Thursday, August 2, 2012

Perjumpaanku dengan kematian


Waktu membaca postingan di salah satu blog favorit, tiba-tiba saja sedikit demi sedikit memori keluar dari dalam laci otakku. Postingan itu sederhana sekali dan menceritakan mengenai kematian. Sang empunya blog menceritakan pengalamannya saat melihat kematian datang dan menghampiri orang-orang yang cukup dia sayangi.

Hmm... Tulisannya tersebut benar-benar membangkitkan kembali ingatan-ingatanku tentang kematian. Yah aku pernah berjumpa dengan kematian. Aku pernah melihat kematian menjemput orang-orang terdekatku. Mulai dari temanku, Mayang Larasati, yang meninggal waktu kelas 6 SD. Tepat pada saat aku dan teman-teman sekelasku tengah memperingati Hari Guru, muncul berita bahwa Mayang meninggal. Sontak teman-teman yang mendengarkan kabar itu langsung meraung-raung kencang. Kita semua spontan menangis  di depan umum, padahal kita lagi ada di lapangan dan lagi upacara. Anehnya lagi, cuma aku saja yang tak menangis. Aku sendiri juga heran, kenapa aku tak mengeluarkan air mata. Padahal sebelum Mayang meninggal, aku teman sebangkunya dan bisa dibilang lumayan akrab. Apa mungkin karena ini pengalaman pertamaku berjumpa kematian, sehingga tak satupun air mata yang keluar? Entahlah. Karena yang jelas, sebulan setelah kematian Mayang, rasanya ada yang ganjil. Serasa ada yang hilang. Beberapa teman yang mungkin masih kepikiran sama Mayang, bahkan sampai mengeluarkan joke: “Eh itu kan pernah didudukin Mayang. Ati-ati lho digentayangin.” Konyol sih kedengarannya, tapi mungkin itu semacam ungkapan dari mereka yang merasa ada yang hilang setelah kematiannya Mayang. Yah walaupun agak sedikit kehilangan, kepergiannya Mayang, setidaknya  memberikan satu nilai positif. Kalau Mayang tidak pergi, aku dan teman-temanku tidak akan pernah mengetahui bahaya dari mi instan. Mayang meninggal karena leukimia yang menurut dokter akibat mi instan yang sering dikonsumsinya.

Lalu malaikat maut pun kembali menjemput orang-orang yang kusayangi. Awal tahun 2005, dia memanggil pulang guru spiritualku, Pendeta Yohanes. Waktu mendengar kabarnya, barulah di saat itu, air mata mulai keluar, walau tidak meraung-raung. Tapi setidaknya ada keinginan untuk menangis. Oh yah, ada pengalaman unik yang menyertai kepulangan Pendeta Yohanes. Sehari sebelum beliau dipanggil, aku meneleponnya untuk datang ke rumah. Biasalah, aku memanggilnya untuk bimbingan rohani. Sekedar menguatkan hatiku yang lagi galau segalau-galaunya akibat terancam tidak naik kelas. Dan karena itulah, aku agak merinding ketakutan. Beberapa hari setelah kepulangannya dan nyaris sebulan, tidurku tidak tenang. Tiap tengah malam, aku selalu terbangun. Entahlah. Apa mungkin karena Pendeta Yohanes cukup dekat denganku, sehingga secara mental aku belum siap kehilangan beliau? Tapi itu mungkin juga. Karena semenjak itu, nggak ada lagi yang bisa memberikanku bimbingan rohani, sama seperti waktu aku SMP.

Belum ada setahun sejak kepergian Pendeta Yohanes, malaikat maut nggak puas untuk mendatangiku. Kali ini ia beringsut mendekatiku, walau tak terlalu dekat. Karena kali ini, korbannya adalah Christine Fransisca, teman sekelasku di Tarakanita. Walau tak terlalu dekat dan akrab tetap saja kehilangan yah kehilangan. Selalu saja ada perbedaan antara sebelum mereka meninggal dengan setelah meninggal. Mungkin malaikat maut mencabut nyawa si Kecil Christine hanya untuk mengingatkanku bahwa kematian itu ada. Kematian yang waktu kecil selalu kubayangi sebagai suatu hal yang menakutkan, keberadaannya itu benar-benar nyata. Seolah juga ingin mengingatkanku bahwa hidup itu layaknya masuk McD. Pesan makanannya, lalu pulang. Selesai.

Tiga tahun setelahnya, lagi-lagi aku bertemu lagi dengan Kematian. Dia mengambil pergi Tulang (Paman, dalam bahasa Batak) Tasman. Di usianya yang belum terlalu bisa dibilang opung atau opa, dia harus berpulang, entah kemana. Sampai sekarang pun aku bingung, kemanakah orang setelah kematian. Tapi itu tak penting. Karena setelah kematiannya, aku jadi mengasihani anak-anaknya. Bayangkan saja, setelah beberapa tahun sebelumnya, ia bercerai dengan istrinya, kini ia meninggalkan anak-anaknya, yang juga sepupuku. Mungkin kematian ingin mengajarkan padaku satu hal. Bahwa kematian tak hanya membuat kita merasa kehilangan, namun juga bisa memberikan kita masalah, yang bisa menguatkan atau malah menjatuhkan.Namun bila melihat nasib sepupu-sepupuku itu, mereka sepertinya malah semakin kuat. Sepertinya kepergian seorang bapak, malah menguatkan mental mereka semua.

Tepat satu tahun, di bulan Juli, aku kehilangan lagi. Kehilangan seorang guru di masa SMA-ku yang benar-benar mendukungku. Rabu, tujuh juli, jam empat sore, ponselku berdering pertanda ada pesan yang masuk. Selvie memberitahuku bahwa guru BP-ku telah berpulang. Guru yang baik dan lumayan pengertian sama murid-muridnya itu akhirnya kalah berperang melawan penyakit radang paru-paru, menurut informasi yang kudengar.Untung saja, aku sudah kuliah. Andaikan saja aku masih sekolah di SMA-ku atau meninggalnya waktu aku masih di sana, yah mungkin saja aroma-aroma kehilangan bisa kurasakan. Jujur saja, Ibu Endah adalah satu dari sekian guru yang menurutku terbaik. Paling bisa mengayomi tiap muridnya. Itu menurutku. 

Namun sepertinya kepergiannya Bu Endah itu jadi semacam alarm. Tiga tahun setelahnya, giliran opung alias nenekku yang jadi korbannya. Tanggal 15 Februari kemarin, omaku ini resmi menghadap Sang Khalik dan kepulangannya ini benar-benar membuatku merasa kehilangan. Kadang di saat aku sedang sendirian di rumah, pikiranku menerawang. Menerawang ke saat-saat opung masih hidup. Tiga tahun lalu, beliau cukup sering menginap di rumahku. Karena itulah aku cukup merasa kehilangan dan sering membayangkan momen-momen waktu dia ada. Momen-momen waktu dia berteriak untuk minta ditemani, ataupun saat dia mau masak air buat mandi. Hmm, namun dia sudah tak ada. Tak ada lagi suara teriakannya atau celotehan-celotehannya dia atau perbuatan-perbuatan konyolnya itu. I miss my grandma.

Dari beberapa peristiwa itu aku sadar. Kematian itu nyata dan bisa membuat kita merasa kehilangan, serta juga bisa membawa masalah. Kematian, bahkan juga bisa menjadi pelajaran. Pelajaran agar kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup. Pelajaran itulah yang kudapat saat teman kuliahku, Joshua yang tewas terjatuh dari lantai 15 Gedung Yustinus Atmajaya. Salah melangkah, nyawa pun bisa jadi taruhannya.

Hidup ini hanya sekali. Hidup ini ibarat masuk ke McD, pesan, lalu pulang. Singkat. Karena begitu singkatnya hidup, marilah kita manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Daripada melakukan perbuatan bodoh yang dilakukan temanku itu, kenapa kita tidak coba melakukan beberapa hal yang membuat kita bisa dikenang dengan apa yang kita lakukan selama hidup. Nggak usah terlalu bombastis, cukup dikenang oleh beberapa orang saja, yang ada di dekat kita tiap harinya. Itu yang terpenting.

Sebagai penutup, kukutip suatu pernyataan yang cukup bagus dari seorang blogger asal Bandung.  

People come and go in our life, but their footprints will stay, leaving a mark in our heart, and our life will never be the same again. Because of that, I want to be remembered, not for who I am, but what I’ve done. - Keven, Blogger

God, give me long life for me. Just for leaving something impressed in the heart of the people i love.

11 comments:

  1. Kehilangan lewat kematian aku sudah mengalaminya, Setahun kepergian bapakku. Yach memang benar hidup ini cuma sekali didunia ini, tapi hidup yg bertanggung jawab. Karena apa yg kita krjakan selama ini akan kita tuai kelak disaat kita tiada lagi didunia ini.

    ReplyDelete
  2. Terharu bacanya. Tapi yg hrs lu inget, death ends life, not relationship...

    ReplyDelete
  3. Wuih sedih skaligus rada horor,, hati2 malaikat pencabut nyawanya di samping lo tuh, hihihi.. Ada yg bilang 40 hari arwah yg meninggal itu masih bergentayangan ke orang2 trdekat lho..

    ReplyDelete
  4. Wah, pengalaman ketemu kematian gue juga beberapa kali alami sob, terutama waktu opung gue yang tersayang dipanggil Tuhan..

    ReplyDelete
  5. kematian pasti kan menghampiri setiap mahluk yang bernyawa, maka isilah waktu dengan hal yang baik dan berguna..agar tiada penyesalan saat kematian datang menjemput :)

    ReplyDelete
  6. hanya kematian yang ga tahu kapan datangnya :)
    blog walking

    ReplyDelete
  7. kematian itu gak ada yg tau, fiuuuh.
    waktu kelas 1 SMA juga ada temen yang meninggal namanya euis, disitu gue mikir "kalo gue mati muda gimana ya?" masih pengen ngelakuin banyak hal. hidup itu singkat :|

    ReplyDelete
  8. hal yang tidak bisa kita tebak di dunia ini: rezeki, kematian, dan jodoh mas iman :)

    ReplyDelete
  9. kematian jasad tak bisa ditolak, maka perjuangkan kehidupan abadi dengan berbuat baik agar dikenang

    ReplyDelete
  10. berbagi kata kata motivasi gan
    Lebih mudah untuk melawan ribuan orang bersenjata lengkap dibandingkan melawan kesombongan diri sendiri.
    semoga bermanfaat dapat di terima dan salam kenal ya gan :D , ku tunggu kunjungan baliknya :D

    ReplyDelete
  11. kalau waktu sma, teman sekelasku meninggal kecelakaan sedih juga, krn ia termasuk anak yg paling sring dibuly/dicandai teman2 sklas

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^