Friday, March 27, 2015

ONE STORY ONE PHOTO: Beratnya Mengampuni



Genre: Thriller





"Del, ayo!!!" Seruan Winda hanya kugubris dengan lambaian tangan seraya berkata, "Bentar, Win. Ada yang mau kubaca."

SEORANG GAY BERISTRI MEMUTILASI SELINGKUHANNYA

Begitulah judul artikel yang menarik perhatian. Jangan tanya kenapa. Aku sendiri tak tahu. Sama seperti kalian, artikel itu biasa saja. Yang membuat itu jadi istimewa, karena relung hatiku. Dadaku berdentang-dentang kencang sekali sewaktu memerhatikan artikel itu sekilas. Aku merasa seperti familier dengan pria yang katanya gay ini. Namanya: Alvian Sinaga.

Ya ampun. Kupicingkan mataku. Perasaanku saja, atau wajah si Alvian ini sedikit mirip denganku? Terlebih pada matanya. Apa mungkin...

"Serius banget, Bu, bacanya? Itu koran lama lho. Koran saat kita masih TK, mungkin."

Aku mendelik sekilas, tersenyum.

"Lagian ada apa sih, sama artikelnya? Kayaknya nggak ada yang aneh. Berita-berita mutilasi kan bukan barang baru. Nggak ada yang istimewa."

Telingaku berdiri. Mau kutampar temanku yang suka memelihara poni ini. Ia berkata seolah berita dimana seseorang dibunuh sadis itu sebagai suatu barang fashion saja. Yaitu harus istimewa--baru menarik perhatian.

"Iya, iya, gue minta maaf." kata Winda tersenyum. "Cuma bercanda, nggak usah serius-serius begitu ah. Mending buruan. Pak Sulis dan yang lain sudah menunggu di luar perpustakaan."

Aku memutar bola mata. Lalu bergegas mengikuti Winda keluar perpustakaan nasional. Waktu kunjungan Universitas Rajawali Kenangan sudah tamat.

Ya sudahlah, lain kali aku akan pergi ke perpustakaan ini sendirian saja. Toh aku sepertinya--dari mengamati jalan-jalan yang ada--tahu harus naik apa. Mungkin sabtu atau minggu akan ke sini lagi. Aku penasaran dengan pria tersebut.

Siapa yah, pria bernama Alvian Sinaga itu? Entah mengapa aku merasa pria di foto tadi dan diriku seperti ada ikatan batin. Mungkinkah?

*****

Hari ini Paskah. Aku, Fidel Sinaga, seorang guru sekolah minggu. Paskah kali ini tetap sama. Anak-anak kelas 1-2 yang berada dalam pengasuhanku, sibuk mengumpulkan telur-telur hias yang akan diperlombakan ke hadapanku. Telur-telur paskah mereka bagus-bagus. Mereka pintar menghias.

Dari sekian telur, ada satu telur yang menarik perhatian. Itu milik seorang gadis kecil berambut pendek kaku. Namanya Naomi. Naomi menuliskan di telur itu: dihias oleh papa yang sudah berangkat ke Aussie. Sebetulnya Naomi menuliskannya di atas kertas kecil yang ditempelkan di telur berwarna hijau-kuning tersebut.

Tampak Naomi begitu membanggakan sekali papanya. Ah aku jadi kebas lagi. Begitu terus tiap melihat keakraban ayah dan anak. Terlebih di momen-momen religius seperti ini.

Aku tak seberuntung Naomi atau anak-anak ini. Di rumah hanya ada sosok ibu dan tiga orang adik, yang mana yang bungsu masih duduk di bangku SMA. Tiada sosok ayah.

Sosok ayah tak pernah kulihat sejak... sejak kapan yah? Entahlah. Yang jelas, sewaktu seumur Naomi, aku tak pernah menyapa seseorang dengan kata sandang 'papa', 'ayah', 'papi', 'abi', 'daddy', atau apapun itu. Mama selalu bilang padaku, "Papa kamu sudah meninggal," Tapi dia tak pernah bisa menunjukkan padaku kuburan Papa. Sekali pun tak pernah.

Rasanya, dari tiap keinginanku, hanya satu yang sulit sekali terkabulkan. Mungkin Tuhan Yesus tak ingin memberikannya padaku. Mungkin Dia ingin aku hidup sebagai anak yatim. Sudah takdirku mungkin untuk hidup hanya di bawah bimbingan seorang ibu yang jago bikin kue-kue kering saat Natal.

Padahal aku ingin seperti Naomi, yang punya papa yang sudah tiga kali menghias telur paskah untuknya. Atau seperti Wawan yang punya papa yang begitu histeris waktu lomba hias pohon Natal bersama keluarga. Atau seperti Hendry yang punya papi yang hobi memotret anaknya saat ikut liturgi natal. Rasa-rasanya memiliki seorang ayah di hari besar keagamaan itu sangat istimewa sekali untuk sekarang ini. Itu seperti mendapatkan undian pergi ke Lapland, lalu bertemu sinterklas langsung.


Diambil dengan menggunakan Canon EOS 1200D,  bukaan f10, shutter speed 1/100, ISO 200. 



Sialan, mimpi ini lagi? Sudah semingguan ini, aku dihantui banjir darah. Perasaan aku paling anti menonton film horor, thriller, atau gore. Tapi mengapa pemandangan-pemandangan ala film slasher ini terus memburuku dalam mimpi.

Di mimpiku, aku seperti melihat seorang pria tengah memotong-motong jenazah seorang pria lainnya. Dipotong-potong hingga terpecah menjadi beberapa bagian. Aku tak phobia darah. Tapi bau dedarahan itu bikin perutku mual. Itulah sebabnya aku suka tak nafsu sarapan.

Sebentar.

Sepertinya aku mengetahui satu hal. Ah iya, wajah Alvian Sinaga itu mirip sekali dengan pria dalam mimpiku. Bukan, bukan sebagai korban, melainkan sebagai pelaku. Mirip sekali. Posturnya, wajahnya, dan pakaian yang dikenakannya.

Apa maksud mimpi beruntunku ini yah?

Tanpa pikir panjang, masih di atas ranjang, aku mengambil posisi bersila. Kuraih Alkitab yang selalu kutaruh di atas nakas. Tak lupa pula buku renungan harian. Aku ber-saat teduh dan berdoa untuk meminta petunjuk Tuhan.

*****

Dipotong. Darah muncrat. Dipotong. Darah menghambur keluar. Pria ini pasti sudah sinting. Menjijikan. Tanpa sungkan, bak seorang tenaga forensik, dia memegang bagian-bagian vital korbannya. Tampak seperti anak kecil dengan mainan barunya, enteng sekali ia memasukkan sebongkah jantung ke dalam kantong plastik hitam.

Lebih terganggu lagi saat pria itu memegangi alat kelamin korbannya. Ia mengelus-elus, mengoralnya, dan terus berharap seperti mengharapkan korbannya akan orgasme lagi. Ia berbisik--yang jelas sekali terdengar hingga gendang telingaku, "Sayang kamu sudah tak berkutik. Lagian salah kamu sih. Kenapa harus selingkuh di belakangku? Aku benci kamu lebih memilih Edo ketimbang aku, Honey!"

Pria ini gay?

Oke, oke. Jangan cepat menggeneralisasi sesuatu dulu. Aku juga tak akan bilang orang-orang seperti ini psikopat semua. Mungkin lebih tepatnya, rasa cinta matilah yang mengantarkannya menjadi psikopat. Kadang obsesi manusia akan sesuatulah yang sudah menyergap, lalu membawa pergi akal sehat manusia. 

Puas mengoral tanpa hasil, anehnya, pria ini seperti tahu akan kehadiranku. Ia mendelik seperti seorang...

"Hai, Fidel anakku. Ini Papa, Nak." seru pria itu tersenyum, bangkit dan beringsut. "Atau aku lebih suka kamu memanggilku Mama. Karena begitulah yang seharusnya."

Apaaaa????

Aku jadi mengerutkan kening. Apa maksudnya? Maksudnya aku ini sebenarnya anak seorang pasangan homoseksual? Dan sebetulnya pria ini (dan mungkin jenazah yang bisa jadi pasangannya) menyewa Mama agar bisa menghadirkan aku ke dunia. Mungkin itu dilakukan demi menyembunyikan eksistensinya. Kalian tahu sendiri, negeri ini masih belum terbiasa dengan kaum LGBT. 

Aku terengah-engah. Tepat saat aku terbangun, Mama memanggilku untuk turun. Saatnya sarapan. Dan pagi ini, atau tepatnya hari ini, terasa istimewa. Sebab kenapa?

Mama, luar biasa anehnya, mengajakku ke lembaga pemasyarakatan. Tak hanya aku yang diajak, tapi ketiga adikku: Ronnie, Ramses, dan Ruth. Oh, sebetulnya yang bisa dibilang adik kandungku itu hanya Ronnie yang berjarak dua tahun dariku--yang lahir di tahun 1988. Ramses dan Ruth merupakan adik tiri dari seorang Papa yang sudah meninggal pada medio 2006 silam (Ramses dan Ruth berjarak usia empat tahun, yang mana Ramses itu enam tahun lebih muda daripadaku). Papa Ruddy--yang menikahi Mama saat aku berusia empat tahun itu--meninggal karena sakit bronchitis. Saat itu, Ruth masih kelas empat--seingatku. Kasihan Ruth!

Ada apa gerangan?

*****

Masih kuingat obrolan di mobil tadi. Mama tiba-tiba menanyakanku soal sebuah nas Alkitab. Beliau menanyakanku soal Matius 18: 21-35. Itu nas di injil yang ditulis oleh seorang mantan pemungut cukai, yang bercerita soal pengampunan. Murid pertama  Yesus, yaitu Simon Petrus, datang dan menanyai soal berapa kalikah manusia harus mengampuni sesamanya yang berbuat dosa. Kujawab saja, "Yah Tuhan Yesus sih bilang, 'Bukan sampai tujuh kali, tapi sampai tujuh puluh kali tujuh kali', Ma" Mama sekonyong-konyong tersenyum dan melanjutkan lagi kata-katanya, "Terus kamu bisa memaafkan seseorang, nggak, yang sudah merahasiakan sesuatu penting sekian lamanya dari kamu? Ingat lho, kamu itu aktif melayani sebagai guru sekolah minggu."

Awalnya aku tak paham. Makanya asal saja kuanggukkan kepala. Namun, aku menyesali keputusanku berkata, "Iya" itu. Sangat menyesali. Aku masih kesal dengan kejadian di lapas tadi. Mengapa tega-teganya Mama merahasiakan hal seurgen itu dari itu? Hampir dua dasawarsa lebih aku ditipu. Mama selalu bilang bahwa Papa sudah meninggal. Mama terus berkata bahwa makam Papa berada jauh sekali di luar pulau Jawa. Katanya, Papa dikubur di kampung halamannya yang terletak di barat danau Toba. Tapi tak sekalipun aku diajak untuk berziarah. Mama juga tak kunjung menjawab saat aku dan adik-adikku berada di ruang pemeriksaan lapas. Beliau terus saja mengumbar senyum misterius yang menyebalkan. Hingga...

...hingga akhirnya, aku melihat sesosok wajah yang memang seratus persen mirip dengan yang kulihat di mimpi beruntunku. Sosok itu juga mirip dengan Alvian Sinaga. Dengan entengnya (walau kutahu Mama agak terisak untuk mengucapkannya), Mama bilang, "Ini Papa kandung kalian, Nak. Maaf, Mama baru bisa jujur memberitahukannya ke kalian. Sebab Mama rasa kalian belum siap mengetahui bahwa Papa kalian itu seorang narapidana dengan dua kasus serius. Pertama, karena..." Beliau terisak. "...pembunuhan berencana..." Kerongkongan beliau seolah tercekat. "...yang kedua karena kasus narkotika."

Aku syok. Bukan, bukan karena Papa kandungku ternyata selama ini tinggal di hotel prodeo. Bukan karena itu. Aku bukan tipe orang yang suka menghakimi. Biar bagaimanapun, walau Papa seorang pembunuh sadis atau pengedar heroin, pria paruh baya yang berdiri di depanku ini tetaplah papa kandungku. Yang bikin aku syok dan senewen setengah mampus itu karena aku dibohongi. Aku benci dibohongi. Aku benci sekali ada seseorang yang merahasiakan sesuatu yang amat sangat penting sekali dariku; dan itu sudah berlangsung selama hampir menyentuh dekade ketiga. Itu yang paling membuat darah naik hingga ke ubun-ubunku hari ini. Teganya Mama merancang skenario busuk seperti ini.

Kuamati pria yang memang bernama Alvian Sinaga ini tengah memeluk ketiga adikku. Saat giliranku, aku menggeleng-geleng kencang untuk berusaha menolak. Aku tak kuasa menahan isak. Tapi mataku nyalang senyalang-nyalangnya. Kemarahan menguasaiku. Brengsek! Ingin rasanya aku bertanya satu hal pada Mama dan pria ini. Pertanyaan itu ialah: apakah pria ini seorang gay?

Pria ini tampak kecewa sekali saat aku menolak untuk dipeluk. Ia berujar dengan lirihnya, "Kamu kecewa yah, Fidel, karena Papa seorang residivis? Atau kamu kecewa mungkin karena Papa..." Ia melirik Mama yang hanya mengangguk. "...ini dulunya seorang gay?" Kata terakhir itu sepertinya diucapkan dengan susah payah sekali.

"Jadi anda benar seorang gay?" tanyaku dengan mata hampir copot. "Jadi anda mau mengakui, anda hanya menyewa Mama saya hanya untuk punya saya sebagai anak anda? Begitu?"

Pria itu terbelalak. Mama pun. Tak hanya itu, ketiga adik juga sama. Beberapa pengunjung lapas memerhatikan aku dan keluargaku.

"Ka-kamu tahu dari mana, Fidel?" tanya Mama agak pasi.

"Jadi dugaanku benar, Ma? Dugaanku bahwa Papa kandungku seorang gay itu benar? Dan sekarang Mama mau mengaku bahwa Mama itu cuma seorang perempuan yang disewa rahimnya?"

"Eling, Fidel, eling. Tidak seperti itu ceritanya. Ceritanya itu tidak seperti dugaan kamu. Kamu salah besar. Mama betulan ikhlas mencintai papa kandungmu ini. Mama akan ceritakan selengkapnya ke kalian semua nanti di rumah." ujar Mama terisak. Namun di telingaku, kalimat terakhir itu seperti terlalu dipaksakan. Mau berlanjut sampai mana lagi skenario ini?

Aku terisak. Kesedihan menyayat hatiku. Aku sangat marah sekali. Dengan tertunduk, aku melengos. Kata-kata terakhir kudaratkan pada mereka semua: "Terserah kalian saja-lah. Teruskan saja skenarionya. Aku benci kalian semua!!!"

Aku tak peduli jadi pusat perhatian di ruang tunggu lapas. Masa bodoh jika para petugas menyeringaiku. Yang jelas, aku benci dibohongi. Teganya! Dan sekarang aku tak tahu sampai kapan skenario ini akan berakhir. Jangan-jangan seterusnya--dan aku tak akan pernah tahu kisah yang sebetulnya?

Ya Tuhan, haruskah kuampuni Mama-ku? Haruskah kupercaya kata-kata Mama kali ini? Benarkah yang diutarakannya barusan? Mengapa kali ini memaafkan itu jadi terasa berat sekali, Tuhan?

10 comments:

  1. mas saya perut saya tiba2 gimana gitu baca ini hihi, mungkin efek sambil ngebayangin tulisannya.
    tapi terlepas dari itu, ceritanya oke mas! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lo bayangin yang mana coba? Coba jangan bayangin yang itunya, hahaha....

      Delete
  2. kalau kasih saran memaafkan dan mengampuni sih gampang ya, tapi untuk seorang Fidel pasti berat untuk memberikan maaf. kok bisa ya dari mimpi Fidel tau ayahnya seorang gay

    ReplyDelete
  3. gilaaa ku jadi terhanyut nih, ama ceritanya//
    jangan jangann ...tar ada serial killernya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah aku masih banyak belajar bikin cerita thriller, mbak. Hahaha...

      Delete
  4. ini ada lanjutannya ga nuel? kug masih mengambang ... kayak dorama2 jepang aja :D
    cerita sebenarnya gimana, apa bapaknya beneran gay?
    #penasaran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh gimana yah? Ga ada niatan bikin serial thriller sih. Baru belajar juga. Kan selama ini nulisnya romance atau teenlit ya. Hahaha,,,,

      Delete
    2. hehe, ya dicoba dibikin nuel :D
      siapa tahu menemukan kesenangan baru bikin cerita thriller
      waktu itu aku pernah liat di channel YouTube ttg urban legend-nya Jepang
      bagus banget, tiap episode cuma 5 menit, tapi bikin deg2an

      Delete
  5. Sedih banget si Fidel.. Pasti berat yah ngadepin kenyataan :(

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^