Tuesday, October 15, 2013

Inilah Dia (Mungkin) Golden Generation dari Timnas Sepakbola Indonesia


Tak bisa dipungkiri memang, sepakbola memang olahraga favorit di negeri ini, selain bulutangkis. Mungkin alasannya itu sederhana saja. Sepakbola sebetulnya olahraga yang pelaksanaannya tak butuh biaya banyak. Asal ada tanah lapang yang luas, dan sesuatu yang bisa ditendang-tendang. Mau bola kulit sungguhan, bola plastik, kaleng, batu, hingga dinamit sekalipun bisa digunakan sebagai media 'bola'nya. Kalau untuk gawang, pakai sendal jepit juga bisa. Tinggal ditaruh di dua sisi, jadilah gawang.

Sepakbola memang olahraga favorit. Ironisnya, si favorit ini belum pernah kasih kebanggaan ke ibu pertiwi ini. Yang ada, para pelakonnya hanya memberikan borok-borok yang baunya tak enak. Mulai dari kelakuan suporternya yang masih anarkis, para pemain yang masih suka tawuran (Mungkin masa lalunya tak bahagia), para pengurus PSSI yang katanya cinta bola - tapi lebih cinta duit dan kekuasaan, hingga puasa gelar.

Coba deh pikir, sudah berapa lama sih tim Garuda merasakan indahnya mencium piala? Kalau tak salah ingat, itu terjadi di era 1990-an. Selebihnya, sepertinya timnas Merah-Putih jadi bulan-bulanan tim lain. Tahun 2010 kemarin hampir mengangkat piala, tapi dikandaskan Malaysia. Alhasil sudah empat kali, di Piala AFF (Dulu Piala Tiger), timnas hanya puas dengan status runner-up.  Selain itu, eeeee..... agak susah yah menyebutkan apa prestasi timnas sepakbola Indonesia. Kalau timnas bulutangkis, masih lumayan. Dari aku masih SMP, tim bulutangkis tak terlalu memalukan. Dalam kurun waktu satu tahun, pasti ada beberapa turnamen yang bisa dijuarai.

Tak hanya di tingkat tim nasional, di tingkat klub pun sama saja. Tak bisa bersaing di kancah liga champion Asia. Melulu jadi bulan-bulanan klub-klub lainnya. Malah pernah dengar juga, gara-gara keamatiran pengurus PSSI, wakil Indonesia sama sekali tak ada dalam satu musim liga champion Asia. Memalukan. Jadi malas membahas soal sepakbola Indonesia. Tak ada yang bisa dibanggakan.

Yah setidaknya hingga sekarang ini. Salut dan benar-benar bangga dengan Evan Dimas, dkk. Kalau aku boleh bilang, tim U-19 ini merupakan golden generation dari timnas sepakbola Indonesia; sama seperti golden generation tim Portugal dengan Luis Figo-nya di Piala Dunia U-20, atau class of 1992 dengan David Beckham-nya. Setelah sukses mengalahkan Vietnam lewat adu penalti, Maldini, dkk sukses mengalahkan salah satu raksasa Asia - Korea Selatan - demi melenggang ke putaran Piala Asia U-19. Sekali lagi, selamat! Semoga saja mereka semua tak larut dalam euforia, sehingga gagal untuk menjuarainya. Ayo juarai saja Piala Asia! Mari kalahkan Jepang atau Arab Saudi!

Oya, mengingat yang berprestasi adalah timnas di bawah usia 19 tahun, yang otomatis masih belum berstatus profesional, aku hanya berharap, kalau mereka ingin serius di sepakbola, cobalah cari klub-klub di luar Indonesia. Dengan dua prestasi ini, sepertinya tak sulit untuk mencari klub-klub di luar Indonesia yang tertarik menampung. Bukan tak nasionalis sih, tapi hanya mencoba realistis. Sistem pengelolaan kompetisi di negara ini lumayan buruk. Dulu pernah-lah meniadakan degradasi, terus sempat ada isi pengaturan wasit (Tim kandang nyaris selalu menang), atau yang sangat heboh, dua kompetisi tertinggi dalam satu negara. Kacau, memang. Makanya saranku, para pemain U-19 ada baiknya disuruh main di kompetisi luar negeri. Tak usah muluk-muluk, tingkat Asia saja sudah bagus seperti liga Jepang, Korea Selatan, Australia, atau Iran. Lagian percuma main di Eropa, kalau ujung-ujungnya main di kasta bawahnya. Nggak capek diinjak-injak terus harga diri bangsa dan negara ini?!

Aku rasa, dengan segala prestasi ini, rasa-rasanya Evan Dimas, dkk tak pantas untuk bermain di kompetisi dalam negeri yang sudah kita tahu sendiri bagaimana iklim kompetisinya. Daripada buntut-buntutnya jadi seperti Boaz Salossa yang mudanya dipuja sekali - lalu malah melempem setelahnya, lebih baik beberapa pemain potensial dikirimkan ke beberapa negara. Sebab berlian ini harus terus diasah, sehingga kelak bisa bikin timnas senior bisa berprestasi, jadi macan Asia, lalu..... mimpi ke piala dunia bukanlah pepesan kosong lagi.

Timnas U-19 memang militan tak kenal kata menyerah




MAJU TERUS PERSEPAKBOLAAN INDONESIA!!!!!!