Belajar? Nanti saja, otaknya juga encer. Tanpa belajar, ia bisa dengan mudahnya dapat nilai sembilan. Tak hanya soal masa-masa yang sungguh playful, hatinya kebas. Tiap mengingat masa itu, Paramita pasti selalu teringat akan lelaki. Bocah lelaki itu. Noel. 

Matanya memandang langit-langit. Tatapannya kosong. Tak perlu menggunakan jasa cenayang, tiap orang pasti tahu, apalagi yang sudah kenal dalam dengan Paramita, apa tepatnya yang berada di pikirannya saat. Sudah barang Noel. Bocah lelaki itu. Paramita sangat merindukan Noel. Sudah berapa lama ia tak bersua dengan cinta pertamanya tersebut.

Cinta pertama? 

Ya cinta pertama. Tak ada yang salah, bukan, memiliki perasaan cinta di usia-usia sekolah dasar? Rasa cinta itu bukan suatu yang dosa. Yang salah itu bagaimana manusia menyikapi perasaan tersebut. 

Paramita selalu ingat bagaimana pastinya bocah gendut itu bisa begitu menarik perhatiannya. Seingatnya, Noel itu orangnya supel, lucu, punya kemauan keras, dan dekat dengan siapa pun. Satu lagi--dan ini yang paling utama--Noel selalu melindunginya saat dirinya dirundungi teman-teman sekelas. Saking gencarnya Noel melindungi--dan keterlaluan dekatnya hubungan, ia dan bocah lelaki itu sering dijuluki pasangan suami-istri. Noel hanya cengar-cengir, sementara ia yang malah tertunduk merah pipinya. 

"Noel," ujarnya lirih. "Kamu ada di mana sekarang? Sudah lama, tahu, kita tidak bertemu. Kurang lebih sudah satu dasawarsa lebih. Aku jadi kangen sama kamu, Noel. Kamu apa kabarnya? Kamu masih di Indonesia atau di Jepang? Kalau sudah di Indonesia, kenapa kamu tidak pernah mengunjungiku? Kamu tahu kan rumahku. Aku masih belum pindah, kok, dari komplek Mutiara Jelita."

Dengan serangan nostalgia masih menyelubungi, Paramita beranjak. Sudah cukup melankolisnya. Sekarang saatnya serius. Apalagi hari ini ada tiga ujian sekaligus. Pengantar Akuntansi I di jam delapan, Bahasa Inggris di jam sepuluh, dan terakhir, Kewirausahaan. Padat? Sangat pasti. 

*****

Seperti yang sudah dijelaskan, Paramita memang sudah terlahir sebagai anak perempuan dengan kualitas otak menakjubkan. Dia tak butuh porsi jam belajar yang harus memforsir tubuh mati-matian. Di saat teman-temannya masih sibuk belajar menjelang jam H-nya, Paramita malah leyeh-leyeh. 

Dua ujian sudah terlewati. Tinggal satu--dan itu di jam tiga sore. Daripada bosan, dan Paramita juga tak sedang bagus suasana hatinya untuk mengajari teman-temannya, perempuan itu kocar-kacir ke mal. Biasa, mampir ke toko buku. Pun seperti biasa, ia selalu menuju rak komik. Mungkin komik orang itu sudah ada. 

Orang itu...

Noel maksudnya. Dulu Noel pernah berjanji bahwa suatu saat pertemuan mereka akan dimulai dahulu dengan kemunculan komik perdana Noel. Temannya itu selalu terobsesi untuk menjadi komikus. Osamu Tezuka ialah komikus favoritnya. Anak lelaki itu selalu berhasrat bisa bekerja sama dengan komikus Astro Boy tersebut. 

Sudah hampir lima belas menit, Paramita tak kunjung menemukan sebiji komik pun yang memasang nama Noel Tan sebagai komikusnya. 

"...Noel, sebetulnya kamu masih suka bikin komik nggak sih?" desah Paramita. "Apa kamu sudah melupakan cita-citamu itu? Apa kamu sudah bosan menggambar karikatur?"

Terbersit satu ide di otak brilian Paramita. Mungkin lelaki itu menggunakan nama pena. Bukankah hal lumrah seniman itu menggunakan nama pena? Bemolado saja punya beberapa nama pena sebelum menggunakan namanya sekarang. Devinatari pun sama dengan nama penanya: DevTar. Tapi kalau memang benar seperti itu, dia kan tak tahu sama sekali. Seingatnya, Noel belum pernah memberitahukannya soal kemungkinan menggunakan nama pena. Noel selalu berkata, "Pokoknya suatu saat nanti kalau ada komik dengan nama pengarangnya 'Noel Tan', suatu saat lagi kita bakal bertemu di suatu tempat. Aku janji deh. Jadi kamu jangan sedih lagi yah. Aku tidak suka melihat bibirmu ditekuk. Kamu itu lebih cantik saat tersenyum. Matamu itu indah jika menyunggingkan sebuah senyuman, Mita."

"...sekarang mana? Aku tak kunjung menemukan komik dengan nama kamu di dalamnya. Kamu belum berubah jadi tukang bohong, kan?" desisnya terkekeh.  

Jengah mencari, Paramita memilih untuk beralih ke rak lain. Rak novel. Kali saja ada novel-novel yang menarik perhatiannya. Namun ia jadi sakit matanya. Penyebabnya kata-kata di sampul demi sampul. Mengapa kebanyakan novel bertema cinta? Ia benci kata itu. Kata itu selalu mengingatkannya akan Noel yang ia geregetan setengah mampus. Ke mana bocah gendut kesayangannya itu? Si bocah gendut yang selalu jadi tameng saat ia diganggu. Si bocah gendut yang selalu membagi bekal makan siang kalau ia lupa membawa punyanya sendiri. Si bocah gendut yang nyaris selalu mengijinkan dirinya mencontek pekerjaan rumah. Si bocah gendut yang selalu ia ajari dengan emosi selalu naik; habis tak kunjung paham-paham sih. 

"Eh, apa ini?" Matanya tertumbuk pada satu novel. Oke ralat, bukan novel. Ini sejenis personal literature. 99% kisahnya bisa dikatakan dari kisah nyata. Yang seperti ini sudah marak di Indonesia semenjak seorang blogger membukukan blog-nya. Judul buku itu: "Tokyo Tak Seperti Tokyo". Pengarangnya? Astaga, Paramita terbelalak. 

...pengarangnya itu, Noel Tan. 

"Tuh kan kamu ingkar janji. Katamu, awal pertemuan kita itu bermula dari terbitnya komik. Tapi yang kulihat, kamu malah menerbitkan buku. Ini buku, lho; bukan komik. Dasar Noel Tukang Bohong!" umpatnya, dengan volume yang membuat beberapa orang jadi memerhatikannya. 

Paramita mengedarkan pandangan. Seketika beberapa orang langsung buang muka. Perempuan itu mencari salah satu pramuniaganya. Ah itu dia, perempuan itu langsung melambai-lambai. Seorang pria pramuniaga langsung menghampirinya. 

"Ada apa yah, Mbak?"

"Begini, Mas. Ini nggak ada sampelnya yah? Saya mau lihat isinya. Soalnya sepertinya bukunya menarik."

"Oh gitu." Tanpa diminta si pramuniaga langsung mengoyak plastik pembungkusnya dan menyerahkan buku itu kembali pada Paramita. Perempuan itu berterimakasih, dan si pramuniaga melengos. 

Paramita membaca halaman demi halaman buku tersebut.  Hingga satu halaman membuatnya syok. Kurang lebih itu terjadi saat dirinya membaca kurang lebih enam belas halaman. Astaga!

Ternyata Noel masih ingat dirinya. Di sana tertulis: "...selama aku di Tokyo dan menjalani bullying yang terlampau kejam, satu hal pasti yang membuatku bisa bertahan hanya karena mengingat nama itu. Nama perempuan itu yang selalu mengajariku dengan sepenuh hati. Paramita. Entah bagaimana kabarnya di Indonesia..."

Jantungnya berdebar-debar. Tak Paramita sangka Noel masih mengingat dirinya. Walau hanya menyebut nama depannya, dan tak begitu jelas deskripsinya, jauh di sudut-sudut hati, perempuan itu yakin bahwa dirinyalah yang dimaksud. 

*****

Lelaki yang gadis cari sebetulnya sudah mendarat di Indonesia pada 2007 lalu. Noel yakin bahwa ia harus segera balik ke Indonesia. Sebab janji itu harus segera dipenuhi. Kasihan gadis itu, Pasti gadis itu sudah senewen sekali menungguinya. 

Bagaimana kabar dengan Paramita sekarang? Apa gadis itu masih mencarinya? Apa gadis itu tengah merindukannya? Apa gadis itu masih mengingatnya? Apa ada seorang lelaki yang mengisi hati selama dirinya berada di Tokyo? Kalau ada, ia ikhlas. Toh gadis itu berhak bahagia. Gadis itu tak perlu membiarkan lubang itu terus menganga. Noel juga sampai sekarang tak bisa menjanjikan kapan pastinya akan berjumpa kembali. 

Yang bisa Noel lakukan hanyalah menyelesaikan buku ini. Buku ini sesungguhnya hasil kompilasi dari mayoritas tulisan yang ada di blog miliknya, 'Eeru no Monogatari' (Tentunya judulnya ditulis dengan Katakana); dan ada beberapa tambahan sedikit cerita yang belum pernah dipublikasikan. Awal muasalnya itu berasal dari kepopuleran blog-nya (yang menggunakan domain ala blog-blog Jepang pastinya) yang makin menjadi-jadi. Kepopuleran itu--padahal hanya tenar di Jepang saja--terendus oleh salah satu penerbit di tanah airnya. Rasa rindu yang membuncah itulah yang membuat Noel lebih memilih penerbit Indonesia tersebut. Padahal bayaran yang diberikan oleh penerbit-penerbit Jepang tentu jauh lebih besar. Selain itu, ada pertimbangan lain. Apalagi kalau bukan gadis itu. Paramita Agata.   

"Maaf yah, Mita. Bukan komik yang kubuat, tapi sebuah buku. Tapi tenang saja, di dalamnya ada gambar-gambar buatanku juga kok." ujar Noel, yang sekonyong-konyong mengirimkan file naskah itu ke penerbit yang sudah terus menantikan draft akhir dari naskah tersebut. 

*****

Noel cengar-cengir. Lucu juga. Ternyata ada juga gadis di negara ini--yang sudah berusia remaja atau dewasa muda-- yang masih hobi mengepang dua. Ia kira, fenomena mengepang dua dan memelihara poni itu hanya ada di Jepang, negara di mana menempuh pendidikan dasar dan menengah. 

Noel jadi penasaran dengan gadis itu. Entah mengapa melihat penampilan si gadis dari belakang, ia jadi teringat dengan gadis itu--gadis dari masa kanak-kanaknya. Paramita Agata. Dulu Mita--begitu ia terbiasa memanggil--suka sekali mengepang dua dan memelihara poni. Jangan-jangan sekarang pun sama? 

Lelaki itu beranjak lebih dekat. Ternyata si gadis tengah asyik membaca bukunya. Makin kencang saja dugaannya. Perlahan ia mulai membuka pembicaraan, "Seru yah bukunya?"

Si gadis menoleh, tersenyum, dan berujar, "Iya, seru abis. Dan aku nggak menyangka deh. Ternyata penulis buku ini masih ingat sama aku."

"Ingat?" Ya Tuhan, jantung ini mau copot rasanya. "Maksudnya ingat? Kamu kenal sama penulis ini?"

"Ya iyalah, penulis ini--Noel Tan--dulunya teman saya waktu SD."

"Oh," katanya menyunggingkan senyum tipis. 

Hening sejenak. 

Gadis itu mengamati sekilas rupanya. Sepertinya si gadis mulai mengenali dirinya. Walau kabut tebal itu masih terus coba menutupi keaslian wajahnya. 

 "Oh iya, lantas, kalau misalnya penulisnya ada di hadapan kamu, apa yang akan kamu lakukan?"

Si gadis berkernyit, lalu celingak-celinguk. "Maksudnya?" 

Noel menunjuki bukunya yang masih dipegang si gadis. "Buku yang kamu baca itu buku yang saya tulis. Kamu Mita kan--Paramita Agata? Aku Noel, Mita. Noel Tan, orang yang pernah bikin janji sama kamu sebelum berangkat ke Jepang."

Gadis itu masih terpana. Mungkin masih merasa kejadian itu sebuah mimpi yang terlalu indah jadi kenyataan. 

"Ini betulan kamu, Noel?" Hanya itu yang bisa gadis itu ucapkan--yang dibalasnya dengan anggukan dan senyuman. 

9 comments:

  1. Pelit terlalu subyektif untuk dibilang kalau 99% kisahnya bisa dikatakan dari kisah nyata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, thanks.

      Iya nih, rada sulit dari menghindarkan diri untuk berpikiran secara subjektif. Padahal diusahakan juga untuk selalu objektif.

      Delete
  2. Akhirnya Mita ketemu Noel lagi ya. Trus komiknya jadi dibuat gak? aku nunggu sampai akhir tadi kirain bakal keluar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks. Baca komentar-komentar kayak gini nih, bikin seneng euy. Itu artinya pembaca suka sama cerita yang gue bikin. Terhanyut sama alurnya. Dan itu nggak dipaksa juga buat meninggalkan jejak. Thank a lot. Really owe you!!! ^_^

      Delete
  3. Replies
    1. Kali ini pure fiksi, hehehe... Emang terasa kah?

      Delete
    2. Iya, kayak nyataaa banget.. Mungkin karena tokoh utamanya punya nama yang hampir sama dengan penulisnya :D

      Delete
    3. Hahaha.. sudah kuduga pasti gara-gara nama tokohnya, hahaha. Tapi jujur sih, memang ada unsur pengalaman pribadi juga sih. Dulu waktu SD, pernah naksir sama cewek, tapi akhirnya.... yah gitu deh, bertepuk sebelah tangan. Akhirnya memilih untuk give up. -_-

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^