Wednesday, March 11, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Idealis versus Realis




Genre: Komedi satire



[Berdasarkan kisah nyata]



Karma. Sebetulnya aku tak terlalu percaya dengan yang namanya karma. Bagiku, karma itu tak ada. Kita, sebagai manusia, memang hobi mengait-ngaitkan sesuatu. Kita senang sekali menghubungkan kejadian x dengan kejadian y. Hanya karena keduanya memiliki kemiripan.Kenapa mereka bisa menyugestikan pikiran mereka seperti itu?

Aku jengah dengan tipe mereka yang seperti itu. Ingin rasanya menampar seseorang yang berujar, "Jangan-jangan kamu kena karma, Chan? Kamu ingat kan, dulu kamu pernah menghina dagangan orang, alih-alih membelinya?"

Persetan!

Apa hubungannya? Kalau sudah dua bulan ini tak kunjung mendapatkan klien yang mau membeli polis, bukan berarti ini karma dari apa yang kulakukan sebelumnya? Lagipula ini kan polis asuransi. Sementara setahun sebelumnya, yang mereka jual itu kudapan yang total penjualan akan digunakan untuk mengisi kas UKM.

Andaikata karma, seharusnya aku mendapatkan 'hukumannya' tak lama aku menolak untuk membelinya. Aku juga punya alasan kenapa menolak. Alasanku: UKM-UKM itu kan sudah disokong universitas lewat dana iuran kegiatan mahasiswa, kenapa pula harus sok mengemis? Dana yang kampus berikan itu ke mana?

Hadeuh.

Sementara yang kulakukan ini murni sebagai pekerjaan. Kalau tak kunjung mendapatkan klien, aku terancam kena penalti. Itu bisa berujung pada penghasilan yang akan kuterima. Belum lagi pada dasarnya manusia memang harus bekerja. Berbeda dengan UKM yang UKM-UKM yang hanya sebuah wadah; bukannya subyek. Tak ada kewajiban bagi para anggota UKM untuk bekerja mengisi kas. Tanpa diisi, kampus juga akan menalangi.

"Hei, masih pontang-panting mencari klien?"

Aku hanya mengulum senyum saat mendengar kata-kata salah satu teman kampus dulu. Namanya Tomo, dan ia kembali meneruskan ujarannya, "Hahaha, mungkin itu hukuman dari Tuhan karena kamu itu terlalu perhitungan. Bahkan mau membeli barang dagangan teman pun, kamu perlu berpikir beratus kali dulu. Sadar dong, Chan. Sifat pelitmu itu sudah masuk taraf mengganggu."

Aku tergelak dalam hati. Apa hubungannya? Sekarang pakai bawa-bawa Tuhan. Aku tidak membeli karena ada alasannya. Aku perlu menabung. Dan sepertinya ia lupa, aku ini anak sulung--HEI!

Aku punya tiga orang adik. Dua terkecil masih sekolah. Ayah sudah pensiun. Sebagai yang tertua, sudah menjadi kewajibanku untuk membantu perekonomian keluarga.

Lagipula barang-barang dagangan yang mereka jual, selain tak kubutuhkan, aku juga tak menyukainya. Masa aku harus pura-pura suka supaya mereka senang--karena barang dagangannya laku? Mereka seharusnya lebih giat dan cerdas dalam berjualan. Jangan manja!

*****

"Yon, kamu bukannya nggak suka makan keripik udang?" tanyaku mengernyitkan dahi. "Katanya alergi,"

Dion cengar-cengir.

"Jangan-jangan alergi itu cuma bohongan lagi? Biar bisa jadi alasan nggak ikut jalani hukuman itu." selorohku, yang mengungkitnya pada kejadian sewaktu piknik kantor tahun lalu. Waktu itu, Dion sekelompok denganku. Dan kelompokku wajib makan keripik udang yang super pedas akibat kalah tanding.

"Benar kok. Aku memang alergi."

"Terus kenapa kamu beli? Kan sayang atuh, dibeli tapi nggak dimakan."

"Jauh lebih sayang lagi, kalau aku tak membeli dagangan mas-mas itu. Sayang aku melewatkan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk berbuat kebaikan dan menciptakan dunia yang lebih indah lagi. Dan,soal keripiknya kan bisa kuberikan ke adik atau ibuku."

Perutku mulas. "Ada-ada saja kamu itu, Yon. Berbuat baik kan banyak caranya. Nggak harus juga mengorbankan dirimu sendiri. Tuhan pasti mengerti, kok, kamu itu punya alasan kuat untuk tak membelinya."

Sial, dia malah menertawakanku.

"Chandra, Chandra. Kamu ini dapat ajaran dari mana? Tahu dari mana kamu Tuhan pasti bakal paham?"

"Ya... Ya... Ya... Ya, Tuhan pasti bakal tahu kenapa kamu tidak membeli barang dagangannya. Dia pasti tahu-lah, kamu itu alergi udang. Makanya nggak ikutan membeli."

"Ngawur!" semprot Dion yang masih nyengir. "Justru menurutku, Tuhan pasti sedih karena telah menjadikan kekuranganku untuk tak berbuat sesuatu untuk sesama. Bukankah tiap manusia diwajibkan untuk berbuat kebaikan tanpa kenal waktu, orang, dan tempat?"

Aku tertegun. Pun mau tertawa. Siapa sangka celetukanku malah mengundang dakwah di siang bolong begini.




Dokumentasi pribadi. 




"Lae, bisa tolong dimatikan rokoknya? Kami berdua kan tidak merokok, jadi cukup terganggu sama asapnya."

Dion nyalang, syok pula.

Calon klien pun nyalang. Tersinggung? Pasti. Tapi bukankah bicara jujur itu selalu mengundang konsekuensi.

"Ya maaf, Lae. Saya minta maaf kalau anda tersinggung. Tapi saya dan teman saya benar-benar terganggu. Apalagi--"

"Kalian ini yah," tukas calon klien, yang rokoknya tetap diisap. "Banyak kali maunya perusahaan asuransi Arjuna ini. Tak cukup apa kalian mendesak saya untuk bikin polis asuransi? Sekarang kalian malah mengatur-atur saya merokok atau tidak. Kalian tahu kan, pembeli adalah raja."

Aku dan Dion berjanji menemui klien di sebuah foodcourt. Demi menghormati klien, kami berdua sepakat untuk memperbincangkan soal polis di smoking zone. Awalnya, baik aku dan Dion, masih bisa tahan. Namun lima belas menit mengoceh panjang lebar, tak tahan pula dengan kepulan asap yang mengepung. Beberapa kali kulihat, Dion mulai kesulitan bernapas. Asmanya mau kumat tampaknya.

Dengan terbata, Dion berkata, "Saya minta maaf, Lae, atas perlakuan teman saya ini. Teman saya ini memang tidak sopan. Suka asal kalau ngomong. Saya juga nggak asma kok."

"Ah sudahlah. Saya batal bikin polis. Kalian bikin saya tidak nyaman, tahu. Berengsek!"

Yak, calon klien melengos begitu saja. Dion yang mengambil pertolongan pertama untuk asmanya, galak menatapku.

"Chan, Chan," Ia geleng-geleng kepala. "Parah ente! Calon klien kabur gara-gara kamu yang asal aja ngomong."

"Lho, kok asal sih? Aku kan hanya bicara jujur. Dan kenyataannya memang terganggu. Kamu saja, kulihat, sampai hampir bengek begitu."

"Aku bisa menahannya."

"Jangan sok kuat! Nanti kalau beneran kumat, kan aku sama si calon klien yang repot. Dan bukan cuma aku sama klien yang repot,orang se-foodcourt bakal kerepotan juga."

Keheningan datang. Kami berdua saling menatap bak sepasang kekasih saja (Untuk menghindari sesuatu yang aneh terjadi, beberapa kali aku melirik ke hal lain seperti perempuan bahenol yang duduk di samping). Dan setelah mengembuskan napas, Dion mulai tersenyum lagi.

"Chandra, Chandra. Aku tahu maksud kamu baik. Paham banget aku. Tapi seringkali kita harus mengorbankan prinsip kita demi orang lain; apalagi dalam mencapai gol."

Aku tergelak. "Tapi nggak sampai mengorbankan nyawa juga kan. Kamu itu asma, tadi bengeknya hampir kumat, kalau aku nggak bilang jujur tadi,--" Aku mengangkat bahu. "--aku nggak berani bayangin, Yon."

Baru Dion mau bicara lagi, aku melanjutkan ucapan, "Toh kalau rejeki juga nggak kemana. Mungkin bapak-bapak Batak tadi bukan rejeki kita, Yon."

Dion nyengir. "Dan sekarang kita cari kliennya gimana? Target lima puluh klien sebulan harus terpenuhi. Dan kita baru ngumpulin dua puluh."

Dion terkekeh, tampak begitu gemas. "Mbok kamu itu jangan terlalu idealis begitu. Menjaga prinsip memang perlu, tapi lihat-lihat juga situasi dan kondisinya seperti apa."

Aku terkekeh pula. "Kamu ini yah, Yon. Sudah bagus aku mau nolongin kamu. Eh ini kamu malah menceramahi aku."

Aku, Chandra, langsung kembali menyambar gilirannya untuk bicara, "Lagian yang idealis itu kamu. Aku justru malah realis orangnya. Aku bicara begitu kan karena ada alasan kuatnya. Kenyataannya kita berdua memang terganggu sama asap rokok si bapak tadi, bukan?"

Dion menghela, tersenyum sejenak, lalu menggelengkan kepala.

*****

Sekarang aku sudah tak bekerja di Arjuna lagi. Aku bukan pegawai asuransi lagi. Kini aku lebih menekuni bisnis. Sebuah online shop begitu. Dan, jualan jersey jauh lebih menyenangkan daripada jualan polis. Apalagi aku kan bos untuk bisnis ini.

Meskipun  aku harus berhubungan dengan supplier untuk barang dagangannya, setidaknya tekanannya tak sebesar waktu masih bekerja di Arjuna. Tak ada yang namanya penalti. Tak ada tuntutan untuk harus selalu sukses berjualan.

Namun, jujur, aku cukup merindukan suasana penuh kekerabatan di kantor Arjuna. Terutama si Idealis Dion. Kudengar dirinya sudah menikah dengan salah satu pegawai di Arjuna (yang memutuskan untuk mengundurkan diri). Ah aku jadi kangen sama beragam dakwah Dion tersebut. Kuakui pula, segala ceramahnya itu ada benarnya. Malah sebagian ada yang sukses mempengaruhiku.

Seperti sekarang ini.

Aku sedang bertemu dengan teman semasa kuliah dulu; biasalah untuk kepentingan reuni. Temanku itu namanya Harta. Sekarang, katanya, dirinya sudah sukses bekerja sebagai seorang advokat. Gajinya tak tanggung-tanggung. Tunggangannya pun seri Audi keluaran terbaru.

Aku dan Harta sedang berada di luar salah pintu masuk sebuah mal. Masih jam 09.45. Mal ini, seperti kebanyakan mal lain, buka jam sepuluh teng.

Harta tampak asyik dengan rokoknya. Asapnya mengebul kemana-mana. Sebetulnya aku...

"Eh Chan, maaf yah gue jadi merokok di dekat lu. Maaf kalau asapnya jadi bikin lu terganggu." ujar Harta tersenyum kecil, tampak merasa bersalah.

Aku menggeleng. "Santai aja lagi. Toh lu ngerokok di tempat yang seharusnya. Yang salah juga gue; malah ngedeketin sendiri perokok aktif yang sedang ngerokok. Lagian kita kan teman ini; sudah bersahabat sejak masuk kampus pertama kali. Dan sahabat yang baik itu sudah sepatutnya tak memaksakan prinsip hidupnya ke sahabatnya. Belajar saling menghargai prinsip hidup masing-masing, itulah persahabatan."

Harta terkekeh. "Wah lu udah berubah banyak yah ternyata. Nggak idealis dan egois lagi. Omongan lu persis kayak ustad sekarang. Apa sekarang lu lagi belajar soal agama?"

Kupingku mendadak berdiri. Aku idealis? Kukira selama ini diriku seorang realis. Justru si Dion itulah sang idealis sejati.

Dion, sang idealis yang sudah mengajarkan banyak hal padaku. Terutama soal respek pada prinsip hidup tiap manusia.Benar kata dirinya, hidup akan jauh lebih indah jikalau kita saling belajar menghargai prinsip hidup masing-masing. Biarkan tiap orang menemukan pemahaman akan hidup sendiri saja.

11 comments:

  1. Ini berdasarkan pengalaman pribadi bro? :D

    Ya begitulah... Dalam kondisi tertentu, terkadang idealis dan realis agak sulit dibedakan. Tapi buat apa repot-repot memikirkan dan membedakannya, ya? Dijalani sajalah... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dialog-dialognya doang. Dialognya ada yang dari pengalaman.

      Delete
  2. fotonya gue kira cuplikan pas bom kuningan :|

    ReplyDelete
  3. kayaknya aku lebih cenderung ke si chandra deh haha
    kalau soal merokok, semua orang berhak merokok tapi jatuhnya dia juga egois karena merampas hak orang lain yang ingin menghirup udara segar
    egois selalu punya dua sisi nggak bisa dilihat dari satu orang aja ;)
    namun kalau orangnya berjualan sementara kondisinya sendiri seadanya tapi dia masih mau berusaha ya gak ada salahnya dibeli, kita gak butuh kan bisa disedekahkan lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jarang banget lho orang berfikiran seperti kak Ninda....

      Delete
  4. Oke deh Kaka..Sebab memang kesadaran akan lebih berarti jika timbul dari diri sendiri.

    ReplyDelete
  5. Hidup itu kan memang harus berhemat, kalau gak di butuhin ngapain di beli,,

    setuju sama bg nuel....

    ReplyDelete
  6. ya begitulah bang, rata2 orang yang merokok tidak peduli dengan orang di sekitar nya...

    ReplyDelete
  7. Uhuk. Ikutan batuk denger asap rokok :P

    Tapi bener deh, ngga semua hal yang jujur itu perlu dikatakan. Hahah.. :D

    ReplyDelete
  8. Thank a lot, all. Thank atas komentar-komentarnya. Thank juga buat yang silent reader. Dilihat dari trafiknya, berarti emang dibaca. Makasih. Jadi semangat nih nulisnya lagi. Matur nuwun.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^