Sunday, March 15, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Dodi et Corn



Genre: Fantasi, Science-fiction


[Berdasarkan kisah nyata]


"Aku ini tidak gila, Dok! Apa yang kulihat bukan sekadar delusi. Itu semua benar-benar nyata."

Yah, awalnya aku hanya menggeleng gemas. Semua orang gila memang seperti itu. Tak ada satu pun dari mereka yang mau mengaku. Oke, andaikata kita anggap tempat itu lembaga pemasyarakatan, jika ada maling mau mengaku, penjara penuh. Jika ada orang gila mau mengaku, tak ada kamar kosong tersedia.

Namun seiring berjalannya waktu, seiring mengamati beberapa pasien, aku seolah tersentak. Mungkin tak semua pasien ini gila. Mungkin mereka terpaksa menyandang status gila karena sesuatu. Pola pikir masyarakat misalnya.

Yep, pola pikir masyarakat. Terkadang, entah di masyarakat di belahan dunia mana pun, mereka seperti belum siap menerima orang-orang tertentu. Tertentu dalam tanda kutip.

Berapa banyak dari kita yang bisa menerima kelakuan-kelakuan aneh dari teman-teman? Ayolah, mengaku saja, kalian pasti merasa tak tenang berdekatan dengan orang tertentu yang saat lampu mati mendadak, dia akan menjerit. Atau bersama seseorang yang hobi berbicara soal hari kiamat. Atau mengobrol bersama yang gemar menyimpan sebuah boneka babi kecil dalam ranselnya.

Yang terakhir, itulah yang menimpaku. Dan orang itu bernama Dodi. Dodi Hutapea kepanjangannya. Kedua orangtuanya Batak--yang terbiasa dengan segala sesuatu yang keras; suara, pembawaan, maupun karakter. Ayahnya malah seorang berpangkat terhormat di militer.

Namun Dodi sungguh bertolak belakang dari orangtuanya. Dodi itu lebih kalem. Lebih mirip dengan orang Jawa yang pembawaannya sudah dikenal lemah lembut. Lebih parahnya lagi, Dodi kekanak-kanakan.

Itu kata ayahnya; bukan kataku. Ayahnya mengeluh anaknya yang sudah berusia seperempat abad itu yang sama sekali dewasa. Menurut penuturan sang ayah, Dodi sampai sekarang masih suka menonton film kartun. Lelaki itu hampir tak pernah menyentuh bacaan-bacaan yang sudah seharusnya diakses. Otak Dodi selalu seperti anak-anak. Penuh dengan dunia animasi dan video game. Yang sedikit menarik napas lega, untungnya Dodi gemar menonton atau berkutat di lapangan hijau. Klub favorit Dodi itu Liverpool.

Sampai sekarang, aku masih belum melihat di mana letak ketidakwarasan seorang Dodi Hutapea. Aku tak melihat seseorang yang sudah kepala dua, yang masih menonton animasi, sebagai bentuk ketidakwarasan. Aku pun masih. Beberapa teman juga masih. Bahkan cukup banyak yang menyukai online game. Tak ada yang janggal.

Tapi ayah Dodi bilang, anak lelaki semata wayangnya itu suka berkata kata-kata aneh. Minimal saat tengah menyaksikan satu pertandingan sepakbola. Salah satu ujar Dodi: "Dad, ini kalau Liverpool menang terus, kayaknya bakal naik IP-ku semester ini."

Agak janggal sih. Aku mulai mengernyitkan kening. Tambah berkernyit saat ayah Dodi bercerita soal kebiasaan Dodi yang suka bermain-main dengan boneka babi kecil yang sampai diberikan nama Corn. Dodi malah sering kepergok sedang mengobrol dengan Corn seolah-olah boneka babi itu hidup betulan. Bahkan Dodi pernah bilang padaku, Corn sudah membuat dirinya jadi lebih tenang, tidak agresif, dan bisa menghargai lebih teman-temannya. Sampai di sini, aku mulai merasa sepertinya tengah menemukan satu penderita skizofrenia lainnya.

Aku curiga Dodi ini schizoid. Namun anehnya, ini kasus yang mungkin cukup langka, Dodi menyadari keganjilannya. Ia sempat riset sana-sini soal beberapa gangguan mental. Termasuk soal skizofrenia. Bahkan untuk menghilangkan pikiran gilanya, agar jauh lebih tenang, ia suka mengonsumsi obat sakit kepala yang juga mengandung obat tidur.

Aneh. Bagiku ini aneh. Aku teramat jarang mendapati orang seperti Dodi. Jarang ada orang gila yang mengaku gila dengan sendirinya. Kebanyakan pasienku itu biasanya datang karena rujukan seseorang. Jarang sekali ada yang datang karena niat sendiri. Kalaupun ada, itu karena orang-orang yang merasa cukup begitu penatnya dengan rutinitas mereka. Mereka datang untuk minta kudengar curahan hati mereka, lalu pulang seraya membawa obat rujukanku. Orang-orang seperti itu tidak mengaku gila, tapi lebih ke arah mengaku kepalanya terasa berat sekali. Amat jauh berbeda dengan Dodi--yang sudah menyadari kemungkinan bahwa dirinya gila.

Tambahan, Dodi--selama proses terapi--sama sekali tak menunjukan tingkah laku yang aneh-aneh atau yang menuju ke destruktif. Otak kirinya masih berjalan sama baiknya dengan otak kanan. Cara bicaranya oke-oke saja. Ia masih bisa menganalisis suatu permasalahan.




Dokumentasi pribadi.






Boneka itu mengerling. Aku terbelalak. Apa ini hanya halusinasi belaka? Sepertinya bukan. Sebab biasanya--dan mungkin seringnya--halusinasi hanya bisa dilihat oleh dua orang.

Dodi berujar, "Dokter Nuel bisa lihat sendiri kan. Aku bilang juga apa, Corn ini bukan sekadar boneka. Ia betulan hidup. Hanya saja Corn ini pemalu walau sebetulnya dia baik banget--dan pengertian pula."

"Se. La. Mat. Pa. Gi. Dok. Ter. Nu. Wel." sapa Corn dengan cemprengnya.

"Pa-pa-pa-pagi,..." Aku masih cukup tergugu. Bingung harus seperti apa reaksi yang pantas dipertunjukkan.

Tanpa kutanya, Dodi inisiatif memungkaskan segala yang ingin kuketahui.

"Lima tahun lalu, aku menemukannya di Cipelang, waktu tengah kemping bareng teman-teman seangkatan. Itu juga semacam acara pengenalan mahasiswa gitu. Bisa dibilang ospek. Tapi aku lebih bilang acara itu sebagai ajang penyiksaan mahasiswa baru oleh para senior--yang diresmikan pihak fakultas."

Aku mengalihkan pandang pada Dodi lagi. Lihat kan, mana ada orang sakit jiwa dengan cara bicara seperti itu. Untuk seorang psikopat pun, cara bicara dan berpikir seorang Dodi begitu luar biasa.

"Lalu, di tengah-tengah acara penyiksaan yang membuat tiga hari pelaksanaan kemping seperti tiga abad itu, aku sebentar memencarkan diri ke suatu tempat. Tentunya yang jauh dari para senior tukang mabuk yang super resek itu. Juga untuk menenangkan diri agar emosi bisa segera turun. Bisa gawat kan, kalau sampai tak bisa mengontrol emosi lalu terlibat baku hantam, kemudian mungkin bakal mempersulit langkahku untuk lulus."

Cengiran pemuda itu, curahan perasaan tak sengaja,... sungguh tak mencerminkan kepribadian pemuda itu yang layak dirawat di bangsal ini. Begitu berpendidikan (walaupun seorang psikopat pun bisa terlihat elegan).

"Dalam jarak kurang lebih lima kilometer, sehingga sudah begitu jarang sekali bertemu senior atau yang seangkatan, aku menemukan sebuah pesawat. Ukurannya sangat kecil, sehingga terasa seperti sebuah mainan saja. Iya aku tahu, Dokter Nuel pasti menganggap aku cuma berkelakar. Yang lain juga sama kok."

Tidak, Dodi. Aku justru, seperti ada sesuatu, sangat tertarik dengan penuturanmu itu.

"Pesawat alien itu kutemukan di balik semak belukar. Itu juga lokasi ditemukannya memang begitu luput dari pengamatan siapapun. Kalau ditemukan juga, mungkin orang akan mengiranya sebagai barang yang dibuang begitu saja oleh seseorang yang tengah berlibur."

Aku duduk di kursi nyamanku lagi. Corn mulai tenang--setenang batu.

"Aku lalu iseng bongkar-bongkar, hingga menemukan Corn ini. Awalnya kukira boneka. Tapi, tiga hari setelahnya, mungkin Corn capek juga, ia bergerak-gerak dalam ransel. Aku juga kaget. Untung saja aku belum meninggalkan kamar. Kalau nggak, bisa heboh satu rumah."

Ia tergelak.

*****

"Aku datang dari galaksi lain yang terletak tak jauh dari Milky's way. Itu kira-kira sekitar seratus tahun cahaya. Di planetku, yah memang penghuninya itu seperti aku. Di mata makhluk Bumi, kami tampak seperti sebuah boneka bergerak."

Hampir sebulan sudah aku mengenal lebih jauh Dodi dan teman kecilnya dari planet Ranz, Corn. Dari makhluk yang bentuknya hampir menyerupai boneka itu, aku jadi tahu bahwa ternyata Dodi ini orangnya memiliki masalah krusial dengan kepercayaan diri. Itu mulai menjelaskan mengapa pertama datang, pemuda itu lebih sering menundukan kepala. Bicaranya begitu hati-hati; terdengar seperti menjaga perasaan lawan bicaranya. Malah pemuda itu mudah gugup. 

Corn bilang, sejak kehadirannya, sebetulnya Dodi menunjukkan tanda-tanda perubahan sikap yang positif. Ia jadi lebih berani, cepat ambil keputusan, dan lebih disiplin. Sorot matanya lebih hidup dan berbinar-binar. Caranya bicara sungguh berapi-api sekali. 

"Tapi... itu kalau aku ada di sekitarnya--di dalam ranselnya, maksudku. Kalau aku tidak ada, Dodi kembali lembek. Kembali jadi sosok Dodi lama yang peragu, lamban melangkah, tidak disiplin, dan sorot matanya itu begitu cekung sekali. Seperti orang mati saja. Ia bicara seperti besok Bumi ini mau diserang segerombolan pasukan Atoz saja. Mungkin sebetulnya Dokter harus bisa mencari tahu soal penyebab dari rasa trauma yang dialami Dodi. Dodi serapuh itu mungkin karena hatinya terluka sekali."

Oke, mungkin keputusan ayah Dodi tak sepenuhnya salah. Dodi memang memerlukan konseling. Rasa percaya dirinya perlu dipupuk. Semangat hidupnya perlu dikobarkan dari dalam diri. Rasa takutnya perlu dibuang jauh-jauh. Dan...

...ah aku tahu mengapa Dodi seperti itu.

Ayahnya itu seorang militer, bukan? Bukan bermaksud menggeneralisasi, tapi kebanyakan tentara memang berwatak keras dan berdisiplin tinggi. Dulu semasa kuliah, dosenku sering bilang bahwa kebanyakan anak tentara itu pasti cenderung kaku. Hampir mirip dengan Dodi, namun pemuda itu lebih parah kakunya. Mungkin Dodi seperti itu karena pengaruh sang ayah sendiri yang kelewat keras. Mungkin ada satu atau beberapa pengalaman yang menyebabkan Dodi jadi seperti ini. Saat kuselidiki lebih jauh, damprat ayahnya, "Anda itu kusuruh untuk menyembuhkan Dodi dari penyakit gilanya itu, bukannya sok pengin tahu soal keluarga kami. Mau apa kek cara didik saya, saya yang tahu terbaik buat anak-anak saya."

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Ayahnya itu bodoh atau apa? Bukankah sudah seperti menjadi kewajiban bagi golonganku untuk mencari tahu akar permasalahan dari keluarga pasien? Sebab seringkali akar dari sebuah penyakit kejiwaan atau depresi itu datangnya dari keluarga--tidak lain, tidak bukan.

*****

Setahun sudah berlalu. Sudah sejak lama, Dodi tidak lagi di rumah sakit ini. Walau begitu, Dodi akan selalu menjadi pasienku. Apalagi aku memang diberikan mandat oleh Corn untuk mengubah Dodi menjadi pemuda yang selalu optimis dan berapi-api. 

Oh iya, Dodi boleh menjalani rawat jalan, itu karena usaha kerasku dalam melobi para dokter. Kujelaskan segala hal tentang Dodi padanya, termasuk soal Corn (Untuk Corn, mereka berjanji tidak akan membocorkannya ke publik). Seluruh dari mereka sepakat bahwa Dodi tidak mengalami gangguan jiwa yang begitu kronis. Dodi hanya mengalami rasa trauma yang menyebabkan dirinya jadi amat sangat peragu. Kalau dibiarkan lebih lanjut, Dodi mungkin bisa betulan jadi seorang pengidap multiple personality disorder. Gangguan kepribadian ganda maksudku. Ketergantungannya dengan sosok Corn sangat berbahaya. Apalagi alien itu juga pernah bercerita bahwa makhluk itu tak selamanya tinggal di planet Bumi. Bagaimanapun manusia normal harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Kalau tidak bisa, lebih baik mereka jadi robot selamanya. 

"Dokter Nuel, aku mohon yah, tolong tanamkan rasa percaya diri dalam diri Dodi. Tolong ubah Dodi supaya tidak lagi takut-takut sama sejenisnya--sesama manusia, maksudku. Sebetulnya aku tidak begitu tenang untuk meninggalkannya. Tapi aku juga harus segera kembali ke planetku. Batas waktunya sudah hampir habis dua bulan lagi. Aku mohon, Dokter Nuel."

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. "Kuusahakan semampuku, Corn. Dan terimakasih juga kamu sudah menceriakan hidup seorang Dodi. Kamu pergilah dengan tenang. Kali ini giliranku."

*****

Satu dekade terlewati. Dodi sudah banyak berubah. Tidak perlu obat untuk menyembuhkannya. Hanya beberapa kali rutin konseling--yang butuh waktu berbulan-bulan, Dodi menjelma menjadi sosok pemuda yang tidak lagi takut dengan manusia. Ayahnya pun akhirnya mengaku padaku. Dodi selama ini seperti itu ternyata karena didikan militer yang kelewat keras. Beliau tidak pernah sama sekali mengijinkan Dodi untuk melakukan kesalahan. Nilai-nilai Dodi harus selalu di atas sembilan puluh. Tak ayal, itu membuat Dodi jadi seperti robot. Tak boleh sedikit pun Dodi mempermalukan sang ayah di hadapan khalayak. Sungguh tertekan menjadi seorang Dodi. Belum lagi ternyata Dodi seorang klaustrophobia juga (yang muncul akibat hukuman kurungan di gudang nan sempit yang sering dilakoni). 

Memang sulit sekali untuk men-konseling orang-orang macam Dodi. Namun layak dilakukan. Apalagi kalau konseling itu menuai buah yang amat manis. Lihat sekarang...

Itu Dodi.

Dari kejauhan, aku melihat Dodi tengah membawa keluarga kecilnya itu cuci mata di sebuah pusat perbelanjaan. Sudah kubilang padanya, dengan kepribadian yang lebih optimis, apapun bisa terjadi. Ia kini memiliki seorang istri yang aduhai cantiknya. Kuperhatikan selama ini pula, istrinya itu termasuk perempuan sempurna. Cantik iya, cerdas iya, pun bisa menjaga sikap. Atau mungkin sebetulnya wanita itu sudah lama menyukai Dodi. Mungkin wanita itulah yang mengubah Dodi; bukannya diriku. Ah entahlah. Masa bodoh dengan itu. Yang jelas aku bahagia dengan perubahan positif Dodi ini.

Teruslah seperti itu, Dodi. Tetaplah menjadi sosok manusia yang selalu optimis dengan sorot mata lebih manusia. Dan jadilah sosok ayah yang hampir mendekati sempurna untuk putra kecilmu itu.






* Atoz : nama planet yang menjadi tetangga dari planet Ranz. 


7 comments:

  1. Seneng juga baca endingnya Dodi bisa berkeluarga dan hidup normal. Dodi ganteng gak sih ? :)

    ReplyDelete
  2. Bercerita dalam sebuah foto...unik banget nuel

    ReplyDelete
  3. kok Om Nuel punya boneka lucu ya...
    sama kayak aku dong, bonekaku banyak juga.

    Om Dodi itu temannya Om Nuel?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Kok tau tokoh dodi itu terinspirasi dari teman saya? Hahaha... Hebat terkaannya.

      Delete
    2. Mungkin karena cerita kamu terlalu detil, Nuel.. Hahah :D

      Delete
  4. Thank a lot, all. Thank atas komentar-komentarnya. Thank juga buat yang silent reader. Dilihat dari trafiknya, berarti emang dibaca. Makasih. Jadi semangat nih nulisnya lagi. Matur nuwun.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^