Friday, August 15, 2014

SERIAL #GGKT : Gara-gara Komputer Tua







Komputer jinjing merupakan kebutuhan utama seorang penulis. Yah sebetulnya anggapanku itu bisa juga salah. Kalau seseorang meyakini jalan hidupnya itu menulis, ia pasti berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya menulis. Mengetik di rental, meminjam laptop kerabat, menggunakan komputer kantor, memakai mesin tik, hingga...

...seperti yang kulakukan ini...

...yah, semenjak laptop kesayangan yang kubeli dari royalti setelah menerbitkan novel perdana itu harus dioperasi, aku menggunakan komputer tua. Tua sekali. Masih ber-pentium satu sih. Masih menggunakan Wordstar. Tidak ada colokan flash disk. Mau tak mau, ketika laptop itu pulih, komputer ini harus segera dibawa ke tempat reparasi itu lagi. File-file yang telah kuhasilkan selama empat hari ini harus segera dikonversikan menjadi file Word. Tidak bisa tidak. Mutlak. Tapi untung saja, beberapa di antaranya sudah tercetak ke atas selembar kertas A4. Mereka akan harus dikirimkan ke  beberapa tempat yang memang selayaknya berada di sana.

Sebetulnya aku tak berkeberatan harus mengetik di format Wordstar lagi. Aku masih mengingat bagaimana mengoperasikannya. Hanya saja, aku merasa tak beres dengan komputer tua ini. Terlebih lagi sewaktu tengah mengetikan naskah novel terbaruku. Genrenya misteri; ada sedikit unsur slasher-nya. Anehnya, kejadian aneh muncul saat tengah berkutat di naskah novel ini. Tak percaya? Aku bisa membuktikan.

Lihat, Kawan, aku akan mengetikan ini...

Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Kurang lebih sekarang sudah pukul 11:21. Sekarang malam jumat. Besok jumat kliwon. Itu artinya, malam jumat kliwon. Menurut kepercayaan suku Jawa, malam jumat kliwon merupakan saat dimana para hantu berpesta. Itu malamnya para makhluk astral. Jangan heran kalau mendadak bulu kudukmu berdiri saat melewati sebuah rumah tua. 

Itulah kenapa, Ryan -- mahasiswa kedokteran yang tengah mengetik skripsinya -- mulai merasa ketakutan. Saat tengah membaca beberapa cerita sebagai selingan menulis skripsi, cowok berkacamata tebal  ini menggigil. Entah sugesti, entah karena apa juga, suara gudangnya mengeluarkan bebunyian yang ia rasa tak lazim. 

Ya, ampun, itu bukan tikus. Masa tikus membuat suara-suara heboh seperti itu? Suara-suara itu seperti... ada seseorang yang mengamuk di dalam gudang yang tak begitu luas. Seseorang itu mengacak-acak isi gudang. Membanting barang-barang pecah belah. Memukul-mukul lemari tua yang ada di sana. Serta berusaha membongkar paksa pintu gudang yang selalu dikunci (Gudang selalu dikunci, karena ada beberapa benda yang berharga cukup mahal, di simpan  di sana). 

Aku sudah selesai mengetikan tiga paragraf. Mari kita lihat hasilnya. Dengar!


PRAAAANG!!!

KROMPYAAANG!!!

BRUUUK!!

DUK!! DUK! DUK!

Dengar sendiri kan?! Apa yang kutulis, itu yang terjadi. Dan selalu terjadi ketika aku tengah menulis naskah novel misteri ini.

Masih belum percaya? Oke, aku akan menuliskan kelanjutannya.

Tambah bergidik lagi, Ryan mulai menangkap ada suara manusia yang terdengar dari lantai atasnya. Seperti suara pria tua. Suaranya berat. Orang itu tengah merintih dan mengancam yang menjadi satu. Seru orang itu: "DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!!"

Itu bukannya bahasa Jerman? Sejak kapan di rumahnya tinggal seorang Jerman? Buat apa juga, Papa meletakan tamu asing di dalam gudang? Ada yang tak beres. Namun, Ryan terlalu takut untuk memeriksa. Sekelebat pikiran-pikiran negatif menyergapnya. Mungkin saja, ketika ia menghampiri gudang, si orang-Jerman-yang-tak-tahu-asalnya-darimana-itu akan menyerangnya dengan sebuah benda tajam. 

Ya Tuhan, ia baru ingat. Ada beberapa alat tajam di gudang. Itu seperti gunting rumput, kampak, sekop, hingga dua buah katana -- oleh-oleh Papa yang berdinas di Jepang sepuluh tahun silam.  Mengingat itu, Ryan mulai bergemelutuk. Mematung di atas kursi, tak tahu harus berbuat apa. 

Nah, sekarang dengar lagi. Pasang telinga baik-baik!

"DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!!"

DUK! DUK! DUK!

Aku menelan ludah. Oh Tuhan, yang tadi itu apa? Suara tadi itu.... hanya fantasiku, kan?

Aku menengadahkan kepala. Masih beberapa kali menelan air liur. Untuk mengurangi ketegangan, aku membunyikan tulang-tulang jemari. Sebisa mungkin kutahan agar tidak bergemelutuk -- persis seperti yang dilakukan Ryan. Aku berdiam diri. Hanya diam, tak bersuara, tak bersiul, walau masih membunyikan beberapa tulang. Kufokuskan untuk mendengar; berusaha untuk meyakinkan suara tadi memang sungguh nyata. Itu bukan fantasiku.

"DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!!"

Sekali.

"OFFENE TÜR!!!"

Dua kali. 

"GOTTVERDAMMTE! OFFENE TÜR!!!"

Tiga kali.      

Oke, ini jelas bukan fantasiku. Suaranya itu benar-benar ada, bukan sekedar delusi belaka. Brengsek, saat seperti ini, aku malah sendirian di rumah. Papa-Mama tengah pergi ke Bandung untuk sebuah acara pernikahan. Kedua abangku sudah lama menikah. Dan adikku tengah ikut acara perkemahan yang diadakan fakultasnya. 

Tak seperti tokoh Ryan yang kugambarkan sebagai seorang penakut, aku memberanikan diri untuk membalas kata-kata orang itu. Sahutku: "HEY, SIAPA DI ATAS SANA? ANYBODY'S THERE? CAN YOU SPEAK ENGLISH?"

Orang mencurigakan itu tertawa lumayan keras. Aku semakin bergidik. Ia memekikan lagi sebuah kata-kata: "Meine Güte, ist jemand hier. Ich denke, niemand in dem haus." Sebetulnya bukan sebuah pekikan juga. Karena situasinya benar-benar hening, sudah jam sepuluh malam juga, aku tetap bisa mendengar suaranya dengan volume normal. 

"HEY, I CAN'T SPEAK GERMAN. PLEASE, SPEAK ENGLISH! COME ON!" Aku nekat saja membalas kata-katanya barusan.

Ia tergelak lagi. Lagi-lagi lumayan keras. "Okay, ich werde nicht sprechen Deutsch. I will speak English for you. And, please, open the door! Please, little boy!"

Haruskah aku membukakan pintu gudang untuknya? Mungkin saja orang tersebut punya maksud buruk. Mungkin ia juga bukan manusia. Mungkin ia itu makhluk astral. Kalau ia betul-betul manusia, seharusnya aku sudah menyadari kehadirannya semenjak pagi. Papa juga sudah memberitahukanku bahwa seseorang asing akan bertamu. Nyatanya tidak. Orang Jerman ini baru muncul ketika aku selesai mengetikan enam paragraf ini. 

"OKAY, LITTLE  BOY! I'LL BREAK THE DOOR BY MYSELF. WAIT FOR ME IN THERE. I AM GOING TO CHOP YOU, LITTLE BASTARD!"

Kudengar, sepertinya ia tengah mengacak-acak isi gudang lagi. Lalu terdengar bebunyian seperti seorang penebang sedang menebang pohon tua nan besar. Hanya saja, yang berbeda ialah...  kalau suara yang ditimbulkan oleh si penebang itu terjadi beberapa kali -- mungkin juga belasan, maka si Jerman ini hanya perlu kurang lebih lima suara. Dan ia kembali bersuara, "Hello, little boy, I'm coming. As I said, wait for me. I'm going to chop you."

Astaga, di saat seperti ini, mengapa aku harus terbayang salah satu cerita di serial Goosebumps sih? Kalau tak salah, kalau di cerita tersebut, itu terjadinya karena mesin tik. Sedangkan aku menggunakan komputer tua pentium satu. Tapi aku penasaran, kucoba mengingat apa yang dilakukan si tokoh utama dalam situasi mengerikan seperti ini? Kaburkah? Atau mencoba menghadapi? Yah, walaupun ia tahu, resikonya mungkin adalah nyawa. 

*****

Pagi yang seharusnya cerah dan dinikmati oleh senyuman sekarang berubah jadi pagi yang luar biasa buruk. Para penghuninya berwajah tegang. Menangis seolah-olah suhu hari ini luar biasa dinginnya hingga menusuk tulang. 

Tampak beberapa polisi tengah menyelidiki kasus yang tergolong unik untuk mereka. Sang korban ditemukan terbaring tak berdaya. Di lihat dari kondisi mayatnya, korban mungkin dicekik. Ada bekas jeratan juga di leher korban. Jadi, kemungkinan bunuh diri juga kecil. Dari napasnya, korban tak sedang meminum sebuah racun. Mustahil melakukan bunuh diri dengan mencekik diri sendiri. Harus ada seseorang. 

Itulah yang membuat para polisi kebingungan. Setelah ditelusuri, perkiraan kematiannya mungkin terjadi antara pukul dua belas hingga pukul empat pagi.Orangtua korban baru pulang pada pukul sembilan pagi. Pintu gerbang dan semua pintu masuknya sudah terkunci. Tak ada pula tanda-tanda jendela dipecahkan dari dalam. 

Siapa pelakunya? Bagaimanakah si pelaku bisa kabur? Dilihat bagaimanapun, kasus ini lebih mirip kasus pembunuhan daripada kasus bunuh diri. Apa mungkin adik korban pelakunya? Bisa saja si adik mendadak datang. Apalagi konon si adik menaruh dendam atas sebuah kesalahan. 

Tapi sepertinya kemungkinan itu kecil. Si adik baru datang dua hari setelah kejadian. Ia datang setelah orangtuanya datang lebih dahulu, yang menemukan rumah masih dalam keadaan terkunci, lalu menemukan korban terbaring lemah di lantai kamarnya. Komputer di ruang tengah dibiarkan terus menyala -- yang hampir saja meledak saking panasnya. Alibi si adik tampak sempurna. Begitu pula dengan kedua orangtua korban. Tak terlihat mencurigakan sedikit pun. 

*****

Kali ini, komputer tua pentium satu itu sudah bisa terselamatkan. Saat ditemukan, sudah tercium bau gosong dari arah CPU. Bukti terkuat untuk kasus teraneh di negeri itu sudah lenyap. Sang adik terus berusaha meyakinkan bahwa dirinya tak bersalah.

"Tapi menurut rumor yang beredar, anda ini cukup sering bertengkar dengan pelaku. Bahkan pertengkaran terakhir terjadi dua minggu sebelum kejadian." ujar seorang opsir. 

"Demi Tuhan, bukan saya pelakunya, Pak. Bapak bisa tanya sama satpam komplek sini. Kalau pas kejadian, saya ada di tempat, mereka pasti akan bilang ya. Apalagi saya dan satpam-satpam komplek juga cukup akrab. Kalau saya ada di tempat, mereka pasti tahu." desahnya mulai terlihat frustasi untuk meyakinkan opsir tersebut.

"Hmm," Sang opsir berjengit sendiri. "Kita lihat saja nanti setelah hasil otopsinya keluar."

*****

Malamnya, di kamar, sang adik gelisah tak menentu. Walau sudah berusaha ditenangkan oleh Papa-Mama yang yakin dirinya tak bersalah, pikiran sang adik tetap saja kalang kabut. Kegundahannya makin menjadi-jadi. Hingga pukul dua belas malam, ia tak kunjung tidur. Matanya sulit merem. 

Ah mungkin kalau minum dulu, bisa tidur gue, begitu katanya dalam hati.

Ia keluar kamar, berjalan menuju dispenser yang diletakan di ruang tengah. Dispenser itu terletak tak jauh dari komputer tua yang sudah dibawa polisi untuk diperiksa lebih lanjut. Saat baru hendak mengisi gelas kacanya, gendang telinganya menangkap suara aneh. Datangnya dari gudang. Itu terdengar seperti suara manusia, namun bukan dalam bahasa Indonesia. Bunyinya: 

"DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!!"

Spontan saja ia berteriak, "HEI, SIAPA DI ATAS?"

Mendengar suara teriakannya, kedua orangtua -- juga kedua abangnya -- keluar kamar. Mereka menghampirinya. Langsung saja ia menceritakan bahwa ada seseorang dengan lafal Jerman berteriak dari gudang. Awalnya ia tak dipercaya. Tapi mungkin karena kengototannya, ia dan keluarganya bersama-sama ke gudang. Terutama setelah mereka semua mendengar suara pintu gudang yang sepertinya tengah dirusak menggunakan kampak.  

*****

Kepolisian setempat benar-benar kehabisan ide. Mereka angkat tangan dengan kasus di komplek perumahan tersebut. Sang terduga beserta keluarganya ditemukan tergeletak tak bernyawa. Lagi-lagi sama persis dengan kasus utamanya, telah ditemukan bekas jeratan di leher tiap korban hari ini. 

Apalagi menurut hasil otopsi sementaranya, tak ditemukan kandungan racun dalan tubuh Anton. Tak ada pula sidik jari sang adik di bekas jeratan yang ada di leher Anton. Salah satu opsir malah mengatakan bahwa ada keterlibatan makhluk gaib dalam kasus ini. Opsir itu mencurigai komputer tua yang sudah tak bisa dipakai. Terutamanya mencurigai salah satu file dari beberapa file yang masih bisa diselamatkan. Dari sanalah, ia tahu bahwa Anton merupakan seorang novelis yang novel perdananya cukup laris di pasaran. 

Untuk membuktikan kata-kata si opsir, beberapa polisi tinggal di rumah itu hingga malam menjelang. Tengah malamnya, di tengah para polisi yang begadang sembari menonton pertandingan sepakbola, terdengarlah suara. Suara itu sama persis seperti sebelumny a: ""DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!!"

Alurnya masih tetap sama. Saat ada yang merespon, suara itu berkata, "Okay, ich werde nicht sprechen Deutsch. I will speak English for you. And, please, open the door! Please, little boy!" Terdengar pula suara pintu tengah dihancurkan. Padahal saat diselidiki polisi, pintu itu utuh, terkunci, dan tak pernah diketemukan adanya tanda-tanda perusakan.





Catatan kaki:
* DIE TÜR ÖFFNEN! HEY, Sie hören können, ist es nicht?? Sagte ich, OFFENE TÜR!!! : Buka pintunya! Hei, kau bisa dengar kan? Kubilang buka pintunya
** GOTTVERDAMMTE! OFFENE TÜR!!! : Bangsat! Buka pintu!
*** Okay, ich werde nicht sprechen Deutsch. : Oke, aku tidak akan berbicara dengan bahasa Jerman.