Monday, April 1, 2013

ANOTHER FICTION: Kejutan April Mop

Aku berani sumpah, mengangkat sebuah panggilan telepon adalah hal menyebalkan. Apalagi saat kamu pulang kerja di malam hari dan benar-benar memerlukan istirahat.Saat kedua tungkai ini sudah hampir mendekati pintu kamar, bunyi telepon berdering dahsyat - sedahsyat letusan sebuah senjata laras panjang.

Dengan wajah mangkel, aku berjalan menjauhi pintu kamar; beringsut pada meja kecil dimana pesawat telepon keparat itu berada. Ogah-ogahan aku angkat.

"Yah halo," Aku yakin orang di seberang sana sudah tahu kalau aku begitu letihnya untuk mengangkat panggilannya.

"Hey, kok lesu banget sih?" Ternyata Randy, temanku semasa kuliah dan SMA dulu.

"Sekarang sudah jam sembilan, gue capek - baru pulang kerja," jawabku dengan nada suara seperti buah simalakama - kurang lebih seperti itulah.

"Bos, besok senin bisa datang nggak ke Kafe Olala? Jam delapan malam?"

"Nggak bisa hari lain apa? Hari senin gue kerja, memangnya lu nggak kerja apa?"

"Lu lupa? Gue kan kerjanya freelance." 

"Eh iya... Trus maksud lu ajak gue ke sana apa? Lu tahu sendiri gue pulang kerja baru jam lima sore dan lalu lintas ibukota selalu bagaikan neraka. Setidaknya dari kantor gue di daerah Kuningan hingga ke Karawaci itu butuh waktu dua jam lebih tiga puluh menit."

"Gue nggak mau tahu, bro, lu harus bisa ke sana. Please..." pinta Randy, temanku yang bergaya rambut ala pemuda 80-an. "Gue sama yang lainnya mau kasih kejutan ke lu, soalnya,"

"Kejutan apa?" Terbersit di kepalaku sebuah dugaan nakal. "Oooh gue tahu, lu dan yang lainnya mau kerjain gue, kan? Lu semua tahu ulangtahun gue itu di tanggal segitu - pas sama April Mop. Mendingan jujur deh; lu semua mau rencanain sebuah trik ke gue, kan?"

"Curiga banget, Bos," sindir Randy dengan suara cengengesan yang mengesalkan sekali. "Yah pokoknya lu nyante aja. Nggak perlu curiga begitu. Trust me."

Belum sempat aku menimpali ucapannya itu, ia sudah memutuskan tali komunikasinya. Aku jadi penasaran dibuatnya; hingga saat tidur pun, aku uring-uringan sendiri bagaikan habis menenggak sebiji pil ekstasi.

*****

Tiga hari telah berlalu. Hari senin yang ditunggu juga telah kuinjak. Biasanya saat pulang kerja, mobil Accord ini sudah kukemudikan masuk gerbang tol Kebon Nanas - Tangerang. Tapi sekarang tidak. Gara-gara Randy yang sok misterius, mobil sedan yang kubeli dari hasil kerja keras ini terpaksa masuk ke dalam gerbang tol Karawaci - lurus menuju Supermall Karawaci. Tak jauh dari mall termegah di Tangerang itu, terletak barisan ruko yang salah satunya terletak Kafe Olala. 

Saat mobil sudah terparkir persis di depan kafenya, jam sudah menunjukan pukul 20:15. Aku perlu mempertimbangkan memberikan ucapan syukur ke gereja, karena bisa tiba di sana pada jam segini dan mendapatkan spasi parkir yang lumayan strategis. Kalian tahu sendiri, lalu lintas Jakarta - Tangerang itu benar-benar siksaan lahir-batin di atas jam tiga sore. 

Dengan kedua tungkai yang masih lelah sehabis selalu ganti menginjak kopling-gas-rem, aku masuk ke dalam kafe. Karena bukan malam minggu, kafe tak terlalu ramai. Tak butuh waktu lama mengedarkan padangan, bisa kulihat ada beberapa temanku semasa SMA - termasuk Randy sendiri. Kurang lebih ada lima belas orang. Kulihat beberapa dari mereka duduk mengitari sebuah meja dan sepertinya sedang menutupi sesuatu - atau mungkin seseorang. Kuduga itulah kejutannya. Bukan karena lambaian tangan Randy dan beberapa orang, tapi karena sesuatu atau seseorang yang tersembunyi dalam kerumunan teman-teman SMA-ku itulah yang membuatku jadi semakin mendekati.

Olala... Sesuai nama kafe itu, begitulah yang kuucap saat melihat sesuatu yang telah keluar dari kotak pandora tersebut. Ini... kejutan... yang... menyenangkan...

Mantan istriku, Sabrina datang ke kafe itu seraya membawa kedua anakku yang sekarang telah beranjak SD; setidaknya begitulah yang kutangkap dari perawakan kedua anakku tercinta. Sejak perceraianku dengannya lima tahun lalu, sudah lama sekali tak bersua dengan kedua anakku ini; aku tak bisa berkutik saat hakim memutuskan hak asuh berada di tangan Sabrina. Langsung saja kupeluk kedua anakku ini dengan penuh keharuan tingkat tinggi.

Mengamati pertumbuhan kedua buah hatiku ini, sepertinya aku perlu menyesalkan mengapa dahulu 'ku bercerai. Iya, aku bodoh sekali. Mengapa aku menceraikan istri terbaik di dunia hanya karena ingin merasakan perceraian seperti yang selalu kusimak tiap harinya lewat sebuah kotak segi empat? Aku mudah sekali terpancing dengan segala pergunjingan para pembaca yang masuk di inbox surat elektronik-ku (Kebanyakan dari mereka berkata bahwa aku bisa menyiratkan keindahan pernikahan, karena aku belum pernah merasakan perceraian). Aku idiot. Mungkin ini alasan perceraian terkonyol: ingin merasakan getirnya perceraian.

Saat kulepaskan pelukanku, kudengar Sabrina berkata dengan lirihnya: "Mas, kita rujuk lagi, yuk. Anak-anak selalu menanyakanmu kenapa kamu tak pulang-pulang."

Tak kujawab. Aku hanya mengedarkan pandangan pada teman-temanku dan berucap dengan mata berkaca-kaca: "Kawan, terimakasih atas kejutan April Mop yang menyenangkan ini. Kalian tahu, sudah lama sekali aku ingin bertemu dengan istri dan anak-anakku, tapi..."

Hening timbul.

"...aku gengsi..."

Pecahlah tawa di  antara kami semua, dan istriku langsung memelukku dengan penuh kemesraan.



TGR, 1 April 2013
IL