Wednesday, May 15, 2013

ANOTHER FICTION: Hujan Pertanyaan


Nuel. Nuel, Nuel, Nuel. Nama ini benar-benar sangat membahana sekali. Bayangkan saja, mas-mbak sekalian. Novelnya baru tayang selama sebulan di toko buku saja, banyak media yang menjadikannya bahan pemberitaan. Tak ayal, Nuel merasa privasinya sudah direnggut darinya. Kemana-mana diikuti kuli tinta, padahal dia kan penulis; bukan selebritas. Saking bosannya, Nuel mengadakan konferensi pers di Hotel Kempinsky Indonesia.

Tepat jam tujuh malam, konferensi dimulai. Dengan setelan karya desainer papan atas Indonesia, Nuel duduk anteng di depan para jurnalis. Bibirnya sih tersenyum, tapi ia sebetulnya tegang nian. Baru kali ini, ia dihajar aneka pertanyaan. Dulu sih, sebelum novelnya terbit, ia penah dihujani juga. Yah tapi itu kan, dari blogger dan pertanyaan-pertanyaannya juga kacangan. Main-main saja.

"Nuel, bagaimana rasanya novel anda terbit?" tanya salah seorang wartawan.

"Rasanya... Itu tuh seperti naik roller-coaster super cepat, tiba-tiba saja, entah bagaimana caranya, bertemu kuntilanak." jawabnya enteng.

"Nuel... Menurut anda, mana yang lebih baik, jadi penulis idealis hebat yang karyanya tidak laku atau jadi penulis novel kacangan yang terkenal karena promo jor-joran dari penerbit?" Wartawan dari media berbeda mengambil gilirannya bertanya.

"Pertanyaan susah itu. Saya sih kepenginnya jadi penulis ideal, yah tapi kalau kondisi tak memungkinkan, penulis kacangan lebih bagus kali yah? Tengguk keuntungan dulu, kalau sudah mapan, baru jadi penulis idealis." Nuel membikin tanda peace seraya menjawabnya.

"Nembus koran nasional atau naskah diterima sama penerbit gede?" Nih wartawan kurang ajar sekali. Ada intro, kek, bertanyanya.

"Dua-duanya sama-sama penting. Sama-sama menghasilkan uang. Tapi kalau opsi pertama, menunggunya lama, honornya juga tak sebanding. Kita juga perlu aktif mengecek karya kita diterima atau tidak. Jadi sepertinya saya lebih memilih opsi kedua. Toh, novel saya sudah terbit." Entah mengapa cengirannya tambah lebar.

"Pilih nulis atau pacaran?" Wartawan infotainment-lah yang menanyakannya.

"Mau tahu banget atau mau tahu aja?"

Nuel kedipkan sebelah matanya. Si wartawan jengkel, tapi wawancara harus terus berlanjut, belum sempat pertanyaannya benar-benar dijawab, si penulis tampan sudah menjawab pertanyaan lainnya: "Jadi penulis rubrik seksologi di majalah porno ternama atau jadi operator telepon seks?"

"Opsi pertama. Itu jauh lebih terhormat dan mulia. Bayangkan, saya sudah membantu orang-orang yang bermasalah dengan seksualitasnya. Bahkan bonusnya, saya bisa dekat dengan perempuan-perempuan cantik nan bahenol." Tanpa Nuel sadari, air liur mulai mengalir dari bibirnya yang eksotis.

Belum sempat menyeka air ludahnya, Nuel harus menjawab pertanyaan lainnya: "Sastra atau musik?" Susah memang jadi orang beken.

"Sastra dong. Saya kan penulis, apalagi suara saya fals."

Sekejap saja, ruang konferensi pers dipenuhi suara tawa menggelegar laksana petir yang menyambar-nyambar.  Saat tertawa itu reda, salah satu wartawan mulai berani bertanya lagi, "Fiksi ilmiah atau dongeng animasi?"

"Fiksi ilmiah." jawabnya singkat, padat, dan jelas.

"Siapa penulis favorit anda?"

"Saya suka Paulo Coelho, tapi juga suka Hemingway. Eh tapi saya juga suka karyanya StMj atau RJK. Karya-karya mereka sungguh bikin hati saya..."

Nuel menangis. Untung ia sudah jaga-jaga bawa sapu tangan.

"Kalau di Indonesia?"

"Sabar dikit napa? Saya masih sedih nih." Nuel senewen. Pertanyaan itu menunggu lima belas menit untuk terjawabi. "Mas Dodol, Mas Akirarat, sama Mas Balalado. Tapi itu semua favorit loh. Saya hanya mengagumi bagaimana cara mereka merangkai kata-kata; bukan kepribadian dab gaya hidup mereka yang saya favoritkan."

"Apa bacaan favorit anda?"

"Sekarang saya lagi baca Taktik Kelaparan." Nuel sigap mengambil novel karya Suzie Cordians dari tas yang ada di bawah kakinya. "Novelnya luar biasa. Tak melulu bicara cinta, ada juga bicara soal patriotisme dan persahabatan, juga ada unsur humornya. Segera dapatkan di toko buku-toko buku kesayangan anda."

"Jiah, dia malah promosi..." ledek salah seorang wartawan.

"Apa hobi anda?"

"Baca, nonton, dengarkan musik. Tapi prioritas saya tetap membaca, sebab buku adalah gudang ilmu." Tiba-tiba raut muka Nuel tampak seperti Dalai Lama.

"Apa pandangan anda terhadap pembajakan? Apakah anda suka beli buku bajakan?"

"Say no to piracy." tegasnya dengan mata nyalang. "Tapi saya tak pernah menolak dikasih barang gratisan. " Dari tatapan seorang Adolf Hitler berubah menjadi tatapan Charlie Chaplin.

"Dengar-dengar, koleksi buku anda segudang, itu bagaimana caranya anda mengumpulkan buku-buku tersebut?"

"Saya kan punya hobi baca, jadi tiap ke mall, tempat pertama yang saya kunjungi adalah toko buku. Jujur saja, saya lebih suka beli langsung di toko buku, ketimbang beli online. Beli online itu prosedurnya rumit, apalagi yang pre-order. Dan kalau duit tak mencukupi, pinjam buku dari seseorang jadi opsi lainnya; atau bisa juga baca buku digital yang kini lagi marak-maraknya."

"Bagaimana cara anda membaca buku? Anda suka menggunakan pembatas buku atau dilipat?"

Sayang sekali, pertanyaan salah seorang wartawan tak terjawab. Ponsel Nuel berdering nyaring. Terpaksa dirinya meminta ijin untuk menyudahi wawancara. Para jurnalis pun semakin bertanya-tanya, siapakah yang meneleponnya barusan. Gosipnya, Nuel menjalin asmara dengan salah seorang penyanyi Indonesia. Apalagi dirinya pernah kepergok berduaan dengan salah seorang wanita di salah satu mall kenamaan di ibukota (Dengar-dengar sih, fX). Saat ditanyakan, Nuel menjawab, "NO COMMENT!"