Tuesday, January 6, 2015

SERIAL FAN FICT: Wota Nyasar di Korea - Episode 14 (FINAL CHAPTER)





Baru kali ini, aku nyaris gagal mengadakan give away. Andai saja, di pertengahan Desember, Aul-Howler tak ikutan, mungkin betulan gagal. Bayangkan, setelah pergantian tahun, Aul itulah satu-satunya kontestan give away-ku yang ketiga. Alhasil, karena the show must go on, mau tak mau, mengikuti aturan yang sudah ditetapkan, dimana pemenangnya harus ada lima orang, maka kutetapkan bahwa si Aul-lah juara pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima sekaligus. Blogger asal Padang itu berhak mendapatkan novel Catching Fire, Mocking Jay, Cancelot and Rucastle, beberapa buah DVD, dan pulsa senilai sepuluh ribu rupiah. Semuanya sudah kukirimkan ke dia. 

Ha-ha-ha. 

Salut sama si Aul. Aku menggadang-gadang dia bakal jadi calon penulis hebat. Tak takut untuk mencoba sesuatu yang baru, berani berjuang lebih, pula berani ambil resiko. Two thumbs up for you, Uda! Ho-ho-ho.

Oke deh. Sesuai rencana sebelumnya, kali ini aku akan mencoba menyinkronkan cerita "Wota Korea" versi Aul dengan cerita-cerita sebelumnya yang pernah kubuat. Check it out -- and enjoy




*****


Kelanjutan dari sini


Maret 2015,

Aldo menarik nafas lesu. Terlalu banyak masalah yang ia hadapi beberapa bulan belakangan ini. Ya, meskipun masalah-masalah itu sudah selesai, tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri: ia merasa jenuh. Pikirannya terasa penuh dan batinnya terasa lelah. Ia yakin ia butuh refreshing.

Masalah yang menimpa Thea sungguh rumit. Lagi-lagi, segenap fan mulai mencurigai ada yang tak beres. Mereka meragukan soal golden rules itu. Yah, itu renai kinshi jourei. No dating rule. Entah bagaimana caranya, fan-fan itu bisa tahu soal status seorang Thea yang ternyata bukan taken. Mereka itu fan atau mata-mata sih? Seharusnya mereka mendaftar saja di Badan Intelijen Negara kalau merasa memiliki kemampuan sebagai seorang spion kelas wahid. 

Hampir saja pula, mimpi Aldo sewaktu di dalam pesawat itu menjadi nyata. Untung Tuhan masih berpihak padanya. Sama sekali tak terjadi. Ia bisa bernapas lega di atas ranjangnya yang empuk.


*****


Seusai pergumulan yang cukup lama, berdiskusi dengan beberapa orang, bahkan termasuk ke seorang perempuan Korea, Thea memutuskan untuk menyudahi saja karirnya sebagai member JKT48. Ia rasa, graduate merupakan satu-satunya solusi. 

Banyak hal yang menjadi pertimbangan seorang Alethea Anastasia untuk graduate. Seperti situasi dalam teater yang tak kondusif. Rekan-rekannya sesama trainee benar-benar memberikannya seringaian yang membuat dirinya risih. Belum lagi kebanyakan dari mereka masih berstatus pelajar SMA. Hanya sedikit yang sudah kuliah. Bahkan ada juga beberapa yang berseragam putih-biru. Hati Thea selalu kebas tiap berada dalam backstage teater JKT48. Ia merasa jiwanya seolah tercabut tiap berada di sana. 

Selain itu, ia baru sadar bahwa mungkin passion-nya bukan menjadi seorang penyanyi. Sumbu dalam dirinya seolah meledak setelah membaca sebuah novel. Novel itu ditulis oleh seorang wanita novelis ternama yang dulunya seorang penyanyi. Kalian semua pasti tahu siapa yang dimaksud. Yah, seorang Lia Devandriani telah menyadarkan Thea bahwa passion-nya yang sesungguhnya ialah menjadi seorang penulis. 

Ia menyadari fakta tersebut setelah membaca kembali postingan demi postingan blog-nya. Blog itu sudah lama ia bangun keberadaannya. Kalau tak salah, saat masih duduk di kelas delapan, ia sudah membikin blog dengan alamat http://anasthea.com tersebut. Hingga menjadi bagian dari JKT48 pun, ia masih rutin nge-blog. Hanya saja blog itu diproteksi, walaupun tetap saja, bagaimana caranya segelintir fan dan member bisa mengetahui beberapa rahasia yang ia tulis di blog pribadinya itu. Mengerikan!

Thea terkikik saat membaca beberapa postingan yang ia buat kala masih SMP. Naifnya. Alay-nya. Tapi di dalam kenaifan tulisan-tulisan lamanya itu terdapat sebuah kejujuran yang maha agung. Malah kenaifan itulah yang menyadarkan dirinya bahwa passion utamanya memang menjadi seorang penulis. Lihat saja, betapa lincahnya ia berakrobatik dalam membentuk serentetan kalimat-kalimat yang sungguh ciamik untuk dibaca. 

Ia sadar: jalan hidupnya... ternyata... menjadi seorang penulis. 

Mungkin kecakapannya bernyanyi merupakan bonus. Apalagi keahlian menulis dan suara vokal yang indah juga merupakan suatu kombinasi yang bagus. Mungkin selain jadi penulis atau novelis, Thea kan bisa menjadi seorang songwriter. Ia bisa menjadi seperti role model-nya, Dewiq. 

Ponsel Thea berbunyi.
      
"Ya, halo? Kenapa, Do?" katanya setelah mengecek display ponselnya. Pacarnya meneleponnya. Rencananya mereka berdua akan bertemu di Supermall Karawaci untuk membahas suatu hal.

Oh ya, dua minggu selepas graduate, Thea selalu ketar-ketir kedekatannya dengan Aldo terendus oleh beberapa fan yang mungkin ditemuinya di jalan. Namun sekarang, ya sudahlah, terserah para fan itu mau berkoar-koar seperti apa. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. 
      
"Ini aku," 

" Iya, aku tahu itu kamu, Do. Kan di display hape aku, langsung ada nama kamu." Thea terkikik. 

"Ha-ha-ha... Oh iya yah, bego banget aku ini..." Aldo balas terkekeh. 

Thea terkekeh.
      
"Eh, jadi kan kita ke Lippo?! Itu si Kimi tadi telepon aku. Katanya, ia lagi on the way ke sana."
      
"Oh ya udah, aku siap-siap dulu yah. Kamu duluan aja ke sana, nanti aku susul."
      
Panggilan itu berakhir. Thea sekonyong-konyong mematikan laptop. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi. 


*****

      
Di ruang keluarga, Kim Min-Soo hanya menundukkan kepalanya. Ia menangis dalam diam. Ia tak berani menatap mata kedua orang tuanya itu setelah apa yang baru saja ia sampaikan. Ya, Kim Min-soo telah menceritakan kejadian yang sebenarnya tentang Kim Nami. Ia tahu bahwa kesalahannya sangat besar, dan ia tak akan berani membela diri. Ia menerima apapun resiko nya. Ia yakin, kejujuran adalah satu-satunya hal yang seharusnya ia lakukan dari dulu-dulu.
      
"Kenapa baru sekarang?" desis Eomma yang mengernyitkan dahi. Tampak matanya menyorotkan sebuah kekecewaan. 
      
Kim Min-soo makin menunduk. Air matanya mengalir lebih deras. "Maafkan aku, Eomma,"
      
Tatapan Appa juga sungguh menyudutkan Kim Min-soo. "Seharusnya, kamu tak perlu membuat adikmu tertekan. Dan sebenarnya, Kami juga telah lama mengetahuinya."
      
Kim Min-soo terbelalak. "Jadi... jadi..."
      
Appa mengangguk, tersenyum. "Sebulan setelah kejadian, adikmu Kim Daebu datang pada kami, lalu menceritakan cerita yang sesungguhnya."

Kim Min-soo mendelik pada adiknya yang cengar-cengir. Oh, ia tersentak. Itulah sebabnya, kenapa kedua orangtuanya itu tidak terlalu mengganggu kembali aktivitas Big Bang dengan segala tuntutan yang belum sepenuhnya terbukti. 

"Maafkan aku, Eonni," ujar Kim Daebu tersenyum jahil seraya menunjuk-nunjuk lokasi hatinya. "Tadinya aku juga tak mau cerita. Tapi nuraniku mengatakan untuk memberitahukan Appa dan Eomma cerita yang sesungguhnya. Kasihan juga Big Bang terus disalahkan atas suatu hal yang mereka tidak sebabkan."

"Berarti..." Kim Min-soo tergugu. "...lantas... bagaimana dengan Go -- "

Appa beranjak berdiri. Pria tua itu beringsut pada Kim Min-soo yang diliputi kebingungan yang amat sangat. Ditepuknya pundak anak perempuannya seraya berkata, " -- maksudmu Go Hyun-dae itu? Awalnya aku juga sedikit terpukul. Tapi sepertinya, setelah kurenungkan, mungkin ada baiknya aku mulai terbiasa dengan kisah cinta seperti itu."

Eomma perlahan ikut berjalan menuju Kim Min-soo. Spontan perempuan muda itu mendekap kedua orangtuanya penuh haru. Di dalam hati, ia masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Tapi kata-kata ibunya barusan benar. Tak ada gunanya ia menyesal sekarang. Toh, semua telah terjadi. Ada hal lain yang seharusnya ia lakukan demi Kim Nami, adiknya.
      
"Lain kali jangan berbuat gegabah lagi. Sebaiknya kalau ada apa-apa, kamu kan bisa membicarakannya dengan kami dulu. Kita ini keluarga, kan?!" begitu tutur Eomma

" -- dan sudah seharusnya keluarga itu harus saling mendukung dan memercayai," imbuh Appa
      
Kim Min-soo melepas pelukannya. "Arasseo, Appa... Eomma... Aku janji tidak akan mengulangi hal yang sama. Aku janji tidak akan takabur lagi."


*****


Desember 2015, Bandara Soekarno-Hatta, pukul 07.00 pagi,

Aldo melirik ponselnya untuk kesepuluh kalinya pagi itu. Bibirnya membentuk lengkungan ke atas. Ia cemberut. Pesawat yang akan ia tumpangi masih belum datang. Penerbangannya ke Jepang pagi itu ditunda satu jam lagi. Mukjizat. Kebetulan pula Kim Sarang juga belum kunjung datang. 
      
Hari ini, sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, ia, Kim Sarang, dan Thea akan merayakan Natal di negeri dimana matahari terbit kali pertama. Perempuan Korea itu menepati janjinya untuk membawa dirinya melihat langsung teater milik AKB48. Apalagi dirinya kan sudah menepati janji lebih dahulu. Ia sudah menjadi pesuruh Kim Sarang.  

Sebetulnya rencana awal, Kim Sarang berjanji membawa Aldo ke Jepang Juli kemarin. Namun apa daya, kesibukan kuliah, apalagi Kimi juga sudah mulai menyusun skripsi, rencana itu tergeser hingga bulan Desember. Tapi tak apa. Bukankah berlibur ke Jepang jauh lebih baik dilakukan saat winter?

Aldo berkali-kali mengecek tiket dan ponsel. Lama sekali Kimi datang. Sedang apa perempuan Korea? Sudah dalam perjalanankah? Darah wota-nya benar-benar mendidih. Dirinya sudah tak sabar untuk dapat melihat Minami Takahashi secara langsung.
      
"Kali ini jangan sampai salah pesawat lagi yah, Do." bisik Thea nyengir.
      
Ia terkekeh. "Ya nggak-lah. Kan sekarang berangkatnya bertiga. Sama kamu dan Kimi juga."

Terkekeh. "Kimi orangnya baik banget yah. Nggak banyak orang yang mau beliin tiket ke Jepang buat seseorang. Apalagi orangnya itu ketemunya kan nggak sengaja."

"Sekarang kamu muji dia nih? Udah nggak cemburuan lagi sama dia?" ledek Aldo. "Eh aku sempat ngira lho, kalau alasan kamu graduate itu, karena kamu nggak rela aku direbut sama cewek Korea itu."

Telinga Thea sontak berdiri. Matanya nyalang, dan menyemburkan kata-kata penuh kekesalan, "Iiih... apaan sih? Ge-er banget jadi cowok." Saking kesalnya, ia mencubit kuat-kuat perut kekasihnya itu. 

Aldo meringis. Sebuah suara terdengar menyapa. Kim Sarang sudah berdiri di hadapan mereka berdua. 
      
"Hei, Mousou Wota!" kata Kim Sarang nyengir. "Ups, salah deh. Kamu kan bukan seorang fans yang doyan berfantasi lagi. Ternyata kamu benar-benar memacari member -- " Ia mendelik ke arah Thea yang memerah mukanya, lalu menepuk dahi. " -- eh salah lagi... maksudku itu, mantan member JKT48. Tak kusangka, segala ceritamu sewaktu di Korea itu benar ternyata."

Aldo terkekeh. Bersamaan dengan itu, terdengar informasi bahwa pesawat yang menuju Bali (Tempat transit menuju Tokyo) akan segera tiba dalam waktu setengah jam lagi.

"Ya udah yuk, kita bergegas," ajak Kim Sarang, yang menyebabkan sepasang kekasih itu beranjak berdiri. "Eh jangan salah naik  pesawat lagi yah. Kalau sampai salah naik pesawat, aku nggak akan mau bertanggungjawab juga. Toh aku sudah di Jepang, dan kamu entah nyasar dimana."

Thea jadi tergelak, menyusul tawa Kim Sarang. Aldo cengengesan menahan malu. Ingin rasanya lelaki itu membalas kata-kata Kim yang sudah mengejeknya. Tapi apa?

Oh tunggu sebentar. Sepertinya Tuhan menjawab doanya lagi dan lagi. Ponsel Kim Sarang berdering. Aih, nada deringnya itu... itu kan...

Seusai berbicara dengan seseorang di seberang sana -- yang sepertinya itu pamannya, Kim Sarang menatap heran Aldo yang cengar-cengir tak jelas. "Kenapa sih? Kok nyengir gitu?"

"Aku nggak nyangka, Kim," ucap Aldo nyengir. "Nada deringmu barusan. Itu kan, kalau nggak salah, salah satu lagu SKE48 kan. Kalau nggak salah, judulnya itu..."

"...Galaxy of Dreams." Kim Sarang yang melanjutkan kata-kata tertunda Aldo tadi. "Terus memangnya kenapa?"

"Kamu ternyata wota juga..." Aldo berjengit dan tersenyum nakal. "...kita sama ternyata."

"Jangan sembarangan yah." kata Kim Sarang nyengir. "Aku memang bukan wota kok. Apalagi sampai jadi michin paen seperti kamu. Lagu ini kusimpan dan kujadikan nada dering, karena aku suka lirik dan iramanya."

"Masa sih? Aku kok nggak percaya? Jangan-jangan di ponselmu itu juga ada banyak lagu-lagu 48?" terka Aldo nyengir. 

Kim Sarang balas nyengir. Ia langsung mengangkat tinggi ponsel layar sentuhnya. "Sok tahu! Di ponselku ini, ada banyak lagu yang kusimpan. Tak hanya lagu 48 saja, lagu-lagu dari Korea, Indonesia, Amerika, Jerman, bahkan Rusia juga ada. Aku ini kan penggemar sejati dunia musik. Mungkin bisa dibilang aku ini pengamat. Tak seperti kamu yang begitu fanatik dengan 48."

"Coba sini kulihat." kata Aldo berusaha meraup ponsel Kim Sarang. Ia masih begitu yakin sekali bahwa Kim Sarang juga seorang wota

Kim Sarang nyalang. Kali ini, ia benar-benar marah. "Jangan kurang ajar!"

"Sudah, sudah, jangan bertengkar," Thea berusaha menenangkan suasana. "Daripada berantem, kenapa kita nggak mampir dulu ke toko buku buat beli bahan bacaan selama di pesawat."

Baik Kim Sarang maupun Aldo langsung memandang ke arah yang ditunjuk oleh Thea. Memang benar, ada sebuah toko buku kecil. Mereka bertiga segera melangkahkan kaki ke dalam. 

Gadis itu, Thea maksudnya, berdiri di belakang Kim Sarang dan Aldo. Jujur saja, sewaktu mendengar pertengkaran kecil mereka berdua, hati Thea begitu membara. Ia tak bisa menyangkal bahwa dirinya begitu mencemburui perempuan Korea tersebut. Aldo terlihat begitu intim sekali dengan seorang Kim Sarang. Seingatnya, selama ini, Aldo nyaris bisa seperti itu dalam melontarkan candaan demi candaan. Yang tadi itu, sungguh terlihat cair sekali. Seperti tengah berpacaran saja. 

Bersyukur tiga kata terakhir yang dimuntahkan oleh Kim Sarang dengan begitu emosional telah menyadarkan Thea. Tampak Kim Sarang berusaha agar Aldo tak melihat lebih lanjut isi ponsel tersebut. Sekejap saja, pikiran Thea langsung menguar-uar. Puji syukur ia panjatkan kepada Sang Pencipta. Pasti itu karena ada foto pacarnya, begitu pikiran Thea tengah berusaha menjawab ketakutan sebelumnya. Hilang sudah bayangan mengerikan tersebut. 

Sebelumnya, Thea selalu terbayang-bayangi sebuah skenario yang luar biasa jelek. Ia menengarai kelak Kim Sarang akan menjadi orang ketiga. Apalagi selama di Jakarta, kedekatan Kim Sarang dengan kekasihnya sungguh tak wajar. Melihat begitu cairnya obrolan mereka berdua, ia takut Aldo akan berpindah hati. 
      
Lihat saja sekarang. Lelaki itu berhasil mengambil ponsel perempuan Korea tersebut. Berhasil pula mengintip kedalaman dari isi ponsel. Ujarnya sembari terkekeh, "Ini siapa, Kim? Cowok lu yah?"

"Saekki-ya!" dengus Kim Sarang. "Kamu ini menyebalkan yah, Michin Paen? Tak baik tahu -- mengintip privasi orang!!!!"

"Yaaah... aku kira kamu masih single, Kim..." kata Aldo nyengir. 

Tidak pekakah Aldo dengan situasi di sekelilingnya? Butakah matanya bahwa ada seorang gadis yang begitu lesu mendengar kata-katanya barusan? Wah, wah, wah... apa yah yang bakal terjadi selama mereka bertiga di Jepang nanti? Semoga saja seorang Thea masih dapat bersabar melihat hubungan tak wajar yang terjadi antara Aldo dan Kim Sarang. 

Tak wajar?

Anggap saja seperti itu. Karena begitulah pikiran negatif Thea terus menggebu-gebu mengatakan hal yang sama. 
      




* Serial fan fict ini akan berlanjut di "Kimbab di Tanah Sakura" yang rencananya akan beredar pada Desember 2015 mendatang. Beberapa hal yang mengganjal hati para pembaca, akan terjawab di "Kimbab di Tanah Sakura". Bersiaplah menyaksikan cerita-cerita dari Aldo, Thea, dan Kim Sarang selama di Jepang. Bye-bye!  ^_^

2 comments:

  1. Tuh postingan banyak banget mas, -_-
    lagi gak mood baca, jadi bacanya asal-asalan aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena ga sesuai selera aja kali, hehehe. Maklum, kok. xD

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^