Wednesday, April 3, 2013

ANOTHER FICTION: Oh Tuhan!

Perutku melilit sangat. Mungkin gara-gara bubur ayam yang kumakan tadi pagi, alhasil aku jadi terburu-buru menyelesaikan ujian Hukum Pidana-ku. Entah benar atau tidak, setidaknya lima soal essay yang diberikan Pak Surya bisa kujawab dengan cara mengarang indah. Fokusku saat ini,... yah perutku.

Masalah perut ini membuatku tergopoh-gopoh berjalan menuju toilet gedung Yustinus. Toilet itu tak terlalu ramai. Lumrah. Jam di ponsel yang biasanya kutaruh di saku kemeja flannel itu menunjukan pukul 09.25. Kebanyakan mahasiswa masih berada di ruang ujian; saat ini sedang musim ujian. Enak juga buang air besar di saat momen seperti ini. Lebih menghayati. 

Begitu menghayatinya, tak terasa aku sudah menyetor - kurang lebih - lima buntalan ampas hasil kerja sistem pencernaanku. Tak terlalu padat, tak terlalu encer juga. Pas. Astaga, kenapa aku berpikir seolah-olah itu mau kumakan kembali lagi yah? 

Hanya saja, sekitar lima belas menit, aku berpeluh keringat mengeluarkan segala ampas yang tak dibutuhkan tubuh, aku merasa ada yang tak beres di kakiku. Sesuatu menggerayangi salah satu kakiku dengan lembutnya. Tadinya kupikir mungkin ada hantu wanita montok yang tengah memancing nafsu syahwatku. Tapi rasa-rasanya mustahil. Sekarang sudah jam sembilan pagi, bukan? Apakah ada makhluk astral yang masih bergentayangan di jam-jam begini? Amat jarang kubaca di majalah-majalah mistis yang kubaca, peristiwa mistis terjadi di jam-jam seperti ini. Jadi kalau bukan hantu, ini apa?

Dengan takut-takut, aku mencoba menoleh ke arah 'sesuatu' yang masih khusyuk meraba-raba kaki, lutut, paha, dan tengah beranjak ke arah kemaluanku. Keringat dingin mulai mengucur dan membuat dahiku berkilat-kilat. Bibirku kelu. Bulu kuduk mulai berdiri tegak. Beberapa kali sudah aku menenggak air liurku. O-oh...

Telingaku ini tak salah dengar, kan? Kornea mataku ini pasti salah menangkap objek. Mungkin efek semalam menenggak lima loki Vodka sampai tandas masih terasa hingga sekarang; ini pasti hanya ilusi. Halusinasi. Delusi. Tak nyata. Kucoba-coba menampar pipiku sendiri. Lima di kanan, lima di kiri. Ini pasti hanya efek Vodka semalam. Aku yakin itu.

Tapi... kalau ini efeknya, masak iya aku bisa mengerjakan soal-soal essay tadi sampai tuntas? Desisan ini juga terasa nyata. Sorot mata tajam itu juga terasa hidup sekali. Dan... bisa itu...

Yah bisa itu... tak terasa seperti sebuah efek komputerisasi belaka. ITU HIDUP. Ada ular yang tengah meliuk-liuki diriku saat ini. Kemaluanku. Tubuhku. Nyawaku. Hidupku. Semuanya sedang berada di ujung tanduk. Ular ini mungkin ular beracun. Aku kenal ular dengan bentuk seperti itu. Ular ini termasuk jenis yang berbahaya. Aku yakin itu. Mengapa pula ada ular di kampusku ini?

"AAAARGGHHHH!!!" 

Aku berteriak sekencang-kencangnya sekedar minta pertolongan. Berharap ada yang menolongku, dan bantuan itu datang secepat yang tak kukira. Sebab sudah ada yang menggedor-gedor pintu bilik yang kutempati saat ini.

6 comments:

  1. trus gimana ularnya diapain tuh? jadi inget aku pernah tuh pakai celana panjang yang sebelumnya digantyung dikamar mandi pas dipake kok ada yang yang gerak-gerak buru0buru dibuka tenryata cicak, iiiiiiiih aku paling geli sama cicak kenyal2 gitu

    ReplyDelete
  2. bro, gimana kabar tulisan2 lo, ada yang udah publish lagi belum??

    ReplyDelete
  3. kalau ularnya bisa melilit tubuh artinya ga berbahaya dong (ga berbisa)

    ReplyDelete
  4. @ Ario:
    Oh gitu yah Mas? Sori atas keteledoran ini.... Hehehe.... Maklum Sainsnya ga terlalu bagus waktu SMA dan ini juga fiksi, kan? #Pembelaan

    Hehehe

    :P

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^