Thursday, October 9, 2014

SERIAL FAN FICT: Episode 6 - Wota Nyasar di Korea





Biar tak bingung, baca dulu episode-episode sebelumnya: 1, 2, 3, 4, 5.



"Begitu ceritanya, Kim," Aldo menandaskan ceritanya. Dan sebentar lagi ia dan gadis Korea itu telah mau hampir sampai di kediaman keluarga Kim. "Aku dan Thea itu bahkan sempat cekcok hebat gara-gara kengototan dia ikut audisi JKT itu (Baca selengkapnya di Dilema JKT chapter 1)."

Kimi berdeham, lalu menggeleng. "Entahlah. Aku sulit percaya sama ceritamu itu barusan. Itu seperti sebuah fan fiction yang pernah kubaca." Perempuan itu juga mengulum sebuah senyuman -- yang mungkin di mata Aldo itu seperti sebuah ejekan.

"Soal orang yang ikut audisi, lalu menang, yah aku pernah dengar juga. Jangankan di Indonesia, di sini lebih sering mengadakan audisi. Tahu sendiri kan, jumlah boyband dan girlband di Korea ini banyak banget.  Dan....."

"Ah, nanti saja kita bahas lagi," ucap Kimi tersenyum. "Sebentar lagi kita mau sampai."

 *****

Rumah kediaman keluarga Kim begitu mewah. Berada di daerah pesisir, dan hampir tak bertetangga. Sejauh mata memandang, baik di kiri-kanan-depan-belakang rumah yang seperti istana tersebut, nyaris tak ada sama sekali rumah lain. Mungkin karena situasi seperti itulah, ayah Kim Sarang akhirnya memutuskan menggunakan jasa petugas keamanan. Memang agak rawan juga tingkat keamanannya.

Letak geografis rumah bak istana itu sendiri tak jauh berbeda dengan rumah Aldo yang berada di kota Tangerang. Secara peta global, nama kota yang masuk wilayah provinsi Banten itu kan nyaris jarang sekali tertulis. Tak ayal, turis-turis awam tak pernah tahu nama kota tersebut. Buntutnya, itu bagian paling menyebalkan, seringkali turis yang kali pertama bertandang ke Indonesia, mereka tak sadar sudah berada di kota yang penuh dengan pabrik tersebut. Kebanyakan dari mereka lebih mengira telah tiba di ibukota dari Indonesia.

Kurang lebih seperti itulah posisi tepatnya rumah keluarga Kim. Rumah mewah itu terletak di kawasan Dokji-ri, yang sedikit melewati kawasan Ansan yang berada tak jauh dari Seoul. Bukan berada di dalamnya persis juga. Dekat kawasan itu sebetulnya, dan lebih beringsut ke arah Laut Kuning yang menjembatani antara Republik Rakyat China dengan Semenanjung Korea. Daerah dimana keluarga Kim tinggal juga tak jauh dari Daebudo, daerah yang sering jadi destinasi para turis mancanegara. Yah walau Daebudo tak bisa menyaingi pesona dari Pulau Nami, Gyeoungju, Daegu, Busan, atau pun Pulau Jeju.

Kim Sarang dulu sering mengeluhkan letak rumah mereka yang begitu jauh dari mana-mana. Maksudnya itu, rada sulit untuk mencapai beberapa tempat favorit. Tak usah jauh-jauh ke Busan yang terletak di ujung Korea. Untuk mencapai Seoul saja, Kim Sarang perlu waktu berjam-jam, dan itu harus ditempuh dengan beberapa kendaraan. Untung saja perempuan itu sudah mengantongi surat ijin mengemudi. Sedikit mempermudahnya untuk pergi ke tempat yang ia suka.

Ah, tapi beruntung banget keluarga Kimi bisa tinggal di daerah seperti ini. Benar-benar eksklusif. Nggak heran sih kalau tahu latar belakang ayah Kim Sarang yang pernah bekerja di kedutaan besar Jepang. 

Aldo menekuri pemandangan yang luar biasa dahsyat yang ia tangkap dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Jujur saja, dalam lubuk hati terdalam, ia merasa iri. Iri sekali dengan segala hal yang dimiliki keluarga Kim. Keluarganya tak seperti keluarga Kim. Ayahnya hanyalah pensiunan dari sebuah perusahaan multinasional yang memiliki kantor di kawasan Jakarta Selatan. Ibunya seorang ibu rumah tangga. Rumahnya memang berada di kawasan elit yang ada di kota Tangerang -- Gading Serpong. Tapi tetap saja tak seluas rumah Kim ini.

Ah... 

Aldo menghela napas. Di saat itu, ada seseorang yang masuk. Lelaki itu membalikan tubuhnya. Dan, ternyata itu bukan Kim Sarang. Itu Kim Min-soo, adik perempuan Kim Sarang yang satu lagi. Gadis berambut pendek sebahu ini sebaya dengannya.

Jantung Aldo berdebar-debar. Bukan, itu bukan karena perasaan cinta yang timbul. Lagipula bagaimana bisa jatuh cinta? Apalagi Aldo bukan tipe orang yang percaya akan kebenaran teori 'cinta pada pandangan pertama'. Yang bisa membuat Aldo bergetar itu karena ia ketakutan harus membalas dengan apa; dengan bahasa apa tepatnya. Pastinya Kim Min-soo tak bisa bahasa Indonesia. Sementara bahasa Inggris seorang Aldo pun masih diragukan. Pula dengan bahasa Jepang. Walau begitu gembiranya bisa pergi ke Tokyo, lelaki itu sama sekali tak paham bahasa tersebut.

Kim Min-soo tersenyum padanya. Aldo jadi tambah deg-degan. Aduh, kata dalam bahasa apa yang harus ia keluarkan nantinya? Otaknya mulai berpikir cepat.

"Hi," sahut Kim Min-soo.  Gadis itu mengangsurkan tangannya yang memiliki kepalan begitu mungil dan lucu.

Aduh, mampus gue. Dia kayaknya ajak kenalan lagi. Ngapain sih? Kan waktu itu udah.

Adik dari Kim Sarang itu mengikik.

"Nande -- kenapa?" kata Aldo spontan. Jujur saja, kata terakhir itu keluar begitu saja dari bibir. Yah walau ia tahu memang arti kata tersebut.

"Omoshiroi -- lucu," balas Kim Min-soo. "Anata (Di telinga Aldo, itu terdengar sebagai anta) wa totemo omoshiroi."

Aldo terkekeh, membungkukan badan. "Kamsahamnida."

Sekarang Kim Min-soo jadi terkekeh.  Aldo jadi mengernyitkan dahi. Ia tidak bingung juga. Dalam hati, ia tahu pasti kenapa gadis ini tertawa. Pasti karena penggunaan bahasanya yang campur-campur. Makanya ia sedikit nyengir juga.

"Yaa, bunmyeonghi yeogie," seru Kim Sarang yang melengos saja masuk. Pintu kamar Aldo memang terbuka separuh. "Eomma menyuruhku memanggilmu, Succhan. Kamu tahu kan, hanya kamu yang bisa diandalkan Eomma di dapur. Apalagi Eomma butuh bantuan untuk memasak kimbab."

"Eonni,..." sungut Kim Min-soo. "...Eonni ini mengganggu saja. Saekki-a -- brengsek!"

"Buat apa juga kamu mendekati lelaki model begini? Dia itu..." Kimi beringsut lebih dekat kepada adiknya. Ia membisikan sesuatu sembari sesekali memandangi Aldo dengan jahil. "... tahu kan maksudku? Apalagi dia juga sedikit tak waras."

Aldo sudah merasakan sedikit tak enak. Ia berfirasat, jangan-jangan ia sedang diledek? Ah, andai saja ia bisa bahasa Korea. 

"Mugwansim -- masa bodoh!" tukas Kim Min-soo. "Laki-laki ini lumayan tampan kok. Aku suka. Apalagi aku juga sudah ingin sekali bisa memiliki kekasih orang asing. Yang ini kan juga beda dari kebanyakan orang asing yang pernah kupacari. Ia dari Indonesia, Eonni."

"Tapi pilih dulu laki-lakinya seperti apa. Aku sih ogah berpacaran dengan seorang fans tak waras seperti dia." ujar Kimi terkekeh. Perasaan Aldo jadi tambah tak enak. Sebab Kimi memandanginya lagi. "Dan lebih baik kamu segera hampiri Eomma. Geogie ppaleun. Hayaku -- ayo buruan!"

Kim Min-soo tertatih meninggalkan kamar Aldo. Gadis itu berat sebetulnya. Ia ingin mengenal lebih lanjut soal laki-laki yang datang tiba-tiba ke rumah. Gara-gara insiden bahasa berlepotan itu, gadis itu berpikir bahwa Aldo merupakan lelaki humoris. Dari dulu, Kim Min-soo selalu menyukai lelaki humoris, di luar wajah rupawan dan fisik perkasa. Kelebihan lainnya, Aldo orang Indonesia -- orang asing, di mata Kim Min-soo dan segenap warga Korea lainnya.

"Hei, tadi adikku bilang apa ke kamu?" tanya Kimi nyengir. "Oh iya, aku lupa. Joesonghamnida -- maaf. Aku lupa -- kamu kan tak bisa bahasa Korea yah, Mousou Wota."

"Mousou Wota?" Aldo mengernyitkan dahi. "Apa itu Mousou Wota?"

"Iya, itu julukan untuk kamu, wota yang suka mengkhayal, yang suka berdelusi yang tidak-tidak." Dan Kim Sarang pun terbahak penuh kemenangan.






 Bersambung.....


NB:
* Yaa, bunmyeonghi yeogie: Hei, ternyata kamu di sini.
** Anata wa totemo omoshiroi: Kamu lucu sekali.