Saturday, November 1, 2014

SERIAL FAN FICT: Episode 10 - Wota Nyasar di Korea




Kelanjutan dari sini


Di atas hamparan samudera Pasifik, Aldo terengah-engah. Sayangnya, dirinya itu bukan pengidap aerophobia. Ia tak takut berada dalam pesawat yang berada dalam ketinggian beberapa kaki dari permukaan tanah. Lagipula ini kan bukan pengalaman pertama. Sebelumnya, jauh sebelum insiden ke Korea ini, ia sudah beberapa kali terbang. Contohnya, semasa kecil, ia pernah diajak ayahnya mengunjungi Kotamobagu, yang tak lain dan tak bukan merupakan kampung halaman sang ayah.

Selepas menghabiskan nasi ayam dengan olesan sambal cabai, jahe, dan bawang putih, lelaki itu langsung terbawa hasrat untuk pulas. Kurang lebih empat puluh menit, dirinya berada di alam mimpi. Dan mungkin saja durasi selama itu sudah cukup, sehingga dirinya terbangun dengan dahi penuh pasi.

Matanya melotot.  Sekujur kedua tangan basah. Napas terengah makin menjadi. Dadanya pun sesak. Setelah tampak mereda, Aldo menekuri mimpi yang ia dapat tadi. Apa makna mimpi tersebut? Mengapa semuanya terlihat nyata? Apa juga yang sudah terjadi di Indonesia? Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan Thea? Semoga mimpinya tak menjadi kenyataan.

Walaupun dirinya tentu berharap, dari ujung hatinya yang terujung, ia berharap Thea tak lagi menjadi bagian dari idol group itu. Jujur, ia sudah lelah menjalin hubungan seperti ini. Letih sekali, kawan, bermain kucing-kucingan dengan sekelompok fans yang kelihaiannya bagaikan mata-mata kelas CIA saja. Sampai kapan juga ia dan Thea menjalin hubungan seperti ini? Dibilang pacar, masa depan Thea itu ancamannya. Thea juga baru di awal karir. Hanya sekadar teman, ia dan Thea sepertinya belum siap jika hubungan mereka berubah haluan menjadi 'hanya berteman'. Cinta mereka sudah mendarah daging.

Di mimpinya, situasinya mencekam. Yah memang tak semencekam situasi yang dihadapi pasangan suami-istri Form sewaktu terus dikejar oleh boneka Annabelle. Tapi istilah 'mencekam' mungkin lebih tepat untuk menggambarkan kehebohan yang terjadi di dunia maya. Banyak netizen yang merundung Thea, kekasihnya tersebut. Hubungan tanpa status itu pun akhirnya tersibak. Entah bagaimana caranya, beberapa yang mengakunya fans, bisa mengetahui isi percakapan antara dirinya dengan Thea di Line dan Whatsapp. Begitu banyak beredar hasil capture percakapan tersebut. Dan para netizen itu, terlebih para fans dan hater, mempeributkan soal hasil capture tersebut. Nasib Thea terancam. Mungkin kekasih rahasianya itu bakal sulit untuk bisa mewujudkan impiannya menjadi penyanyi. Bagaimanapun Thea tidaklah datang dari keluarga seniman. Akan sulit mencari penghubung ke dunia hiburan.

Kepala Aldo tertunduk. Tangan terlipat. Ia merapalkan sebuah harapan kepada Sang Pencipta.Ya Tuhan, please jangan buyarkan mimpi Thea, ya Tuhan. Kalau memang aku dan dia harus memutuskan hubungan dana jaga jarak sebagai konsekuensinya, aku ikhlas, ya Tuhan. 

*****

"Eonni, berhenti tawanya," pinta Kim Min-soo pada Kim Sarang yang terus saja terbahak. Menyebalkan. Memang. "Ayolah, berhenti tawanya. Keumanhae. Lagian, kenapa pula tertawa seperti itu? Menyebalkan tahu."

"Oke, oke, aku minta maaf," ujar Kim Sarang nyengir. "Soalnya kamu lucu juga."

"Lucu? Apanya yang lucu?"

"Mendadak kamu jadi suka sama mereka," tunjuk Kim Sarang pada sekelompok gadis muda yang duduk santai dengan mengenakan gaun malam berwarna putih. Kaver CD itu kan yah seperti itu. 

"Hah?" Alis Kim Min-soo terangkat. "Eoseo, Eonni. Aku-aku-aku... aku hanya mendengarkan saja contoh lagu mereka. Seberapa bagus sih mereka sama Girls Generation?"

"Lalu....?"

"Yah... yah... yah... mereka tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Girls Generation. Lihat saja mereka ini -- " Ia menunjukan kepada kakaknya kaver CD tersebut setelah sebelumnya ia melepaskan cakram itu dari player. " -- sudah pendek, memasang tampang sok imut pula. Menjijikan. Kenapa girlband seperti ini bisa menarik perhatian banyak orang? Apa bagusnya? Sampai seorang Indonesia saja rela membeli CD ini lewat internet."

Kim Sarang terkekeh. 

"Hentikan, Eonni. Jangan bikin aku marah."

"Kakak rasa, kalian berdua itu sama saja. Sama-sama fans gila. M-i-c-h-i-n-p-a-e-n. Yah itulah kalian berdua."

Kim Min-soo menekuk bibirnya. 

"Lihat saja. Yang satu, mengidolakan AKB48, sampai begitu ngotot ingin pergi ke Jepang sembari mengenakan syal bergambar salah satu member-nya. Yang satu lagi, jauh lebih parah lagi. Aku masih ingat celotehan Eomma padaku dulu. Eomma pernah mengoceh soal dirimu yang berbohong demi bisa beli CD terbaru S-N-S-D. Dan juga..." Mengambil jeda untuk mengingat sesuatu. "...oh iya, aku ingat, Big Bang..."

Kim Min-soo tersentak. Wajahnya berubah muram. Tertunduk. Mendadak saja aura di sekujur tubuhnya berubah panas. Saking panasnya, ada baiknya pemanas itu dimatikan saja.

Terkekeh. "Yaa, kamu kenapa lagi? Hah?"

"Eonni menyebalkan." desis Kim Min-soo. "Kenapa harus aku diingatkan sama kejadian itu lagi?"

"Ya sudahlah, lagian seberapa keras kamu menyesalinya, itu tetap tak akan mengembalikan Kim Nami, bukan?"

Menghela napas. "Lagian itu juga bukan seratus persen kesalahanku, Eonni. Salahkan boyband itu. Mereka yang menyebabkan Kim Nami memutuskan untuk bunuh diri."

Berdecak. Kim Sarang menggeleng-geleng gemas. 

"Sudah yah, Eonni. Aku mau tidur." Tergopoh-gopoh Kim Min-soo bergerak menuju lemari kecil itu lagi. Setelah meletakan CD, gadis muda berusia dua puluh satu tahun itu merebahkan diri. Tubuhnya sepertinya sengaja dimiringkan ke arah yang berlawanan dari sang kakak. Matanya terpejam dan dirinya mulai menghitung domba-domba. 

Sementara itu, Kim Sarang tak lagi mengeluarkan semburat senyuman atau cengiran. Ia terpekur, memandangi adiknya dengan suatu perasaaan yang bercampur aduk: kesal, sedih, dan kasihan. 

Mianhae -- maaf, Succhan. Kakakmu ini minta maaf sudah menyinggungmu soal kejadian tiga tahun silam. Kakak tahu, kejadian itu pukulan berat buat kamu. Kamu pasti menyesal sekali telah berbuat seperti itu. Sampai-sampai kamu belum juga berani bilang ke Appa dan Eomma soal kejadian yang sebenarnya.

"Annyeonghi jumuseyo, Succhan," 

Saat Kim Sarang sudah berada di dekat pintu, selangkah lagi berada di luar kamar, sang adik mengerang, "Eonni, kenapa terus memanggilku Succhan?" Pelan memang, tapi cukup tersampaikan hingga telinganya. Ia jadi terkikik. 

"Bukannya kamu dipanggil itu sama mantanmu itu? Siapa namanya?"

"Saekki-ya!" desis Kim Min-soo kesal. Tapi tetap saja ia dalam kondisi tertidur dengan arah berlawanan. Dalam arah yang berlawanan, mata Kim Min-soo terbuka.

"Oh itu namanya yah," kata Kim Sarang terkekeh. "Bagus juga nama mantanmu itu, Succhan. Matsuyama Saekki-ya Oppa yang tampan, tapi hobi menyimpan foto-foto gadis cantik."

Mungkin takut diamuk oleh adiknya, langsung saja Kim Sarang terbirit-birit menuju kamarnya yang berada di samping kamar Kim Min-soo. 

*****

Thea sudah selesai berdandan sebetulnya. Ia sudah terlihat cantik bagi siapapun yang memandanginya. Dengan mengenakan kaus merah jambu yang dilapisi oleh kardigan blue jeans -- dan bawahan celana jins warna biru tua, sudah siap baginya untuk pergi ke fX lagi. Maksudnya, menuju tempatnya untuk menggapai mimpi menjadi seorang bintang televisi.

Hanya saja, hatinya terasa berat. Walau hari ini jadwalnya untuk tampil di atas panggung, ia benar-benar malas untuk pergi ke sana. Tiga bulan terakhir ini, ia merasa bak di neraka saat ada di dalam ruang gantinya. Beberapa rekan di tim trainee, terlebih yang berusia lebih muda darinya, terus menerus memberikannya sebuah seringaian yang menyebalkan. 

Di dalam teater, hanya Rina yang merupakan sahabat terbaiknya. Dari Rina pula, ia bisa tahu suatu gosip tak enak soal dirinya. Rina pernah bilang, "Denger-denger sih, anak-anak yang lain udah pada tahu soal Aldo, pacar rahasia lu itu, Te. Dan gue saranin, sebaiknya lu baik-baikin anak-anak. Jangan sampai juga, soal ini ketahuan sama fans, apalagi manajemen. Tahu kan resikonya?"

Mengingat kata-kata sahabatnya itu, mendadak Thea jadi lesu. Ia begitu malas sekali untuk keluar kamar dan memacu sedan merahnya menuju bilangan Senayan. Tapi ia harus bergegas. Dirinya kan sudah terikat kontrak.





Bersambung.....

5 comments:

  1. Nunggu saat Thea ketahuan, gimana reaksi fans dan tentu saja official team :v

    ReplyDelete
  2. Buseet.. masih bersambung juga.... Beneran bakalan jadi novel tebal nih kayaknya... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Kalau dijadiin novel, peminatnya banyak nggak nih Mas? Agak ragu sih. Cuz dulu pernah bikin cerpen dengan tema agak serupa, pageviewnya rendah sih. -_-

      Delete
  3. Mas, itu penerbit Haru malah buku-bukunya kebanyakan tentang Korea. Untuk tema itu, kayaknya pasarnya memang selalu ada kok, Mas....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih,.... Tapi ini agak nyerempet ke jejepangan juga, ada kaitan ke AKB48... Apa iya mau terima? Hahaha,... But, let's see aja deh. Kita terusin aja sampe endingnya. Niatnya sih mau bikin sampe 20 episode/chaptee. Hehehe

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^