Wednesday, October 15, 2014

SERIAL FAN FICT: Episode 8 - Wota Nyasar di Korea





Biar tak bingung, baca dulu episode-episode sebelumnya: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7



Aldo begitu lesu menarik kopernya untuk menyusuri lorong yang akan membawanya masuk ke sebuah taman in door. Keindahan taman dalam bandara tak membuat lesu hilang dari dalam raganya. Termasuk pula dengan rangkaian bunga-bunga khas Korea yang begitu tertata rapi.

Tak munafik, Aldo memang begitu mengagumi pemandangan yang mungkin cukup langka ini. Mungkin, dalam hidupnya, ia pasti akan kesulitan menemukan taman seperti yang ia lihat di bandara Incheon sekarang ini. Namun ada sesuatu yang mengganggu kebahagiaannya untuk menikmati pemandangan tersebut. Itu ialah mimpinya yang harus pupus. Pihak imigrasi Korea memutuskan dirinya harus segera pulang ke Indonesia. Tak ada kesempatan dirinya bisa pergi ke Jepang dengan bantuan dari Korea.

"Jangan murung begitu," kata Kimi yang mencolek bahu Aldo sembari tersenyum. "Oh iya, kamu sepertinya perlu kubawa dulu ke sebuah tempat yang kamu harus tahu dari bandara yang menakjubkan ini."

"Tempat apaan, Kim?" ujar Aldo yang mengernyitkan dahi.

"Sudah, kamu ikut saja, nggak usah protes," kata Kimi yang langsung menarik tangan Aldo. "Belok sini dulu."

Aldo tak banyak protes. Diam saja sewaktu digiring Kimi seperti seekor kerbau yang digiring petani dari satu titik petak sawah ke petak lainnya. Sementara itu, di belakang mereka, mengikuti pula kedua orangtua Kimi dan dua adik. Suami-istri Kim terlihat tengah bersenda gurau. Mereka begitu geli sekali melihat kedekatan putri sulung mereka dengan seorang pria asing dari sebuah negara yang berada jauh di seberang Laut China Timur. Adik Kimi, Succhan, begitu jengah melihat kedekatan sang kakak dengan Oppa tercintanya. Selain itu, mengesampingkan perasaan jengah itu, Succhan juga sedikit tak karuan degupan jantungnya. Sebabnya ia harus memberikan sesuatu istimewa yang sudah disimpan dalam tas kepada Aldo. Terakhir, sang anak bungsu keluarga Kim, Kim Daebu tengah menghibur sang kakak. Ia berusaha menyemangati sang kakak agar tak segera pesimis, hingga jatuh ke lembah kecemburuan.

Ternyata Kimi membawa  ke sebuah area yang cukup terkenal di bandara Incheon. Mungkin karena tak ada niat ke Korea, hingga harus berurusan dengan pihak imigrasi, Aldo baru tahu soal kolam keberuntungan ini. Lelaki ini melihat sudah begitu banyak orang yang mengerumuni kolam berbentuk persegi panjang tersebut. Sebagian besar dari kerumunan itu melemparkan koin, lalu merapalkan sebuah harapan. Sisanya hanya menonton atau mengabadikan peristiwa yang seharusnya biasa itu dengan kamera, entah itu kamera analog maupun kamera ponsel.

"Coba kamu lempar salah satu koin yang kamu punya ke dalam kolam." seru Kimi tersenyum. "Katanya, kalau kita melemparkan koin ke kolam ini, permohonanmu bakal terkabul."

Aldo nyengir. "Kamu percaya, Kim, sama hal begituan? Lagian kalau pun benar, di dompetku cuma ada lembaran kertas yen. Nggak ada koin won sama sekali."

Kimi terpingkal. "Sudah, lempar saja. Koin apa saja, bisa kok."

"Nggak ah, males. Buang-buang duit. Lagian yen ini kan bisa kugunakan juga kalau aku ke Jepang bareng kamu tahun depan." kata Aldo tersenyum.

Kimi tak menjawab. Perempuan itu hanya tersenyum, lalu melambaikan tangan kepada seseorang yang berdiri di belakang Aldo dari jarak yang agak cukup jauh. Padahal orangtua gadis itu juga sudah berada cukup dekat di sekitar Kimi dan Aldo. Aldo yang tadinya akan bersiap mengabadikan kolam keberuntungan itu, jadi menengok ke arah seseorang itu.

Itu Kim Min-soo. Succhan. Gadis itu tampak ragu-ragu untuk beringsut ke arah Aldo dan melancarkan segala rencana yang sudah tersusun sebelum hari keberangkatan. Apakah ia harus menyerahkan cinderamata ini ke lelaki turis ini?

"Succhan, yeogie ppaleun!" seru Kimi. "Ayo, cepat. Kenapa kamu malah berdiri menjauh seperti itu? Bukannya kamu harus menyerahkan sesuatu untuk lelaki ini?"

Ah, Eonni-nya itu sungguh menyebalkan. Kenapa berkata sefrontal begitu  di hadapan banyak orang? Kan gadis itu jadi tersipu karena diseringai begitu rupa oleh kerumunan orang yang berada di dekat kolam itu. Mau tak mau gadis itu jadi menghampiri sang kakak yang cengar-cengir.

"Eonni, keumanhae -- hentikan. Tak usah berteriak sekencang itu. Kenapa juga harus sefrontal itu bilangnya? Aku malu, Eonni." protes Succhan.

"Mworago? Suchi -- malu? Kamu malu?" Kimi terkekeh. "Eoseo.  Kamu ini kan perempuan yang tak tahu malu yang pernah kukenal di seantero Korea ini, tahu."

Kim Min-Soo mendelik tajam. Kim Sarang tak berhenti berkata, dan melanjutkan kembali kata-katanya, "Arasseo, arasseo. Mianhae, jalmothaesseo. Ya sudah, cepat kamu berikan ke orang ini."

Lagi-lagi Kimi memandangi Aldo lagi. Dan, lagi-lagi juga dahi lelaki itu jadi semakin berkerut saja. Namun, meskipun bingung, sepertinya Aldo bisa menebak apa yang akan terjadi sebetulnya. Di pikirannya, sudah melintas sekelebat bayangan adegan demi adegan yang ia sering lihat di drama-drama Korea yang ia pernah menontonnya secara tak sengaja. Mungkinkah? Dan jikalau iya, dirinya harus menjawab? Apa ia harus menerima cinta dari adik Kimi ini? Lantas, Thea akan dikemanakan?

Nggak, nggak, nggak. Aldo menggeleng, nyengir. Nggak mungkin juga adiknya Kimi langsung bilang, 'Saranghae' kan.

"Segera berikan, Succhan. Sepertinya orang yang bersangkutan sudah tak sabar untuk menerimanya." kata Kimi nyengir.

Orangtua Kimi memandangi ulah dua anak gadisnya. Kedua orang tua itu begitu bingung sepertinya. Mereka kira, Kimi yang akan melakukannya. Ini kenapa Kim Min-soo? Ah, mungkin Kim Min-Soo ini hanya perantara. Kimi kan, seingat mereka, tak pernah terlihat tengah berhubungan dengan pria manapun. Mungkin anak sulung mereka itu malu-malu, sehingga butuh seorang mak comblang.

Sementara Kim Daebu, lelaki ini hanya melihat sekilas, lalu kembali sibuk dengan playstation portable kepunyaannya. Lelaki dengan poni hampir menyentuh alis itu benar-benar bingung dengan satu hal. Mengapa perempuan itu begitu terlihat ribet sekali saat berhadapan dengan yang namanya cinta? Apa susahnya bilang cinta itu? Yah begitulah pandangan seorang remaja SMA Korea terhadap fenomena cinta.

 Dan... Kim Min-soo mulai membuka tas tangannya. Gadis itu mengeluarkan sebuah bingkisan yang masih tersegel dan berada dalam sebuah kantong plastik bertuliskan nama tokonya dalam bahasa Korea. Ia, tanpa basa basi lagi, langsung mengangsurkan itu kepada Aldo. Lelaki itu melongo sembari menunggu khayalannya terwujud.

"He-he-here it is," kata Kim Min-soo menundukan kepala. "A-a-a gift for you. A-a-an unimportant little souvenir."

Aldo menerimanya.

Kimi langsung menyeletuk, "Kalau penasaran, kamu bisa membukanya sekarang, lho. Nggak harus menunggu sampai di Indonesia dulu."

"Eonni," Disangka Kim Min-soo, kakaknya itu tengah menyampaikan perasaannya kepada lelaki tersebut.

Orangtua Kimi semakin bingung saja. Kim Min-soo menyerahkan sesuatu kepada Aldo. Namun ekspresinya itu tak wajar. Tampak, di mata mereka, bahwa sebetulnya yang akan menyatakan perasaan itu Kim Min-soo; bukan Kim Sarang, seperti dugaan mereka selama ini.

Kim Daebu melirik sekilas. Dalam hati, lelaki itu berkata: Cugha -- selamat, Nuna! Nuna (kakak, red) sudah berhasil melakukannya.

Di saat Kim Min-soo yang jadi berdebar tak karuan, Aldo langsung saja mengeluarkana bingkisan itu dari kantong plastik. Dirobek kertas pembungkusnya. Dan... wow. Alangkah terkejut Aldo. Ternyata isinya itu CD AKB48 terbaru, lengkap dengan label harganya yang tertulis dalam hangeul. Di samping itu, ia juga menemukan lima lembar photopack; salah satunya itu photopack dari Minami Takahashi. Dan masih ada lagi beberapa foto waktu ia berkunjung ke Olympic Hall bareng keluarga Kimi.

"Kamu tahu nggak, adikku sampai ke Seoul sendirian cuma untuk membeli CD dari idol group yang aku sampai sekarang nggak tahu dimana letak bagusnya itu. Dan itu dilakukannya cuma buat kamu lho. Nae yeodongsaeng eun dangsin-eul salang boinda."

Beberapa orang bertepuk tangan. Bahkan ada juga yang bersiul-siul. Itu membuat Kim Min-soo jadi pucat pasi. Gigi-giginya sedikit bergemelutuk. Mukanya semakin merah saja.

"Saekki-ya! Eonni itu menyebalkan." Kim Min-soo langsung terbirit meninggalkan tempat tersebut.

Kim Sarang terbahak. Perempuan itu langsung melirik Aldo yang masih memerah pipinya. "Oh ya, di salah satu foto-foto tersebut, ada foto adikku lagi two-shoot sama salah satu member HKT48 yang tampangnya sok imut itu. Itu lho, member HKT yang rambutnya pendek itu. Siapa namanya?"

Sementara Aldo masih sibuk mengais-ais foto-foto tersebut, Kimi meneruskan ucapannya, "Aku harap juga kamu lebih memilih adikku daripada member HKT48 itu ya."






Bersambung.....





NB:
* Mianhae, jalmothaesseo: Maaf, aku salah.
** Mworago: Kamu bilang apa?
***
Nae yeodongsaeng eun dangsin-eul salang boinda: Sepertinya adikku menyukaimu.
**** Arasseo: Aku mengerti.