Saturday, December 27, 2014

#Memoryeah2014 So Many Lessons I Got in 2014



Cantik yah Shania itu?!
Tak terasa sudah tanggal 27. 2014 tinggal menghitung hari. Tersisa empat hari lagi. Jujur, rasa-rasanya gue berat banget buat ninggalin 2014 ini. Berat banget buat masukin 2015. Terlalu takut buat mengarungi 2015. But, the show must go on. Siap nggak siap, harus siap. Gue juga nggak tahu, ada kejutan apa yang menanti gue di 2015. Kali aja, gue menang undian dapetin satu Lamborghini keluaran terbaru, terus gue bawa keliling Jakarta, ditatap sebegitu rupa oleh banyak cewek cakep, yang berebut mau duduk di samping gue. Atau mungkin kelak gue bisa kerja bareng Shania Junianatha, dan lalu dia kepincut sama gue, jadian deh. Who knows? 





Dan pembaca pun mulai sirik. =D



Bicara soal 2014 ini, banyak hal sudah gue alami. Yang pahit, yang manis, yang asam, yang gurih. Sudah semua gue alami. Banyak juga pelajaran kehidupan yang gue terima. Soal persahabatan, soal berhadapan dengan haters, soal dikucilkan (again and again!), soal belajar sabar dan ikhlas, soal belajar disiplin waktu, soal berhadapan dengan beragam karakter orang,... dan soal-soal lainnya. Thank, God, for the each lesson I got. I already learned a lot. 







Jujur saja nih, gue buka-bukaan nih, 2014 ini beneran dah, tahun dimana badan gue lebam abis. Tahun ini jauh lebih desperate daripada tahun-tahun sebelumnya. Depresi banget. Rasa-rasanya gue pengin banget bisa pergi berlibur ke suatu daerah sendirian, atau bareng teman. Sejak lulus Maret 2012 silam, gue belum pernah merasakan atmosfer liburan. Pikiran gue selalu kerja, Bro-Sis. Gue selalu aktif cari-cari peluang untuk bisa terus hidup di jalan yang Tuhan pilihkan ini buat gue (baca: menulis). Entah sudah berapa tulisan yang coba gue kirim ke beberapa media dan penerbit; dan hasilnya selalu sama: terus menunggu. Hingga muncul sebuah phobia baru buat gue. Iya, guys, gue beneran takut tiap ketemu tukang pos ataupun mendapati e-mail dari penerbit atau media. Gue takut mendapatkan penolakan yang bikin gue down lagi. Mood gue jadi berantakan. Gue jadi nggak nafsu makan, kecuali disuapi sama Nadia Vega. Mungkin minus gue juga udah nambah gara-gara keseringan di depan layar. Mungkin gue udah keluar duit nyaris sejuta buat biaya nge-print, biaya kirim, dan biaya-biaya lainnya. Perjuangan untuk menjadi seorang penulis profesional memang berat. Pekerjaan sebagai full-time writer itu malah nyaris kayak kuli. Nggak heran sekarang kenapa wartawan itu dijuluki kuli tinta. Sering dianggap remeh, bayaran sering nggak sebanding, masih saja dapat kritikan.

Gue saranin, buat yang mau jadi full-time writer, kuatin dulu mental lu. Perbanyak doa, hindari karma, jaga relasi dengan beberapa orang. Kontrol tiap kata-kata yang keluar. Karena kita nggak tahu, kan, jika nanti kata-kata kita itu bisa jadi senjata makan tuan. Dan jadi penulis itu, lu harus siap pula untuk menjadi seorang anti-sosial. Musuhnya banyak, karena kenyinyiran kita sebagai seorang penulis. Sering juga kita dianggap sok tahu dan sok pintar. Lebih parah lagi, kerja keras kita sering nggak dihargai. Minim apresiasi. Satu-satunya tempat kalian bernaung itu hanya Tuhan. Jangan pernah berharap kepada seekor pun homo sapiens. JANGAN PERNAH. Lebih baik berharap pada Tuhan, agar Dia senantiasa memberikan keajaiban demi keajaiban agar lebih enakan mengarungi jalan sebagai full-time writer. Pasrah kepada sesuatu yang bersifat supranatural itu wajib hukumnya.









Dan...

...apa saja sih yang gue dapetin selama ini? Prestasi apa saja yang gue terima selama jadi penulis penuh waktu ini?

Untuk tahun 2014 ini saja, gue beruntung bisa mendapatkan beberapa hal:




1. Menambah portofolio di bidang menulis
Gue beruntung bisa dapetin info soal join to www.japanesestation.com. Beruntung juga status gue udah junior class contributor. Guys, menulis artikel itu bukan perkara mudah lho. Apalagi jika tulisan kita itu mengacu pada artikel lain di sebuah negara. Kudu sering lihat kamus dan google. Perlu tahu juga makna sebuah kata atau frase. Karena seringkali para penulis luar itu menyisipkan idiom-idiom yang nggak bisa langsung tumpek-blek diterjemahin begitu aja. Di Indonesia saja, banyak idiom yang tak dimengerti orang asing. Contoh: meja hijau. Plus kita harus bisa bikin tulisan kita itu jadi enak dibaca.







Oh iya, soal ketergabungan gue ini di situs jejepangan tersebut, itu juga karena gue yang hobi mantengin timeline Twitter. Ketemu deh cara join dan submit artikel ke sana. Apalagi sedari kecil gue emang udah demen banget sama segala hal berbau jepang-jepangan. Gue sampai sekarang masih hobi baca manga, nonton anime, nonton dorama, hingga membikin gue cukup fasih banget ngomongin jepang-jepangan.

Selain di Japanese Station , November kemarin, seorang blogger asal Padang mengajak gue buat turut bagian dalam memajukan situs majalah online yang sudah dirintisnya sejak 2011. Si Aul itu malah bikin gue jadi editor-in-chef AOMagz selama bulan Desember ini. Dan demi AOMagz, gue bikin lima buah cerpen baru; benar-benar baru, bukan cerpen lama yang nggak jelas nasibnya.













2. Diberikan kesempatan untuk menjadi pelaku bisnis daring
Sekitar akhir Juli, gue diajakin salah satu teman gue buat jadi rekan bisnisnya. Jadi ceritanya teman gue itu tengah sibuk menjalankan bisnis jersey-nya. Usaha dropship gitu. Entah ada angin apa, teman gue yang agak pelit itu (Maaf bro kalau baca! But thank a lot for all of your kindness) mendadak mau ngajakin kerjasama. Alhasil gue sempat ikutan jualan jersey yang barang-barangnya itu bersumber dari dia. Kalau ada pesanan, gue harus hubungi dia dulu.

Ternyata menjalankan bisnis online itu nggak semudah gombalin Shania Junianatha. Nggak gampang, guys. Cobaannya sama seperti seorang penulis. Gue harus rutin promosiin barang dagangan. Pintar-pintar menentukan tarif. Harus bersabar dalam berhadapan dengan calon pembeli yang lebih seringnya cuma nanya doang, kagak beli sama sekali. Bahkan gue juga pernah dua kali harus nalangin biaya yang seharusnya pembeli gue itu yang bayar.












3. Belajar menghadapi beragam jenis karakter seseorang
Bukan sekadar have fun, gue mutusin menenggelamkan diri gue sendiri ke dunia fandom. Terlebih dunia per-wota-an. Itu ada alasan khusus, dimana alasan utamanya itu nggak bisa gue kasih tahu di blog ini. Terlalu riskan untuk diketahui publik. Biarlah itu jadi rahasia dapur umum gue aja. Ha-ha-ha.

Tapi yang jelas, semenjak gue gabung ke beberapa grup fanbase gitu, gue jadi bisa tahu bahwa ada banyak sekali karakter orang yang satu sama lain itu saling berbeda. Plus gue jadi tahu gimana rasanya jadi seorang fans atau wota. Cara berpikir seorang fans itu gue udah bisa memakluminya. Yang intinya, mereka selalu ingin yang terbaik dari sesuatu yang mana mereka menjadi fans-nya.

Jujur juga nih, menjadi fans itu membuat hidup gue jadi sedikit lebih rame banget. Kepala gue jadi kedatangan ribuan ide-ide segar buat nulis beberapa cerita. Gue jadi makin kreatif, guys.









4. Belajar menjadi seorang author
Mei kemarin, gue dikasih kesempatan oleh Tuhan, untuk bisa menerbitkan buku secara indie lagi. Kali ini, gue nggak mau coba-coba. Dengan bantuan dana dari seorang sepupu, gue bisa juga menerbitkan novel gue yang sudah beberapa kali ditolak penerbit. Jumlah sekitar Rp350.000 sudah gue keluarin buat servis lengkap dari sebuah penerbit (Sudah termasuk kaver dan jasa editing). Setelah terbit, gue kembali merasakan bagaimana perjuangan seorang author dalam mempromosikan karyanya. Dicibir, pasti. Dicuekin, sering banget. Apalagi saat tahu, novel itu baru hanya dibeli oleh tiga pembeli (Terakhir menghubungi penerbitnya itu pas bulan Oktober). Nyesek. Tapi itulah salah satu resiko menjadi seorang author.

Oh yah, demi novel gue itu bisa makin laris, gue memberanikan diri untuk meniru langkah Adittya Regas. Yup, gue pede aja masuk ke toko buku dan menemui pihak pengelolanya, langsung ba-bi-bu bilang, "Begini, Mbak,... saya ini kan seorang penulis, apa boleh saya meletakan novel indie saya di salah satu rak di toko buku ini?" Namanya juga usaha, cuy!









5. Belajar menjalin kerjasama dengan orang lain
Untuk poin yang ini, sebetulnya sudah gue rintis waktu 2012. Gue ikutan proyeknya Si +ryan hasanin dan +Feby Andriawan yang mana keduanya itu dengan briliannya bikin usaha penerbitan sendiri. Nama penerbitnya itu Riokta, dan khusus menerbitkan buku-buku secara daring.

Dan setelah sekian lama, di tahun ini, gue dikasih kesempatan untuk menjalin kerjasama dengan orang lain lagi. Selain sama teman gue itu--yang rada pelit, gue menjalin kerjasama bareng seorang blogger Surabaya bernama Felix Salvata. Gue juga kerjasama bareng beberapa orang, terkait bisnis online lainnya.

Dari beberapa kerjasama itulah, gue belajar bahwa kepercayaan itu merupakan harga mati. Jangan pernah permainkan kepercayaan rekan kerja anda. Dan, lagi-lagi, nggak gampang bekerjasama dengan orang lain. Gue perlu menyesuaikan diri sama kepribadian orang tersebut.










Sebetulnya banyak banget yang gue alamin di 2014 ini. Tapi kalau diringkas lebih pendek lagi, yah jatuhnya jadi cuma lima poin ini saja. Lima poin di atas juga merupakan sebuah garis besar perjalanan hidup gue di tahun 2014. Walaupun ada beberapa hal yang gue masih off the record. Karena gue yakin, kalau gue jujur ngomongin soal itu di sini, mungkin--dan pasti banget--kalian semua akan menjauhi gue saking ilfilnya. Dan gue nggak mau itu terjadi. Never

Tahun 2014 ini pun, gue berhasil melaksanakan resolusi gue. Pertama, sesering mungkin menulis pakai bahasa Inggris, entah itu di Facebook, Twitter, maupun Blog. Kedua, semakin rajin menulis dan perbanyak baca.

Soal resolusi di tahun 2015 nanti, ummphh, gue pengin lancarin kemampuan berbahasa Jepang dan Spanyol gue. Pengin dikasih kesempatan juga buat nulis biografi. Pengin juga bisa mulai mempromosikan novel gue sendiri yang Juni 2013 kemarin itu diterima oleh sebuah penerbit major yang kece badai banget. Pengin ngerasaain, euy, jadi seorang pembicara di sebuah diskusi buku. Terakhir, gue pengin banget bisa masuk ke dunia sulih suara dan script-writing. Anyway, sulih suara itu dubbing, maksud gue. =D

Amiiiin... semoga terwujud.

Eh itu resolusi atau mimpi yah? Sabodo teuing ah, bye! And, happy new year!





PS: Gue terinspirasi bikin postingan ini gara-gara sebuah project dari sebuah grup blogger bernama @KancutKeblenger. Founder-nya kreatif gilak! ^_^