Monday, April 25, 2011

REVIEW: Film Tanda Tanya (?)




Kategori: Film
Genre: Drama
Sutradara: Hanung Bramantyo
Peman: Revalina Temat, Hengky Soleman, Rio Dewanto. Reza Rahadian, Agus Kuncoro, Enditha

Film ini menceritakan kehidupan beragama di Indonesia dan menurut gw, si Hanung, sang sutradara cukup blak-blakan banget nyeritain kehidupan beragama di Indonesia. Bahkan sesuatu yang tabu malah menjadi salah satu unsur yang penting di dalam film ini seperti masalah pindah agama.

Yah kita tau, di Indonesia, masalah pindah agama itu tabu dan rancu. Pindah ke satu agama dianggap murtad, tapi di agama yang baru dipuja-puja. Padahal menurut gw, itu pilihan seseorang sih pindah agama itu. gak ada hubungan dan ga usah disangkut-sangkutin sama dosa.. Just a choice which given by God. Masalah tindakannya benar atau salah, biarlah Tuhan yang menghakimi.


Ada tiga kisah yang menarik di film ini menurut saya. Pertama kisah seorang wanita bernama Rika yang pindah ke katolik namun masih menjaga sesuatu yang vital dari agama lamanya, islam. Bahkan ia tetap menemani putranya yang tetap islam untuk mengaji, menemani Abi anaknya menjalani puasa dan juga berlebaran. Satu lagi yang bikin gw geleng-geleng kepala. Ketika kelas katekisasi untuk menjalani pembaptisan, Rika menuliskan istilah-istilah islam saat diminta menulis tentang arti Tuhan. Padahal yah kita tau, Rika lagi menjalani proses menjadi katolik.

Kedua, kisah seorang perempuan muslim bernama Menuk yang bekerja dengan ikhlas di restoran china yang kita tau jualan B2 (pork, maksudnya). Si empunya restoran juga toleran. Ia juga menyediakan menu-menu yang dianggap islam hallal.  Bahkan waktu ramadhan tiba, si engkoh juga rela menutup tempat jualannya dengan gorden serta menutup restorannya selama lima hari pasca lebaran untuk menghormati yang lebaran. Sayangnya anaknya si engkoh enggak gitu. Awalnya si Hendra lebih mentingin bisnis ketimbang menghargai umat beragama yang lain.

Ketiga, kisah suaminya Menuk yang bernama Soleh. Awalnya si Soleh fanatik banget sama agamanya Islam. Namun perlahan-lahan ia mulai sadar akan kesalahannya yang terlalu fanatik. Dari yang dulunya menghancurkan restoran china yang buka di hari lebaran bahkan sampai melukai si engkoh, kemudian ia sampai mengorbankan nyawanya demi sebuah gereja katolik. Si Soleh mulai belajar untuk bersikap toleran terhadap yang berbeda dengannya.

Yah pokoknya film ini benar-benar naked truth banget (walau di Indonesia masih dianggap aneh aja sama istilah ini) dan cocok banget jadi pembelajaran di kelas Multikulturalisme atau Kewarganegaraan. Film ini cocok juga dipelajari sama orang-orang yang fanatik banget dan dangkal pemahaman agamanya.

Namun endingnya jelek sekali. Endingnya diceritakan Si Soleh sampai harus mengorbankan nyawanya agar bombnya tidak meledakkan umat kristiani. Padahal menurut gw, Si Soleh ga harus berbuat seperti itu. Bombnya kan bisa dijinakkan atau dilemparkan ke udara.

Selain itu juga beberapa adegan penting dari film ini:
1. Saat Surya yang seorang islam memerankan tokoh Yesus
2. Keputusan si engkoh yang menutup tokonya dengan gorden saat bulan ramadhan
3. Tokoh bernama Surya yang tau banget seputar katolik. Ia  bisa menjelaskan secara detail perbedaan 'sinterklas' dan 'santa claus'.
4. Tawuran antar agama karena ejekan rasis dan SARA.
5. Saat tokoh bernama Rika menuliskan asma Allah pada saat katekisasi.
6. Endingnya menceritakan si Hendra yang mendadak mualaf (istilahnya islam) pasca peledakan bom --> dari adegan ini, gw berpandangan mas Hanung cukup berimbang dalam menceritakan kehidupan beragama di indonesia. Ia ga menceritakan dari sudut non islam doang, tapi juga dari sudut islam.

Film ini juga recomended banget buat yang pengen ngerti makna keberagaman serta orang-orang yang berpandangan sempit.

Ada baiknya baca --> pandangan seorang blogger tentang (?)

OOT: Pluralisme itu adalah paham yang mengajarkan keberagaman. Dari suku kata belakangnya saja (isme), kita bisa tau  kalo pluralisme itu semacam teori, ajaran. Sehingga juga ga seratus persen bener. Karna akhiran isme itu sama artinya dengan akhiran logy. Jadi belajar akan keberagaman kan ga salah, bro.

Belajar akan keberagaman membuat kita tau di dunia itu rupanya penuh dengan orang-orang yang beraneka ragam. Pluralisme juga bukan memaksakan supaya beragam. Tokh pada dasarnya yang namanya sama itu ga ada.  Semuanya pasti ada bedanya. Orang kembar aja ada bedanya, bukan? (secara DNA). --> untuk lebih mengerti konsep ini, mending baca deh post ADIL