Saturday, November 1, 2014

SERIAL FAN FICT: Episode 9 - Wota Nyasar di Korea






Biar tak bingung, baca dulu episode-episode sebelumnya: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8.


Sudah pukul setengah sebelas malam. Namun tetap saja Kim Min-soo belum mendarat di pulau kapuk. Segenap jiwa dan raganya masih berada di kamar tidurnya yang cukup lapang sebetulnya untuk ditempati seorang gadis berusia dua puluh tahun. Tidak, tidak. Ia tak lagi sedang menonton, walau memang ada televisi layar datar berinchi rendah di kamar tersebut. Dirinya hanya sedang bergolek-golek ria di atas spring bed dengan bed cover berwarna merah jambu -- selaras dengan warna dinding.

Pikiran gadis itu terus saja memutar kejadian sewaktu di Olympic Hall sehari setelah natal. Ide jalan-jalan ke Olympic Hall itu juga sebetulnya spontan saja. Niatnya, Appa dan Eomma hanya berniat untuk membawa orang Indonesia melihat keindahan Seoul lebih lanjut lagi. Meneruskan sesuatu yang sudah dilakukan Kim Sarang terhadap Aldo sebelumnya. Namun, berhubung mobil itu melewati Olympic Hall, dan seorang Aldo menunjukan ekspresi muka-pengen-yang-berlebih pada Kim Sarang, yah sang Appa meluluskan permohonan lelaki tersebut, walau reaksinya agak lama. Bagaimanapun Kim Jae-sun juga pernah muda. Pasti pernah beliau merasakan saat-saat menjadi seorang penggemar dari sebuah grup musik. Kata pria yang berkepala lima tersebut: "Baiklah, kalau Aldo-ssi begitu ingin mengunjungi event itu, ya sudah, ayo kita ke sana. Jangan sampai timbul penyesalan dalam dirinya, karena tak bisa memenuhi keinginan terdalamnya."

Istri beliau sempat protes. Sepertinya perempuan tua itu masih trauma dengan yang namanya boyband atau girlband. Event yang akan mereka hadiri itu memang banyak dipenuhi kelompok-kelompok idol. Namun Song Chee-hul tak dapat berbuat apa-apa. Lima lawan satu posisinya. Alhasil -- bersama anak bungsunya -- ia hanya menunggu saja di dalam mobil. Menunggu sembari melawan sekelebat bayangan-bayangan masa lalu yang menyiksa pikirannya.

Sebetulnya Kim Min-soo tak begitu antusias dengan event temu idol di Olympic Hall tersebut. Apalagi Girls Generation juga tak ada di sana. Malah, parahnya, boyband yang paling dibenci ada di event itu. Hanya saja, demi bisa berhubungan lebih dekat lagi dengan Aldo, ia rela saja. Walau terkendala bahasa, saat berdiri lebih dekat dan lebih lama dengan seseorang yang kita cintai, itu saja sudah membuat hati membuncah ke angkasa luar. Untung saja, sang kakak sama sekali tak keberatan menjadi penerjemah.

Cinta, cinta, cinta. Oh cinta. Demi yang namanya cinta, akal sehat seseorang hilang. Tak hanya itu saja, seringkali membuat seseorang jadi tak punya harga diri. Untuk membuat Aldo terkesan, Kim Min-soo memaksakana diri agar terlihat begitu menyukai HKT48. Padahal kan sebelumnya ia tak tahu menahu soal idol group tersebut. Bahkan ia juga tak tahu HKT48 merupakan sister group dari AKB48, grup musik yang paling ia benci. Idol group itulah pemicu putusnya hubungan gadis itu dengan Kenichi Matsuoka, kekasihnya asal kota Osaka yang bersekolah di Seoul karena faktor pekerjaan orangtua.

Kim Min-soo bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju meja kecil di samping tidur. Langsung ia raih CD AKB48 yang berjudul 'Tsugi no Ashiato' itu. Itu pemberian dari Aldo. Dari lelaki itulah, ia jadi tahu AKB48 dan idol group asal Jepang yang tampil di Olympic Hall itu ternyata saling berhubungan. Dan kedua-duanya merupakan kesukaan dari lelaki Indonesia tersebut.

Kim Min-soo bisa saja jadi merasa jijik dengan Aldo. Bukankah ia memutuskan hubungan dengan Kenichi karena akhirnya tahu bagaimana gilanya lelaki Jepang itu sebagai seorang fans AKB48. Namun perempuan itu merasa sebaliknya terhadap Aldo. Perasaan kagum itu tak hilang setelah tahu bahwa Aldo tak jauh beda dengan Kenichi. Ia sendiri bingung kenapa bisa begitu.

Apa pula daya tarik seorang Aldo yang sudah membuat seorang Succhan jadi tergila-gila?

Gadis itu mengakui, dirinya merasa bahwa Aldo itu berbeda dengan tiga mantannya terdahulu. Secara fisik dan kewarganegaraan saja memang sudah beda. Pertama Aldo datang dari Indonesia, negara dimana ia sebelumnya hanya tahu satu tempat saja, yaitu Bali. Kedua, fisik Aldo berbeda sekali. Lelaki itu tak berkulit putih mulus dan bermata sipit. Sama seperti kebanyakan pria Indonesia yang selama ini sering ia lihat di jalan-jalan kota Seoul, Aldo tak jauh berbeda. Sama-sama berkulit sawo matang, mata agak melebar, hidung rada pesek, dan tinggi berkisar antara 166 hingga 170 cm. Tapi, di mata Kim Min-soo, Aldo tak seratus persen sama. Ia merasa bahwa Aldo itu merupakan lelaki Indonesia tertampan dan terkeren di antara lelaki-lelaki Indonesia lainnya yang ada di Seoul. Yah bisa dibilang, Aldo itu seperti buah terbagus di antara buah-buah lainnya yang dinyatakan gagal panen.

Kim Min-soo terkikik. Ia bergumam, memang sebagus apa sih AKB48 itu, bukannya mereka semua hanya mengandalkan kecantikan fisik saja. 

Setelah lama CD itu berada dalam genggaman, timbul dalam pikirannya untuk coba mendengarkan lagu-lagu idol group tersebut. Bergegas ia menuju televisi dan meletakan cakram CD itu ke player. Dengan volume yang cukup keras, mengalun salah satu lagu. Karena dulu pernah tinggal Jepang, tak sulit untuk membaca tulisannya: ponkotsu blues.

...hane mogareta chou wa 
nani uramu no darou? 
jibeta haitsukubari 
sora ni tsuba wo haku 
takai hei no mukou 
nani ni miren ga aru...

Enak juga iramanya, pikir Kim Min-soo. Liriknya juga bagus, tak asal bikin. 

Tok-tok-tok. Suara gedoran pintu  merusak suasana dirinya yang mulai menikmati lagu-lagu idol group tersebut. Ia jadi dongkol. Tersaruk-saruk ia berjalan ke arah pintu.

"Succhan, ini sudah jam sebelas. Waktunya tidur, jangan bikin suara gaduh!" seru Eonni-nya, Kim Sarang. Kakaknya tampak tak begitu kesal, malah cengar-cengir tak jelas.

"Joesonghamnida, Eonni," ujar Kim Min-soo menundukan kepala.

"Lagu apa yang kau dengarkan itu?" Kim Sarang menjulurkan kepala untuk mengintip isi kamar adiknya. Sepertinya perempuan ini sudah tahu lagu apa yang tadi terdengar.

"Eeee... y-ya sudah, nanti aku pelankan volume-nya. Lebih baik Eonni kembali tidur saja..." Kim Min-soo keringat dingin.

"Aku tanya, kamu dengar lagu apa?" Karena tak dijawab, pula tak ada perlawanan, Kim Sarang main selonong saja masuk ke dalam. "Minggir." Lalu ia terus berjalan menuju arah televisi dan player itu. Ia terkekeh melihatnya.

"Sudah kuduga, pasti lagu mereka,"

Kim Min-soo mengerutkan dahi. "Eonni tahu darimana?"

"Di Indonesia, aku punya teman yang begitu mengidolakan mereka. Tiap berada di mobilnya, ia seringkali memutar CD mereka. Makanya aku tahu lagu yang kamu pasang itu lagu mereka."

 "Oh..."

"Kamu jadi suka sama mereka yah? Jangan bilang juga, kamu menyukai mereka karena laki-laki Indonesia tersebut, ya kan?"

Kim Min-soo bergeming. Tanpa perlu jawaban langsung, Kim Sarang sudah tahu dari rona wajah adiknya yang mencurigakan. Jangan lupa pula, kepala sang adik jadi mendadak sedikit tertunduk. Melihat itu, Kim Sarang tergelak.

"Iyu -- kenapa?" tanya sang adik kebingungan.





Bersambung.....