Friday, December 20, 2013

ANOTHER FICTION: Dilema Itu Bernama JKT48 - Final Chapter


Chapter-chapter sebelumnya: satuduatigaempatlima, enam.



Juli 2014,


Setelah melewati banyak halangan dan tahapan, di sinilah Alethea Anastasia berada - Tokyo, Jepang. Thea akhirnya berhasil berada di tahap akhir sebelum benar-benar menjadi bagian dari JKT48. Ia tengah berada di sebuah hotel bersama sekumpulan gadis yang bermimpi sama. Mereka semua tengah bersiap untuk unjuk gigi di hadapan sang total producer, Yasushi Akimoto - atau yang akrab disapa Aki-P.

Sudah seminggu ini, Thea dan lainnya berada di Jepang. Ia tak begitu memedulikan berada di distrik manakah. Ia terlalu tegang dan gugup untuk audisi yang rencananya diadakan besok pagi itu. Sesuai agendanya, audisi itu akan diadakan di teater milik AKB48 langsung. Wow! Sesuatu yang bisa dibilang cukup langka. Kata manajemem JKT48, mereka akan diperbolehkan menonton penampilan AKB48, entah itu tim A, K, B, 4, atau tim kenkyusei. Namun jujur saja, Thea kurang antusias. Ia kan bisa dibilang fan baru AKB48. Ia belum memiliki oshimen. Tapi kalau dipaksa, ia ingin sekali melihat penampilan dari Minami Takahashi. Atau Tomomi Itano - sayang member yang satu itu sudah lulus.

Sekarang ini, Thea sedang berada di kamar. Ia tinggal di kamar itu bersama lima orang gadis yang tak begitu dikenalnya. Apalagi gadis-gadis itu juga tak satu sekolah maupun satu kota. Sembari memegangi ponselnya, ia memandangi bakal kawannya itu. Ada yang berambut pendek sebahu, ada yang berambut keriting, ada yang berpipi tembem, hingga ada pula yang bersuara begitu cemprengnya. Mereka semua, sama seperti dirinya, belum tidur. Itu sindrom biasa - yang terjadi sebelum hari istimewa nan bersejarah dalam hidup masing-masing.

Thea kembali menatapi layar ponsel. Ia dengan lincahnya menekan tuts-tuts, sehingga menghasilkan satu tulisan yang dipertunjukan ke seseorang. Itu Aldo. Hubungannya dengan cowok itu kali ini sungguh rumit dijelaskan. It's complicated. Bisa dibilang, hubungan mereka itu teman tapi mesra. Hubungan mereka itu HTS - Hubungan Tanpa Status. Dibilang pacar, sebelum audisi, mereka sudah mendeklarasikan diri untuk berteman saja. Namun dibilang teman, kemesraan saat masih berpacaran itu tetap terjaga. Masih tetap saling kontak di WeChat, Line, atau SMS. Mereka bahkan masih suka saling telepon. Masih suka pula jalan bareng ke mal. Hubungan ini sangat berbahaya, terutama jika Thea benar-benar diterima sebagai anggota JKT48. Sudah ada beberapa contoh, anggota yang dikeluarkan karena ketahuan memiliki seseorang spesial.

"Besok aku udah audisi. Di depan Akimoto-sensei nya langsung. Doain yah, keterima. Oh yah, kamu gimana? Kapan berangkat ke Amerika-nya? Kamu jadi kan kuliah perfilman di sana?"

Begitulah isi pesan Thea kepada Aldo. Dan tak perlu waktu setengah jam, balasan sudah sampai. Aldo menjawab, "Dua hari lagi, Te, aku berangkat ke Amerika. Good luck yah. Ganbatte!" Karena cukup jago berbahasa Jepang, cowok itu menuliskan 'ganbatte' dalam aksara Hiragana. Thea cekikikan sendiri membacanya. Dasar alay! - pikir cewek itu dalam hati.

"Hei," seru seorang gadis. Si Rambut Keriting. Namanya Risah. "Senyum-senyum sendiri. Lagi chat sama siapa sih?" Cewek itu tersenyum jahil padanya.

Yang bersuara cempreng menimpali, "Dari cowoknya yah???" Nama si cempreng itu Audrey. Biasa dipanggil Audi. Dan karena seorang Wapanese, ia berharap dipanggil Dicchan.

Thea terkekeh. "Ya bukanlah. Bisa mati gue, kalau ketahuan punya pacar."

Si Pipi Tembem mengomentari - namanya Josephine. "Santai aja lagi. Gue ikut audisi ini sebetulnya masih berpacaran sama cowok gue." Cewek itu terkekeh bangga. Seolah-olah itu sebuah kebanggaan. Sama bangganya saat seseorang berhasil memenangi tur ke Hawaii.

"Gila lo!" sembur Risah. "Kalau ketahuan JOT-nya gimana? Lu bisa gagal audisi. Bisa dipulangin ke Indonesia."

Josephine tergelak lagi. "Yah makanya diusahain jangan sampai ketahuan. Lagian, gue rasa, pasti member-member sebelumnya itu juga punya pacar di luar teater. Dan mereka sukses menyembunyikan pacar mereka itu."

"Ngaco yah, kalau ngomong." kata Risah lagi. "Jangankan JKT-nya, AKB-nya aja nih, ketahuan punya hubungan, siap-siap kena sanksi. Contoh teranyarnya, Minami Minegishi. Sayaka Akimoto juga sama. Terus ada lagi Rumi Yonezawa atau Natsumi Hirajima. Dengar-dengar juga Annisa Athia terpaksa graduate karena masalah no dating rule itu."

Si Pipi Tembem masih berwajah santai dan terkekeh. Sepertinya ia menganggap dirinya bisa mempermainkan JOT. Sementara Thea mulai ketar-ketir. Gugupnya semakin parah. Pikirannya mulai memikirkan hal-hal aneh. Contohnya, bagaimana kalau ia lolos? Sudah pasti statusnya naik. Dari awam jadi selebritas. Pasti akan sulit menjaga keprivasian dalam hidup. Susah juga untuk hang out, apabila Aldo pulang. Pasti wajahnya akan dikenal, minimal oleh remaja. Itu pasti membuatnya dalam posisi tersudut.

Si Rambut Pendek yang dari tadi sibuk membaca dan memerhatikan obrolan tersebut, mendadak angkat suara. Ia terkekeh dan berkata pada Thea: "Kamu kenapa? Kok jadi tegang gitu? Biasa aja lagi. Santai aja. Baru kali ini yah - ikut audisi?!"

Thea tersenyum. "Nggak kok, nggak ada apa-apa. Lagian audisi ini juga bukan yang pertama. Sebelumnya juga pernah ikut, cuman rontok di tahap pertama." Ia terkekeh sendiri.

Yang lainnya ikut serta tertawa juga. Ruang kamar ini, walau sudah jam sembilan, jadi begitu gaduh. Berharap saja tidak mendapat teguran dari pihak JKT48 Operational Team. Eh tapi saat Audrey bersuara - katanya: "Jangan-jangan lu punya pacar yah?", pintu kamar mereka diketuk. Ternyata itu dari pihak JKT48 Operational Team. Seru salah seorang dari manajemennya: "Hey, sudah jam sembilan malam, kalian tidur." Mendengar suara yang cukup keras itu, mereka langsung terdiam dan mulai memejamkan mata.


*****

Hari H. Jam tujuh pagi, para peserta audisi JKT48  Generasi Ketiga sudah berada di aula hotel. Mereka bersiap menuju tempat audisi. Kali ini, ketegangan benar-benar mencekam. Nyaris tak ada yang sungguh berwajah santai. Kalaupun ada, wajah santai itu tak benar-benar santai. Hanya wajah tegang yang dipaksakan berwajah santai.

Sebelum bus yang akan mengantarkan mereka itu tiba, seorang perempuan yang berasal dari manajemen berdiri di hadapan mereka. Dengan microphone di tangan, ia berujar, "Mohon bagi nama-nama yang dipanggil, harap segera maju ke depan." Lalu perempuan yang berusia dua kali lipat dari para peserta audisi itu menyebutkan beberapa nama. Yang dipanggil segera maju ke depan. Selain tegang, mereka juga bingung. Ada apa yang terjadi sebetulnya?

"Kalian tahu kan - kalian tidak boleh berpacaran selama kelak menjadi bagian dari JKT48?" kata si perempuan itu tanpa senyum.

Mereka semua mengangguk. Dan... di dalam hati masing-masing, mereka mulai cemas.

"Mungkin  kalian semua tidak tahu, kalau kamar dimana kalian beristirahat itu sudah dipasangi CCTV. Selain itu, ada beberapa orang dari manajemen yang patroli. Itu kami lakukan untuk menjaga agar aturan no dating itu tidak tercederai."

Mendengar kata-kata itu, para peserta audisi yang dipanggil itu jadi tertunduk. Termasuk Josephine yang semalam itu begitu arogannya memandangi aturan nomor satu di 48 Family. Mereka semua harus menerima konsekuensinya. Yaitu dipulangkan, sebelum bisa unjuk gigi di hadapan Akimoto-sensei. Total yang akan dipulangkan, ada delapan orang.

"Maaf yah, kalian harus dipulangkan. Kalian dinyatakan gagal audisi. Bagi 48 Family, yang namanya aturan harus dijunjung. Kedisiplinan itu mutlak. Dan itulah yang membuat 48 Family jadi sebesar sekarang." ucap si perempuan itu lagi. "Kalian bisa kembali ke kamar untuk mengemasi barang-barang kalian untuk segera pulang ke Indonesia."

Lalu, dengan ditemani beberapa orang dari manajemen, kedelapan orang itu berjalan lunglai ke kamar. Mereka benar-benar tertunduk lesu. Di saat itu, salah seorang manajemen mendekati Thea. Gadis itu jadi deg-degan. Ia mulai pasi. Ya Tuhan, mohon jangan pulangkan aku. Tinggal selangkah lagi nih. 

Seseorang itu berbisik padanya, "Menurut gosip, kamu punya pacar. Apa itu benar?"

Thea menggeleng.

"Boleh lihat HP-nya?"

Thea mengeluarkan ponselnya dengan takut-takut. Seseorang itu menerimanya dan mengutak-atik isi ponselnya. Itu sekedar untuk memastikan Thea tidak memiliki kekasih.

"Oya, kalau boleh tahu, Aldo ini siapa? Dan apakah cowok yang ada di folder itu yang namanya Aldo?" tanya seseorang itu seperti seorang polisi menginterogasi tersangka pencurian kendaraan bermotor.

Bibir Thea mendadak kelu. Dengan gugup, ia menjawab, "Di-dia cuman saudara aku doang, kok, Kak."

"Benar?"

Thea mengangguk pelan.

"Oke, semoga kata-katamu benar." kata seseorang yang sepertinya tak mudah percaya. Lalu ia melenggang begitu saja menjauh.

Thea menghela napas. Ia mengucapkan syukur pada Tuhan, tak terjadi hal-hal buruk. Masih juga diperbolehkan untuk mengikuti audisi tahap akhir. Sepertinya - apabila lolos nanti - ia harus benar-benar ekstra hati-hati, supaya hubungannya dengan Aldo itu tak tercium khalayak. Konyol jadinya - masih berstatus trainee, tapi harus lulus karena ketahuan melanggar aturan no dating. Mungkin hubungannya dengan Aldo memang harus benar-benar hanya menjadi hubungan pertemanan saja.

Sepuluh menit kemudian, bus itu datang juga. Bus itulah yang mengantarkan mereka ke tempat audisi. Setelah menunggu sekian lama, tibalah mereka di waktu yang ditunggu-tunggu. Audisi terakhir - di hadapan Yasushi Akimoto dan seorang yang bertugas sebagai penerjemah. Mereka disuruh memperkenalkan diri, menyanyikan sebuah lagu, lalu sekedar bertanya-tanya - yang masih ada hubungannya dengan 48 Family. Hasil audisi itu tak butuh waktu 1 x 24 jam. Hanya perlu waktu dua jam, hasil sudah keluar. Dan bersyukurlah Thea karena akhirnya bisa menjadi bagian dari JKT48.

Tunggu. Mimpinya memang sudah tercapai. Lalu bagaimana dengan hubungan cintanya itu? Memikirkannya saja, sudah membuat Thea pusing tujuh keliling.




TAMAT