Sunday, December 15, 2013

ANOTHER FICTION: Dilema Itu Bernama JKT48 - part 5



Chapter-chapter sebelumnya: satuduatiga, empat.




Sabtu itu memang hari libur untuk murid-murid sekolah tersebut. Tak banyak sekolah yang meliburkan murid-murid di hari sabtu. Walau murid-muridnya tak ada yang datang ke sekolah, jangan kalian pikir juga sekolah itu benar-benar sepi. Para guru dan staf karyawan lainnya masih bisa kita temukan. Hanya saja aktivitas mereka berlangsung sampai pukul dua belas siang.

Pada hari sabtu itu, tak biasanya Aldo menemani mamanya ke pasar. Sesungguhnya ia malas juga. Tidak keren sama sekali - seorang cowok menyambangi tempat yang identik dengan ibu-ibu itu. Di hari sabtu, ia lebih sering masih berada di atas ranjangnya yang empuk. Membasahi bantal dan guling. Baru benar-benar melek di jam sembilan; itu saat matahari sudah terik sekali. 

Tapi kali ini beda. Amat berbeda. Peristiwa beberapa hari silam itu sungguh menjadi mimpi buruk. Tadi malam saja, ia insomnia. Matanya sulit terpejam. Saatnya sudah terpejam, pasti ia akan terbangun. Bangun dengan mata terbelalak - sembari mengingat mimpi apa ia tadi. Sepertinya alam bawah sadarnya masih belum bisa menerima keputusan Thea untuk mengakhiri hubungan mereka. Ia - tadi malam - malah memimpikan Thea menyelingkuhinya. Ia memergoki pacar eksotisnya itu tengah berdua dengan seorang laki-laki di sebuah kafe. Aneh? Yah memang aneh. Ia tahu, selama berpacaran, hubungan mereka amat jauh dari kata affair. Itu mungkin semacam manifestasi dari ketakutan Aldo terhadap pengkhianatan - dan kata 'JKT48' jadi semacam pelatuk yang akhirnya malah mengandaskan hubungannya dengan Thea. 

Bodoh, bodoh, bodoh.

Aldo mengertakan gigi, mengepal erat, dan menatap nyalang ke sembarang objek. Kalau dipikir-pikir, kata-kata si satpam itu benar juga. Itu kan baru pendaftaran dan belum audisi juga. Mengapa ia malah jadi posesif tak jelas? Lagipula menjalani hubungan backstreet juga sebetulnya tak apa-apa. Mungkin kalau Thea benar-benar lolos, demi menyamarkan hubungan, status mereka diubah menjadi 'single'. Memperlihatkan ke publik - mereka sudah putus, padahal aslinya belum. Ibarat kau melihat ke dasar laut sesaat. Dari pandangan mata, tampak damai; padahal jika kau menyelaminya, laut tak sedamai yang kau kira. Yah seperti itulah gambaran hubungan mereka kelak apabila Thea lolos. 

Gara-gara aksi sembrononya itu, Thea malah terdorong mengatakan kata putus. Sekali lagi, ia memang tolol. Seharusnya ia tidak pernah memberitahukan Thea soal aturan 'no dating rule' tersebut. Seharusnya, sewaktu di laboratorium komputer, ia bilang saja seratus persen mendukung keputusan cewek tersebut. Biarkan Thea yang tahu sendiri soal aturan utama JKT48 itu. Biarkan Thea yang galau kali pertama. Biarkan Thea yang memikirkan soal kelanjutan hubungan mereka. Hal itu mungkin bisa menjadi bukti cinta Thea pada dirinya. 

Tapi tunggu dulu. Kalau sudah diberitahukan saja, Thea sudah berani mengatakan kata putus, ia seratus persen yakin Thea akan berkata sama - jika ia tidak memberitahukannya. Tapi sebentar. Saat ia memberitahukan soal 'no dating rule', respon Thea begitu lama. Ia tak langsung berkata, "Kita putus!" Jangan lupakan pula kejadian senin kemarin. Ia ingat betul detail kejadiannya. Waktu ia menanyakan soal perasaan Thea, cewek itu tampak malu-malu menjawabnya - walau diucapkan dengan nada ketus. Kata-kata Thea waktu itu: "Kamu pikirin sendiri aja jawabannya!" 

Oh iya, ia pernah baca, perempuan itu jarang sekali yang bisa blak-blakan mengutarakan perasaannya. Makhluk yang satu itu selalu bermain dengan kode-kode yang susah dimengerti kaum pria. Saat mereka cemburu, mereka tak akan mengatakan langsung bahwa mereka cemburu. Selalu dengan bahasa tarzan. Dan untuk kasus Thea,..... ah, ia tahu jawabannya. Pasti gadis itu suka padanya juga. Kalau dipikir-pikir, apa sih kehebatan seorang Aldo? Aldo itu hanya seorang wota dan otaku - yang nilai-nilainya seringkali membuat orangtuanya memasang tampang face palm sambil mengurut dada. Secara fisik, ia masih kalah sempurna daripada temannya, Thomas - yang berbadan kekar, tinggi, dan berwajah mirip Lee Seung-gi. Kalau Thomas jago memainkan alat musik dan bersuara emas, ia hanya bisa bermain alat musik saja; alat musik yang jadi andalannya ialah piano. Thomas juga mahir bermain beberapa cabang olahraga. Sementara Aldo, cowok itu bisa dibilang payah sekali. Menggiring bolanya saja tak becus. Passing masih sering kebanyakan jatuhnya. Mendribel bola basket masih kewalahan. Berlari hanya kuat dua-tiga putaran; itu karena dirinya mengidap asma. Secara tampang, Aldo tak bisa dikatakan tampan. Secara finansial, ia pergi ke sekolah hanya mengendarai motor bebek warisan kakeknya yang meninggal sewaktu masih kelas 3 SD.

Ah mungkin Thea sungguh mencintainya. Mungkin ada sisi lain dari dirinya yang menjadi penarik cewek berambut panjang dan mata nan indah tersebut. Membayangkan saja, ia sudah nyengir kuda. Hanya saja, yang membuatnya murung lagi, kelakuan Thea akhir-akhir ini aneh. Sebelum ia memaksa Thea untuk menjawab apakah mencintai dirinya atau tidak, sikap Thea bisa dibilang biasa saja; itu kalau kita mengeliminasi waktu mereka berdua berjalan bersama ke ruang tata usaha. Setelah kejadian senin itu, Thea seperti menghindari berkontak mata dengannya. Padahal awalnya ia orang yang menghindari kontak mata kali pertama. Tiap ia mencoba berbicara dengan gadis tersebut, sikap Thea jadi kaku. Singkat cerita, Thea dan Aldo benar-benar jadi orang asing untuk satu sama lain. Orang asing yang baru kali pertama bersua. 








Mendadak matanya menyipit. Retina matanya menangkap sebuah objek yang cukup familiar. Objek itu seorang gadis dengan tinggi badan sekitar 150 cm. Rambut si gadis cukup panjang. Matanya sipit. Wajahnya benar-benar imut. Gadis itu seorang loli. Seorang loli yang ia ingat sekali kalau pernah bertemu. Aldo berusaha mengingat-ingat kapan pastinya bertemu dengan gadis itu. Bola matanya berputar-putar. Lidahnya meraba-raba tiap gigi, sehingga pipinya jadi tembem. Ia yakin pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya. 

Ah... ia ingat sekarang. Gadis yang berdiri tak jauh dari ia sekarang itu Cindy Gulla. Mukanya sama persis dengan Cindy Gulla yang mana ia pernah bersalaman dua minggu lalu di event handshake. Dugaan sementara Aldo itu membuatnya jadi berbinar-binar dan lupa soal Thea. Segera saja ia mendekati gadis yang disangka Cindy Gulla itu. Dan gadis itu sadar tengah didekatinya. Buktinya, gadis yang mengenakan kacamata hitam itu jadi sedikit bergidik. Mungkin itu memang Cindy Gulla. Dan gadis itu bergidik karena takut identitasnya ketahuan dan waktu berharganya untuk bersantai jadi sirna. 

"Eeee..." kata gadis itu takut-takut. "Ada apa yah, Kak?" Gadis itu menyapanya 'kakak', karena ia jauh lebih tinggi.

Jari telunjuknya mengarah ke gadis itu. "Ka-ka-kamu itu Cindy Gulla, bukan?"

Gadis itu tak langsung menjawab. Hanya berdiam diri. Setelah cukup lama tanpa suara, akhirnya gadis itu tersenyum dan mengangguk. Jari telunjuk diletakan di dekat bibirnya dan berkata, "Sssst... tapi jangan kencang-kencang ngomongnya."

"Tenang aja lagi." Ia terkekeh. "Oya, kamu sendiri lagi ngapain di sini?"

Aldo benar. Cindy Gulla tak seharusnya khawatir. Di pasar ini, di pagi hari, ia benar-benar bebas menjalani hari-harinya sebagai orang biasa. Sepertinya tak ada satu pun orang di Pasar Lama itu yang mengenali sebagai Cindy Gulla, member JKT48. Rada sangsi juga, para penjual kaki lima, tukang becak, atau ibu-ibu yang berbelanja itu tahu soal JKT48. Di pasar itu juga nyaris tak ditemukan orang-orang yang sebaya Aldo atau Cindy Gulla. Kalaupun ada, mungkin mereka pura-pura tidak tahu atau malah tak mengenali. Wajar sih. Kalau dilihat-lihat, wajah Cindy Gulla lumayan pasaran.  

"Cuma nemenin Mama aku belanja," kata Cindy Gulla tersenyum. "Juga mau refreshing aja. Beberapa hari ini aku sibuk sama kegiatan di teater dan sekolah. Oh iya, Kakak yang waktu itu kan?"

Aldo cengengesan sendiri. Tak disangka, Cindy Gulla masih ingat padanya. "Iya, yang waktu itu. Kamu masih ingat aja. Eh tapi manggilnya nggak usah pake 'Kak' dong. Aku sebaya sama kamu lho. Cuma beda dua tahun dari kamu. Panggil aja aku Aldo."

"Bisa aja deh." Cindy Gulla nyengir. "Oh iya... dari tadi kuperhatikan, kamu lagi ada masalah yah?"

Bibir Aldo nyaris terbuka lebar. Mimpi apa dia semalam - Cindy Gulla memperhatikannya? 

Melihat Aldo yang terbengong-bengong, Cindy Gulla jadi terkikik. "Kok bengong?"

"Ng-nggak ada apa-apa kok." ujar Aldo mulai keringat dingin. 

Cindy Gulla kembali terkikik. "Kamu lucu."

Ia nyengir. "Kamu juga, Cin."

Cindy Gulla terkekeh. 

"Cin, dengar-dengar JKT48 mau adain audisi lagi yah?"

Gadis yang sekarang berpakaian kasual dan mengenakan topi itu mengangguk. "Kamu mau ikut memangnya? Tapi kamu harus ganti kelamin dulu." Terkekeh-kekeh.

"Ya nggak-lah," timpal Aldo terkekeh juga. 

Cindy Gulla tersenyum. Ia menghela napas. Matanya menatap langit. "Kamu tahu nggak? Kadang aku menyesali bergabung di JKT48. Walau member-member-nya itu sudah seperti keluarga, rasa penyesalan itu masih terus ada di dalam hati aku."

Aldo mengernyitkan dahi. "Kenapa?"

"Kamu tahu, kan, soal 'no dating rule' itu?" 

Ia mengangguk.

"Itu dia masalahnya. Aku pengin sekali bisa menjalin hubungan spesial dengan seorang. Kadang aku suka iri dengan beberapa teman dekatku di sekolah. Aku iri sama mereka yang punya pacar. Ingin juga bisa jalan bareng ke suatu tempat atau sekedar saling SMS atau telepon untuk menyemangati. Juga ingin punya seseorang yang bisa diajak ngobrol atau curhat." Tanpa sadar, member JKT48 itu jadi mencurahkan isi hatinya pada Aldo. 

Aldo tertegun. "Tapi kan di teater, kamu punya banyak orang yang bisa diajak ngobrol. Member-member yang lain kan juga baik-baik. Bukannya mereka enak diajak curhat?"

Cindy Gulla mendesah. "Iya sih. Tapi kayaknya seru deh, punya seseorang spesial. Yang bisa diajakin curhat atau yang selalu memberi semangat; sama seperti di novel-novel romance yang suka kubaca. Aku ingin sekali bisa punya seorang yang spesial. Kenapa sih JOT harus memberlakukan aturan itu?"

"Kan demi fans?!" jawab Aldo tanpa diminta. Dalam hatinya, Aldo agak skeptis juga - orang yang di depannya itu memang benar Cindy Gulla. Sebab pembawaannya sekarang sungguh berbeda dengan yang dilihat di teater, terlebih bio-nya di akun Twitter yang berbunyi: "I pack up trouble, throw it in a bag, and SMILE!!"  Tapi orang yang di hadapannya itu sungguh Cindy Gulla. Ah, ia teringat sesuatu. Di dunia kan ada juga tipe orang yang lihai menyembunyikan masalah. 

Gadis itu kembali terkekeh. "Aneh yah? Akimoto-sensei menciptakan lagu "Idol Nante Yobanaide", tapi ia malah memberlakukan aturan no dating. Kadang tiap kali aku menyaksikan penampilan AKB48 menyanyikan lagu-lagu cinta, aku mau ketawa. Mereka menyanyikannya seolah-olah sudah berpengalaman soal cinta, padahal pengalaman cinta mereka itu nol besar."

Aldo memutar bola matanya. "Yah mau gimana lagi. Kadang dalam hidup ini, kita harus mengorbankan sesuatu demi sesuatu. Mungkin itu resiko yang harus kamu ambil, kalau kamu mau sukses berkarir di industri musik." 

Cindy Gulla tersenyum. Mengangguk. "Mungkin kamu benar." 

Ah sungguh menawan senyum Cindy Gulla itu. Meneduhkah jiwa dan raganya. Membuatnya lupa akan masalahnya dengan Thea. Apa? Thea? Sebentar, kata-kata terakhir yang ia ucapkan barusan sungguh kontras dengan masalahnya dengan Thea. Ia bisa bilang ke Cindy Gulla soal keberanian mengambil resiko untuk tidak berpacaran dulu demi karir; tapi mengapa ia malah tidak langsung sepenuhnya mendukung niat Thea menjadi penyanyi di JKT48? Ia malah melarang Thea untuk mendaftar karena tak mau hubungan itu berakhir. 

Kali ini, Aldo jadi merasa bersalah sekali pada Thea. Ia tertunduk dan spontan menjauhi Cindy Gulla yang ganti terbengong-bengong. Kalau berbalik arah, ia pasti bisa melihat gadis imut itu tengah terkikik-kikik. 



Bersambung....



* sumber gambar bisa dilihat mengklik kanan gambar yang bersangkutan.