Friday, June 20, 2014

ANOTHER FICTION: Kisah Cinderella Moderen


   

      Tak sia-sia, Ucha – panggilan dari Kautsar – bersolek di atas jok motor sport-nya. Pacarnya, Rena yang berwajah khas Jepang – tapi tak bisa ngomong Jepang itu keluar juga dari rumah bak istana. Nyaris saja, kepalanya terantuk setang saking terpesonanya dengan penampilan Rena dalam gaun terusan berwarna orange terang.
       “Kamu cantik banget, Ren,” puji Ucha.
     Rena mesem-mesem, papanya dehem-dehem. Sepasang kekasih yang baru saja merayakan anniversary mereka jadi salting. Salah tingkah.
      “Eh, Om,” Ucha menganggukan kepala pada Pak Norishima.
    “Ingat, lho, pulangnya jangan kelamaan. Batas toleransi keterlambatan hanya sampai jam sepuluh.” Pak Norishima sudah mewanti-wanti  Ucha. “Kalau ada apa-apa sama Rena, awas kamu yah!”
     “Santai aja, Om, kayak di pantai,” Ucha nyengir-nyengir. “Rena aman sama saya.”
      Di balik wajah yang sangar, papa Rena bisa tersenyum juga.
      “Oya, Ren, ingat yah, jangan kelamaan di sana. Ingat janjimu ke Papa. Hapemu jangan di-silent, apalagi dimatikan.”
       Rena tersenyum. “Beres, Pa.”
     Rena memang anak rumahan. Statusnya yang sebagai anak rumahan itu seringkali jadi objek bullying teman-temannya di sekolah, apalagi sama geng Lolita yang berisi oleh sekumpulan cewek memesona nan seksi yang kesemuanya tergabung dalam ekskul Modern Dance. Mereka berlima berpandangan anak rumahan itu identik dengan kuper – alias kurang pergaulan –  dan norak. Ih sok tahu deh mereka itu. Sudah pengin setahun berpacaran dengan Rena, Ucha merasa pacarnya itu tak kuper apalagi kampungan. Justru sebaliknya..
     Dua bulan awal pacaran, Ucha melihat Rena sebagai seorang gadis yang berwawasan. Ceweknya itu cukup update sama yang namanya fashion, entertainment, bahkan sepakbola. Selain itu, ia juga fasih berbahasa Inggris dan Spanyol – tapi enggak sama bahasa Jepang. Padahal papanya itu keturunan Jepang, tepatnya turunan tentara Jepang di masa pendudukan Jepang di tanah air. Ucha sering meledeki pacarnya itu ‘Jepang-Nggak-Jadi”.
       Anata wa kawaii…” ujar Ucha sambil menyetarter motor kebanggaannya itu.
       “Artinya apa?” Rena mengernyitkan jidatnya.
.      Ucha terkekeh-kekeh. “Dasar Jepang-Nggak-Jadi!”
       Rena merengut. Ia pura-pura turun, walau sebetulnya pantatnya masih tetap didaratkan di jok.
     Ucha cuek. Ia malah mengenakan helmnya dan menjalankan motornya itu. Baru setelah rumah Rena sudah tak berada di pandangan ia dan pacarnya, Ucha menoleh pada Rena. Di tengah-tengah suasana yang agak bising dan mulutnyab yang tertutup separo helm, ia mengucapkan lagi kata-kata dalam bahasa Jepang itu, “Anata wa kawaii. You’re cute, Rena. Kamu manis sekali dengan gaun itu,”; kali ini lengkap dengan terjemahannya dalam Inggris dan Indonesia.
       Sankyu,” jawab Rena tersenyum.
      “Kamu tuh orang Jepang, tapi bisanya cuman sankyu, arigatou, konnichiwa, ohayoo gozaimasu, atau sumimasen aja. Dasar Jepang-Nggak-Jadi!” ledek Ucha.
     “Biarin, yang penting kan ngerti dikit-dikit. Lagian kamu tahu sendiri aku juga enggak seratus persen orang Jepang. Papaku kan cuma keturunan. Mamaku aja juga orang Batak.” bela Rena.
      “Tapi masak Papa kamu enggak pernah  bicara Jepang sedikit pun?”
     “Kan aku udah bilang, Papa aku tuh keturunan. Beliau dan Kakek udah tinggal di Tangerang ini cukup lama. Mereka malah belum pernah sekali pun ke Jepang. Pengin sih aku bisa ke Jepang, negeri leluhurku itu.”
      Rena bisa merasakan dari genggamannya, kalau Ucha ngakak.
      “Kalau bahasa Batak, bisa enggak?”
      “Kamu sendiri bisa enggak?” tantang balik Rena.
   “Aku kan lahir di Jakarta, wajar dong enggak bisa bahasa Batak. Bapak-Ibu aku juga sehari-hari ngomong Indonesia.”
    “Sama kayak aku, berarti. Aku juga lahir di Jakarta, Papa-Mama juga ngomong bahasa Indonesia – bukan Batak atau pun Jepang.”
     Ucha terkekeh-kekeh. “Kamu emang enggak mau kalah yah?”
     Rena merengut, ia mencubit perut datar Ucha. Ucha pun meringis.

*****
     
    Walau malam minggu, nyatanya jalanan menuju sekolah mereka yang ada di bilangan Gading Serpong benar-benar bebas macet. Tak heran, kurang lebih hanya setengah jam Ucha dan Rena sudah sampai. Rena turun dari motor sport Ucha dengan hati-hati. Ia kan pakai gaun dan high heel, yah walau haknya itu tak terlalu tinggi.
    “Huh! Kenapa sih kita enggak pakai mobil sedanmu itu? Gara-gara naik motor, rambutku kan jadi berantakan.” Rena sewot.
    “Aku kan udah bilang, mobilnya dipakai abangku buat acara reat-reat di kampusnya.,” kata Ucha yang beringsut pada Rena. “lagian kalau soal rambut yang awut-awutan itu, sini aku rapiin.”
     Sigap Ucha mengeluarkan sisir dari kantong belakang celana denimnya. Rena terlihat agak risih.
     “Ih kamu mau ngapain? Malu tahu, aku kan bukan anak kecil lagi.” protes Rena.
     “Ya kan aku mau beresin rambutmu yang acak-acakan,”
   Di saat bersamaan, terdengar suara deheman. Baik Rena maupun Ucha menoleh ke suara deheman tersebut. Ternyata si gendut Roni. Karena fisiknya dan namanya itu, ia sering mengasosiasikan dirinya dengan pesepakbola ternama Indonesia dulu, Gendut Doni. Faktanya, mendribel bola pun ia tak bisa.
    Roni berdehem, walau terdengar menggeram. “Ingat, lho, kalau orang lagi pacaran, yang ketiganya itu setan.”
     “Iya, setannya itu elo,” lempar Ucha.
    “Sialan!” rengut – sekaligus nyengir – Roni.
      Rena terkikik-kikik sembari merapikan kembali make-up-nya lewat peralatan make-up yang tersimpan di tas tangan kecilnya.
     “Eh Rena, malam ini cantik juga dirimu yah?!” Roni menyodorkan tangan pada Rena, tapi ditepis Ucha. “Apaan sih, Cha? Ganggu aja deh.” Kembali mengangsurkan tangan pada Rena.  Rena membalas jabat tangan itu seraya terkikik-kikik.
    Malam ini, Rena benar-benar jadi primadona. Semua mata tertuju padanya, termasuk Geng Lolita yang suka mem-bully dirinya. Rambut yang mengular ke bawah, gaun orange terang, high heel golden, serta wajahnya yang dipoles make-up seadanya benar-benar bikin teman-teman dan guru-guru jadi terpana. Ada yang kagum, ada yang sirik.
    “Tuh, apa kubilang,” bisik Ucha. “kamu tuh cakep sebetulnya. Ngapain sih minder selama ini?”
    Rena tak menjawab, hanya saja wajahnya berona merah.
    Roni memiringkan kepala pada Rena. “Kayaknya Prom Queen-nya udah kelihatan nih?!”
  Entah pura-pura enggak tahu atau memang enggak tahu sama sekali, Rena bertanya pada Roni, “Memangnya siapa?”
    Roni nyengir. “Kasih tahu enggak yah?” Ia langsung ngibrit ke meja prasmanannya. Tampaknya ia sudah tak tahan melihat deretan makanan enak nan menggiurkan di meja tersebut.
     “Ya udah yuk, kita makan dulu. Kamu pasti belum makan?” ajak Ucha.
     “Kok kamu tahu?”
    “Ya iyalah, kamu dandan secantik ini aja pasti makan tenaga banget. Dari yang wajahnya standar, bisa jadi secantik ini.”
    Rena mencubit lengan Ucha. “Iiiih…. Apaan sih kamu ini?”
    Ucha meringis. “Auw…. Cakep-cakep, cubitannya kayak drakula nih…”
    “Masak bodoh!”
   “Ya udah, kamu makan sendiri aja yah?!”
    Bukannya Rena yang menimpali, malah David, cowok berkacamata yang sering kebagian jadi MC di tiap pentas seni a. k. a. pensi. “Bro-Sis sekalian, puncak acaranya masih lama, lho. Eh ini udah mesra banget. Ato kayaknya ini nih yang bakal jadi Prom King sama Prom Queen kita.” 
    Ucha nyengir, Rena mesem-mesem.
    “Bisa aja, lu, Vid,” ucap Ucha.
    Saat tiba di gedung TK Tarakanita yang jadi tempat pelaksanaan Prom Nite, waktu di arloji Ucha sudah menunjukan pukul 19:05. Kalau kita tak terlalu memperhatikan bagaimana waktu itu berjalan, waktu sering membuat kita terheran-heran dengan kecepatannya. Tak terasa sudah sekitar satu jam, Rena dan Ucha berada di acara prom nite. Mereka berdua juga sudah makan malam. Sayang, suasana tak mendukung untuk candlelite dinner.
   Acara puncak  dimulai, yaitu saat dimana tiap pasangan berkumpul di tengah ruang dan ber-slow dance. Dari sesi acara yang satu inilah, nanti akan dipilih siapakah prom king dan prom queen. Siapa sangka pula, si anak rumahan Rena jago berdansa. Ditengah-tengah dansa mereka itu, Ucha mendesah, “Kamo jago juga dansanya, Ren?!”
   “Iya, soalnya waktu kecil dulu, keluarga Papa-ku suka bikin acara-acara seperti ini tiap malam tahun baru.” balas lirih Rena.
    “Ooooh…” Hanya itu yang keluar dari mulut Ucha. Ucha merasa terhina. Bayangkan saja, cowok yang dulunya terkenal sebagai seorang cassanova ini kali ini kalah dansa dengan seorang cewek rumahan. Tapi karena sudah kadung cinta, ia rela martabatnya jatuh; asalkan Rena selalu ada di sisinya selamanya.
    "Oh iya, Cha, sekarang jam berapa?” tanya Rena yang merusak suasana romantis ini.
     Ucha melirik sekilas arlojinya. “Udah jam setengah sembilan.”
    “Sudah saatnya aku pulang.” Rena menghentikan dansanya, hanya saja masih dalam posisi berdansa.
    “Kenapa?” Ucha agak kesal.
    "Kamu lupa sama kata-kata Papa-ku itu? Aku sudah harus di rumah, sebelum jam sepuluh.”
     "Santai aja, Ren, mending nikmati prom-nya. Nanti aku kebut deh.”
     “Tapi sekarang malam minggu. Jalanannya pasti rame. Aku bisa telat ke sana, Cha.”
   “Tapi tadi aku enggak telat, kan, bawa kamu ke prom ini? Buktinya kita masih sempat ikut acara puncaknya. Malah sebentar lagi kamu bakal dianugerahi gelar prom queen. Aku janji deh, kamu enggak bakalan telat pulangnya.”
    “Cha… aku mau pulang…” rajuk Rena.
    Ucha paling tak tahan melihat wajah cewek yang lagi merajuk. Ia mengembuskan napas seraya berkata, “Oke, terserah kamu aja,”
  Mereka berdua harus menanggung konsekuensinya akibat meninggalkan acara prom. Suara huuuu mengiringi kepergian mereka menuju areal parkir, dimana motor sport Ucha berada. Ucha pasrah. Yah beginilah menjalin cinta dengan cewek rumahan nan patuh terhadap orangtuanya. Pacarannya tidak bisa seenak bodong. Tapi bagi Ucha, di situlah sensasinya. Apalagi, kenyataannya, Rena berhasil mengubah Ucha menjadi pribadi yang lebih baik. Dari cowok ogah-ogahan belajar yang suka telat, menjelma menjadi cowok yang nilainya sekarang tak pernah merah. Lagipula ada untungnya juga pacaran dengan cewek rumahan macam Rena. Rena tak seperti cewek kebanyakan yang selalu posesif. Selama ini, Rena selalu percaya akan kesetiaan Ucha.

*****

      Jam 21:26. Rena tiba di rumah sebelum waktu yang ditentukan Papanya. Di depan pagar rumahnya yang bercat emas, Rena menatap tersenyum Ucha.
      “Maaf yah, Cha, gara-gara Papa aku, kita jadi disoraki teman-teman tadi,”
     “Enggak apa-apa, kok. Lagian kalau sampai aku nganternya telat, bisa ribut Bapak aku sama Papa kamu. Kita satu gereja, kan?”
       Rena memegangi tangan Ucha. Ucha menduga, mungkin inilah saatnya ia merasakan yang namanya first kiss. Jujur saja, selama berpacaran dengan lima cewek sebelum Rena, belum sekali juga ia first kiss atau making love. Ia memang terkenal playboy, tapi playboy-nya bukan playboy tipe cabul. Status playboy-nya hanya di kebiasaannya yang suka bergombal ria. Istilah sekarangnya, suka sepik.
        “Terimakasih yah, Cha…”
        Tubuh Rena dan tubuh Ucha nyaris merapat. Ucha jadi tegang menantikan momen first kiss-nya. Hanya saja khayalannya kelewat jauh. Harus sirna, saat terdengar suara deheman gahar khas orang Jepang. Mereka berdua pun langsung salah tingkah memencarkan diri. Ternyata Pak Norishima.
          “Sudah pulang kalian berdua?” tanya Pak Norishima yang sejak kapan sudah berdiri di dekat pagar.
         “I-iya, Pa.” jawab Rena gugup.
         “Gimana? Asyik, enggak, acaranya?” tanya Pak Norishima lagi.
         “Gimana mau asyik, Pa? Kami berdua ajan harus pulang di tengah-tengah acaranya. Kami melewatkan penganugerahan gelar prom king dan prom queen-nya.” Rena terlihat kecewa. Sepertinya ia yakin sekali bisa meraih. Namun apa daya. Kepatuhan terhadap orangtuanya mengalahkan minatnya pada gelar itu.
      “Itu juga sudah bagus menurut Papa. Karena tak baik anak perempuan pulang malam. Papa tak mau saja anak Papa mengalami hal tak menyenangkan. Apalagi Papa cukup tahu apa yang akan dilakukan sepasang kekasih kalau sudah di atas jam sembilan malam.” Pak Norishima mulai nyinyir ala seorang ayah yang memproteksi anak gadisnya dari hal-hal negatif.
    Ucha mau sekali mencak-mencak. Tapi ada sesuatu yang menahannya dan membuatnua hanya menerbitkan sebuah cengiran. Kalau mau hubungannya langgeng, baik-baiklah dengan calon mertua.
       “Ya sudah, Om, aku pamit dulu,” sahut Ucha.
      Papa Rena acuh tak acuh. Ia lebih memilih menjawabnya dengan senyuman, lalu menatap anak gadisnya lagi. 
      “Rena, sebaiknya kamu tidur. Besok kamu harus berangkat pagi-pagi, kan?”
     Ucha kaget mendengarnya. Ada apa ini? Kenapa Rena tak pernah memberitahukannya kalau ia mau pergi besok.
      “Memangnya Rena mau pergi kemana, Om?”
      “Lho, Rena tak pernah memberitahukanmu kalau besok ia mau berangkat ke Jepang buat kuliah?”
      Ucha menggeleng, ia mengamati wajah pacarnya itu untuk meminta jawaban.
      “Maaf, Cha, aku baru kasih tahu kamu. Soalnya aku lupa aku harus berangkat ke Jepang besok.” jawab Rena. “Sekali lagi maaf yah aku lupa kasih tahu kamu soal hasil tesnya waktu itu. Hasil tesnya juga  baru dikirimkan dua hari lalu. Pas aku mau kasih tahu ke kamu, eh kamu juga mengarahkan pembicaraan ke soal prom.”
   “Kamu berangkatnya jam berapa? Biar aku antar.” Ucha menawari diri supaya bisa melihat wajah pacarnya untuk kali terakhir, sekaligus untuk mengucapkan kata-kata perpisahan.
      Papa Rena langsung menyambar, “Enggak usah repot-repot kamu. Rena diantar sama Om besok jam lima pagi. Mana bisa kamu bangun pagi. Lagian Om juga ragu kamu mau ke sini sebelum jam lima. Dilihat dari jawaban Rena barusan, Om rasa kamu belum pernah tanya sama sekali soal ujian Rena itu. Iya, kan?”
      Ucha tak bisa mendebat. Bukan karena berhadapan dengan orang tua, melainkan karena ucapan papa Rena barusan memang benar adanya. Seingatnya, selepas mengantar Rena ke tempat tes itu, ia belum pernah menanyakan pada Rena soal kapan hasilnya keluar. Bertanya soal kesusahan Rena pun tak pernah. Kali terakhir, ia bertanya soal kondisi Rena itu pada masa-masa awal berpacaran atau pas pedekate. Selebihnya hubungan mereka sepertinya terus berputar-putar di dirinya seorang. Pacar macam apa Ucha ini. Ia menunduk. Rasa-rasanya ia bukan pasangan ideal untuk si Cinderella Moderen ini.
     “Ayo, Rena, masuk. Besok kamu harus bagun pagi.” ajak Pak Norishima yang sudah berada di depan pintu depan rumah.
   “Maaf yah, Cha.. kalau kamu mau datang, datang langsung saja ke bandara. Toh pesawatnya baru take-off jam 07:15.” kata Rena tersenyum.
     Rena berjalan masuk ke rumah, Ucha menggas motornya pulang.

*****

      “Bah!” seru Bapak  Simaungunsong heran menatap anaknya, Ucha keluar rumah di saat derasnya hujan. “Mau kemana kau, hujan-hujan begini?”
      “Bandara.” jawab Ucha di balik helmnya. “Tenang aja lagi, Pak. Aku pake helm sama jas hujan ini.”
    Pak Simangunsong berdecak. “Ke bandara? Mau ngapain, bah? Jangan bilang, mau ketemu pacar kau itu?”
      Ucha hanya nyengir, Pak Simangunsong geleng-geleng kepala.
    Ia tak peduli hujannya begitu mengamuk sekali sampai-sampai tak ada yang berani mengadangnya. Ia nekat saja menerobos lebatnya hujan tersebut. Bertubi-tubi kulitnya digempur titik-titik air yang jatuh ke tanah. Petir yang terus menyalak. Ia tetap saja menggas motor sport-nya menuju bandar udara. Tak sia-sia memang pengorbanannya. Ia tiba dengan utuh.
     Eh tapi, siapa bilang? Sesampai di salah pintu masuk bandara, blackberry yang ia taruh di kantong dalam berdering. Ternyata ada SMS masuk. Dari Rena. Dan jam di blackberry-nya sudah menunjukan pukul 07:03.
    “Kamu dimana? Jadi ke bandara? Kayaknya enggak deh. Sekitar jam enam tadi, hujan mulai turun deras. Mungkin di sana juga hujan. Sebaiknya kamu enggak usah ke bandara. Aku juga sudah ada di pesawat. See you few months later.
   Walau Rena berkata seperti itu dalam pesan singkatnya, Ucha tak segera pulang. Ia harus bisa menemui Rena untuk kali terakhir. Ia tetap berlari-lari kesetanan di dalam area bandara. Dalam pencariannya itu, ia bertemu keluarga Rena.
     “Om, Tante, Rena-nya sudah berangkat?” tanya Ucha agak panik.
   Ibu Norishima geleng-geleng kepala, sedang suaminya menjawab, “Rena sudah sejak lima menit lalu masuk. Mungkin pesawatnya akan lepas landas. Itu pesawatnya.” Ia menunjuki pesawat yang dinaiki Rena.
    Benar saja. Pesawatnya akan mau lepas landas. Ah mengapa Ucha bisa bangun kesiangan di saat hari terakhir ia bertemu pacarnya? Ia agak menyesali keputusannya bermalas-malasan di atas ranjang. Ditatapnyalah pesawat itu dengan mata berkaca-kaca. Terasa juga pundaknya dirangkul seseorang.
      “Ucha… Om jadi merasa muda kembali melihat perjuanganmu ke bandara ini…”
    “Kamu ada-ada saja, Cha. Kayak mau kiamat aja. Padahal kalian kan masih bisa berhubungan lewat internet. Desember nanti, Rena juga balik kok.” timpal Ibu Norishima.

*****

      Satu dekade berlalu. Ucha dan Rena.  Siapa sangka cowok berandalan bisa cocok juga dengan cewek rumahan – bahkan hingga pelaminan. Kini mereka berdua telah berada di singgasana sepasang mempelai. Mereka berdua saling bersitatap.
     “Ren,” desis Ucha. “akhirnya kita menikah juga yah, walau ribet juga prosesnya itu. Lagian kenapa juga mau nikah aja dipersulit?”
  “Tapi akhirnya nikah juga, kan?” Rena terkikik. “Yah mungkin juga proses ritual; adat yang cukup melelahkan ini ingin mengajarkan bahwa hidup setelah pernikahan itu jauh lebih rumit daripada pernikahannya itu sendiri. Kalau prosesnya aja udah ngeluh, gimana nanti setelah nikah?”
     Ucha tersenyum. Dalam hati, ia membenarkan ucapan pacar – eh istrinya itu. Ia jadi merasa tak enak saat cemberut menjalani tahap demi tahap ritual adatnya. Semoga saja ‘cemberut’ tak akan ditemukan dirinya dalam perjalanan pernikahannya kelak.
      Bak cerita Cinderella, sepasang sepatu kaca telah bersatu kembali setelah beberapa kali terpisah.