Thursday, March 1, 2012

REVIEW FILM: Negeri 5 Menara


Genre : Drama
Sutradara : Affandi Abdul Rachman
Pemain : Gazza Zubizaretta, Ernest Samudera, Billy Sandi, Rizky Ramdani, Aris Adnanda Putra, Jiofani Lubis, ....

Klik kanan gambarnya untuk tahu sumbernya


"Tapi seperti biasa, kalo udah baca novelnya ya jangan kecewa." by: 

Film ini merupakan film adaptasi dari novelnya Ahmad Fuadi yang sudah jadi best seller: Negeri 5 Menara. Walaupun katanya mengadaptasi dari novelnya, saya berani bilang kalau cerita filmnya amat berbeda dari novelnya. Dimulai dari awalnya, pertengahan filmnya, sampai ending filmnya. Beda. Jadi buat yang sudah baca novelnya lebih dahulu, yah siap-siap kecewa saja yah. Hehehe. Bisa dibilang filmnya ini merupakan new version alias remake dari cerita novelnya.

Contoh bedanya itu sudah dimulai sewaktu awal ceritanya. Kalau di novel, kita sudah disuguhi oleh adegan pertengkaran antara Alif dan Amaknya mengenai masa depannya. Amaknya terus memutuskan agar Alif sekolah SMA di pondok pesantren yang ada di Minang, bukan di Pondok Madani seperti yang ada di film. Adegan perseteruan antara Alif dan Amaknya juga kurang terasa. Nyaris nggak ada gereget. Di filmnya, Alif sudah dipaksa masuk ke Pondok Madani. Padahal harusnya yang menyarankan masuk Pondok Madani itu Pak Etek Gindo, pamannya Alif.

Lalu dari situlah, dimulailah perjalanannya Alif bersama ayahnya ke Pondok Madani (PM) yang ada di Ponorogo, Jawa. Semestinya kalau menurut novelnya, Alif sudah bertemu dengan dua temannya di Sahibul Menara waktu berada di dalam bus yang menuju PM: Raja Lubis dan Dulmajid. Namun itu tidak digambarkan. Alif malah diceritakan bertemu dengan Baso di PMnya sendiri. 

Baso di sini digambarkan di filmnya sebagai seseorang yang spesial sekali. Juara lomba pidato, pemimpin, juara kelas, hingga motivator. Yah di novelnya sih Baso digambarkan santri yang berbakat. Malah Raja yang di novelnya spesial dikerdilkan perannya dan hanya menjadi santri yang mudah terbakar emosinya. Amat disayangkan sekali. Karakter Raja yang pintar bahasa Arab dan bahasa Inggris, santri cerdas, dan berbakat pemimpin malah tak digambarkan sama sekali. Kesannya tokoh bernama Raja di film ini hanya sebagai cemeo alias pelengkap.Yang ditonjolkan justru Baso Solahuddin. 

Terus masih banyak lagi adegan-adegan di filmnya yang memang berbeda dengan novelnya seperti:
1. Adegan waktu Alif ketemu Sarah. Harusnya Alif tidak bertemu di GOR, namun bertemu secara tiak sengaja ketika Alif sedang berjalan dan melewati rumah seorang ustaz pendatang. 
2. Adegan waktu Raja bertaruh ke Alif apakah Alif bisa bertemu dan mendapatkan fotonya Sarah. Raja menjanjikan akan mencuci pakaian, padahal seharusnya mentraktir Alif makrunah sebulan. 
3. Adegan waktu Sahibul Menara (Alif, Raja, Dulmajid, Atang, Said, dan Baso) memperbaiki generatornya, trust me, itu tak ada di novelnya. Itu sepertinya improvisasi sutradaranya.
4. Adegan waktu Sahibul Menara dan rekan-rekan seangkatan mengadakan sebuah pertunjukan. Itu harusnya waktu mereka sudah kelas enam, bukannya kelas dua. Sepertinya dari adegan itu, aku mulai sadar kalau film ini mau menyampaikan nilai-nilai perjuangan atau heroisme. Walau yah, itu dia, nilai-nilai perjuangannya kurang. Lebih mengarah ke film persahabatan.
5. Adegan waktu Alif, Sarah, dan Nisa berfoto bersama itu memang tak ada di novelnya. Tokoh bernama Nisa juga baru, makanya aku agak bingung sama keberadaannya. 
6. Adegan waktu Alif ketemu temannya, Randai di Bandung. Bahkan harusnya Alif ke Bandung bersama Atang dan Baso, bukannya berenam.
7. Adegan waktu Baso berpidato dalam bahasa Inggris. Itu seharusnya yang pidato itu Alif.

Yah setidaknya itulah beberapa adegan di filmnya yang tak ada di novelnya. Terus sutradaranya juga tidak memvisualisasikan beberapa adegan berikut ini:
1. Adegan waktu Sahibul Menara minta ijin ke Ustad Torik untuk keluar pondok hingga berhenti di sebuah bioskop, dimana Said termenung memperhatikan poster filmnya Arnold.
2. Adegan waktu Sahibul Menara dihukum menjadi jasus.
3. Adegan waktu ayahnya Alif datang sendiri ke PM karena mendapatkan surat dari Alif.
4. Adegan waktu murid-murid Pondok Madani sedang ujian kelulusan (Adegan yang ini harus divisualisasikan).
5. Tokoh bernama Ustad Torik dilemahkan. Padahal di novelnya, Ustad Torik digambarkan sebagai ustad yang disegani oleh para santri. Malah keberadaan Ustad Salman yang diberikan porsi lebih, bahkan sampai diceritakan dalam filmnya hendak cuti mengajar.
6. Filmnya juga kurang menggambarkan aktivitas para santrinya. Harusnya aktivitas para Sahibul Menara di PM itu digambarkan. Contohnya seperti waktu Said mengikuti kegiatan ekskul sepakbola, bahkan sampai masuk tim sepakbola Asrama Al-Barq. Itu malah tidak digambarkan. Nuansa PMnya malah kurang terekploitasi dengan baik.
7. Adegan waktu Tim Al-Barq memenangi Piala Madani.
8. Adegan waktu Ustad Torik meringkus maling (Adegan yang ini harus divisualisasikan).

Overall, film ini cukup bagus, baik dari segi teknisnya maupun acting para pemainnya. Yang kurang itu actingnya Ikang Fawzi yang kayaknya kurang menghayati perannya sebagai Kiai Rais yang memang digambarkan sebagai pemimpin sekaligus orang kedua yang disegani selain Ustad Torik. Actingnya Lulu Tobing juga cukup memukau walau absen sekian lama dari dunia entertainment. Sumpah logat Padang sukses digunakan secara aktif oleh Lulu Tobing. Begitupun dengan Gazza Zubizaretta. Anak pendatang baru ini juga cukup sukses memerankan Alif Fikri yang di novelnya memang anak yang introvert dan melankolis. 

Sedangkan acting para pemain Sahibul Menara lainnya, aku hanya bisa bilang bagus. Karena jujur saja, tokoh-tokoh kayak Baso, Said, Atang, Dulmajid, dan juga Raja itu berbeda dari novelnya. Salah satunya itu yah Raja yang di film, perannya dikerdilkan. Baso yang di novelnya nothing special malah lebih ditonjolkan. 

Selain itu, di novelnya kan, bahasa pengantar di PM itu bahasa Arab dan Inggris. Namun di filmnya, malah menggunakan bahasa Indonesia. Padahal ekspetasiku itu filmnya benar-benar menggunakan bahasa Arab dan Inggris, mengingat sebagian besar setting-nya adalah di Pondok Madani. Jauh lebih menarik kalau menggunakan dua bahasa asing tersebut. 

Dibalik segala kekurangan yang telah kusebutkan tadi, film ini lumayan bagus buat ditonton bersama keluarga. Ada nilai-nilai perjuangan dan persahabatan di dalamnya. Hmm, akhir kata, saya memberikan nilai 7,5 dari 10 bintang. Yah jujur saja, kalau saja cerita dalam novelnya benar-benar diikuti dan tidak terlalu berimprovisasi, nilai-nilai perjuangannya itu bakal terlihat lebih jelas lagi. ^^