Wednesday, August 6, 2014

ANOTHER FICTION: I'm 100 percent of Indonesian





Aku cinta Indonesia. Negeri ini luar biasa. Pemandangan alam yang super indah. Kekayaan alam yang sangat menakjubkan. Keanekaragaman hayati yang selalu membuatku terkagum-kagum. Keunikan margasatwa yang tak ada duanya di dunia. Fauna di negara Khatulistiwa ini amat berbeda dengan yang berada di negara-negara lain.

Sudah banyak negara yang kusinggahi. Spanyol, Jepang, Korea, China, Brazil, Perancis, hingga Yunani yang eksotis pun, tak ada satu pun yang menandingi kehebatan Indonesia. Banyak tempat terbaik untuk snorkeling atau skiing di bumi ini, tetap di Indonesia-lah aku menemukan kepuasan terbaik. Begitu pula dengan makanannya. Negara komodo ini masih tetap berada di urutan nomor satu soal kelezatan kulinernya.

Indonesia, Indonesia, Indonesia. Aku sungguh cinta Indonesia. Benar-benar cinta dari lubuk hati yang terdalam. Aku bangga terlahir di negara Pancasila ini. Suatu kebahagiaan tersendiri terlahir di ibukotanya yang selalu hiruk-pikuk -- tapi aku menemukan kedamaian sejati. Aku bahagia, aku bangga, aku cinta. Terimakasih Tuhan. Terimakasih karena telah menurunkan aku ke bumi batik ini.

Namun, sayang seribu sayang, ada saja beberapa yang membuatku jijik dengan negara ini. Jawabannya ada di media-media yang dihasilkan oleh negeri ini. Aku muak menyaksikan ribuan artikel konyol, tak masuk akal, mengada-mengada, serta yang hanya mengumbar aib. Bosan mendapati kebodohan masyarakatnya yang tak terkira.

Lihat saja, kawan. Hanya di negeri ini, seorang nenek bisa dipenjara karena hanya mencuri beberapa biji kakao. Hanya di sini, hukum bisa dipermainkan. Praktek hukum memiliki pelaksanaan yang berbeda-beda untuk tiap orang. Anak menteri lolos dari hukuman, padahal telah melanggar hukum. Satu kasus yang sama, penegakannya berbeda-beda. Tergantung siapa pelakunya, berapa tebal kantongnya.

Selebritas-selebritasnya rajin bikin sensasi. Dagelan dimana-mana. Tiap hari nyaris selalu mendengar pengumbaran aib. Acara televisi nyaris seluruhnya palsu. Ketidakdisiplinan masyarakatnya. Kurang sadarnya orang Indonesia akan kepentingan umum. Hedonisme merajalela. Ingin dihormati, namun enggan menghormati lebih dahulu.

Cih! Aku sungguh muak tinggal di Indonesia. Namun aku cinta negeri ini. Aku menyayangi negeri ini. Aku lebih suka menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris. Playlist di ponselku berisi lagu-lagu Indonesia, terlebih musik dangdut dan keroncong. Tiap ke bioskop, aku lebih mengutamakan film-film tanah air. Walau banyak yang bilang bahwa film Indonesia itu sampah. Aku sungguh berada dalam posisi dilema. Lima puluh persen cinta tanah air, lima puluh persen kebencian yang luar biasa.

Terkadang, sesekali aku berkeinginan untuk tak dilahirkan di Indonesia ini. Pernah aku terbersit suatu hasrat untuk lahir di Brazil. Di sana tiap hari pesta, bukan? Atau terlahir sebagai warga negara Jepang lebih baik. Tinggal di sana, aku mungkin tak akan sering mendengar berita-berita SARA yang tiada gunanya. Atau negeri paman Sam. Kudengar, pemerintahnya sering memberikan kemudahan-kemudahan di berbagai bidang untuk warga negaranya.

Ah sayang sekali aku terlahir sebagai warga negara Indonesia. Lahir di ibukota Jakarta. Berdomisili di Bogor yang katanya kota hujan. Rasa cinta sudah tertanam hingga alam bawah sadarku.

Dilema. Sungguh dilema. Ini sungguh dilema. Aku teramat benci berada dalam posisi buah simalakama. Tuhan, kenapa Engkau meletakanku dalam posisi ini? Posisi dimana suka dan benci membelah hatiku.

Lihat, orang-orang itu! Mereka menatapku seperti menatap seorang kriminal. Padahal aku bersih. Tak pernah tercatat pernah melakukan aksi kriminalitas. Tapi pandangan mereka itu..... aku jengah. Aku lelah dipandangi seperti itu. Aku letih menjelaskan bahwa aku bisa berbahasa Indonesia, bahwa aku tulen setulen-tulennya orang Indonesia. Kenapa mereka tidak bisa percaya?

Bukan salahku juga, kan, terlahir dengan perawakan bulai seperti ini. Memang salahku terlahir dengan mata biru -- rambut pirang? Dosakah aku terlahir dengan logat British?

Mereka tidak percaya saat kubilang aku ini lahir di Jakarta. Mereka juga tak percaya saat kukatakan aku fasih berbahasa Indonesia sejak lahir. Pula urung percaya kalau kuceritakan bahwa otakku ini seratus persen bercorakan Indonesia.

Semua itu gara-gara fisikku yang tegap perkasa. Gara-gara mata biru ini. Gara-gara logat British ini. Gara-gara nama kebarat-baratanku ini: Matthew James Saputro. Hanya kata 'Saputro' itu saja, satu-satunya bukti terkuat keindonesiaanku. Bukti lainnya, orang lain tak bakal percaya. Mungkin karena itulah juga, orang-orang di kantor kecamatan -- atau kelurahan -- mempersulit proses pembuatan KTP-ku. Mereka mengira aku WNA -- atau disangkanya aku warga keturunan.

"Mas yakin mau ikut lomba balap karung?" tanya seorang warga di salah satu kampung yang ada di Yogyakarta, domisili keduaku karena kepentingan dinas. "Mas kan bule, jadi pasti ndak terbiasa sama permainan-permainan ala Indonesia. Pasti Mas lebih terbiasa main playstation." Kata terakhir diucapkannya dengan logat Jawa yang semedok-medoknya.

Mau ngakak aku rasanya.

"Mas, aku ini orang Indonesia kok. Belakang namaku saja, nama Indonesia. Aku iki juga lahir di Jakarta, lho." ujarku nyengir.

"Mosok sih, Mas? Bisa aja mungkin Mas ini campuran kali. Ibunya yang orang Barat." selorohannya membuatku terkekeh.

Ketika aku menang lomba balap karung itu pun, aku tetap disangka: "Wuih, ntuh bule hebat juga yah.  Nggak kaku gitu main balap karungnya." Seketika itu juga, esoknya, entah bagaimana caranya, segenap wartawan lokal mengerubuni rumah petakku. Mewawancaraiku hanya karena perkara balap karung. Harus berapa kali kubilang, aku ini seratus persen orang Indonesia. Tak ada satu pun dari keluarga pihak ayah atau ibu yang terlahir dari rahim seorang ras  Kaukasoid.

"Yakin sampeyan ini ndak ada darah Eropa-nya?" goda Daud, rekan kerja terbaik yang pernah kumiliki.

"Aku yakin seribu persen -- aku ini tulen orang Indonesia." kataku mantap.

"Sampeyan dulu pernah mengaku anak IPA, kan?" ujarnya sembari menerbitkan cengiran yang membuatku jadi mengangguk. Aku sungguh penasaran kenapa tiba-tiba ia mengungkit masa laluku.

"Pernah belajar Biologi, kan? Atau jangan-jangan nilai Biologi sampeyan selalu merah  lagi." ledeknya tergelak.

"Sembarangan kalau ngomong. Nilai Biologi-ku itu selalu di atas sembilan, tahu." tukasku dengan mata melotot.

Gelak tawanya semakin kencang saja. Untung saja si Bos sedang tak ada di tempat. "Kalau gitu, seyogyanya sampeyan sudah tahu soal hukum pewarisan Mendel. Bahwa dalam satu garis keturunan, muncul sebuah anomali, bisa jadi kalau ditelusuri lebih lanjut, mungkin ada buyut sampeyan yang berdarah Eropa. Dan itu hal yang wajar menurutku. Bukankah dulu Indonesia dijajah sekian lama oleh Belanda?"

Kata-kata menyentak pikiranku. Benar juga. Mengapa hal seperti itu tak terpikirkan olehku? Tapi... kalau memang aku memiliki darah Eropa, mengapa kedua orangtuaku tak pernah menceritakannya hingga detik ini?

"Tapi sampeyan memang Indonesia banget. Walau perawakan bule, sampeyan benar-benar berpikiran kayak orang Indonesia umumnya, yang suka kepraktisan, ndak mau ribet, sampai-sampai keramahtamahan sampeyan melebihi orang Indonesia. Ditambah lagi, sampeyan juga selalu nyoblos tiap ada pemilihan." sahutnya terkekeh lagi. 

*****

Lima belas tahun kemudian, keinginanku tercapai. Dulu sekali aku sungguh berhasrat bisa meninggalkan negara yang sudah membuatku dilema setengah mampus. Memang tak sesegera setelah kuucapkan. Tetap saja, aku bersyukur Tuhan mengabulkan permohonanku.

Aku kini di Inggris. Tak ada lagi yang memandangiku dengan seringaian-seringaian menjengkelkan. Justru kini berlaku sebaliknya. Wajah-wajah Asia begitu mencolok. Tampang-tampang khas Indonesia amat mudah kutemukan di negeri Ratu Elizabeth ini.

Sayangnya, memang tak ada gading yang tak retak, tetap saja aku berada dalam posisi dilema. Rasa nasionalisme makin menggebu setelah berada di luar Indonesia. Aku begitu risih saat tak ada teman Eropa yang percaya aku ini orang Indonesia tulen. Mereka bersikukuh berkata bahwa aku (mungkin) warga keturunan. 

Sudah berjuta kukatakan, ayahku asli Indonesia, pun dengan ibuku. Nama ayahku Bramandias Saputro. Ibuku adalah Anna Maria Gerung. Yah mungkin benar kata Daud belasan tahun silam, aku memang ada darah Eropa. Tapi darah Eropa tersebut sudah lama menguap. Tak pernah sekali pun, keluarga besarku yang pernah keluar Indonesia. Tak heran, kepergian ke Inggris untuk kali pertama begitu dirayakan dengan isak tangis. Cukup banyak yang datang ke bandara waktu itu.

Suatu hari,Wayne Smith berujar padaku seraya mengernyitkan dahi, "Are you seriously an Indonesian?"

Mantap kujawab dengan lantang, "Yeah, dude. I'm 100 percent of Indonesian."





6 comments:

  1. mustinya brand nya VJ Daniel ngasi sponsor ke tulisan ini XD

    ReplyDelete
  2. Aku juga cinta Indonesia :) Salam kenal maas :)

    ReplyDelete
  3. aku juga seratus persen indonesia, Nuel #gaAdaYangNanya -__-"

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^