Tuesday, November 4, 2014

SERIAL FAN FICT: Episode 13 - Wota Nyasar di Korea





Kelanjutan dari sini


Jangan heran. Jangan terbengong-bengong juga melihat kebiasaan keluarga Kim di akhir tahun. Mereka memang pengikut Kristus. Keluarga yang sekarang ini sudah generasi ketiga yang menganut agama Kristen. Walaupun demikian, kekristenan itu ternyata tak menghambat mereka untuk terus rutin mengunjungi kuil Bongeunsa yang berlokasi di sebuah distrik yang dipopulerkan oleh seseorang bertubuh lebar bernama Park Jae-sang yang merupakan seorang penulis lagu sekaligus penyanyi itu. 

Bagi mereka, kunjungan ke kuil bersejarah tersebut seperti sebuah tradisi leluhur yang harus dijaga. Bukankah pula tak ada yang salah dengan menghormati leluhur lewat mendoakannya? Lagipula tradisi itu juga bukan sesuatu yang aneh. Jauh di seberang Laut China Timur, lalu menyeberangi pula sebagian dari Samudera Pasifik, banyak keluarga bertampang oriental masih menjaga tradisi ke kuil, walau sebetulnya tidak lagi menjadi penganut Buddha atau Konghucu. Kunjungan ke kuil atau klenteng bukan jadi sebuah kewajiban religius, melainkan hanya untuk menjaga tradisi belaka.

Kim Sarang amat mengagumi kuil ini. Dulu semasa kecil, ia selalu bersemangat ketika Appa dan Eomma-nya mengajaknya untuk mengunjungi Bongeunsa. Baginya kuil ini selalu menjadi yang terbaik di antara kuil-kuil yang ada di Seoul. Oh tidak, mungkin yang terbaik di Semenanjung Korea. Tiap melihat patung Buddha raksasa itu, angannya selalu menyeruak keluar. Dirinya mengkhayal bisa naik ke atas kepala dan melihat pemandangan distrik Gangnam yang penuh dengan gedung-gedung bertingkat. 

Ah... Patung Buddha itu... 

Dari ujung rambut hingga ujung kaki, mata Kim Sarang terus menggerayangi patung tersebut. Pikirannya iseng saja berkata, kira-kira sang Buddha sedang melamunkan apa yah? Mungkinkah dirinya mengeluh soal pemandangan distrik Gangnam yang sudah berbeda seratus delapan puluh derajat dengan pemandangan di jaman Joseon? Mungkin juga sang Buddha bosan melihat sederetan gedung pencakar langit itu. Aku saja juga bosan melihat pemandangan gedung-gedung bertingkat. Untung saja, kuil ini dikelilingi rerimbunan pepohonan hijau-hijau ini.

"Eonni!!!" pekik Kim Min-soo dari arah dalam kuil, berdiri di salah satu pintu masuknya. Adiknya itu bising sekali. Tak sadarkah dirinya sedang berada di sebuah tempat ibadah? 

"Sedang apa di sana? Ppali, ayo segera masuk!" 

Kim Sarang tersenyum seraya geleng-geleng kepala. Di tengah-tengah segala seringaian itu, perempuan itu mempercepat langkahnya. Dasar Succhan! Ia mendengus sebal. 

"Tak usah berteriak-teriak segala. Ini di kuil, Succhan -- " Adiknya mendelik tajam, menekuk bibirnya. " -- Kamu kan bisa berjalan menghampiriku. Dan kenapa pula  menatapku seperti itu?"

"Eonni, aku kan sudah bilang, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi." erang Kim Min-soo. 

Kim Sarang terkekeh. Adiknya tambah sewot.

"Oh yah, Min-soo-ssi, aku rasa sudah saatnya kedua orangtua kita tahu yang sebenarnya," ucap Kim Sarang dengan suara sepelan mungkin. Mungkin lebih mirip sebuah bisikan ketimbang tuturan. "Pasti di sana, Nami juga berharap yang sama. Adik kita itu pasti juga ingin tak ada rahasia di keluarga kita."

Kim Min-soo mengembuskan napas. Ia menatap lampion-lampion berwarna merah yang berapi-api, yang nyaris menutupi langit-langit kuil. Dirinya masih saja tak menjawab, walau sang kakak terus memberondongnya dengan pertanyaan "Bagaimana?", hingga ia dan sang kakak sudah berada di dekat kedua orangtua dan Kim Daebu yang tengah khusyuk berdoa di depan abu Kim Nami. 

"Hei, Succhan," desis Kim Sarang. "Kenapa kamu tak menjawab pertanyaanku? Lagipula apa susahnya mengaku itu? Paling sebagai konsekuensinya, kamu nanti akan diceramahi berjam-jam, baik oleh Appa maupun Eomma. Mungkin juga uang sakumu akan dipotong, dan kamu harus mulai sibuk mencari pekerjaan paruh waktu."

Baru saja Kim Min-soo akan menimpali, Song Chee-hul balik badan dan mendesis ke arah kedua kakak beradik itu, "So-eum-i eobseo! Ayo turut berdoa untuk Nami."

*****

"Lho, Bang," kata Audrey, adik Aldo yang baru saja berseragam putih abu-abu sejak Juli silam. "kok udah pulang? Bukannya baru bulan depan pulangnya? Turnya berjalan selama tiga minggu kan."

Sedari tadi, Audrey mengerutkan dahi. Dahi gadis bertubuh sedikit kerempeng itu sudah berlipat-lipat sejak sebuah taksi berwarna biru hinggap di depan rumah. Lima menit kemudian, sang abang yang suka menjahilinya itu keluar seraya menenteng ransel dan menyeret koper.

"Gue nggak jadi pergi ke Jepang, Di," Di dari Audi. Audi merupakan panggilan dari Audrey, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. 

"Kok bisa?" 

Aldo tak langsung menjawab. Ia memutar bola mata, memainkan bibir, dan menghela napas. Bingung juga lelaki itu, haruskah dijawab? Dirinya takut sang adik malah akan menertawakannya. Tapi akhirnya ia memilih untuk segera menggubris pertanyaan itu, "Ceritanya panjang, ntar aja gue ceritain yah. Sekarang gue mau tidur dulu."

"Oh yah, Bang," ujar Audrey, setelah abangnya itu sudah berada sedikit menjauh darinya. "Tadi sejam lalu, sebelum Bang Aldo datang, Kak Thea telepon. Dia nanyain apa Bang Aldo udah berangkat atau belum. Harusnya sih dia udah tahu kalau Bang Aldo kan udah berangkat sejak seminggu yang lalu. Aneh ih."

Aldo bergeming, mematung. Sekejap saja, ia berjalan cepat menuju kamar. Tak dipedulikannya rasa jet lag itu, pula diabaikannya beban ransel dan koper. Digeletakan begitu saja koper dan ransel itu di dekat pintu kamar. Tergesa-gesa ia mengambil kunci motor sport miliknya yang ia simpan dalam laci. 

Audrey terheran-heran melihat sang abang yang begitu tergopoh-gopoh -- seperti tak mengenal lelah saja.  Mendengar informasi soal Thea saja, si abang malah jadi kesetanan. Abangnya itu seperti bisa merasakan ada sesuatu ganjil yang tengah dialami kekasih rahasianya tersebut.

"Bang, mau kemana lagi?" kata Audrey, yang sekarang tengah duduk di atas sebuah sofa sembari membaca sebuah majalah remaja. 

"Mau ke rumah Thea. Udah yah, gue pergi dulu." ujar Aldo, yang langsung saja kocar-kacir menuju garasi. Bukan garasi tepatnya, melainkan teras yang berada dekat garasi. Disanalah, motor sport warna hijau muda terparkir. 

Aldo mengeluarkan perlahan-lahan motornya hingga keluar rumah. Setelah itu, ia lompat ke atas joknya dan meraung-raungkan mesinnya sebelum dirinya dan motor yang merupakan hadiah sweet seventeen itu melaju sejauh mungkin menuju kediaman Alethea Anastasia. 

Saat masih di rumah, Aldo sempat melirik jam. Jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Ia berharap Thea masih ada di rumah. Semoga saja hari ini bukanlah jadwal perempuan itu manggung di teater. Atau kalaupun iya, semoga masih berada di rumah. Karena menurut informasi dari Audrey tadi, Thea menghubunginya satu jam yang lalu. Kemungkinan Thea masih berada di rumah itu cukup besar. Semoga ia bisa bersua dengan kekasihnya sejak SMA itu. Semoga, semoga, semoga. 

Dan... perasaan apakah ini? Apakah hatinya dan hati Thea itu sudah saling bertautan? Sehingga seperti seorang anak kembar, ia bisa merasakan Thea tengah berada dalam sebuah kerisauan yang amat sangat. Perasaannya makin menjadi-jadi saja. 




Bersambung.....




PS:
* So-eum-i eobseo! = Jangan berisik!