Wednesday, September 24, 2014

SERIAL FAN FICT: Wota Nyasar di Korea - episode 1




Hai, semuanya. Masih ingat dengan serial "Dilema JKT" nggak? Itu lho serial fanfict bersambung yang menceritakan mengenai salah seorang siswi SMA untuk menjadi bagian dari idol group pertama (katanya) di Indonesia bernama JKT48. Saking gigihnya, sang tokoh utama -- Thea -- sampai memiliki dilema tersendiri: bagaimana kelanjutan hubungannya dengan sang kekasih? 

Serial ini berakhir di episode ketujuh. Kenapa cuma mentok di angka tujuh? Karena awalnya serial "Dilema JKT" ini proyek coba-coba. Dan ternyata melebihi ekspektasi. Episode pertama dan ketujuhnya dilihat hingga ratusan kali. Wow! Bahkan sempat ada beberapa pembaca yang gemas kenapa ending-nya seperti itu. Banyak yang minta agar dilanjutkan saja. Banyak juga yang penasaran soal nasib Thea yang sudah diterima menjadi rekan dari Shania Junianatha (Pembaca nggak usah protes dan bertanya deh! :p ). 

Oke, sepertinya tak ada salahnya jika aku teruskan. Tapi kali ini bukan soal jepang-jepangan lagi, kawan. Nggak ada lagi bahas soal AKB48, JKT48, atau pun saudara-saudaranya yang lain. Kali ini, tema kali ini ialah Korea. Tokoh utamanya bukan Thea lagi, melainkan Aldo. So, check the story out, guys! =D




Aldo cengar-cengir menatap layar laptop. Entah sudah berapa kali ia terus menerus memutar rekaman video tersebut. Itu rekaman sewaktu berada di JKT48 theater. Ia memang fan dari JKT48. Sejak idol group yang dikapteni oleh Melody itu kali pertama muncul di belantika musik tanah air, tak terhitung sudah berapa kali menyambangi tempat idol group itu biasanya berkonser. Namun kali ini terasa begitu istimewa. Sebab ada seseorang yang berada di atas panggung tersebut.

Alethea Anastasia akhirnya diterima jadi member JKT48. Gadis itu masuk ke dalam bagian tim trainee. Tim trainee itu biasanya lebih sering tampil di teater. Manajemen JKT48 tampaknya lebih senang mengirimkan member-member yang lebih senior untuk tampil di televisi atau konser-konser besar lainnya. Atau mungkin para penonton televisi kita lebih mengakrabi member-member seperti Melody, Nabilah, Ve, Kinal, Ghaida, atau yang berada di tim KIII, Cindy Yuvia. Cukup bisa dihitung dengan tangan, jumlah tampil di televisi para member yang berada di tim trainee.

Laki-laki yang sekarang memanjangkan rambutnya itu menghela napas. Sesekali ia menggelengkan kepala sembari menerbitkan sebuah cengiran yang makin lebar. Thea yang pada dasarnya sudah cantik (Bahkan gadis itu berani sekali bilang -- ia lebih cantik dari Melody), jadi semakin cantik dengan kostum yang sering dibawakan member ketika membawakan setlist 'Tsundere'. Gadis itu jadi begitu terlihat menggoda.

Ketimbang fans-fans lain, Aldo tak perlu repot-repot untuk mendapatkan photopack Thea. Jangankan photopack, di ponselnya saat ini cukup banyak foto Thea. Baik itu foto Thea yang sedang berpose sendiri, maupun saat berfoto bersama dirinya.

Dulu sekali, sebelum Thea menjadi member, lelaki itu memiliki suatu obsesi. Obsesi ini cukup aneh. Sampai Aldo tak berani mengutarakan obsesi ini ke pacarnya. Bagaimana tidak, ia terobsesi bisa menjadi kekasih dari salah satu member. Ia sering berdelusi kalau saja Stella Cornelia itulah kekasihnya. Ingin rasanya ia bisa berpacaran dengan seorang selebritas. Pasti menyenangkan bisa memacari member JKT48 yang sering bolak-balik Indonesia-Jepang. Siapa tahu saja, dengan memacari salah seorang member, bisa mempermudahnya untuk menemui oshimen-nya di AKB48, Minami Takahashi.

Oke, itu ngawur sekali. Sebagai fan, ia sudah cukup paham betul soal JKT48 dan segala aturannya. Apalagi aturan no dating rule yang sempat membuat hubungannya dengan Thea menegang. Pada akhirnya hubungan mereka tetap langgeng. Kini status hubungan mereka, untuk amannya, ialah hubungan tanpa status. Kalau kata Maia Estianty lewat salah satu singel, Thea itu bagaikan teman tapi mesra untuk seorang Aldo. Hubungan secara backstreet sempat mereka lakoni. Namun hanya kuat selama dua bulan. Karena nyaris kepergok tengah jalan bareng oleh salah satu fan, mereka berdua sepakat bahwa hubungan tanpa status merupakan jalan terbaik.

Puas menikmati penampilan panggung Thea, Aldo mengarahkan kursor pada ikon Mozilla. Ia hendak mengecek surel. Temannya, Zacky berjanji mengirimkan tugas paper ke surelnya paling lambat malam ini. Ia dan Zacky merupakan rekan sekelompok untuk tugas mata kuliah 'Manajemen Operasi I'. Mereka sepakat untuk membagi tugas dalam pembuatan paper. Zacky mengerjakan tiga bab awal, ia mengerjakan sisanya. Memang hanya dua bab, tapi ia kan yang menyempurnakan paper tersebut.

Matanya melotot. Di kotak masuk, ada sebuah surel yang menarik perhatian matanya. Bukan, bukan surel dari Zacky. Bukan juga beberapa surel berbahasa Inggris yang sering mengajaknya untuk mendonasikan sejumlah besar uang untuk proyek yang belum pasti. Tanpa pikir dua kali, ia langsung mengeklik. Tangannya spontan mengepal erat. Diacungkan tinggi-tinggi salah satu lengan. Yess, begitu tuturnya dalam hati, namun bibirnya komat-kamit.

*****

Begitu mendengar pengumuman tersebut, dengan gagahnya ia menyeret koper untuk segera menuju pesawat yang menuju ke bandara Narita. Untung saja tur ke Jepang -- negara impiannya -- diadakan di bulan Desember. Lebih luar biasanya lagi, ia tak perlu mengambil cuti. Tak perlu minta ijin pihak kampus karena mungkin tidak akan begitu sering di kampus. Kampusnya sudah tidak ada aktivitas lagi. Ia sudah selesai melakoni ujian demi ujian.

Jepang, Jepang, Jepang. Menurut rencana tur, petualangannya dimulai dari Tokyo dan berakhir di Hokkaido. Walau kecil kemungkinan bisa bertandang ke AKB48 theater, sekiranya ia bisa melintas sewaktu berada di ibukota negeri sakura tersebut. Sambil menatap jendela dan memandangi awan yang berundak-undak, ia sudah membayangkan bisa bertemu mendadak dengan Takamina -- julukan dari oshimen-nya tersebut.

"Baru pertama kali ya ke Korea?" tegur penumpang pesawat yang merupakan seorang perempuan. Sepertinya sebaya dengannya.

Kata-kata gadis berwajah oriental itu memupuskan khayalannya. Ia mengerutkan dahi. Korea? 

Ia nyengir, "Kok Korea sih? Kita kan mau ke Jepang?"

Ganti si perempuan yang mengerutkan dahi. Nyaris saja si perempuan itu tergelak tawa yang cukup kencang. "Jepang? Kamu ini melindur yah? Pesawat ini kan menuju ke Korea."

"Korea?" Ia tergelak. "Kamu tuh yang ngelindur. Kita ini mau ke Jepang. Dan yang duduk di daerah ini juga para pemenang yang beruntung dapat kesempatan liburan gratis ke Jepang. Kalau nggak salah ada dua puluhan orang. Kalau kamu nggak percaya, mending tanya aja ke mbak-mbak yang duduk di sana." Aldo menunjuk ke arah pemuda yang sepertinya berusia di atas 30, yang duduk di pojok kanan.

Perempuan itu menggeleng-geleng gemas. Ia memanggil salah seorang pramugari yang dilihatnya sedang berdiri di dekat pintu toilet. Begitu beringsut padanya, perempuan itu berucap dalam bahasa Inggris. Lalu jawab si pramugari, "Yah, memang pesawat ini akan menuju Korea."

"Lihat," kata perempuan itu menelengkan kepala, tersenyum. "Kamu bisa bahasa Inggris, kan? Mbak pramugari itu sendiri yang bilang, pesawat ini menuju Korea."

Aldo mematung. Melongo. Mengapa bisa terjadi seperti ini? Masa ia bisa salah naik pesawat? Nanti bagaimana saat tiba nanti. Ini kan sama saja, dirinya bagaikan seorang penumpang gelap. Aduh, ia jadi bergidik membayangkan berapa biaya yang harus dibayarkan saat ia memberitahukan pihak imigrasi bahwa dirinya salah naik pesawat.

Si perempuan terkekeh. "Kamu kenapa sih?"

"Eeee... gi-gimana yah bilangnya...." Aldo mulai pucat pasi. Digenggamnya erat-erat pegangan tempat duduknya.

Makin lebar saja tawa si perempuan. "Jangan bilang kamu ini salah naik pesawat."

Ia mengangguk pelan.

Nyengir. "Oh iya, aku ingat, tadi di bandara ada rombongan tur yang menuju ke Jepang. Jangan-jangan kamu belum sempat ketemu sama rombongan itu lagi?"

Ya ampun, Aldo teringat sesuatu. Yah, dia sepertinya belum bertemu rombongan tur tersebut. Begitu sampai bandara Soekarno-Hatta, begitu mendengar pengumuman di bandara -- dan mungkin ia salah dengar, ia main selonong saja masuk ke garbarata yang menghubungkan pesawat yang menuju Korea.

"Ya udah, nggak usah khawatir begitu," ucap perempuan itu. "Nanti aku bantu jelasin ke pihak imigrasinya deh."

"Makasih."

"Oh yah, nama kamu siapa? Kenalin -- " Perempuan itu menyodorkan tangan. " -- aku Kim Sarang. Aku mahasiswi Korea yang sudah lama kuliah di Indonesia. Tahun ini rencananya tahun terakhir kuliah. Semoga bisa lulus tepat waktu. Doakan yah."

Astaga. Sudah salah naik pesawat, ia harus bertemu dengan warga Korea tulen yang berkuliah di Indonesia. Begitu fasih lagi perempuan ini berbahasa Indonesia. Mimpi apa dia semalam?



Bersambung.....

4 comments:

  1. Kim sarang?
    Agak aneh deh namanya hahaha

    Main chars nya aldo sama kim sarang ini kah?
    Hooo..

    Nice story
    Ditunggu lanjutannya bang nu-el...

    ReplyDelete
  2. pernah nonton di teater bro? share pengalamannya dong.. plus foto2 jugaa :D

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^