Sunday, March 29, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Buaya + Kucing = Mirip? IMPOSSIBLE!




Genre: Komedi-romantis





[Juan]

Yang menjadi pertanyaanku--dan itu tak akan pernah terjawab--ialah mengapa kaum perempuan selalu lelet sekali dalam berbelanja pakaian? Mengapa mereka tak seperti kaumku yang bergerak secepat bayangan saat berada di mal. Mereka seperti tak tahu pasti hendak membeli apa. Bak seperti kanak-kanak saja--yang seperti masuk ke toko mainan, lalu jadi bingung ingin beli yang mana.

Aku berbicara seperti ini karena ada alasannya. Yah, ada alasannya. Dan itu...

...karena perempuan yang ada di depanku.

Marina namanya. Dia kekasihku. Kami sudah berpacaran sudah tujuh tahun. Sudah hampir mau menikah, kalian tahu. Kami bahkan sudah saling memperkenalkan diri ke keluarga masing-masing. Rencananya, kalau tak ada halangan, yah tahun ini pun berjalan ke depan altar suci.

Sudah menjadi rutinitasku untuk menemaninya ber-shopping ria. Aku tak masalah. Bukankah normalnya orang berkencan itu di mal? Menonton di bioskop, hilir-mudik di sepanjang lorong mal, lalu andaikata lelah, berujung di sebuah foodcourt. Makan-makan, canda-cindi, dan saling melontarkan guyonan. Jadi aku tak masalah. Sungguh.

Permasalahannya hanya satu. Segalanya jadi menyebalkan saat perempuan yang jadi cantik sekali jika rambutnya digerai itu masuk ke toko-toko pakaian. Eee... malas sekali melihatnya memilih-milih baju, celana, sepatu, tas, hingga pakaian dalam. Yak, pakaian dalam! Bahkan untuk satu pakaian dalam pun, Marina bisa butuh waktu hampir tiga puluh menit. Ayolah, toh juga itu dikenakan di balik pakaian luar! Kenapa harus selama itu?

"Juan," tanya Marina sembari memperlihatkan satu gaun hijau yang diletakkan di depan dirinya langsung. Aku amati dan bingung. Jujur saja, aku memang bukan fashionista. Bagiku, seluruh pakaian sama. Sama-sama untuk menutupi aurat. Tak ada yang istimewa antara pakaian satu dan lainnya.

"Bagus, nggak?" desaknya tersenyum manis nan tak sabaran.

Aku menjulurkan jempol. "Bagus banget! Aku suka banget, Na. Kamu jadi mirip Putri Indonesia."

"Ah, gombal kamu. Dasar hiperbolik!" katanya defensif. Perempuan memang seperti itu. Selalu bilang "gombal" saat dipuji, padahal nyatanya suka juga dirayu semanis-manisnya. Katakan padaku perempuan mana yang tak suka digombali.

Aku nyengir. "Jadi gimana? Yang itu kan jadinya?"

"Kayaknya nggak deh, Juan. Norak, tahu. Apalagi kamu kan tahu, aku paling anti warna-warna yang ngegenjreng abis kayak gini."

"Tapi itu betulan cocok banget sama kamu, Na. Cantiknya kamu jadi terpancarkan keluar."

Marina mendelik tajam. Uh-oh! Aku sepertinya salah mengeluarkan kata-kata.

"Jadi maksudmu, aku ini jelek, begitu? Aku hanya cantik di dalam; nggak cantik di luar?" Marina mendadak sewot.

"Bu-bukan be-begitu, Na, maksudku,"

"Ah, ngeles aja kamu. Bilang aja, aku ini nggak cantik. Dan semua gaun di sini, nggak ada yang cocok kan buatku? Ya kan?"

"Tapi--"

"Kamu bahkan lupa aku kan nggak suka warna hijau."

Sudah tahu tak suka, mengapa pula memilih warna itu? Aneh!

"Jangan-jangan memang sebetulnya kamu ini nggak cinta sama aku? Ada perempuan lain dalam hatimu, kan?"

"Lho, kok jadi merembet ke situ sih, Na? Kamu lagi 'dapet' yah?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" semprot Marina. Dan sekarang, orang-orang di toko ini jadi memerhatikan kami berdua. "Dasar gombal! Aku mau pulang saja. Kamu sudah merusak akhir mingguku."

"Na, Na, Na,..." Kuraih tangannya. "Jangan begini dong. Malu, tahu. Ini tempat umum. Jangan kekanak-kanakan begini! Tuh lihat, bahkan remaja putri di sana jadi cengok lihat kita. Mungkin dipikirnya,--"

"Dasar buaya!" sembur Marina ketus, tambah ganas. "Ya sudah, pacaran saja sama anak SMA itu. Nikahin kalau perlu. Lebih cantik dia daripada aku, kan?"

Aku sekonyong-konyong termangu saat Marina mengentakkan tanganku.

Perempuan oh perempuan. Kadang aku tak paham sama makhluk bernama pe-rem-pu-an. Sumpah deh! Berkuadrat-kuadrat sumpah!




Diambil dengan menggunakan Canon EOS1200D, bukaan f22, ISO 800, dan shutter speed 1/60.




[Bobby]

Aku bingung ada apa sebetulnya dengan pasangan ini? Perasaan saat kali pertama masuk, mereka tampak intim. Tapi sekarang mengapa si perempuan jadi melancarkan perang dunia ketiga di butik ini?

Oke, jangan berprasangka dulu. Tampak si perempuan begitu kekanak-kanakan. Kelihatannya seperti itu. Masa cuma gara-gara kata-kata kekasihnya: "...cantiknya kamu jadi terpancarkan keluar...", si perempuan jadi sewot? Aku rasa, ada yang korslet dengan otak si perempuan.

Tapi tahan dulu. Mungkin si perempuan lagi datang bulan. Atau mungkin sebetulnya mereka sebetulnya sudah bertengkar. Mungkin si lelaki kepergok selingkuh. Lalu mereka bertengkar hebat. Saling diam-diaman, hingga si lelaki jengah juga, dan memilih untuk meluluhkan emosi sang kekasih dengan mengajaknya berbelanja pakaian. Kemudian si lelaki kepeleset lidah. Jadilah seperti yang sudah terjadi barusan. Mungkin seperti itulah kejadiannya.

Hahaha, jago juga aku bikin skenario. Harusnya aku jadi penulis skenario saja, bukannya jadi penjaga toko yang membosankan ini.

Omong-omong, mengapa lelaki yang tak setia itu dikatakan sebagai buaya darat? Seingatku, buaya itu binatang setia. Ia selalu setia dengan satu betina saja. Seharusnya istilah yang cocok itu kucing garong. Sebab kucing jantan saja bisa membuahi beberapa betina dalam satu hari. Baru membuahi satu betina, sudah pindah ke lain tubuh. Begitu yang kuingat dari pelajaran Biologi semasa SMA dulu. Walau anak IPS, begini-begini nilai Biologi-ku tak pernah mengecewakan. Selalu di atas delapan. 

Oh iya, bicara soal pertengkaran dua insan barusan (yang terlihat konyol sekali sepengamatanku), perempuan itu cantik juga. Aku sangat mengagumi perempuan dengan dagu runcing, hidung runcing, sorot mata pun runcing, dan berlesung pipit. Belum lagi dengan rambut panjang yang begitu terawat sekali. Pasti si perempuan hobi ke salon. Minimal mungkin perempuan itu merawat diri di salon seminggu tiga kali. Seharusnya laki-laki itu tidak menyia-nyiakan perempuan secantik itu. Harusnya laki-laki itu harus lebih agresif lagi dalam hal merayu. Apa perlu aku yang semasa SMA ini dijuluki Raja Gombal, memberikannya kursus singkat bagaimana cara menggombali seorang perempuan dengan baik dan benar? 

Hahaha, tapi sebaiknya jangan. Sepertinya aku lebih suka jika perempuan itu jatuh ke dada bidangku ini. Pasti perempuan itu akan jauh lebih berbahagia bersamaku. Kalau nanti perempuan itu datang sendiri tanpa bersama lelaki yang tak tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita, aku akan ambil alih. Lihat saja!


*****

[Karina]

Aku super-duper-melongo. Aduh, mimpi apa aku semalam? Kenapa malam minggu kali ini jadi seperti sinetron sekali? Kenapa aku harus berjumpa dengan pertunjukan ala FTV picisan? Kenapa? Kenapa? 

Aduh, perempuan itu. Keterlaluan. Iya, perempuan itu keterlaluan kekanak-kanakannya. Tadi sepengetahuanku, dari yang kudengar, bukankah perempuan itu sendiri yang bilang bahwa dirinya benci warna hijau. Lah, sekarang kenapa memilih gaun berwarna hijau sih? Aneh. Dasar perempuan aneh! Apa maksudnya itu ingin menguji kesetiaan pasangannya? Please deh, ini dunia nyata--bukan dunia fairy's tale!

Tapi...

...dari obrolan (atau mungkin pertengkaran tepatnya) tersebut, terlihat mereka tak seperti pasangan suami-istri. Mungkin baru berpacaran. Mungkin usia hubungan mereka belum mencapai satu tahun. Mungkin lho yah, mungkin. Hanya asumsi aku saja. 

Tapi...

...tampaknya mereka jodoh. Iya, jodoh. Perempuan dagu runcing (namun kurus kerempeng) dan laki-laki rahang kekar (dan sangat keren sekali penampilan fisiknya) itu mungkin berjodoh. Aku pernah dengar, katanya, jika dua orang berlawanan jenis saling memiliki kemiripan wajah, sekali lagi katanya, mereka sudah dijodohkan bahkan sebelum mereka bersua (atau mungkin sebelum mereka lahir). Begitu sih mitos yang kudengar. Jangan tanya aku soal kebenarannya. Aku hanya mendengar mitos itu dari Oma aku. 

Kalau aku sendiri sih, aku cenderung  tak percaya. Ya Tuhan, hidup sudah serba teknologi seperti ini masih percaya mitos-mitosan? Please deh. Balik saja kembali ke jaman baheula

Eeee... sebetulnya sih, aku bilang seperti ini, karena aku naksir lelaki itu. Sial, kenapa tadi aku tak meminta nomor ponselnya? Eh tapi jangan deh. Malu, tahu. Memangnya aku ini perempuan apaan? Ish

*****

[Marina]

Juan brengsek! Brengsek! Brengsek! Brengsek! Brengsek! Brengsek! Apa semua laki-laki sebrengsek Juan? 

Aku tahu, selama ini Juan pasti tak begitu suka untuk menemaniku berbelanja pakaian. Pria itu selalu saja memasang tampang masam yang bikin perut mulas. Padahal apa yang kulakukan ini kan semata buat dirinya juga. Pasti tiap perempuan di belahan dunia mana pun, ingin terlihat sangat anggun di mata kekasihnya. 

Seharusnya Juan lebih sering membaca majalah-majalah fashion. Dia harus tahu bagaimana sebuah selera berbusana bisa menjadi semacam nilai jualnya seseorang ke orang lain. Sepertinya Juan lupa, sampai kapan pun, pepatah 'jangan menghakimi buku dari kaver' itu akan selalu jadi pepesan kosong. Kenyataannya, tiap orang pasti memilih rekan, teman, sahabat, hingga pacar hanya dari tampilan luar. Kayak dia mau saja berpacaran dengan cewek buruk rupa dengan behel dan kacamata frame segede kepalan tangan. Sudah menjadi takdir manusia, bukan, yang selalu merasa nyaman jika bersama seseorang yang berpenampilan cukup oke dipandang. Dan ada kepuasan tersendiri saat ada seseorang yang bilang pada kita: "Hei, gue suka banget sama cara berpakaian lu itu. Fashion style-nya dapet banget, padahal sederhana." Itu sungguh meningkatkan rasa percaya diriku. 

Tapi sudahlah. Mana mengerti pria dengan yang namanya fashion. Kaum pria kan selalu udik. Mereka selalu buta akan cara-cara berpenampilan yang flamboyan dan klimis. Yang ada di otak mereka hanya bicara soal hobi mereka yang tidak penting sama sekali. Apalagi kalau bukan soal bola, video game, gadget, hingga keinginan yang sok-sok menjadi traveller-wannabe. Dan Juan termasuk yang opsi terakhir. 

Buyar sudah rencana malam minggu indah nan romantisku. Tadinya aku berharap, saat masih di butik tadi, Juan bisa memuji-mujiku. Juan bisa jeli soal gaun yang seyogyanya aku beli. Yang lalu, aku pun akan membeli gaun pilihannya dan bergandengan tangan mesra menuju restoran yang pas untuk makan malam. Atau mungkin sebelumnya, kita bisa pergi ke bioskop dulu. Menonton satu film romantis bisa menyulut dahulu api-api keromantisan yang membuat makan malam nanti jadi semakin tak terkenang. Namun si Brengsek Juan memang tak ada kepekaan sama sekali. Pria itu malah sudah merusak suasana hatiku yang tengah indah-indahnya, seindah aurora di kutub utara. 

Lebih baik aku pulang. Jengah juga aku lama-lama di mal. Segera saja aku hampiri salah satu taksi. Kubuka dan duduk tanpa senyuman. Kusebutkan alamat rumahku dengan ketus. Tak kupedulikan selorohan si sopir taksi yang mengejekku yang terlihat seperti Dakocan kalau sedang cemberut seperti ini. Masa bodoh! Kesalku kan dengan Juan, bukan si sopir taksi yang kumisnya mirip Jojon ini. 

Sekali lagi, Juan brengsek! Brengsek! Brengsek! Brengsek! Brengsek! Brengsek! 

Masih kurang? Juan itu pria yang sejuta brengsek dari semua pria yang pernah kukenal. 

10 comments:

  1. itulah wanita
    kalo belanja lama :D
    belum lagi fase galau saat milih, malah bikin lama
    tapi pengalamanku nemenin istri belanja, ga sesebel itu deh :D
    soalnya istriku selalu melibatkan aku, dan malah aku yang kebanyakan protes ini bagus ini ga bagus

    ReplyDelete
  2. Ini kok kenapa kaum gue jadi nggak enak banget ya dibacanya -____-
    Lagi juga nggak sampe segitunya kali, si Marina aja lebay. Hidup kaum hawaaaa! *nggak terima*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...

      Thank for the attention. Hehe. Ya gitu deh. Sampai kapan pun, cewek-cewek kayak Marina akan selalu ada kok. :p

      Delete
  3. Mungkin perempuan begitu ingin terlihat menarik didepan kekasihnya, mungkin hehe

    ReplyDelete
  4. waduh kena deh aku :) iya juga sih aku suka pilih-pilih biasnaya bukan saat beli baju. Beli sendal dianter suami masuk satu toko gak jadi, cari toko lain sekalinya ada yang suka eh gak ada nomor. Kata suamiku perasaan sendal banyak modelnya tapi kok gak ada yang dipilih :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... maaf-maaf, Bu. Sama sekali nggak ada niat buat nyindir, hahaha.. Walau yah emang sih terinspirasi dari kisah nyata. Punya dua kakak, satu adik, dan ibu yang rempong abis kalau shopping. Hahaha...

      Delete
  5. Aku malah fokus ke fotonya.. Terlihat mereka intim sekali.. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, kemesraan yang luar biasa. Semoga langgeng hingga kakek-nenek. :p

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^