Sunday, March 3, 2013

[I THINK] Laughing may be a sins



"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang." - grup lawak Warkop



Akhir-akhir ini, banyak sekali kulihat orang-orang yang memrotes lawakan-lawakan di Indonesia yang katanya sih cenderung merendahkan dan tak mendidik. Bahkan sampai-sampai ada seseorang yang berani mengeritik tradisi lawakan negeri ini ke salah satu pelawak cukup terkenal via sebuah rubrik di media lokal. Cukup takjub juga melihat jawaban si pelawak. Cerdas, menurutku. Dia langsung ganti blak-blakan berkata bahwa lawakan model begitulah yang disukai masyarakat Indonesia; bahkan sebuah survey juga mengatakan hal sama. Yah memang benar yang dikatakannya.

Sebetulnya soal lawakan di negara ini yang katanya kampungan dan tak mendidik itu, mereka digemari karena ada yang menyukai. Ada supply, ada pula demand; hukum ekonomi berlaku juga nih. Tak bijak juga sih menyalahkan pelawaknya atau juga tim kreatifnya. Kalau mau ada pihak yang disalahkan, yah salahkanlah pihak yang tertawa itu. Siapa pihak yang tertawa itu? Yah penontonnya, baik itu yang berada di TKP maupun di luar TKP. Kalau mereka tidak tertawa, acaranya berhenti sampai di situ dan sang pelawak pun kehilangan mata pencahariannya. Lebih tega mana nih: pelawak yang kehilangan mata pencahariaan dan menambah jumlah pengangguran atau generasi muda yang katanya dapat hal tak mendidik?

Kebanyakan juga tipe lawakan yang sering dikritik itu yang model slapstick. Slapstick itu adalah a type of broad, physical comedy involving exaggerated, boisterous actions (Contohnya sekarang ini, melemparkan tepung atau bedak ke wajah seseorang), farce, violence and activities which may exceed the boundaries of common sense. Intinya lawakan tipe slapstick itu tipe lawakan yang absurd dan katanya sih di luar akal sehat dan tak mendidik. Mungkin karena itulah lawakan jenis stand up comedy muncul. Itu lho, lawakan yang pelawaknya itu berdiri dan lebih mirip orang kotbah ketimbang melawak itu sendiri. Materi lawakannya juga tak lepas dari sindir-menyindir yang tak jauh beda dengan materi lawakan pada slapstick.

Soal sindir-menyindir tersebut, sebetulnya lawakan itu harus ada 'korban'. Korban di sini maksudnya harus ada sesuatu yang ditertawakan dan tertawaan itu (mungkin) identik dengan hinaan. Kalau tak ada 'korban', tak ada suara gelak tawa, baik itu tipe terbahak-bahak, cengengesan, cekikikan, atau sekedar nyengir. Dan munculnya 'korban' itu seringkali datang sendiri - itu kalau di kehidupan sehari-hari. Sekarang coba deh pikir, kalian biasanya ketawa karena apa, selain karena faktor televisi, buku, radio, ataupun internet? Karena ada 'korban', kan? Jujur saja, aku saja suka tertawa kalau ada orang yang melakukan kecerobohan ataupun kebodohan. Misalnya ada yang kesandung, salah ucap kata, kepeleset lidah, kelakaran seseorang, ataupun karena sikap seseorang yang menurutku lumayan geli. Hayo, pasti kalian juga mengalami yang sama, kan?

Lalu, karena itulah, aku sempat mikir begini: dosa nggak sih tertawa karena hal-hal tersebut yang terjadinya malah spontan dan tak terencana? Mungkin juga menertawakan lawakan slapstick di televisi sebetulnya lebih baik daripada tertawa terhadap hal-hal yang kusebutkan tadi. Setidaknya lawakan-lawakan tersebut karena sudah diskenariokan dan terjadinya bukan karena unsur spontanitas belaka. Terus sempat mikir juga, jangan-jangan tertawa itu dosa lagi? Soalnya kebanyakan dari kita tertawa karena'kelemahan' seseorang. Tapi kalau dosa, kenapa ada yang bilang tertawa bisa bikin awet muda? Aduh, mumet deh kepalaku ini. >_<

Kalau dipikir-pikir juga, tertawa itu sebuah dilema juga. Contohnya itu kita ambil video yang satu ini.



Nah kalau misalnya di suatu tempat, kalian bertemu dengan orang yang seperti Ryan di acara Malam Minggu Miko ini, apakah yang akan kalian lakukan? Jujur kalau aku ketemu orang yang nutup-nutupin mata sewaktu di antrean depan ATM, aku agak geli. Kalau nggak ketawa, yah minimal nyengir. Yah habis mau gimana lagi, itu refleks; itu sama seperti kita melihat kue tart di toko. Di satu sisi, aku merasa lucu dengan aksi orang itu; tapi di sisi lain, kasihan juga. Aku merasa bersalah juga sudah menertawakannya. Aku mikir, bagaimana kalau aku yang di posisi orang itu. Aku yang melakukan hal konyol di depan umum, lalu ada orang yang geli melihatku. Mungkin sama seperti mas-mas di ATM itu, aku agak kesal atau minimal nggak enak hati-lah.

Tertawa sungguh suatu dilema yah? Karena di dalam tertawa itu, ada juga unsur 'penghinaan'nya - setidaknya menurutku. Jangan-jangan tiap kali kita menertawakan seseorang, malaikat yang mengawasi kita tiap detiknya jadi bisa menambahkan sesuatu ke dalam daftar dosa kita. Jadi baiknya itu, kita boleh tertawa atau tidak, yah? Dan percaya atau tidak, kalau kalian masih jalan nuraninya, saat kita tertawa untuk kasus-kasus yang sudah disebutkan tadi, pasti di sisi lain, kalian merasa tak enak hati sudah tertawa. Kalian sudah berada dalam sebuah dilema, kawan!

Begitupun dengan profesi pelawak. Profesi ini paling dilematis. Tiap lawakannya pasti berpotensi mengundang kritikan ataupun kecaman, padahal maksud dia baik - yaitu untuk menghibur. Melawak seperti ini, dibilang mengajarkan gaya hidup saling meledek ke anak-anak; melawak seperti itu, ada yang tersinggung; melawak model begini, dikira kampanye bullying. Jadi mikir kalau tiap pelawak di Indonesia ini pasti rajin mengonsumsi obat sakit kepala tiap harinya.

Sungguh, bikin orang menangis itu jauh lebih mudah daripada bikin orang tertawa. Gampang kan bikin orang menangis? Pukul saja kepalanya pakai tang, keluar deh air matanya. Atau gertak pakai pisau. Atau bisa juga, permainkan saja hatinya. Beres; air mata pasti keluar dengan sendirinya dari bola matanya. Tapi kalau tertawa.... salah-salah kita malah bikin orang tersebut tersinggung atau ada perasaan bersalah dalam diri kita. Hmmm....



Instead of making laugh, making anyone sad is more easier.




12 comments:

  1. Inggris lu ngaco

    Laughing (kata kerja) may be a sin
    Itu yg bener

    ReplyDelete
  2. Iya, suka heran sendiri dengan lawakan jaman sekarang yang kadang melebihi batas.
    Tapi apa boleh buat kalo emang masyarakatnya suka yang seperti itu.
    Serba salah emang.

    ReplyDelete
  3. Paragraf pertama itu kayaknya ada kata yang kehilangan huruf "memrotes" mungkin maksudnya memprotes... jangan2 karena keasyikan tertawa nih jadi hurufnya hilang :D

    ReplyDelete
  4. Apa kabar, Mas? Sudah lama nggak ngunjung, hehehe.

    Saya nggak suka lawakan, baik komedi lokal maupun interlokal. :P

    Jika menjadikan seseorang utk dijadikan bahan tawa, misal kekurangan pada dirinya, itu bisa jadi dosa. Karena segala detil pada tubuh manusia itu kan ciptaan Allah, mengapa malah diejek-ejek. Allahulam.

    Kembali lagi, saya harus bersyukur karena saya nggak suka lawakan. :p

    ReplyDelete
  5. @ Keven:
    Makasih koreksinya, kakak... :D

    @ Fadly:
    Setahuku dulu yang benar itu memang seperti itu... Sesuai hukum PTKS, semua kata yang ada huruf awalnya P, T, K, atau S itu memang luluh kalau ada awalan me-. :)

    ReplyDelete
  6. aku kurang suka lawak, jadi kalau aku tertawa karena lawakan berarti tu lucu :)

    ReplyDelete
  7. tergantung deh, cara ketawanya gimana. jadi bisa juga gak tersinggung kalo ketawanya biasa aja.

    ReplyDelete
  8. Terlepas dari diprotes atau ndak para komedian itu, bagi saya acara komedi lebih baik daripada nonton sinetron2 yang ndak jelas gitu mas hehe Stand up comedy favorit saya, si mongol tuh kocak orangnya :D

    ReplyDelete
  9. kan memang ada istilah tertawa di atas penderitaan orang lain...
    gmn hayo..??

    ReplyDelete
  10. maybe maybe maybe
    lets just laugh together

    ReplyDelete
  11. Setahu saya yg bener memrotes.
    Baru kepikiran saya, kadang saya tertawa melihat orang dikerjai yang artinya orang itu sedang mendapat musibah. Berdosakah?

    ReplyDelete
  12. iya..saya amati jga begitu. Kebanyakan pelawak yg mengalami intimidasi ( saya anggap intimidasi aja mskpun itu dilakukan sbgai materi lawak ) adalah yg kurang trkenal atau jarang muncul di tv . Tpi tak bisa dipungkiri, hal seperti itu trnyata jg mengundang tawa.

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^