Thursday, June 19, 2014

ANOTHER FICTION: CINTA TANGERANG - TOKYO






Seorang remaja lelaki masuk setelah seorang pria paruh baya menggeser pintu. Pria paruh baya itu mungkin wali kelasnya – atau dalam bahasa Jepangnya, sensei. Ia menuliskan beberapa aksara Jepang. Mungkin Hiragana, Katakana, atau bisa jadi Kanji.

Remaja lelaki itu memang fasih berbicara Jepang, tapi hanya mengerti romaji (Itu lho, bahasa Jepang dalam huruf latin). Untuk aksaranya, dia sungguh dungu. Tapi ia yakin, dirinya tengah diperkenalkan. Sebelum diperkenalkan, ia ambil inisiatif untuk bersahut lebih dulu:

"Ohayou! Hajimemashite, watashi wa Wawan, Indoneshia jin desu, Tangerang kara kimashita. Douzo yoroshiku onegaishimasu.

Sang wali kelas nyengir sekaligus mengernyit dahi. “Nani? Tangerang?”

“Yah, saya datang dari Tangerang, bukan Jakarta,” Wawan tahu kota lahir sekaligus kampung halamannya itu tak terlalu terkenal. Tak hanya di luar negeri, tapi dalam negeri juga.

Segera saja ia bergegas menuju papan tulis berwarna dasar hijau muda. Walau tak fasih, untuk satu-dua karakter ia tahu. Apalagi ia sudah sengaja melatih malamnya untuk satu kata itu. Ia menuliskan Tangerang dalam aksara Hiragana. Seusainya, terdengar koor yang melafalkannya. Lafal khas Jepang yang cadel.

Arigatou  Wawan,” Sang guru tersenyum seraya mengarahkan dirinya untuk duduk di bangku kosong yang ditunjuk. “Silakan duduk di sana!”

Wawan ber-ojigi. “Hai, arigatou sensei !”

Saat ia duduk, langsung saja dikerumuni murid-murid kelas sepuluh. Suasana jadi heboh. Segera saja sang wali kelas mengondusifkan suasana. Situasi terkendali. Prahara dalam kelas sirna. Plong sudah hati Wawan

Namun hanya untuk sementara. Saat waktu istirahat, ia lagi-lagi dikerubuni. Ini kali pertamanya, ia bercakap-cakap dalam bahasa Jepang panjang lebar. Sebelumnya, mulutnya hanya terbiasa dengan bahasa Inggris dan Indonesia. Bahasa terakhir digunakannya saat berada di rumah. Walau sudah lancar karena hobi menonton anime dan baca manga, tetap saja dalam prakteknya, dirinya agak canggung.  Sebab mulut dan kerongkongannya belum terbiasa.

“Wawan,  katanya kau berasal dari Tangerang?” tanya seorang teman barunya yang katanya bernama Akira. Di Jepang, nama Akira itu bisa untuk lelaki ataupun perempuan. Dan Akira ini adalah laki-laki.

Hai… Nande ?” Giliran Wawan yang bertanya. Sesungguhnya ia tahu makna pertanyaan Akira itu.

Gomen ne, Wawan,” ujar Akira. “Hanya saja, aku masih asing dengan nama kota itu. Kota-kota di Indonesia yang kutahu itu hanyalah Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, dan Bali." Murid-murid lainnya mengangguk mengiyakan. Wawan jadi geli mendengarnya. Astaga, Bali itu kan nama pulau – bukan kota?

“Kenapa tertawa?” Shinichi yang tinggi linglung melihatnya tertawa sendirian. Pertanyaannya barusan itu sepertinya mewakili perasaan yang lannya juga.

Sumimasen ,” ucap Wawan setelah tawanya reda. “Hanya saja aku agak geli saat kalian bilang Bali itu kota. Asal kalian tahu, Bali itu nama pulau sekaligus provinsi. Di sini mungkin setingkat prefektur.”

Teman-temannya merona merah. Bersamaan dengan itu, Wawan merasa kantong kemihnya tak tahan untuk tidak mengeluarkan air berlebih yang tertampung.

Gomen,” kata Wawan bangkit berdiri. “Aku kebelet nih. Toiletnya dimana yah?”

“Dari arah pintu kelas, kau belok kiri saja, lalu jalan terus. Toiletnya ada di sebelah kiri. Dan kau jangan takut, semuanya dalam aksara Jepang. Kalau jeli, ada papan bertuliskan latin di pintunya.” jawab Takeo, murid berkacamata yang duduk di sampingnya. Murid bertampang mirip Detektif Conan itu tersenyum.

Dari pipi memerah semerah bunga sakura yang sudah mekar, murid-murid itu jadi berusaha menahan tawa akibat ulah Wawan yang tergopoh-gopoh menuju toilet. Ia pergi ke toilet menurut tuntunan Takeo tadi

Memang susah berjalan nyaman seraya hasrat ingin buang air kecil sudah menggebu-gebu. Itulah yang dirasakan Wawan, apalagi harus jeli melihat aneka tulisan yang ia temui. Salah-salah ia malah buang air kecil di kantin sekolah atau aula olahraga. Yah inilah susahnya pintar bahasa Jepang hanya berbicara saja, namun tak dapat membaca aksaranya. Syukurlah apa yang dikatakan Takeo itu tak salah. Akhirnya ia menemukan juga toiletnya. Tepat sekali, di depannya memang ada tulisan latinnya: “Toilet” – dan tepat di samping ruangan besar, mungkin itu ruang gurunya. Karena banyak pria-wanita hilir-mudik keluar dan seragamnya tak sama dengan seragamnya.

Tepat pada saat akan masuk ke toilet khusus pria, ia dikejutkan suatu hal. Di depannya, telah berdiri sesosok gadis berkepang dua dengan ujung matanya itu seperti sebuah ekor. Hidungnya mancung, tapi sedikit runcing seruncing jarum. Jika disaksikan seksama, gadis itu punya lesung pipi. Kalau kata orang Jepang sini, sore wa hontou kawaii desu .

Sekejapnya saja, terbersit dalam pikirannya sebuah memori yang sulit dihapus. Memori itu tentang seorang anak perempuan dalam masa kanak-kanaknya. Sahabat masa kecilnya. Cinta pertamanya. Jurina.



*****



Jurina. Jurina Honda – nama lengkapnya. Gadis peranakan Jepang – Manado ini dulu awalnya sering diolok-oloknya karena nama belakangnya itu. Katanya dulu:
Kok mirip sama nama merek motor sih?” Lalu gadis itu membalasnya: “Dasar Hitam!”  (Kini pun, ia masih tetap berkulit agak gelap). Seterusnya mereka jadi sengit adu mulut. Itu nyaris terjadi saat keduanya bersua. Saking seringnya cekcok, kawan-kawan SD-nya berceletuk : “Kalian ini seperti suami-istri saja.”

Awalnya baik dirinya dan Jurina tak terima. Namun lama kelamaan timbul  bibit asmara di hati masing-masing. Terutama ketika peristiwa itu. Saat itu, guru bahasa Inggrisnya membagi beberapa kelompok, lalu tiap kelompok akan dibagikan tugas. Tugasnya itu bikin karangan dalam bahasa Inggris tentang topik yang sudah ditentukan. Entah sudah ada suratan takdirnya, ia sekelompok dengan Jurina bersama dua murid lainnya. Kebetulannya juga, kelompoknya itu mendapatkan topik tentang Jepang. Dua temannya sungguh mengelus dada karena ada Jurina. Gosipnya, selain Inggrisnya lancar, bahasa Jepangnya juga sama fasihnya. Karena itulah, Wawan setuju sepulang sekolah nanti, mereka semua kumpul di rumah Jurina untuk mengerjakan tugas. Mereka pergi ke sana dengan menumpang mobil sedan Jurina.

Jam 15.00, mereka  sudah tiba di rumah Jurina. Termasuk Wawan sendiri, tak ada yang mengira rumah Jurina mewah sekali. Terlewat mewahnya, sampai-sampai orangtua Jurina mempekerjakan seorang satpam untuk menjagai rumah tersebut, selain mempekerjakan sopir pribadi dan beberapa pembantu rumah tangga. Maklum saja, ayah Jurina itu bekerja di kedutaan besar Jepang.

Sebetulnya juga, mereka semua sudah tahu jikalau Jurina tinggal di Bumi Serpong Damai, kawasan perumahan elit yang telah lama dikenal karena penghuninya merupakan orang-orang kaya. Tapi tak benar-benar mengetahui, rumah Jurina itu sungguh seperti istana para dewa.

“Ayo masuk, tak perlu sungkan-sungkan!” sahut Jurina ramah ketikamereka berada di pintu masuknya.  

Saat itu, ia merasa timbul perubahan dalam rupa Jurina, anak perempuan yang sering dicemoohnya itu. Anak perempuan itu tak lagi memasang tampang galak saat berdebat kusir dengannya. Jurina saat itu sungguh manis sekali. Senyumannya sungguh seperti senyum bidadari.

Lamunannya baru buyar sewaktu punggungnya disenggol Wendi, temannya yang berwajah pipih dan berkacamata. Mukanya merah.

Wendi dan Dedi terkekeh-kekeh menatapnya.

“Kenapa, lu, Wan?” Wendi nyengir. “Kok bengong gitu?”

“Kesengsem lu sama Jurina?” ledek Dedi dengan suara berbisik.

Baru saja akan diresponnya ejekan kedua temannya itu, Jurina berkata, “Eh kok jadi bengong sih? Ayo masuk.”

Entah Jurina memperhatikan atau tidak warna kedua pipinya, yang jelas Wawan beringsut masuk sambil mesem-mesem. Di belakangnya, kedua teman main playstation-nya itu semakin keras tawanya. Tampak Jurina kebingungan. Saat dikonfirmasi, baik Dedi dan Wawan kompak menjawab, “Enggak apa-apa kok,”

Lalu mereka berdua telah berada di ruang keluarganya. Tampak mereka amati ada sebuah televisi plasma. Kurang lebih lima-enam langkah, terdapat beberapa sofa dan meja persegi panjang. Di sanalah mereka mengerjakan tugas kelompoknya. Tak hanya mengerjakan tugas kelompoknya, bonusnya Jurina dengan baiknya mengajarkan bahasa Inggris dan Jepang kepada dirinya dan teman-temannya itu. Di dalam nuraninya, ia jujur mengakui kefasihannya berbicara Jepang itu dikarenakan yang mengajarkannya kali pertama ialah Jurina,  anak perempuan yang suka diledekinya, sekaligus cinta pertamanya tersebut.



*****



“Jurina?”

Kesoktahuannya terbit. Gadis yang disok-kenal-sok-dekatinya itu terheran-heran. Selain dahi berkerut, kedua mata gadis itu dipicing-picingkan menatapinya. Langsung saja telunjuk gadis itu mengayun-ayun persis di hadapannya.

“Kamu Wawan, kan?” ujar gadis itu dengan bahasa Indonesia yang keluar spontan.
Tak karuan perasaan Wawan. Jantungnya berdegup kencang, jadinya. Setelah nyaris tiga tahun tak berjumpa, Jurina masih mengingatnya. Di Jepang pula. Begitu riangnya, hasrat ingin pipisnya lenyap seketika.

“Kamu masih ingat aku, Ju?” Tanpa sengaja, Wawan menyapa Jurina dengan sapaan kecilnya, Juju.

“Ya iyalah, kamu tuh dari dulu enggak berubah lagi. Masih tetap hitam dan rambutnya tetap kriwil-kriwil.” Jurina terkikir-kikik. “Oh iya, bagaimana keadaan Tangerang sekarang?” Pertanyaan yang aneh Seharusnya Jurina mempertanyakan keberadaan Wawan di Jepang. Wawan sendiri ada di Jepang karena ayahnya dipindahtugaskan ke salah satu cabang yang ada di Tokyo.

Saat ia akan menjawab, teman Jurina yang berambut panjang dan tirus keluar menghampiri. Jurina memperkenalkannya pada Wawan. Setelah itu, dirinya yang sudah tak ingin ke toilet lagi mengikuti Jurina dan kawannya ke kantin. Jurina sengaja mengajaknya ke kantin, karena temannya yang bernama Minami itu penasaran saat  dia bilang berasal dari Tangerang, kota kecil yang jarang sekali diketahui orang.

“Jadi seperti apa Tangerang itu?” tanya Minami dengan animo tinggi. “Saya belum pernah mendengarnya. Saya hanya tahu Jakarta, Semarang, Surabaya, atau Bandung. Oh ya, satu lagi Makassar. Saya dengar, di sana ada tempat hiburan seperti Disneyland tapi indoor yah?!”

Wawan mengangguk.

“Iya, Wan, sekarang Tangerang seperti apa?” Jurina mengompori.

“Tangerang itu…” Wawan mulai bercerita  sembari menatap Minami. “kota kecil yang terletak tak jauh dari ibukota Jakarta. Kurang lebih satu jam perjalanan dari Jakarta, kita sudah sampai di Tangerang. Jika kamu ke Indonesia, sebetulnya secara tak langsung sudah pergi ke kota yang juga merupakan kampung halaman saya sendiri. Sebab bandara internasional Soekarno-Hatta memang ada di Tangerang. ”

Minami mengangguk, pandangan Wawan berganti ke arah Jurina. Ia melihat Jurina tersenyum. Asal ia tahu, sekarang ini Jurina dalam hatinya memuji kecakapannya berbahasa Jepang. Saking cakapnya, lafalnya itu sudah mirip orang Jepang tulen.

“Oh yah, Ju, kini di Tangerang, semakin banyak saja mal didirikan. Kalau kamu balik ke sana lagi, kujamin kamu pasti hang-out terus ke mal.”

Jurina tergelak. “Banyak mal, pasti makin macet. Apalagi terakhir kali aku di sana, memang sudah ramai, kan?”

Wawan ikut tergelak. “Kamu benar.”

“Oh yah, Pasar Lama masih ada?”

Tiba-tiba Minami memotong pembicaraan, “Pasar Lama? Apa itu?”

Kali ini Jurina yang menjawab, “Itu salah satu kawasan China Town di sana, Minami. Maklum saja, banyak keturunan China di Tangerang, yang dulunya merupakan pekerja kasar yang didatangkan pemerintah kolonial Belanda – dari daerah Manchu pada abad 18 dan 19. Di kota itu juga dulu ada Seinendan dojo. Sewaktu tentara Jepang menganeksasi Indonesia, kota Tangerang memiliki peranan yang cukup penting.”

Wawan terpana mendengar penjelasan Jurina tadi.  “Wah, Ju, kamu dari dulu tak berubah juga yah, tetap saja menyukai pelajaran Sejarah. Jangan-jangan nilai Sejarah kamu paling tinggi lagi di sini?”

Dipuji seperti itu, Jurina jadi tersipu malu. Rupanya juga, Minami memperhatikan perubahan raut wajahnya barusan.

“Wah Juu-chan, sepertinya aku tahu siapakah pria Indonesia yang selalu kau sebut-sebut, tiap kali kamu mengobrol denganku. Orang itu…” Minami memberikan kode dengan wajahnya. Jurina semakin merah wajahnya. Dengan pandangan masih di Wawan, Minami iseng saja berseloroh, “Oh iya, Wawan-kun, apakah Tangerang punya tempat ideal untuk berkencan?” – dan itu membuat Wawan berdebar-debar.

Apa maksud perkataan Minami tadi? Apakah Jurina punya perasaan yang sama juga? Wawan mulai berpikir macam-macam.

Minami berdehem-dehem kencang menggoda mereka berdua.

“Ada apa sih dengan kalian berdua? Kenapa kalian jadi saling bersitatap dengan pipi sama-sama semerah daun sakura.” Kali ini, Minami begitu menatapi Jurina dengan nakalnya. “Juu-chan, cowok ini kan yang selalu kamu sebut-sebut namanya itu? Kamu juga selalu bilang, cowok itu berkulit gelap tapi macho. Rambutnya juga sama dengan penggambaranmu: ikal.”

Kata-kata Minami itu sungguh bikin jantung Wawan mau copot rasanya. Siapa sangka Jurina memendam perasaan suka padanya. Ia kira, selama ini Jurina hanya menganggapnya sebagai teman, sebagai sahabat. Ternyata oh ternyata. Fakta itu membikin dia menenggak ludah beberapa kali.

Untung saja, bel berbunyi nyaring. Penyelamat. Bel bisa menjadi alasannya untuk kabur. Bisa bahaya jika terus menerus berada di dekat Jurina maupun Minami. Mungkin saja, ia bisa mengalami gagal jantung dan harus dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan ambulans.

“Wah sudah waktunya masuk,” kata Wawan cengengesan. “Aku kembali ke kelas dulu yah.”

“I-iya, aku juga,” timpal Jurina yang bangkit berdiri juga.

Baik Wawan maupun Jurina nyaris berjalan bersamaaan – dengan  kecepatan yang sama pula. Hal itu membuat Minami terbahak-bahak melihatnya.