Tuesday, December 18, 2012

Spongebob Syndrome





Spongebob Squarepants itu mungkin merupakan tipikal karyawan idaman tiap pengusaha atau manager atau bos. Gimana nggak. Coba saja tonton episode per episodenya kartun tersebut. Seumur-umur kerja di Krusty Krab, dia nggak pernah mengeluh soal gajinya, nggak pernah mengeluh soal harus kerja selama 24 jam, juga nggak pernah mengeluh soal cuti. Bahkan sewaktu dia ambil cuti, itu juga karena disuruh Tuan Krab atas desakan asosiasi pegawai (* Semoga nggak salah!).

Lalu apa sih yang mendasari Spongebob seperti itu? Kalau dipikir-pikir, sebetulnya Spongebob berhak kerja di tempat yang lebih layak, mengingat kualitas masakannya. Dengan keahliannya memasak, dia berhak juga dapat gaji yang lebih wah, uang lembur, dan tunjangan cuti - kalau dia mau. Tapi nyatanya, dia nggak melakukannya - dan itu karena satu hal, yaitu, kecintaannya akan memasak, khususnya memasak Krabby Patty. Passion-nyalah yang membuat dia bisa bertahan di restoran cepat saji milik Tuan Krab yang super pelit itu.

Berbicara soal passion,  aku akhir-akhir ini makin mengerti dengan yang namanya passion itu. Terutama setelah melihat kehidupan teman kuliahku dulu. Kita sebut saja namanya Jelita (* Bukan apa-apa sih disamarkan, cuma buat menghindari yang bersangkutan jadi ge-er aja! :P). Si Jelita wisudanya bareng sama aku, waktu tanggal 21 April kemarin. Yang membedakan hanya tanggal sidangnya saja - soalnya dia juga sama-sama SH, dan aku sidangnya lebih dulu dari dia.

Sebelum dia wisuda, si Jelita memang sudah punya pekerjaan. Dia jadi guru di sebuah institusi pendidikan. Nggak tahu deh, itu sekolah apa bukan - cuma sih kayaknya beneran sekolah, deh. Terus saat sudah selesai wisuda, si Jelita ini masih tetap setia sebagai profesi mengajarnya. Tadinya aku mikirnya, mungkin saja dia belum ketemu sama pekerjaan yang lebih bergengsi. Tadinya sih gitu mikirnya.

Tapi... hmmm.... kayaknya nggak juga deh. Tiap kali buka facebook dan nggak sengaja nge-stalking akun profilnya, dia suka banget mengunggah foto-foto kehidupan profesinya sebagai pengajar anak-anak - plus beberapa status facebook-nya pun juga menyiratkan kecintaannya akan profesinya. Bahkan pernah kulihat dia mengunggah hasil capture-nya dari BBM anak didiknya. Selain itu, dirinya di foto itu juga kelihatannya benar-benar menikmati jadi seorang guru. Seolah-olah ingin menunjukan profesi guru bukanlah suatu beban baginya dan memang passion-nya dia jadi seorang pengajar.

Nggak tahu deh, benar atau nggak asumsi aku ini. Tapi sih kayaknya benar deh. Soalnya kalau memang jadi beban dan dia nggak menikmati, rasa-rasanya nggak mungkin deh, dia sering mengunggah foto-foto seputar kegiatannya sebagai seorang pelajar.Foto-fotonya itu juga lumayan banyak, dan lewat segala yang ada di akun facebook-nya itu, ia terlihat sungguh menikmati. Setidaknya itulah yang kutangkap.

Nah kembali bicara soal passion, ada seorang blogger yang pernah bilang padaku, kalau passion itu sesuatu yang bersifat mahal. Iya sih, ada benarnya juga. Nggak semua orang tahu dan punya passion-nya masing-masing. Plus, kalaupun tahu, di era yang sekarang ini, untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan passion kita itu juga sulitnya minta ampun. Butuh perjuangan keras. Harus melewati banyak rintangan dan kecaman dari orang-orang sekitar kita.Tuntutan hidup/jaman membuat kita mau tak mau harus berpikir realistis. Jarang ada yang benar-benar menjaga idealismenya di jaman 'edan' seperti ini.

Contohnya, aku ini. Dari awal aku sadar, passion-ku itu memang jadi penulis. Pengin banget bisa bekerja yang ada hubungannya sama dunia tulis-menulis. Tantanganku di sini adalah dari orang-orang terdekat dan gelar sarjanaku. Aku ini sarjana hukum. Orang pasti membayangkannya, aku pasti bakal jadi pengacara, notaris, jaksa, hakim, atau mentok-mentok, pegawai negeri sipil. Tapi jujur, aku nggak pernah menaruh minat ke itu semua. Minatku, yah sudah jelas, ingin bekerja sesuai minatku, yaitu menulis.

Memang sih, sekarang aku belum mendapatkan apa-apa dari passion-ku ini. Tapi aku benar-benar menikmati, kok, hidup dari passion-ku ini. Aku juga percaya, pasti suatu saat, kerja keras dan kesabaranku bertahan di passion yang satu ini pasti akan membuahkan hasil.

Contoh lainnya lagi, Maria Ozawa, Anri Suzuki, dan Asia Carrera. Mereka semua adalah bintang film porno, karena memang mereka memilihnya. Mungkin mereka memilih jadi bintang bokep, yah karena passion. Panggilannya mereka ke sana. Mereka tidak melakukannya demi uang, popularitas, maupun seks. Uang buat apa? Mereka cantik, mereka bisa mendapatkan suami kaya; popularitas?  jadi bintang bokep saja sudah terkenal, apalagi memilih bukan jadi bintang bokep - mereka cantik dan bisa gampang mendapatkan ketenaran; begitupun juga dengan seks yang bisa mereka dapatkan, di luar jadi bintang bokep. Yah mungkin satu-satunya alasan, yah karena passion. Sama seperti Spongebob yang kerasan jadi koki di Krusty Krab atau temanku, Jelita yang sudah lewat berapa bulan wisuda, masih tetap jadi pengajar.

Bekerja berdasarkan passion itu jauh lebih menguntungkan, kok. Pekerjaan itu tidak akan jadi suatu beban. Walaupun jenuh pasti ada, tapi jenuhnya itu nggak sejenuh saat kita melakoni pekerjaan yang bukan passion kita. Selain itu, saat mendapatkan hasilnya, wuih pasti senangnya bukan main. Berbeda saat kita mencapai suatu hasil atau pencapaian di pekerjaan yang bukan jadi passion kita. Rasanya tuh hambar dan nggak ada geregetnya. Dan di jaman seperti sekarang ini, bersikap idealis atau memelihara keidealismean kira juga nggak ada salahnya. Malah bakal jadi penyesalan, kalau kita meninggalkan idealisme tersebut, atau memilih pekerjaan atau karir yang bukan karir kita. Kalau ada kesempatan bekerja sesuai passion kita, yah kenapa nggak diambil? Tokh, hidup hanya sekali, bukan?

Jadi intinya, kalau mau seperti Spongebob yang benar-benar menikmati pekerjaannya tersebut, saranku hanya satu: Know yourself; find your passions; follow your dreams; do what you love. Percaya deh, bekerja sesuai dengan passion itu nggak ada rugi. Jauh lebih mudah melakukan pekerjaan yang kita cintai daripada melakukan pekerjaan yang tidak kita cintai. Memang butuh perjuangan ekstra keras. Tapi saat kita mendapatkan pencapaiannya pun, rasa senangnya itu berlipat-lipat. Just believe me! Kebahagiaan saat kita berhasil dalam hal yang kita cintai jauh lebih menyenangkan daripada kebahagiaan di luar hal yang jadi passion kita.



"Saya berhasil karena saya menyukai apa yang saya kerjakan, dan menikmati setiap menit dan detiknya secara profesional" - Rezkaocta