Monday, October 13, 2014

SERIAL FAN FICT: Episode 7 - Wota Nyasar di Korea





Biar tak bingung, baca dulu episode-episode sebelumnya: 1, 2, 3, 4, 5, 6.



"Hey, Mousou Wota!" seru Kimi. "Barusan pihak imigrasi menghubungiku. Mereka bilang, nasibmu sudah ditentukan: kamu harus kembali ke Indonesia. Jadi kamu nggak bisa berharap kamu bisa dikirim ke panitia tur ke Jepang tersebut. Dan itu juga sudah menjadi prosedur dan aturannya, kata mereka."

Yah, nasib Aldo sudah ditentukan. Ia hanya di Korea, setidaknya, sampai libur natal berakhir. Dua hari setelah natal, ia harus rela dideportasi ke Indonesia. Tak ada asa pula bahwa pihak imigrasi Korea mau berepot-repot untuk mengirim Aldo kepada panitia tur ke Jepang tersebut. 

Aldo jadi tertunduk lesu memandangi salib yang terukir di altar gereja Hannam First Presbyterian Church. Padahal, jujur saja, lelaki ini berharap pihak imigrasi Korea mau mempertemukannya dengan panitia tur tersebut. Jadi, setidaknya libur natal dan tahun baru tak menjadi sia-sia belaka. Mimpinya ke Jepang dan bertemu dengan Minami Takahashi bisa terkabul. 

Tapi apa daya. Keputusan pihak imigrasi Korea seperti itu. Mereka kan perwakilan dari pemerintah Korea Selatan. Dia bisa apa? Masa mau melawan? Wah itu bisa jadi suatu berita besar, baik di Korea maupun di Indonesia. Bisa-bisa para netizen akan begitu ricuh meributkan sebuah kisah seorang pemuda Indonesia yang begitu kukuhnya melawan pihak imigrasi Korea hanya demi bisa bertemu idolanya di Jepang. Kan gila itu. 

Omong-omong, soal gereja dimana ia akan merayakan kebaktian malam natal, Aldo cukup takjub. Gereja yang terletak di jalan 726-39 Hannam-dong, Seoul itu cukup unik. Setidaknya untuk seorang Aldo. Bangunan gereja itu seperti sebuah bangunan sebuah gedung perkantoran dengan sebuah salib seperti pedang terbalik yang menjadi tanda bahwa bangunan itu memang sebuah gereja. Walau terlihat sempit, fakta tersebut tak membuat orang-orang jadi berbondong-bondong pergi mengunjungi gereja itu untuk merayakan kelahiran Kristus. 

Ternyata perayaan natal di Korea itu tak jauh berbeda dengan suasana natal di Indonesia. Susunan acaranya juga berbeda tipis. Di sini, Seoul maksudnya, juga ada candle light service. Lama ibadahnya juga tak jauh berbeda, yaitu sekitar satu setengah jam. Bahkan bisa dua jam. Pembedanya, mungkin yang jauh lebih terasa, itu adalah bahasanya. Kepala Aldo pusing tujuh keliling melihat guratan-guratan hangeul di buku acaranya. Begitu sedikit sekali tulisan latinnya. Paling hanya di halaman muka, di bagian nama gereja beserta alamatnya, plus kata-kata besar: "CHRISTMAS NIGHT MASS 24TH DECEMBER 2014". 

"Hei, Mousou Wota," seru Kimi yang menepuk pundaknya dari belakang. 

Mendengus. "Berhenti manggil aku dengan sebutan itu. Begini-gini aku punya nama. Namaku Marcellius Aldo Timothy Tanuwijaya. Panggil saja aku Aldo."

Terkekeh. "Whatever. Aku lebih suka memanggil kamu dengan sebutan itu kok. Dan coba kamu bergeser sedikit, aku lebih suka duduk di pinggir."

Sementara Aldo bergeser ke kanan, anggota keluarga Kimi yang lain masuk dan duduk di sebelah kanan lelaki tersebut. Semuanya kompak berkata padanya: "Jeulagaeun krismas doeseyo" yang segera diralat menjadi "Merry christmas" karena protes dari anak sulung mereka, Kim Sarang. Kata si perempuan itu: "Eomma, Appa, Succhan, cowok ini tak bisa berbahasa Korea. Jangan lupakan hal tersebut."

Eomma langsung berkata, "Kamu ini terlihat begitu peduli sekali dengan Aldo-ssi. Kamu menyukainya?" 

"Eoseo -- yang benar saja, Eomma? Lagian usia dia lebih muda dari aku. Gengsi-lah berpacaran dengan lelaki yang lebih muda." protes Kimi, yang langsung dibalas Eomma, "Tapi Eomma-mu ini jauh lebih tua dari Appa," Dan pihak yang disinggung jadi terkekeh. 

"Hei, Mousou Wota," tegur Kimi yang langsung diseringai yang bersangkutan. "Iya, iya, gomen'nasai, Aldo-kun. Aku nggak sengaja."

"Nggak sengaja apanya? Kayaknya kamu hobi banget ngeledekin aku." sungut Aldo. 

"Cuma bercanda," kata Kimi nyengir. "Kayaknya kamu ini juga satu-satunya orang Indonesia yang paling sensitif yang pernah kutemui." Saat diseringai lagi, Kimi langsung berkata, "Oke, oke, aku minta maaf. Aku juga capek meledeki kamu terus. Lagipula ini juga malam natal. Kita harus berbagi kasih natal bukan?"

Aldo mulai perlahan tersenyum.

"Nah begitu dong, senyum begitu kan bagus. Lagipula, dari tadi kulihat kamu gelisah dan murung. Ada apa? Kamu murung karena nggak bisa mengerti bahasa Korea sedikit pun?"

"Ya salah satunya karena itu. Tapi yang bikin aku jadi murung itu karena aku gagal pergi ke Jepang. Aku kira, pihak imigrasi di sini mau mempertemukan aku dengan panitia tur tersebut."

Kimi agak tergelak cukup keras, sehingga Appa-nya harus menegurnya. "Joesonghamnida, Appa. Habisnya lelaki ini lucu sih."

"Rasain, ngeledekin aku terus sih." rutuk Aldo nyengir. 

"Habisnya kamu juga lucu. Masih untung kamu tak langsung dipulangkan atau dibiarkan menggelandang di jalan-jalan kota Seoul yang dinginnya luar biasa, eh ini malah berharap bisa diantar ke Jepang. Kamu kira mereka itu pelayan-pelayanmu apa?"

"Yah tapi..."

"Kalau kamu masih mau ke Jepang, bagaimana kalau bareng aku ke sana? Rencananya musim panas tahun depan aku mau berkunjung ke sana."

"Serius? Kamu mau bayarin aku ke sana?" Aldo terbelalak antusias. 

"Eh aku nggak pernah bilang gratis,"

Bibir Aldo jadi tertekuk ke bawah. 

Kimi terkekeh. "Tapi seperti sebelumnya juga, bayarannya bukan dengan uang. Aku tidak mata duitan juga."

"Iya, iya, aku tahu. Sebagai gantinya, di Indonesia nanti, aku harus mau disuruh-suruh dan mentraktir kamu apapun."

 Kimi nyengir. "Bagus kalau kamu masih ingat."

"Demi ke Jepang, nggak apa-apa deh aku jadi pembantu kamu," kata Aldo tersenyum tipis. 

"Jadi tunggu aku yah di Jakarta bulan depan. Mungkin aku bakal ada di Jakarta sekitar akhir bulan. Aku harap kamu tak mengganti segala kontak pribadimu, yah honey."

Mendadak perut Aldo jadi mulas. Di samping itu juga, lelaki itu menangkap suatu aura yang ia begitu kenali. Di samping Kim Sarang, tampak adiknya yang memandang mereka dengan sorot mata yang sedikit aneh. Di pikiran Aldo, jangan-jangan adiknya Kimi ini suka sama gue lagi?

Sebelum Aldo mengkrosceknya ke Kimi, perempuan itu terlihat sedang bercakap-cakap dengan adiknya. Percakapan itu diawali dari sang adik yang mencolek lengan Kimi setelah kata 'honey' tercetus dari bibir perempuan tersebut. 

"Mwo ya -- apaan sih, Succhan?" respon Kimi nyengir. 

"Eonni tadi bilang apa ke Aldo Oppa? Pakai kata honey segala lagi. Jangan bilang kalau Eonni juga suka sama Aldo Oppa?" keluh Kim Min-soo yang nada suaranya terdengar begitu kesal.

"Yaa, nongdam-iya, adikku tersayang," kata Kimi. "Kan aku sudah pernah bilang, aku tak akan pernah menyukai michin paen ini." Perempuan itu menunjuk ke arah Aldo yang jadi mengerutkan dahi. 





Bersambung.....




NB:
* Yaa, nongdam-iya: aku hanya bercanda.

2 comments:

  1. Replies
    1. Gan, kalau mau beriklan, mending pasang banner aja di blog ini. Tarif cuma Rp100.000 per bulan per banner. Murah meriah. ^_^

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^