Monday, December 9, 2013

ANOTHER FICTION: Dilema Itu Bernama JKT48 - part 2



Lanjutan dari sini



Sungguh hari ini tak biasa. Aldo tak bersemangat. Itu sejak mendengar kata-kata pedas dari Thea. Baru kali ini, ia melihat pacarnya seperti itu. Bicara tanpa dipikir. Kata anak gaul bilang, nyablak. Selama jam pelajaran "Teknologi, Informatika, dan Komputer" berlangsung, cowok berwajah penuh jerawat itu tak bisa berkonsentrasi. Tugas yang diberikan para pengajar, dikerjakannya ala kadarnya. A-la-ka-dar. Selama bersekolah di Tarakanita, itu mata pelajaran favoritnya. Segala tugas dikerjakan dengan semangat empat-lima. Hingga di lapangan parkir sekolah, ia masih berwajah kusut.

Sementara Thea....

Banyak yang bilang, cewek itu makhluk yang susah ditebak. Mungkin iya, mungkin tidak. Namun kalau untuk kasus Thea, mungkin iya. Selama jam pelajaran tadi, sikap Thea sungguh aneh. Ia sama sekali tak membuang muka ke Aldo. Justru Aldo yang berwajah dingin dan seperti menghindari cewek dengan ujung rambung bergelombang itu. Teman-teman sekelas - yang tak tahu menahu kejadiannya - terheran-heran. Thea dengan enteng menjawab: "Nggak tahu yah,  dia lagi ada utang kali?" Mata Thea berbinar-binar, bahu terangkat. Cewek itu malah berani untuk mendekati Aldo - sekedar bercakap-cakap. Seolah-olah sebelum berlangsung, tak ada sesuatu yang terjadi.

Tapi jangan pernah kau sangka cewek itu brengsek. Jangan pernah. Di dalam mobil antar berwarna merah tomat, cewek itu merenungi kejadian tadi. Ia mengertakan gigi erat sekali. Kesal mengapa bisa berkata seperti itu? Yang dibilang Aldo itu ada benarnya juga. Jalan jadi penyanyi kan tak hanya audisi tersebut. Masih banyak. Ini kenapa dia memutuskan hubungan hanya demi audisi itu?

Eh tapi, audisi ini spesial deh. JKT48, kan? Idol group yang merupakan sister group dengan AKB48. Kalau lolos audisi, aaaah....... ia sudah memimpikan tiap harinya akan dipandangi banyak mata. Selama ini, selama ia menyanyi di depan umum, rasa-rasanya belum pernah disoroti oleh puluhan mata yang begitu antusias menonton penampilannya. Suara gemuruh tepuk tangan pasti lebih dahsyat daripada gemuruh saat pentas seni atau acara gereja. Belum lagi ada kesempatan bertemu idol-idol dari negeri Sakura. Jangan lupa pula, bisa ke Jepang. Di-ba-ya-ri. Luar biasa, bukan?

Kalau ia ikut kontes atau audisi lainnya dan mengabaikan audisi ini, belum tentu juga memiliki privilige seperti audisi JKT48 yang sudah memiliki jadwal penampilan. Ia sering dengar, beberapa jebolan kontes-kontes bakat seringkali harus pontang-panting cari duit. Pendapatannya juga belum tentu sebesar - kalau bersama - idol  group tersebut.

Namun ia juga iba dengan Aldo. Masa hubungan mereka selama dua tahun harus kandas? Kalau dipikir, sayang juga. Tapi kesempatan seperti ini, masa dibuang begitu saja? Memang belum pasti lolos audisi sih. Saingannya pasti ratusan - dan juga harus bersaing dengan kontestan dari Jepang. Ah, memikirkan itu Thea jadi mengurut-urut pojok kanan keningnya.

""Te," Bahunya ditepuk.

"Eh, lu, Ter, ada apa?" tanyanya.

"Wajah lu kenapa? Kusut gitu? Habis berantem sama pacar lu itu yah?" tanya balik Ester yang berwajah lumayan imut.

"Gue mutusin dia, Ter." jawab Thea datar.

Ester setengah kaget. "Lho? Kenapa?"

Thea lalu menceritakan apa yang terjadi. Selama itu, Ester seperti berusaha menahan tawa. Sepertinya memang benar mau tertawa. Selepas bercerita, Ester meledak tawanya. Tak hanya Ester juga sama. Termasuk pula, Om Jono, si sopir mobil antar jemput tersebut.

"Apa sih?" protes Thea. "Kok pada ketawa semua?"

"Thea, Thea," Om Jono melihat sekilas gadis itu. "Kamu itu lucu juga yah?"

"Apanya yang lucu, Om?" Cewek itu belum sadar rupanya.

"Kak Te," Kali ini adik kelasnya bernama Jeko menimpali. "kegeeran banget sih?! Belum audisi aja, udah yakin keterima. Pake mutusin cowoknya dulu lagi."

"Thea, sainganmu itu puluhan. Dan mungkin ada lagi yang bersuara atau nge-dance lebih bagus daripada kamu." ujar Om Jono lagi dengan suara khas opa berusia 70-an. Biasa-lah, giginya sudah mulai ada yang copot.

"Bener tuh kata Om Jono." kata Ester membenarkan. "Lagian kamu juga belum terbiasa kan nyanyi lagu-lagu berbahasa Jepang. Pengucapanmu aja masih banyak yang salah." Ester ini mengambil kelas ekstrakurikuler Bahasa Jepang.

"Sok tahu ah." Segera Thea menyanyikan sebuah lagu Jepang. Ester yang J-Freak, pastinya tahu pasti itu lagu apa. Watashi no Hikari yang dibawakan oleh Tomomi Kasai. "Bagus, kan?"

"Bagus banget, Kak." seru Tomi yang duduk di belakangnya. "Yah, tapi masih bagus suaranya Melody. Wajahnya juga." Tomi yang berkacamata itu merupakan oshimen dari Melody JKT48.

"Cantikan juga gue - ketimbang Melody itu." sungut Thea.

"Yah walau suaramu bagus sih, tapi sainganmu itu puluhan. Jangan besar kepala dulu, Te." Om Jono mewanti-wanti.

"Tapi, Kak..." kata Jeko. "Kak Thea, kudengar, pernah ikut audisi itu tapi gagal, kan? Itu gimana ceritanya? Jangan-jangan Kak Thea sempat putus sama Bang Aldo yah? Kok jadi kayak lagunya BBB yah? Yang putus-nyambung-putus-nyambung itu."

Sumpah Ester mau ngakak. "Iya, Jek. Si Thea waktu itu diam-diam ikut audisinya. Gue yang nemenin dia audisi. Katanya sih, kalau lolos, dia bakal kasih tahu si Aldo. Gue nggak kebayang deh...."

"...kalau Kak Thea lolos jadi anggota JKT48, nggak kebayang deh ribut-ributnya bakal kayak apa di sekolah. Bakal ada drama banget kayaknya." sela Jeko yang cukup sering menggodai Thea.

Kali ini Ester tergelak. "Pastinya gue bakal rutin dicurhatin dia, Jek."

Yang jadi objek utama pembicaraan, merengut. Wajahnya memerah. "Apa sih kalian ini? Suka banget bikin gue bete."

Ester terkekeh.  "Yah, habis lu-nya juga yang lucu. Pedenya maksimal pol. Kayak suaranya bagus banget gitu. Lu nge-dance aja masih suka kaku atau salah gerak. Si Aldo juga paranoid berlebihan. Kayak bakal keterima aja."

"Kali ini pasti bakal keterima." Kedua telapaknya mengepal erat. "Kali ini, gue pasti bakal lolos audisi. Siapin aja duit kalian buat lihat penampilan gue di fX."

Tawa meledak lagi. Kali ini lebih kencang. Om Jono sampai kehilangan konsentrasi dalam mengemudi. Ia nyaris menabrak sebuah sedan. Nyaris juga menyerempet sebuah motor sport.

"Terus Aldo gimana?" Ester sampai menitikan air mata karena gelak tawa. "Eh iya, kan udah putus yah? Nggak nyesel?"

"Kalau gagal audisi gimana, Kak?" pancing Geri.

"Pasti lolos." Thea seperti terbakar semangat, sehingga melupakan soal dilemanya yang tadi mengusik pikirannya. "Kalau nggak lolos, gue bakal traktir lu semua di Solaria."

"Wuih, asyik nih." seloroh Jeko. "Siap-siap yah kita bobol dompetnya,"

Ester menepuk-nepuk pundak Thea. "Te, Te. Itu soal Aldo gimana? Kayaknya lu belum siap deh - putus sama Aldo?!"

Thea tersentak. Ia baru sadar telah melupakan sesuatu yang penting. Bukankah ia masih berada di posisi dilematis? Ia menatap lagi pemandangan di luar jendela. Dalam otaknya terus terbayang-bayang dua kata: Aldo, JKT48. Kata-kata itu terus mengalun seolah-olah sedang berada di padang rumput sembari memetik tiap bagian dari sebuah mahkota bunga - hingga kelopaknya pula tercabut. Kedua hal itu sebetulnya sama pentingnya untuk Thea.

"Eh Kak Thea, jadi ngelamun. Ngelamunin apaan sih? Jangan-jangan ngelamunin saat-saat bakal bangkrut yah ntar?" ledek Jeko yang lalu terbahak.

"Atau jangan-jangan..." Ester berhenti sejenak. "...dia lagi galau, saudara-saudara."

Kesekian kalinya, tawa meledak. Thea sungguh senewen di dalam mobil minibus itu. Ingin sekali segera sampai di rumahnya. Berbaring dalam kamarnya. Yah untuk memikirkan baik-baik soal masalah barunya itu. Mana yang ia harus pilih sebetulnya: JKT48 atau Aldo?





Bersambung.....

11 comments:

  1. dilema banget tuh. kalau daftar dulu emang gak bisa ya masalah putus atau gak nanti kalau udah kepilih aja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tunggu jawabannya di chapter2 selanjutnya. Hahaha

      Delete
  2. Mending milih JKT48 deh terus temen-temennya kenalin ke gw.. :D
    Sip, gw tunggu fiksi-fiksi dengan genre lainnya ya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang diatas lagi nyoba modus baru nih :mrgreen:

      Delete
    2. Setuju sama redbike... Modus baru nih... Hahahha

      Delete
  3. wah menarik sekali mas ceritanya. Dilema-sebuah pilihan yang cukup sulit dan membingungkan ya mas :)

    ReplyDelete
  4. Wah, Thea lagi bimbang. Aku bersedia meminjamkan bahuku untuk disandarinya.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Master gombal muncul nih yang kedua... :D

      Delete
  5. wah part 2 ini menceritakan Thea yang tenggelam dalam kegalauannya sendiri ya
    request cerita part 3 donk
    si Aldo ternyata udah jadian lagi, tapi backstreet, sama Melody JKT48
    *ups

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ide bagus. Lagi dipertimbangkan. Yah walau kok jadi agak nggak masuk akal? Gimana caranya Aldo bisa ketemu Melody JKT48? Masak iya Melody mau sama anak kelas 3 SMA? LOL.

      Delete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^