Friday, November 29, 2013

ANOTHER FICTION: Sebuah Drama di Corpus Christi


Ibarat kucing, sebelum turun hujan, ia akan menggaruk-garuki bulu sendiri. Tapi Huda bukan kucing. Itulah sebabnya, ia tak akan pernah tahu insiden ala sinetron-sinetron picisan Indonesia yang baru saja menimpanya... di Corpus Christi. What the hell did i dream of? - begitu pikir Huda selama di Rumah Sakit Nueces.

Ia ingat sekali kejadiannya. Persis di depan Corpus Christi Public Libraries, ia mengerem dadakan mobil Ford tua warna merah. Sesungguhnya, ia tak menabrak si gadis. Bemper mobil, ia yakin sekali, tak mengenai tubuh ramping si gadis. Anehnya si gadis ambruk layaknya orang yang ditabrak. Karena takut bermasalah dengan hukum di sana, segera ia bawa ke rumah sakit terdekat - Rumah Sakit Nueces. Tepatnya, Nueces County Hospital District.

"It's okay, she's alright, Sir," kata si perawat pria dengan rambut keemasan tersenyum. "She's just shocked. I guess, she just had a very serious problem."

Huda berjengit. Ia tersenyum, setidaknya sampai si perawat pria itu pergi. Sesudah itu, ia melihat gadis yang ia tolong, keluar dari ruangan. Mungkin dorongan nuraninya, ia segera menangkap tubuh si gadis yang hampir ambruk. Wajah si gadis lumayan pucat.Yang tadinya sebal, sontak langsung menaruh iba.

"Haven't you eat this morning yet?" tanya Huda agak cemas. Ia tahu, tak seharusnya cemas seperti itu. Gadis itu orang asing. Ia baru kali pertama bersua. Namun, seperti yang sudah diduga teman-teman di Texas A&M University, sulit untuk seorang altruistik untuk menolak memberikan bantuan.

Gadis itu menggeleng lemah.

"Okay, let's have lunch at the nearby. I'll treat you later." Tunggu, ada yang salah dengan kata-kata barusan. Bodoh, mengapa ia mentraktir gadis itu makan siang? Tak cukup apa, ia harus membayari tagihan rumah sakit tadi? Tujuh dolar itu lumayan besar. Nyaris membuatnya bakal ketar-ketir di akhir bulan. Jika jadi mentraktir, ia harus mencari uang tambahan berarti. Ayahnya tidak akan mengirimkan uang saku kalau bukan di awal bulan.

Gadis itu menggeleng. "No need to give me the humbleness the way. I'm very okay. "

Dalam hatinya, ia bersyukur. Syukur ia tak perlu keluar uang. Walaupun demikian, hati kecilnya merasa kasihan dengan si gadis yang masih lunglai. Ia coba bertanya, "Are you sure?"

Si gadis itu mengangguk. "But, can you pick me up to my residence?"

Ia memutar bola matanya. "Okay, never mind, where's your residence?"

"Near Morgan Avenue Baptist Church."

Tak terlalu jauh dari Rumah Sakit Nueces. Itu ibarat dari Rumah Sakit Harapan Kita menuju ke Stasiun Sudirman. Apalagi juga tak terlalu jauh dari kediamannya. Ia tinggal di sekitar gereja itu pula. Ia menyanggupi tawaran si gadis. Segera ia bawa si gadis ke mobil Ford tua yang disewa dari rental.

"Hmm..." Ia mencoba membuka obrolan terhadap si gadis. Selama menuju parkiran, mereka berdua nyaris terjebak dalam keheningan. "Sorry, are you Indonesian?"

"Mmmm...." Begitu kata si gadis tanpa melihat dirinya. Jawaban yang membingungkan. 'Mmmm' itu ya atau tidak? Tapi jika mengamati gesturnya, 'mmm' itu ya. Gadis itu mengangguk kecil.

"By your identity card, your name is Enha, isn't it?" konfirmasinya pada si gadis. "I think, it is Indonesian name. And you need to know, i'm also Indonesian. I come from Tangerang, and you?"

Lagi-lagi tanpa melihat wajahnya, si gadis mengulangi lagi aksinya: ber-mmm dan berjengit kecil. Menyebalkan. Gadis itu sepertinya tak punya etika. Huda mulai melakukan over-analyst.

"Don't you mind, if we use Indonesian?" tanya Huda lagi.

Si gadis melakukan aksi sama.

Huda mulai menggeram. Sabar, Huda, sabar - ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Bayangkan saja, ia seperti tak berbicara dengan seorang manusia. Ia bak berbicara dengan alien.

"Oh yah, mobilmu diparkir dimana?" Ah, akhirnya si gadis bernama Enha itu bersuara juga. Ia bisa mati jengkel kalau terus-terusan bersamanya dalam kesunyian.

"Itu," tunjuknya ke sebuah mobil Ford tua yang diparkir tak jauh dari gerbang.

Ke sanalah, si gadis mengikuti Huda yang sudah berjalan lebih dulu menuju Ford tersebut.  Begitu membuka pintu lewat kunci mobilnya, Huda segera mengajak Enha masuk. Enha tanpa disuruh dua kali, langsung menempelkan bokongnya ke jok depannya. Selama perjalanan menuju kediaman Enha, lagi-lagi Huda menggerutu dalam hatinya. Sunyi, sunyi, sunyi, dan sunyi. Ia memang sudah terbiasa dengan kesunyian, tapi itu karena tak ada seseorang lain dalam mobil. Lha, ini kan ada? Ia agak jengah berhadapan dengan Enha yang sepertinya pendiam. Supaya tak terlalu sunyi, ia menyalakan radio. Mengalunlah sebuah lagu dari sebuah band lokal yang diputar oleh sebuah stasiun radio yang juga lokal.

Lima belas menit berlalu. Masih sunyi. Enha masih saja bergeming dalam keheningan. Masih terus menatapi jendela di sampingnya. Diperhatikannya, wajah Enha seperti... seperti sedang mengalami masalah pelik. Tatapan si gadis nyaris kosong. Gara-gara itu, kesenewenannya lenyap. Ia tak jadi kesal dengan Enha, gadis berambut sebahu dengan poni agak mengenai alis matanya.

"Maaf yah," ujar Huda takut-takut. "kamu sedang ada masalah?"

"Mungkin." Enha masih saja memberikan punggung padanya.

Orang ngomong itu diperhatiin kenapa? 

"Oya, kamu hobi baca yah? Soalnya aku tadi lihat, kamu keluar dari Corpus Christi Public Libraries."

"Mungkin." Masih tak menatap wajahnya.

Darah sudah naik ke ubun-ubun kepala. Huda berusaha menenangkan diri. Beberapa kali, ia hirup-embus-hirup-embus napas.

"Oke, mungkin kamu masih merasa risih untuk mencurahkan isi hatimu ke orang asing. Tapi kamu bisa, kok, anggap aku nggak ada. Berbicaralah, seolah-olah kamu lagi sendirian dalam mobil ini. Yah itu mungkin bisa membuatmu tak penat lagi. Tapi sih semuanya terserah kamu. Aku nggak maksa juga." tutur Huda yang agak tersenyum. Kesal masih menyelimuti wajahnya.

Enha tak menggubris. Terus saja menyaksikan pemandangan di luar jendela. Tatapannya masih setengah kosong. Sembari menyaksikan si gadis yang masih terus terpekur, Huda bersenandung mengikuti irama lagu yang tengah diputar. Kali ini, salah satu lagu One Direction tengah diputar. Ajaib, selama bersenandung, ia mendengar gadis tersebut merintih. Menangis sesenggukan. Ia jadi semakin iba. Tergesa-gesa ia mengambil tisu dan mengangsurkannya pada gadis tersebut.

"Terimakasih." Gadis itu menerimanya, lalu menyeka air mata dan ingusnya. "Kamu tahu, nggak? Hidup itu kejam." Saat mengatakan kalimat terakhir, matanya mulai dibasahi air mata.

Ia memutar bola matanya. "Yah kadang hidup itu kejam sih. Tapi nggak selamanya, kok. Percaya deh, hidup juga bisa menyenangkan. Lagian kenapa sih kamu berkata seperti itu?"

Isak Enha semakin kencang. Ia seka lagi air matanya. "Aku baru saja diputusin pacarku. Yah sebetulnya aku sih yang mutusin. Habisnya aku memergoki dia lagi selingkuh... selingkuh sama sahabatku lagi. Sahabat terbaik aku di sini."

Terkaannya tepat. Pasti karena cinta. Dari awal bertemu, ia sudah menengarai inti kasusnya itu pasti karena masalah cinta. Spesifiknya, perselingkuhan. Siapa sangka sih, ia bakal bertemu kisah ala sinetron di negara bagian Texas ini.

"Sebetulnya," ucapnya masih dengan kehati-hatian. "maaf yah, kamu nggak seharusnya sampai depresi begitu. Masalah begitu kan sering terjadi, tak hanya di sinetron atau telenovela. Nggak usah berlebihan begitu."

"Tapi..." ujar Enha yang sibuk menyedot ingusnya. "...tak berapa lama setelah aku mergokin cowok aku itu, adik aku kirim message lewat Line. Katanya, ibu aku baru saja dipanggil Tuhan."

Mata Huda berkaca-kaca. Ia tak lagi berani mendebat gadis itu. Ia malah bingung harus bagaimana menyemangati Enha. Kalau di posisi si gadis, ia pasti juga sama depresinya. Setelah memergoki pasangan sendiri tengah berselingkuh dengan sahabat sendiri, malah mendapati info bahwa ibu kandung telah berpulang.

Kini Huda-lah yang terus berdiam diri. Tak berkata sedikit pun. Sibuk berdiam diri, kala Enha terus terisak dan meraung. Beberapa kali ia mendengar kata 'Riydal' diucapkan. Itu mungkin nama mantan si gadis. Dan kesemuanya baru berakhir, setidaknya sampai di kediaman Enha.