Tuesday, December 17, 2013

ANOTHER FICTION: Dilema Itu Bernama JKT48 - part 6





Chapter-chapter sebelumnya: satuduatigaempat, lima.



Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Apa yang menimpa Aldo dan Thea, akhirnya terendus juga. Bukan, bukan karena Ester. Sahabat terbaik Thea itu bukan tipe penggosip. Ester sungguh seorang teman yang bisa diandalkan. Tembok terbaik untuk mencurahkan isi hati. Kita dapat mengeliminasi Ester dari faktor penyebab masalah Aldo dan Thea itu tersingkap. Selain itu, bukan juga karena Jeko, Tomi, atau semua murid yang berhubungan dengan Aldo atau Thea. Itu murni karena gerak-gerik mereka berdua yang memang agak mencurigakan.

Beberapa rekan sekelas sudah menengarai ada yang tidak beres. Aldo dan Thea, selama ini mereka sudah lama dikenal sebagai hot couple. Dua tahun berpacaran nyaris selalu membuat banyak orang iri setengah mati. Banyak adik kelas yang mengkhayalkan ingin punya pacar seperti Aldo yang bak pangeran di sebuah kisah dongeng. Aldo sungguh tahu bagaimana memperlakukan seorang perempuan. Begitupun dengan Thea. Sudah banyak siswa yang ingin memiliki kekasih seperti seorang Thea yang tak seperti perempuan kebanyakan - yang tidak posesif berlebihan, selalu berpikiran positif, dan pastinya tidak materialistis. Kekurangan Thea hanya satu: sering menyampaikan sesuatu dengan menggunakan kode.

Baru saja Aldo bangkit berdiri dan hendak menuju kantin, seorang temannya yang berkulit cukup legam menghampiri. Namanya Santos. Cowok itu menepuk pundaknya dan sok merangkul - sembari berseloroh: "Bro, lu sebetulnya ada apa sih sama Thea? Teman-teman yang lain sudah curiga kalau lu berdua baru aja mengalami sesuatu. Lu ketahuan selingkuh yah?" Tentunya hal itu diucapkan dengan suara sepelan mungkin.

Aldo nyengir. "Ya nggak mungkin-lah gue selingkuh. Kan Thea juga cewek yang udah gue taksir sejak kelas sepuluh."

"Yah kali aja lu khilaf." ujar Santos terkekeh.

"Iya, Bro. Lu sama Thea lagi ada apa sih? Cerita dong sama kita-kita. Kita-kita ini sahabat lu, bukan?" timpal Dion yang ikut menimbrung.

"Kalian ini kepo ye?!" sindir Aldo. "Nggak usah keseringan nonton infotainment. Nggak bagus."

Lalu Aldo melenggang begitu saja - meninggalkan kawan-kawannya yang masih dirundung penasaran. Karena tak mendapatkan informasi apa-apa, kawan-kawannya itu beringsut ke arah Ester. Mereka tahu Ester merupakan siswi yang cukup dekat dengan Thea, selain satu mobil antar-jemput tentunya. Namun nihil. Ester terus bungkam dan berkata, "Udah deh, nggak usah kepo. Untungnya apa sih lagian - tahu masalahnya Thea sama Aldo?" Kata-kata cewek berkacamata itu bikin mereka semua senewen.

Kembali ke Aldo. Cowok itu berjalan menyusuri lorong. Ia mencoba bersikap biasa seolah-olah masalahnya dengan Thea itu tak pernah ada. Ingin rasanya menjadi seorang yang putus asa; yang berjalan lunglai, tertunduk, dan sungguh tak bergairah. Namun ia tak bisa. Sama seperti Cindy Gulla yang waktu itu berjumpa dengannya di Pasar Lama, ia juga tipe yang bisa menyembunyikan masalah. Terhadap tiap orang yang ditemui dan kenal akrab, ia masih tersenyum dan ber-say hi. Dari luar memang terlihat tegar, tapi dalamnya kopong. Ia rapuh.

Dalam pikiran, ia masih terngiang-ngiang kata-katanya pada Cindy Gulla. Waktu itu, ia berujar: "Yah mau gimana lagi. Kadang dalam hidup ini, kita harus mengorbankan sesuatu demi sesuatu. Mungkin itu resiko yang harus kamu ambil, kalau kamu mau sukses berkarir di industri musik." Kalimat ini harus digaris-bawahi: "Kadang dalam hidup ini, kita harus mengorbankan sesuatu demi sesuatu." Akibat satu kalimat itu, ia jadi merasa sangat bersalah terhadap Thea. Sebagai seorang kekasih, bukankah ia harus mengerti apa maunya Thea? Cita-cita Thea adalah menjadi penyanyi - dan gadis itu seorang perfeksionis. Jika tengah berkonsentrasi pada sesuatu, Thea pasti akan memusatkan konsentrasinya pada sesuatu itu. Hal-hal yang kemungkinan akan menjadi hambatan, harus dienyahkan. Kalau Thea maunya putus demi audisi JKT48, ia harusnya bisa menerima dengan besar hati. Tapi jadinya ia malah tidak bisa menerima. Seperti saat jam Olahraga waktu itu. Ia yakin pasti Thea terus terpikirkan pertanyaannya tersebut. Apakah Thea sungguh mencintai seorang Aldo?

Sudah lima menit sejak memesan sepiring nasi goreng, Aldo seperti tak bernafsu. Ia masih terus terpikirkan soal Thea dan keinginan gadis itu ikut audisi JKT48. Apa ia harus merelakan Thea? Rasa-rasanya ia tak berhak menghalangi seorang untuk mencapai mimpinya. Akan jadi egois apabila Thea tak jadi ikut audisi karena faktor dirinya. Tapi tunggu dulu. Kata-kata si satpam mesum juga ada benarnya. Ester juga berkata yang sama. Itu kan baru pendaftaran. Baru bakal audisi. Memang sudah ada jaminankah - Thea bakal lolos audisi? Semestinya dari awal, ia tak perlu memberitahukan soal aturan tak boleh berpacaran itu. Harusnya ia apatis saja. Namun untuk menyembunyikan sesuatu dari Thea dan berlagak pura-pura tidak tahu itu susah. Lagipula Thea pasti akan tahu sendiri dan marah-marah padanya karena merahasiakan sesuatu. Buntutnya, yah pasti masalahnya akan sama juga. Galau lagi, galau lagi. Selalu berada dalam posisi dilematis. Dan berpacaran secara backstreet dengan situasi Thea yang kelak akan menjadi bagian dari JKT48 itu tidaklah mudah.

"Do."

Aldo mengangkat wajahnya. Terpujilah sang pencipta langit dan bumi, orang yang tengah dipikirkan itu malah muncul. Thea berdiri, lalu segera duduk di hadapannya.

"Eh, Te," ujarnya pelan, tersenyum. "tumben nyamperin aku? Ada apa?"

"Ada yang mau aku omongin sama kamu." kata Thea tersenyum. Senyumnya masih terlihat indah, namun agak menampakan suatu kegetiran. Melihat senyum itu, Aldo agak was-was soal apa yang hendak dibicarakan.

"Soal apa, Te?" tanya Aldo dengan jantung berdebar-debar.

"Ini soal audisi JKT48 itu."

Tuh kan, benar dugaan Aldo tersebut. Jangan-jangan Thea ingin membatalkan keikutsertaannya di audisi tersebut? Bakal senang sih mendengarnya, tapi ia tak mau jadi orang yang egois. Bagaimana kalau ia berada di posisi Thea? Ia punya mimpi jadi sutradara - dan karena mimpinya itu, ia mau kuliah di Amerika Serikat. Lalu Thea berusaha menggagalkan rencana tersebut, karena tak mau menjalani hubungan jarak jauh. Ia pasti akan sama kesalnya dengan Thea; juga sama-sama berada dalam posisi dilematis.

"Mau bahas soal apalagi, Te? Kan udah jelas, kamu mau ikut audisi itu demi impian jadi penyanyi?! Ya udah, jalani aja dengan sebaik-baiknya. Aku dukung kamu, kok." kata Aldo dengan sorot mata yang sebetulnya tidak meyakinkan.

"Kamu benar mendukung aku buat ikut audisi itu?" konfirmasi Thea.

"Iya, aku mendukung." Aldo mengangguk. "Jujur sih, awalnya aku agak keberatan. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, aku bakal jadi orang teregois sedunia kalau menghalangi seseorang untuk mencapai mimpinya."

Thea tersenyum manis. Kali ini benar-benar manis. "Makasih, Do. Tapi semalam aku juga kepikiran kata-katamu waktu itu. Mungkin kamu ada benarnya juga. Impian aku kan hanya jadi penyanyi. Dan audisi tak hanya audisi JKT48 aja. Tahun depan, ada Indonesian Idol juga. Terus masih banyak lagi audisi-audisi lainnya. Aku sadar, aku ini terlalu lebay." Ia terkekeh. "Kata-kata Om Jono sama Ester juga ada benarnya. Itu kan baru audisi, kemungkinan lolos juga nggak gede-gede amat. Bisa aja kan, aku nggak lolos audisi. Apalagi, kudengar juga, juri-jurinya itu dari Jepang langsung. Ada kemungkinan Akimoto-sensei juga datang. Pasti mereka punya standar yang cukup tinggi. Jadi nggak seharusnya aku langsung mutusin hubungan."

Thea lalu tergelak lagi. Aldo juga sama. Sepertinya kata 'putus' tengah menjauhi mereka. Mereka berdua kembali sebagai sepasang kekasih terpanas di sekolah.

"Terus sekarang gimana, Te?" kata Aldo dengan tatapan jahil. "Hubungan kita tetap putus, rujuk lagi, atau backstreet sampai audisi itu?"

Cewek itu mengangkat bahu.  "Nggak tahu yah? Menurut kamu, gimana?" Ia malah mengulum senyum nakal.

Aldo terkekeh. Thea juga sama. Kali ini, nasi goreng itu dilahap cowok itu sampai habis. Ia menyantapnya sembari kembali bercakap-cakap dengan Thea. Cukup banyak topik yang mereka perbincangkan. Namun soal JKT48 tetap merupakan topik utama, terlebih soal persiapan Thea ikut audisi. Hingga tak terasa, waktu cepat bergulir. Bel telah berbunyi. Pertanda mereka harus kembali ke dalam kelas. Selama berjalan berdampingan, Thea membisikan sesuatu: "Do, soal pertanyaanmu waktu itu...."

Deg! Jantung Aldo berdebar-debar. Sebetulnya ia juga tak terlalu ingin mendengarnya. Namun mendengarnya langsung juga tak ada salah.

"...sebetulnya sebelum kamu nembak aku waktu itu, aku udah suka sama kamu."

Aaaaaaaah..... Aldo mau terbang rasanya......




Bersambung.....