Thursday, October 2, 2014

SERIAL FAN FICT: Episode 3 - Wota Nyasar di Korea





Biar tak bingung, baca dulu episode-episode sebelumnya: 1 dan 2.


Ini kali pertama Aldo merasakan tidur yang benar-benar nyenyak. Bagaimana tidak nyenyak, ia kan bermalam di sebuah rumah yang nyaris seperti kastil. Ternyata Kim Sarang itu berasal dari keluarga yang berada. Kelewatan beradanya.

Kim Sarang, gadis berambut panjang dengan wajah nyaris sempurna -- tanpa adanya jerawat sedikit pun, merupakan anak dari seorang mantan duta besar Korea Selatan untuk Jepang. Dulu pernah tinggal selama enam tahun di Jepang. Tak ayal, gadis bertinggi badan 166 itu bisa membaca goretan-goretan kanji di syal milik Aldo.

Aldo beristirahat di salah satu ruangan kosong yang ada di rumah Kimi; kurang lebih ada lima ruang kosong yang kebanyakan berfungsi sebagai kamar tidur. Bisa dibilang kamar yang lelaki itu tempati itu tak terlalu luas, namun pula tak terlalu sempit. Kamar itu berada di lantai dua;  begitu dekat dari tangga yang menuju ke loteng.

Dengan mata masih terasa sulit untuk membelalak selebar-lebarnya, mata Aldo mulai menjelajahi ke seluruh sudut kamar tersebut. Walau kata Kimi, kamar ini sudah jarang ditempati, tempat ini tetap terawat. Ondol dan sistem penghangat ruangannya bekerja luar biasa. Ia bisa tidur tanpa giginya harus bergemelutuk. Saat awal memasuki, ia tak menemukan adanya debu atau sarang laba-laba. Kim bilang sih: "Abeoji bilang, walau jarang ditempati, kebersihan tetap harus dijaga. Bahkan gudang pun, menurut Abeoji, tetap harus terlihat rapi dan bersih dari debu. Sepertinya Abeoji begitu benci sekali dengan yang namanya debu."


Aldo jadi mengikik sendirian. Ia merasa, Abeoji-nya Kimi itu begitu mirip dengan mamanya di Tangerang. Mama juga begitu dulu. Selalu saja berkoar-koar soal kebersihan dan kerapian rumah. Pokoknya rumah harus selalu rapi, tak boleh berantakan. Meja sebisa mungkin harus bersih dari segala benda -- selain pot, asbak, dan taplak -- serta dari noda. Lantai harus bersih pula dari debu atau bekas kaki atau alas.


Hi-hi-hi, aneh juga. Justru ia menemukan sosok yang begitu mirip dengan Mama sewaktu berada jauh dan sosok itu merupakan seorang laki-laki; bukan perempuan.


Oh yah, Aldo sungguh penasaran dengan televisi Korea. Bukan, bukan secara penampilan fisik. Secara fisik sih, televisi di Korea tentu tak jauh berbeda. Lihat saja televisi yang ada di kamar. Televisi ukuran 21 inch ini kan juga sama dengan yang ada di ruang tengahnya. Mereknya juga sama; sama-sama merek Toshiba. Hanya saja, yang Aldo ingin tahu itu ialah isinya. Langsung saja lelaki itu beringsut ke arah lemari dimana televisi itu diletakan. Ia ambil remote control, balik ke tempat tidur, dan sibuk memilah-milah kanal yang ada.


Ah, ini sih kurang lebih sama dengan di Indonesia, begitu pikirnya setelah berpindah dari satu kanal ke kanal lainnya. Ada gosip, ada acara musik juga, ada pula berita politik yang tak kalah memanas dari yang ada di Indonesia. Malah berita politiknya begitu heboh sekali. Tampak tiap acara news di negeri ini begitu sibuk meliput hubungan bilateral antara Korea dengan Jepang. Terlebih lagi menyangkut kasus perebutan pulau.


Bedanya dengan di Indonesia, mungkin kanal di Korea Selatan jauh lebih banyak. Di Indonesia, seingatnya itu, ada kanal-kanal seperti: TVRI, RCTI, SCTV, Indosiar, MNC, Anteve, Trans TV, Trans 7, Global TV, Metro TV, Net, TV One, JakTV, O Channel, hingga Kompas TV. Yah kurang lebih ada dua puluhan stasiun televisi non-berbayar. Bandingkan dengan kanal-kanal yang ada di sini. Lebih banyak lagi. Ada: Arirang, SBS, MBC, Chunghwa TV, KBS, JTBC, YTN, Orion, Olleh TV MNet, TVB, TVN, dan masih banyak lagi.


Eh, apa ini? 

Mata Aldo terbelalak. Siapa sangka ia bisa menemukan sesuatu dari Indonesia tengah ditayangkan di salah satu televisi Korea. Wow. Lebih spektakulernya lagi, sesuatu itu bernama JKT48. Ia sangka, penampilan JKT48 hanya terdengar sampai Jepang saja. Ternyata hingga Korea pun, idol group itu juga terdengar. Thea, kekasih gelapnya, harus tahu soal ini. Tergesa-gesa ia mengambil ponsel yang ada di ransel. Ia buka browser dan...

Astaga, ada yang masuk. Aldo panik. Televisi masih menyala. JKT48 masih berada di televisi tersebut. Dan yang masuk ke dalam kamar ialah Kimi. Gadis itu terkekeh, geleng-geleng kepala juga. Dilihat-lihat, walau hanya mengenakan piyama, Kimi tetap cantik. Padahal rambutnya agak berantakan dan belum dipolesi riasan wajah. Lelaki itu begitu terkesima dengan kecantikan alami seorang Kim Sarang.

"Wah, wah, wah," ujar Kimi. "Masih jam setengah delapan pagi, kamu sudah menghidupkan televisi dan melihat penampilan sebuah idol group. Luar biasa memang semangat dan jiwa wota kita ini."

"Bawel." tukas Aldo. "Suka-suka aku. Lagian nggak ada larangan kan di rumah ini, aku nggak boleh menghidupkan televisi di jam segini?!"

"Memang nggak ada. Walau begitu sensitif soal kebersihan, Abeoji itu orangnya demokrat. Aku saja sering menonton hingga larut malam." kata Kimi sembari berjalan mendekati Aldo.

"Pasti asyik menonton drama-drama Korea," celetuk Aldo nyengir.

"Sok tahu kamu ini. Aku malah kurang begitu menyukai drama-drama di sini. Menurutku, drama-dramanya terlalu cengeng, terlalu menjual mimpi, dan terlalu tak masuk akal. Jujur saja, aku lebih menyukai serial-serial televisi dari Inggris Raya. Salah satunya itu, serial Sherlock Holmes."

Mata Kimi mulai beranjak ke sesuatu yang dipegang Aldo. Gadis itu tangkas meraih tangan Aldo dan melihat isi ponsel lelaki tersebut. Spontan Aldo begitu terkejut; keringat mulai mengucur di dahi.

"Sudah menonton idol group di jam setengah delapan pagi, kamu juga sibuk mengakses Facebook. Dasar orang Indonesia! Kecanduannya terhadap social media sulit disembuhkan."

"Ngapain ngintip-ngintip?" sembur Aldo, yang merebut kembali ponselnya dengan cukup susah payah.

Kimi terkekeh.

"Ngapain juga sih masuk ke kamar tanpa ketuk pintu?"

"Kamu lupa yah? Kamu ini lagi di rumahku. Jadi terserah aku dong -- mau ketuk atau nggak. Lagian aku masuk kan buat mengajak kamu sarapan pagi. Disuruh Abeoji juga sih."

"Oh, ya udah," kata Aldo yang segera menutup browser. Ia beranjak berdiri dan segera mematikan televisi.

"Anyway, maaf sebelumnya, tadi aku sempat melihat profil Facebook kamu. Dan aku lihat, ternyata kamu sudah memiliki pacar yah? Statusnya soalnya in complicated."

 Tak digubris oleh Aldo. Lelaki itu lebih memilih berjalan, menghampiri pintu, dan segera menuju lantai dasar. Bukankah ruang makan keluarga Kim terletak di sana, begitu dekat dengan ruang tengahnya.

"Kamu lagi ribut sama pacarmu yah? Bisa kutebak, pasti penyebabnya itu karena fanatisme-mu terhadap 48. Nggak heran sih aku. Tiap perempuan pasti akan kesal sama pacarnya yang nggak bisa mengontrol fanatisme. Siapa juga perempuan yang bisa tahan tidak cemburu melihat pacarnya menyimpan banyak foto perempuan cantik di ponselnya." kata Kimi, kemudian tergelak lepas.

Gadis itu semakin tergelak melihat bentuk bibir Aldo yang menekuk ke bawah. Apalagi lelaki itu juga membalas kata-kata si gadis: "Cerewet kamu yah. Udah cerewet, sok tahu pula!"

"Jadi aku benar nih?" goda Kim dengan tatapan yang sungguh mengganggu Aldo.

Lebih baik Aldo diam. Kimi pasti tak akan memercayai segala ceritanya. Pasti gadis ini akan mengira lelaki ini tengah berdelusi. Bagaimanapun, betapa jarang sekali ditemukan kasus orang biasa memacari seorang selebritas, seorang idola. Kalaupun percaya, ia takut kisah cinta rahasianya dengan Thea bisa segera terkuak. Kasihan Thea kan jadinya.