Sunday, November 2, 2014

SERIAL FAN FICT: Episode 11 - Wota Nyasar di Korea




Kelanjutan dari sini


"Hu-uh!" gerutu Kim Min-soo, nyaris tiga puluh menit setelah kakaknya meninggalkan kamar. "Kenapa Eonni selalu suka sekali membuatku kesal? Dasar tidak peka!"

Kim Min-soo menatap langit-langit kamar. Cahaya kuning keemasan dari lampu LED taklah menjadi suatu penghalang. Cahaya yang sebetulnya cukup menyilaukan mata itu malah semakin membuat pikirannya bergejolak. Bayangan-bayangan akan kenangan itu menguak lagi. Itu menyebabkan dirinya harus mengembuskan napas panjang-panjang. 

Kim Nami, maafkan aku yah. Eonni minta maaf. Eonni tak bermaksud seperti itu. Hanya bercanda.

Air mata Kim Min-soo mulai menetes. Jari telunjuknya menyeka setetes-dua tetes air mata. Hidungnya mulai terasa mampat. Ingatan-ingatan lima tahun lalu itu membuat isakannya semakin keras. Walau di depan kakaknya, dirinya seolah mengelak, sebetulnya ia sungguh menyesali perbuatannya. Tapi itulah manusia. Manusia seringkali merasa gengsi untuk mengakui kesalahannya. Seolah-olah dengan mengakui kesalahan, hal itu telah menjatuhkan harga diri dan membuat mereka menjadi seorang pecundang. Alhasil, yang lebih terjadi ialah pengalihan kesalahan. Saling menyalahkan. 

Sampai sekarang, Kim Min-soo merasa kasihan dengan boyband yang dibentuk oleh YG Entertainment tersebut. Sampai sekarang pun, dirinya belum mau jujur terhadap orangtuanya bahwa yang salah bukanlah G-Dragon, dan kawan-kawan. Bukan, bukan mereka yang salah. Yang salah itu dia, gadis berambut pendek dengan lesung pipit paling indah se-Semenanjung Korea. 

Kalau saja ia tak menyinggung soal orientasi seksual adiknya yang terasa aneh di matanya, kalau saja ia tak berbohong soal audisi itu, kalau saja ia berterus terang bahwa semua yang diucapkan hanyalah sebuah kelakar belaka, kalau saja... ah, pasti Kim Nami masih hidup. Mungkin adik lelaki yang berselisih dua tahun darinya -- yang merupakan adik kembar dari Kim Daebu -- masih ada di rumah ini. Mungkin adiknya yang jago nge-dance itu tengah sibuk mengikuti audisi boyband atau penyanyi solo. Atau mungkin sang adik telah menjadi bintang televisi yang namanya berkibar hingga luar Korea. Siapa yang tahu kan. 

*****

Lima tahun lalu,

"Nami... Nami..." panggil Kim Min-soo, setelah ketukan pintu tak digubris Kim Nami. "Waktunya sarapan. Kamu juga harus berangkat sekolah kan. Mau sampai kapan di dalam kamar?"

Tetap tak digubris. Sebetulnya Kim Nami sedang berbuat apa di dalam kamar? Kenapa lama sekali? Masih tidurkah? Eh, gidalyeo -- tunggu sebentar. Kim Min-soo menajamkan pendengaran. Suara di dalam cukup bising. Seperti suara musik yang bisa membuat kalian menggoyangkan tangan dan kaki, lalu mengentak-entakan kedua kaki. Kalau tak salah, suara itu kan suaranya Kwon Ji-yong alias G-Dragon. Sedang apa juga anak itu di dalam. 

Tak tahan lagi, Kim Min-soo menggerakan engsel, perlahan sekali masuk tanpa menimbulkan bunyi. Dan... astaga! Ternyata sang adik sedang asyik menirukan koreo dari Big Bang, yang ada di music video 'La La La'.

Kim Min-soo terkikik. Dan entah mengapa, suara cekikikan yang seharusnya kalah dengan suara video, malah terdengar oleh telinga Kim Nami. Langsung saja adiknya itu mengecilkan volume. Seketika ia berhenti menari. 

"Nuna," ujar Kim Nami memerah. "Kenapa main masuk begitu saja? Nuna mengganggu saja."

"Kamu sendiri sedang apa, Nami?" kata Kim Min-soo nyengir. "Pagi-pagi begini, kamu sudah joget-joget tak karuan. Kurang kerjaan saja. Lebih baik kamu bersiap mandi, nanti kamu telat masuk sekolah."

"Hah? Joget-joget tak karuan?" tukas Kim Nami. "Aku sedang latihan dance, Nuna. Dan dance ini bukan sekadar joget-joget tak karuan."

"Yah terus buat apa? Buat apa kamu harus latihan dance di jam setengah enam pagi?" kata Kim Min-soo masih nyengir. Perlahan ia mulai beringsut lebih dekat kepada adiknya.

"Ini latihan buat masa depanku juga, Nuna. Kelak aku bakal jadi anggota boyband ternama. Mungkin juga aku bakal menggantikan posisi G-Dragon. Jadi, daripada menertawakanku, lebih baik Nuna mendoakanku agar bisa menggapai mimpiku tersebut."

Meledaklah tawa Kim Min-soo. Melihat hal tersebut, adiknya jadi sewot. Oh, seringaian itu begitu menakutkan sekali. Sepertinya Kim Nami berusaha menerkam Kim Min-soo. Segeralah menghindar, Kim Min-soo!

"Yaaa, keumanhae! Berhenti tertawa. Aku serius tahu." semprot Kim Nami.

"Joesonghamnida, adikku tersayang," kata Kim Min-soo menyimpulkan sebuah senyuman. "Eonni minta maaf yah."

Bibir Kim Nami masih ditekuk. Sorot matanya masih menyorotkan aura kekesalan karena diremehkan oleh kakak kandungnya. Sementara Kim Min-soo, tiba-tiba saja otaknya mendapatkan suatu ide. Ide brilian yang nakal. 

"Eh, Nami, kamu tahu tidak? YG Entertainment tengah mengadakan audisi. Konon," mereka berencana membuat satu boyband dengan anggotanya yang masih berusia remaja."

"Yang benar? Kok aku tidak tahu yah?" kata Kim Nami mengerutkan dahi, menatap kakaknya jikalau saja itu hanya keisengan sang kakak.

"Iya, aku serius. Lebih baik sepulang sekolah, kamu ke sana saja. Kamu tahu kan alamatnya? Atau apa perlu aku mengantarmu ke sana?"

Menggeleng. "Tak usah, Nuna. Aku juga masih ingat jalan ke sana." 

"Ya sudah. Sekarang lebih baik kamu segera mandi dan turun ke bawah. Atau Eomma akan memarahimu habis-habisan."

Kim Nami tersenyum, dan segera bergegas ke kamar mandi yang berada tak jauh dari kamar. Sementara itu, Kim Min-soo masih berada dalam kamar, walau sudah diwanti-wanti untuk tak berada di sana. Gadis itu bergerak maju menuju kabinet samping tempat tidur. Ada sesuatu yang dari tadi mengusiknya. Itu berupa sebuah pigura foto kecil. Sebelumnya, kurang lebih dua bulan lalu, ia tak melihat ada pigura di sana. 

Alangkah kagetnya Kim Min-soo. Sebab dalam foto tersebut, Kim Nami sedang berpose cukup mesra bersama seorang laki-laki yang sepertinya agak lebih tua. Laki-laki yang kurang lebih berusia dua tahun dari adiknya itu tampak sedang memegangi kepala Kim Nami. Kepala mereka berdua saling bertubrukan dengan kedua bibir juga berdekatan, seperti orang tengah bercumbu. Dan di foto itu, ada sebuah tulisan tangan sang adik, nae sarang -- cintaku.

Tapi kan Kim Nami masih berusia empat belas tahun. Dan sejak kapan juga Kim Nami menjalin hubungan dengan lelaki ini? Siapa pula lelaki ini? Teman sekolah? Kakak kelas mungkin. Pun Kim Min-soo tak bisa menutupi fakta bahwa adiknya itu memang terkesan feminin. Ketimbang kembarannya yang tak begitu mirip, Kim Nami jauh sekali dari kesan maskulin. Malah ia rasa, Kim Nami lebih perempuan daripada dirinya. 

Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus memberitahukan segala informasi yang didapatkan ini kepada kedua orangtuanya? Mungkin dirinya sudah mulai terbiasa dengan kaum bernama gay. Tapi Appa yang masih berpikiran konservatif, pasti bakal marah besar. Bisa jadi, untuk memisahkan dari lelaki tersebut, Kim Nami akan diungsikan ke suatu tempat. Seperti dibawa lari ke kampung halaman Eomma di Miryang. 

Lama mematung seraya memandangi foto tersebut, Kim Min-soo akhirnya memilih untuk mengabaikannya. Ia tak tega merusak kebahagiaan sang adik. Apalagi di dalam foto itu, Kim Nami begitu bahagia sekali. Itu terlihat dari sorot mata Kim Nami yang jarang sekali ia lihat. Selama ini, Kim Min-soo sering terlihat murung dan mengumbar senyum ala kadarnya. Berbeda dengan Kim Daebu yang selalu memancarkan keoptimisan.





Bersambung.....