Wednesday, January 21, 2015

Mom I'll Come Again: Sebuah Sentilan Berharga dari Tanah Korea




Judul: Mom, I'll Come Again
Judul Asli: Umma Nha Tto Olghe

Penulis: Hong Young-nyeo dan Hwang Anna
Penerjemah: Asti Ningsih

Penerbit: Wisdom House Publishing (Korea Selatan), Bhuana Ilmu Populer (Indonesia)
Tahun Terbit: 2011 (Korea), 2014 (Indonesia)
Jumlah Halaman: 250 halaman +  xxi halaman
Format: Paperback
ISBN: 978-602-249-516-1





Jalinan kisah hidup seorang ibu yaang menjadi esai indah, dan rasa sayang seorang putri kepada ibunya, menciptakan aroma cinta yang membuat hati terenyuh. 

***

Sebetulnya penggolongan buku ini ke dalam kategori fiksi seperti yang tertulis di bagian kaver belakang itu sungguh kurang tepat. Sebab buku ini bisa dibilang bukan fiksi semata. Benar-benar kisah nyata, yang ditulis oleh seorang nenek tua yang baru belajar membaca (Hangeul -- berhubung terjadinya di Korea) dari cucu-cucunya di usia yang ketujuh puluh tahun. 

Selain ini, sebetulnya juga, buku yang di Indonesia berkaver merah jambu ini, bisa dibilang versi remake dari sebelumnya. Buku yang asli berjudul "Ungkapan dari Hati" yang terbit pada tahun 1995, lalu best-seller, hingga diangkat ke layar televisi dalam sebuah drama insan berjudul "Autumn Yard" di sebuah stasiun televisi bernama KBS.

Seusai drama yang berlangsung selama lima episode itu kelar, permintaan akan buku itu langsung melejit. Sayang seribu sayang, bukunya sudah tak tercetak lagi. Bahkan apesnya naskah aslinya hilang di tangan sebuah penerbit.

Untung Tuhan berkehendak lain. Saat penerbit lain datang, walau tak seperti versi aslinya, tetap saja "Mom, I'll Come Again" ini sama istimewanya dengan "Ungkapan dari Hati". Meskipun buku ini lebih bersumber dari segala tulisan Hwang Anna (Anak sulung dari Hong Young-nyeo) di blog pribadi, responnya tetap sama. Masyarakat Korea Selatan tetap sama antusiasnya. Mungkin di sana buku ini juga laris manis, hingga terdengar pula sampai Indonesia. 

Cara penyajian buku ini unik. Secara pengemasan, mungkin tak terlihat. Tapi kalau kita seksama, buku ini sesungguhnya terbagi atas dua bagian besar. Pertama, tulisan-tulisan dari sang ibu yang mungkin masih bisa terselamatkan dari kejadian tragis tersebut. Yang kedua, tulisan-tulisan dari sang anak perihal sang ibu. Lewat bentuk seperti itu, kita jadi bisa mengetahui karakter sepenuhnya dari Hong Young-nyeo yang tegar, sabar, welas asih, perasa, dan selalu mau belajar dari segala sesuatu. 

Sungguh salut dengan bakat menulis yang dimiliki oleh Hong Young-nyeo yang sebelum buku ini beredar, sudah berpulang akibat kanker rahim. Beliau baru belajar membaca saat telah jompo. Itu pun dari kebiasaannya menemani cucu-cucunya belajar. Sungguh menyentil sekali. Menyentil bagi kita yang mungkin selama ini suka malas-malasan.  Perjuangan hidup beliau sungguh patut diteladani. 

Ada yang bilang, buah itu tak jatuh dari pohonnya. Mungkin ada benarnya. Apalagi jika menilik karakter sang anak, Hwang Anna yang juga sama gigihnya, walau memiliki perbedaan sifat. Karakter Hwang Anna juga sama-sama bisa terlihat akibat bentuk buku yang terbagi atas dua bagian besar ini. 

Kembali ke soal Hong Young-nyeo. 

Saat melihat-lihat tulisan-tulisan beliau setelah direvisi sang anak, sungguh bikin aku tercenung. Gila, belajar membaca dari cucu bisa bikin tulisan sedahsyat ini? Puisi-puisi yang tercantum di dalamnya juga bukan sembarang puisi. Mari kita berikan aplaus untuk sang penerjemah. Kelihaiannya menerjemahkan sempat membuatku ingin membaca versi aslinya. Jangan-jangan versi aslinya juga sama bagus? Atau malah lebih bagus.

Cek salah satu puisinya.


Kini, tubuh ini sudah berkepala delapan.
Menyusul kakek nenek yang kurindu
dan tak terlupakan.
Dalam perjalanan waktu yang tak bersuara,
rambut hitam memutih seperti akar bawang
Matahari terbenam di barat,
rambut putih tertiup angin. 
Hati ini sunyi.

Sungguh puitis. Dalam sekali. Dan ini dibuat oleh seorang jompo. Wow! Dua jempol buat engkau, Nek!

Belum lagi, kutipan yang luar biasa ini. Aku kutip dari halaman 90. 







1, melakukan perbuatan baik satu kali sehari.
10, bertemu sepuluh orang per hari (bertemu banyak orang).
100, menulis seratus huruf per hari (membuat catatan tentang sesuatu).
1000, membaca seribu kata per hari (banyak membaca). 
10000, menapak sepuluh ribu langkah per hari. 
Jika ini diterapkan, anda dapat menjadi seorang lansia seperti yang diharapkan. 

Sungguh prinsip hidup yang luar biasa. Bikin merinding membacanya. Dan ini ditulis oleh seorang lansia yang sebagian besar hidupnya berada dalam ketidakmampuan untuk membaca. 

Rasa-rasanya, saat menandaskan buku ini, aku belum pernah (nyaris) menemukan adanya cacat cela. Entah itu secara terjemahannya maupun alurnya. Sungguh buku yang layak dibaca semua usia, terlebih para generasi muda. Generasi muda perlu membaca buku ini, perlu pula meneladani karakter si nenek. Isi bukunya ditulis begitu saja -- tanpa maksud menggurui. Juga sangat menyentuh sekali ceritanya (Buku yang ini saja sangat menyentuh sekali, bagaimana dengan versi terdahulunya. Pasti beribu-ribu kali sangat menyentuh sekali). 

Buku ini bisa dikatakan buku baru. Di Korea sana, buku ini rilis pada tahun 2011. Di Indonesia, baru rilis 2014 silam. Kalau ada waktu main ke toko buku, tak ada salahnya untuk mencari dan membeli "Mom, I'll Come Again". Harga resminya juga tak terlalu mahal. Dengan selembar uang kertas berwarna biru tua, kalian sudah bisa membawanya pulang. 




RATE: 100 / 100

11 comments:

  1. Kayak nya jarang ada orang yang prinsip hidup nya seperti itu ya bg nuel...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya,.... Termasuk langka orang2 model gitu

      Delete
  2. semangat belajarnya tinggi ya, baru bisa belajar membaca aja sudah bisa membuat tulisan sebagus ini. Hebat

    ReplyDelete
  3. Ah, ini jadi cambuk bagi kita, yang muda, harus bisa berkarya lebih dari beliau :')

    ReplyDelete
  4. Gusti, beliau patut menjadi teladan. di tengah keterbatasannya, beliau sanggup menulis buku seperti ini. salut.

    ReplyDelete
  5. Yup, setuju sama opini-opini kalian. Memang luar biasa si nenek. Two thumbs deh!

    ReplyDelete
  6. hebat sekali, salut saya sama nenek tua yg satu ini, baru bisa membaca ,sang nenek sanggup dan bisa menulis buku sebagus ini

    ReplyDelete
  7. Neneknya hebat! Btw ini bukunya belum masuk Padang sepertinya :(

    ReplyDelete
  8. serius itu nilai nya 100/100?

    kayanya recommended nih. temanya menarik. bukan cecintaan yang menye2.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^