Sunday, June 29, 2014

ANOTHER FICTION: Tanpa Sengaja di tengah Cinta Segitiga




Today, I will publish my short story on here again. And the heroine of the story is inspired by one of my college friend. He's such indifferent with everything, especially the college stuffs. In fact, he's a forgetful. But, I think, he just doesn't concern about anything, exclude his favourites. 


*****


Sekadar merelaksasikan tubuh dari persiapan pentas seni yang akan dimulai besok, aku memilih jalan-jalan dulu. Mulai dari jalan di sekitar koridor sekolah, hingga tak terasa sudah tiba di parkiran.

Ada seonggok manusia yang menarik perhatianku. Seorang laki-laki. Berkacamata. Agak culun yah penampilannya. Ups, bukan agak lagi. Tapi benar-benar culun. Dan si culun itu tengah duduk di atas salah satu jok motor yang ada. Aku yakin, itu pasti bukan motornya. Masa sih orang culun itu bisa mengendarai motor sport? Please deh, sampai Indonesia bakal ke piala dunia pun, rasanya mustahil tuh.

"Eh, Teph," sahut Rianty, menepuk bahuku. "Lagi ngapain? Kok bengong?"

"Nggak apa-apa, Ty. Cuma lagi istirahatin badan doang. Capek juga ngurusin buat pensi besok." jawabku sembari melakukan peregangan otot. Yah seperti memutar-mutar kepala.

"Dari tadi gue lihat, lu lihatin si Iman mulu. Naksir lu sama dia?" godanya.Tapi godaannya itu tak membuatku kesal. Aku malah kaget. Kubelalakan mata padanya sembari berkata, "Iman? Kok lu tahu nama cowok itu? Lagian emang dia anak kelas 11 juga yah?"

Ia terkekeh. "Parah lu, Teph. Ya iyalah, kelas 11 juga. Dia kan sama kita juga."

Aku semakin mengerutkan dahi. "Serius? Kok gue baru tahu yah, ada anak seculun itu di kelas kita?"

Ganti Rianty yang mengerutkan kening. Tapi masih tetap dengan cengirannya. "Ya ampun, Stephanie Juniar Willian. Lu parah banget. Segitu nggak perhatiannya. Bahkan sama teman sekelas sendiri. Gue kira, lu cuma nggak perhatian sama tugas-tugas sekolah aja."

Rianty memang sahabat terbaikku. Dia tahu paham betul segala sifat dan pembawaanku. Dari seorang gadis yang update soal fashion hingga seorang siswi yang rajin kena hukuman karena suka telat atau sering tak mengerjakan tugas sekolah. Tak hanya itu juga, Rianty juga partner-in-crime-ku dalam melakukan beberapa hal yang membuat para guru jadi sebal dengan diriku dan dirinya. Pernah kami berdua kompak menggodai guru Kimia, Bu Christine yang baru saja pulang dari Malaysia, tapi tak membawa oleh-oleh untuk murid-muridnya. Kami lalu meledekinya, "Pelit" berkali-kali. Alhasil, tampang judesnya semakin sangar saja dan kami pun diomeli.

Namun untuk kasus hari ini, aku sedikit bingung dengannya. Kali ini, aku dan Rianty tak sehati. Mengapa bisa ia mengenali sosok seculun... siapa tadi namanya... oh, Iman... yah sosok seculun Iman itu. Aku jadi tergelak. Mau tergelak, tepatnya.

"Ty, lu kok bisa segitu perhatiannya sama cowok itu?" tunjukku pada si cowok culun dengan bibir.

"Perhatian?" Ia terkekeh. "Nggak juga tuh. Lagian gue ini beda-lah sama lu. Lu boleh suka nggak merhatiin hal-hal di sekitar lu. Kabar terbaru soal guru-guru kita aja, gue yang lebih sering tahu dan kasih tahu lu."

Aku balas terkekeh. "Lu tahu sendirilah gue gimana orangnya. Gue lebih concern ke segala hal berbau fashion. Mau fashion dari Indonesia kek, Amerika kek, Jepang kek, China kek, Korea kek, gue harus tahu."

"Iya, iya, gue tahu. Sampai soal pelajaran aja, lu suka keteteran yah. Tugas sering gue bikinin juga." Ia menyenggol perutku.

"Udah ah, lu ngeledekin gue mulu," ujarku pura-pura menyeringainya. "Eh tapi lu serius, si cowok culun itu sekelas sama kita? Sama-sama anak kelas 11 IPS 2?"

Ia mengangguk. Matanya tersorot suatu aura ketegasan. "Iya, gue serius. Lagian menurut gue, dia nggak seculun yang lu kira."

Astaga! Sumpah, aku mau terbahak jadinya. Apa maksudnya dengan tidak culun?

"Aduh, Ty. Please deh, nggak culun kata lu? Gue yakin, semua cewek di sekolah ini pasti sepakat sama gue; tuh cowok emang culun penampilannya. Lihat aja penampilannya yang alay abis. Rambut juga sok-sok dikasih minyak rambut, padahal pasang model belah pantat juga. Make celana udah kayak Jojon. Atasannya juga sama. Nggak sakit apa, kancing atasnya juga dikancingin?"

Ia nyengir. Namun aku tahu, sepertinya Rianty jadi jengah denganku. "Teph, emang harus yah, segala sesuatunya dilihat dari penampilan luar. Kalau menurut gue sih, culun itu saat seseorang punya otak kosong. Tulalit gitu. Yah kayak sih Aan itu."

"Lu lagi stress yah? Abis ditolak lagi? Sekarang si Aan-lah, lu bilang culun.  Justru ketimbang cowok itu -- " Aku menunjuki si Culun itu lagi. " -- Aan jauh lebih fashionable. Jauh lebih keren juga. Apalagi Aan kan kapten tim basket sekolah kita."

Rianty berdecak. Masih tetap lebar cengirannya. Geleng-geleng kepala juga. Hari ini, Rianty sungguh tak seperti yang biasanya. Ia jadi... agak menyebalkan.

"Teph, Teph... Jangan bilang ke gue, lu juga nggak tahu si Iman itu juara Olimpiade Sains tingkat nasional. Lu bener-bener kelewatan, tahu, ketidakperhatian lu itu."

Kedua alis mataku bertemu. "Serius? Demi apa lu, si Culun itu juara Olimpiade Sains tingkat nasional?"

Ia langsung merogoh ponsel layar sentuh yang ada di saku kemejaku. Disodorkannya padaku. "Nih, coba cari di Google 'Immanuel Kencana Bramanto'."

Mungkin karena masih terkejut, aku mau saja disuruh olehnya. Padahal seharusnya tak perlu. Ia sudah bikin aku senewen.

Mataku melotot. Bibirku menganga cukup lebar. Di sampingku, Rianty terkikik. Yah, matanya itu mengintip isi ponselku.

"Gimana, Teph?" Ia mulai menggodaku dengan mimik menyebalkan itu lagi. "Apa si Iman masih culun juga?"

"Yah... eh... yah... eh..." Aku mulai gelagapan. "Yah, dia -- bagi gue -- masih tetap culun. Penampilannya nggak menarik. Mau orang itu jenius, kalau penampilannya tetap kayak gitu, menurut gue nih yah, orang itu tetap culun. Apalagi kenyataannya juga, di masyarakat, orang lebih memerhatikan penampilan luar ketimbang penampilan dalam."

Ia terkekeh. Cengiran lebarnya itu semakin menyebalkan, menurutku. Kalau saja, ia  tak kuanggap sebagai sahabat, sudah kudamprat habis-habisan.

"...dan si Culun itulah yang sebetulnya mengerjakan semua tugas lu, Teph. Ia juga yang pas mabis, pas lu nyaris aja dihukum karena datang telat, yang ngeboncengin lu ke sekolah..."

Kata-kata Rianty mengingatkanku akan kejadian saat masa bimbingan siswa dulu. Saat itu, aku diantar Papa. Di tengah jalan, mobil sedan hijau tuanya mogok. Dan jam sudah menunjukan pukul 06:31. Nyaris tiga puluh menit lagi, aku akan telat. Papa jadi menyarankanku untuk naik ojeg saja. Walaupun aku malas sekali menggunakan moda transportasi yang satu itu. Namun pilihan itu harus kulakoni. Ogah aku -- harus membuat diri berkeringat sampai bau, gara-gara harus lari keliling lapangan.

Lima menit, mungkin juga sepuluh menit, tak kunjung mendapatkan ojeg. Padahal masih ada Papa. Hingga akhirnya, ada sebuah motor sport keren yang menghampiriku dan Papa. Si pengendaranya, tanpa membuka helm, menawariku tumpangan. Dari pakaiannya, aku tahu dirinya juga seorang pelajar juga. Mungkin karena SMA Pelangi merupakan satu-satunya sekolah di kawasan tersebut, ia tahu aku murid baru juga yang hendak ke SMA-ku itu. Awalnya kukira cowok itu -- dari suaranya yang cukup berat terdengar -- merupakan kakak kelasku. Tapi ternyata...

...butuh waktu kurang lebih setahun untuk menyadarinya, aku tahu ternyata cowok itu...



"...lu serius, Ty, dia orangnya?"

Rianty mengangguk. "Dan motor yang lagi ia duduki itu, yah memang motornya."

Kata orang, kita perlu hati-hati saat membicarakan seseorang. Karena bisa jadi, objek yang jadi bahan pembicaraan kita itu mengetahuinya -- atau tengah berada di sekitar. Dan, si cowok culun itu mendadak menghampiri aku dan Rianty. Saat aku sudah serentangan dengannya, ia menatap Rianty. Bisa kulihat, dahinya basah. Pas bicara dengan Rianty pun, ia jadi tergeragap.

"Eh, Ri-rianty, a-apa ka-bar? La-lagi nga-ngapain? K-kok be-belum pu-pulang?"

"Biasa aja, Man. Kita kan udah temenan dari SD," ujar Rianty menepuk pundak si culun.

Si culun nyengir saja.

"Ka-kamu ga pulang?"

"Aku ada ekskul juga, sama kayak kamu,"

"O-oh," Ia mengangguk. "Y-yah udah, a-aku ke da-dalam dulu yah,"

Setelah si culun pergi, Rianty ganti menatapku. "Lu tahu, nggak? Kenapa si Iman gagap gitu?"

Aku mengangkat bahu. "Mungkin emang pembawaannya kali. Gue pernah dengar juga, ada tuh penyakit gagap gitu. Cuma gue lupa namanya."

Rianty terkekeh seraya geleng-geleng kepala. "Ia gagap bukan karena penyakit lagi. Ia gagap gitu karena ada lu."

Aku mengerutkan dahi.

"Iya, dia suka banget sama lu. Itulah juga alasan dibalik kenapa dia mau ngerjain tugas-tugas sekolah lu; atau juga nganterin lu waktu itu. Dan, pas dia curhat ke gue soal perasaannya itu, dadaku gue sakit, Teph."

Keheningan muncul. Aku dan Rianty bersitatap. Ia masih tersenyum memandangiku.

"Udah ah, gue ke dalam dulu. Kayaknya kelas German Club juga udah mulai. Lu nggak balik ngurus pensi lagi?"

Belum sempat aku menjawab, ia sudah melengos; meninggalkanku yang masih terbengong-bengong dengan segala fakta yang kudapatkan hari ini. Mulai dari si culun yang ternyata teman sekelas dan juga juara Olimpiade Nasional, hingga diriku -- yang tak sengaja dan tak kusadari -- telah masuk ke sebuah cinta segitiga.

Yah, sepertinya -- dari gerak-geriknya itu -- Rianty memendam rasa ke cowok culun itu. Siapa namanya? Hmm.. oh, aku ingat... Immanuel Kencana Bramanto, sang juara tiga Olimpiade Sains tingkat nasional.