Thursday, October 2, 2014

SERIAL FAN FICT: Episode 4 - Wota Nyasar di Korea






Biar tak bingung, baca dulu episode-episode sebelumnya: 1, 2, 3.


Selama ini, menu sarapan Aldo tak jauh-jauh dari nasi uduk, mi instan, roti, atau nasi goreng telur bebek buatan Mama. Kali ini sarapannya begitu berkelas dunia. Ups, mari kita persempit sedikit. Tepatnya lagi, kelas Korea. Walaupun tak sepenuhnya Korea.

Untuk sarapan kali ini, di saat munculnya pendatang baru, menu sarapan keluarga Kim lebih bertema Korea. Ada bubur jeon bokjuk -- dengan taburan kerang abalone berkualitas, yukgaejang, sundubu jjigae, serta minuman sikhye. Kenapa ada kata 'kali ini'? Menurut penuturan Kimi, itu semua karena sosok Aldo. Lelaki itu mengira gadis itu hanya mengada-ada. Karena itulah, pernyataan gadis itu tak serta merta membuat kedua pipinya memerah. 

Tuan Kim Jae-sun terbahak mendengar celetukan Kimi barusan. Namun tak memungkiri juga kebenarannya. Nyatanya, sehari-hari, nyaris malah, sarapan keluarga Kim lebih bertema Western yang jauh lebih sederhana. Hanya makan dua tangkap roti bakar dan segelas susu coklat. Atau jikalau bosan, mereka akan minta dibuatkan nasi goreng. Kalau tidak, sarapan ala Jepang juga pernah dilakoni. Hanya makan tamago -- telur -- dengan dibubuhi bumbu seadanya, lalu mereka berangkat menuju aktivitas masing-masing.

 Di luar soal menu sarapan, Aldo begitu takzim akan keramahan keluarga Kim. Tak terkesan dibuat-buat (karena kedatangan mendadak seorang tamu dari negara lain). Segalanya terlihat natural. Ia ingat sewaktu dirinya nyaris menunjukan kebiasaan makan ala Indonesia -- tanpa menggunakan sendok maupun garpu. Kim Jae-sun, istrinya, dan kedua anaknya -- kecuali Kim Sarang -- jadi termangu. Begitu diperingati secara tak langsung oleh ayah Kim Sarang: "Ha-ha-ha, mungkin seperti itu yah cara makan di Indonesia", terburu-buru Aldo mengambil sendok dan garpu. Maklum saja, laki-laki itu lebih seringnya makan dengan menggunakan tangan saja; dan itu seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya. 

Selain itu, ada sisi lain yang sedikit mencurigakan bagi Aldo. Karena kedekatan meja makan dengan ruang tengah, dan mungkin biar terasa lebih semarak, televisi yang ada di ruang tengah dihidupkan. Di tengah-tengah jamuan tersebut, televisi itu menayangkan sebuah cuplikan dari konser sebuah boyband ternama. Adalah Big Bang, nama boyband tersebut. Seketika itu, atmosfer di meja makan berubah drastis. Appa dan Eomma dari Kim Sarang saling menggerutu dan memasang tampang masam. Sang adik mendadak melamun tanpa ekspresi -- sembari tersenyum tipis.

"Kimi," sahut Aldo, setelah hanya menyisakan dirinya dan gadis itu.

"Yah," Kimi tersenyum.

"Kayaknya tadi kulihat, suasana jadi sedikit berubah setelah adanya tayangan Big Bang tadi. Memangnya ada apa dengan boyband tersebut? Yah itu juga kalau kamu nggak keberatan."

Gadis itu hanya terkekeh, tak menjawab.

"Kenapa ketawa?" Aldo jadi semakin bingung.

"Daripada mengurus sesuatu yang bukan urusanmu juga, kamu mau nggak keliling Seoul bareng aku?"

Aldo terkekeh. Sedetik ia memutar bola mata. Ia tahu, tak seharusnya ia mencampuri urusan rumah tangga seseorang, apalagi yang beda negara.

"Jangan hanya tertawa saja, tertawa itu bukan sebuah jawaban. Jawab saja: kamu mau atau nggak?" Kimi nyengir, menunggu jawaban.

"Boleh deh," balas Aldo nyengir. "Walau dari awal lebih tertarik mengunjungi Jepang, aku kan tetap nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Jalan-jalan keliling kota Seoul dengan dibayarin, siapa juga yang mau nolak."

"Eh, kata siapa gratis?" goda Kimi. "Ada harganya tahu."

"Yaaah.... jangan gitu dong..."

"Tenang," kata Kimi dengan senyum yang berusaha menenangkan. "Aku tahu, kamu nggak punya sedikit pun uang Korea. Makanya aku memberikan..." Ada jeda. "...sedikit kelunakan untuk kamu. Kamu bisa bayar utangmu saat kita di Indonesia nanti. Dan bayarannya nggak menggunakan uang juga. Jadi kamu tenang saja."

*****

Tadinya Aldo ingin sering dipandu Kimi mengunjungi Seoul Olympic Stadium. Stadiun yang dibuka kali pertama saat olimpiade sungguh menarik perhatiannya. Apalagi Olympic Hall-nya. Setelah bangun pagi, sebelum Kimi main selonong saja masuk, dirinya sempat membuka Twitter. Lewat timeline, ia tahu bahwa HKT48 tengah berada di Seoul. Kabarnya sih, hari ini idol group asal kota Hakata, Fukuoka itu bakal mengadakan konser sekaligus event handshake dan two-shoot di Seoul Olympic Hall. Tak hanya itu, beberapa idol group dari negeri tetangga Korea itu juga bakal hadir. Ada Momoiro Clover Z, C-ute, dan Morning Musume. Tak lupa pula pop group asli Korea juga hadir. Salah satunya 2NE1.

"Itulah ciri khas manusia yang aku kurang begitu suka," keluh Kimi sebagai jawaban atas permintaan Aldo. "Entah kenapa, tiap mengunjungi suatu negara, mereka selalu saja memilih untuk mendekati pusat-pusat hedonismenya. Sampai mereka lupa bahwa negara yang mereka kunjungi memiliki banyak tempat menarik yang lebih indah. Ketimbang mengunjungi Olympic Hall, kamu lebih baik mengunjungi tempat-tempat lainnya. Seoul ini memiliki banyak tempat yang lebih layak dikunjungi."

Dan... ke Jembatan Mapo-lah, laki-laki tersebut dibawa Kimi. Tapi tidak benar-benar mengunjungi lokasi yang sebetulnya bisa dibilang angker tersebut. Kimi hanya membawa Aldo ke suatu tempat dimana Jembatan Mapo terlihat. Tempat itu masuk ke dalam ranah distrik Yeongdeungpo, masih masuk bagian kota Seoul juga.

"Nggak usah tegang begitu," ucap Kimi tersenyum. "Ini masih siang hari, masih jam sebelas siang. Mungkin hantu-hantunya juga sedang tidur siang."

"Ngapain sih bawa aku ke tempat kayak gini, Kim?" Bulu roma Aldo masih berdiri. "Jembatan itu kan bukannya tempat lokasi bunuh diri paling terkenal di negara ini yah."

Kimi mengangguk, menekuri pemandangan sungai Han yang memisahkan Yeongdeungpo dengan distrik Mapo.

"Pemandangan di sini indah kan?!" pekik Kimi tanpa melihat Aldo. Mata gadis itu masih tertuju pada sungai Han dan daratan di seberang distrik Yeongdeungpo. Untung saja, hari ini cukup begitu sepi di trotoar yang nanti akan menyatu juga dengan Jembatan Mapo.

"Kim, apaan sih kamu ini? Nggak usah teriak-teriak begitu, nggak enak dilihatin orang."

Kimi terkekeh melihat ekspresi Aldo yang begitu risih dengan aksi kekanak-kanakannya itu. Sementara Aldo hanya berdecak-decak gemas.

"Kenapa yah nyaris setiap turis mancanegara itu selalu jaim di negara yang didatanginya?"

"Memang kamu tahu apa itu jaim?"

"Aku tahu-lah, jaga image kan," Kimi tersenyum ke arah Aldo. "Asal kamu tahu, sebelum aku kuliah di Indonesia, aku sudah belajar secara otodidak bahasa ibumu. Aku juga sudah mempelajari segala kebiasaan orang Indonesia umumnya. Makanya aku nggak kaget kan lihat cara makanmu tadi pagi." Terkekeh.

Aldo tersentak. Sumpah ia begitu terusik dengan kata-kata yang diucapkan Kimi barusan. Itu sungguh membangkitkan kembali rasa cinta tanah airnya.

"Nggak usah bingung begitu," Kimi begitu geli melihat rupa Aldo. "Aku rasa, itu bukan sesuatu aneh jika ada orang asing yang mendadak lancar berbicara dalam bahasa ibu kita. Kadang aku suka bingung sama kekaguman berlebihan kalian -- orang Indonesia. Ada bule lancar bahasa Jawa, takjub. Ada orang Jepang menyanyikan lagu Indonesia, kalian begitu terkesima menontonnya. Seolah-olah kalian baru bertemu alien saja."

Aldo terkekeh. "Tapi itu bukan sifat umum orang Indonesia juga, Kim. Aku punya teman orang Jepang yang terkaget-kaget melihat aku dan teman-teman Indonesia-ku yang lancar membaca kanji."

"...dan selalu ngeles..." ujar Kimi nyengir. "...ah akhirnya aku tahu juga artinya. Jujur saja, bahasa Indonesia memiliki banyak kata sama yang memiliki arti yang berbeda.  Itu sempat menggangguku dalam mempelajarinya."

"...tapi bahasa Indonesia-mu luar biasa bagus, Kim. Kamu jadi lebih mirip orang Indonesia ketimbang Korea."

Kim Sarang tergelak keras. Menyusul kemudian Aldo. Dan beberapa pejalan kaki mulai memerhatikan mereka berdua. Mungkin  para pejalan kaki itu penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.

"Oh iya, kamu tahu kenapa aku ajak ke sini?"

Aldo menggeleng sembari berusaha dinginnya udara terbuka Yeongdeungpo yang begitu menggigit tulang.

"Hari ini tepat tiga tahun adik laki-lakiku, Kim Nami, meninggal. Ia bunuh diri di jembatan ini." kata Kimi dengan mata menerawang entah kemana dan nyaris tanpa senyum. Kalaupun terlihat, mungkin perlu keseksamaan dalam melihat senyuman yang terbit di wajah seorang Kim Sarang.




Bersambung...



NB:
* Yukgaejang: Sup daging sapi pedas khas Korea
** Sundubu jjigae: Sup tahu pedas
*** Sikhye: Minuman khas Korea yang terbuat dari nasi yang difermentasikan dengan tepung ragi.

6 comments:

  1. loh, udah nyampe episode 4. mesti balik lagi ke episode awal nih :3

    ReplyDelete
  2. Wih, baru ditinggal sebentar udah sampe yg keempat aja. Masih bersambung lagi, ya.... Kayaknya beneran bakal sampe akhir tahun nih, hehe....

    Kimi ternyata tau jaim juga toh :))

    Btw, akhir-akhir ini aku lagi seneng makan langsung pake tangan juga. Ternyata rasanya jadi tambah nikmat :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, aku juga lebih seneng makan pake tangan, hahaha

      Delete
  3. Agak misteri ya atmosfer yang tercipta saat muncul kilasan konser Big Bang
    Hmmm...

    *Naluri detektif menyala*
    *Kebanyakan baca conan*

    P.S.
    Yukgaejang ini bentuk nya kayak apa bang?
    Di Padang lagi melimpah daging nih. Siapa tau bisa dibikin Yukgaejang.
    Itu kalo gampang dibikin sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bentuknya seperti ..... Coba digoogling... :p

      Delete
  4. mantap ada peningkatan ni sarapannya hehehehe

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^