Tuesday, February 22, 2011

REVIEW: The Infamous



sumber:silviaarnie.blogspot.com


Infamous
Category : book
Genre : non-fiction
Author : Silvia Arnie



Pernahkah kalian mempunyai musuh dalam selimut? Seseorang yang kalian selama ini anggap sahabat ternyata menusuk dan merusak hidup kalian? Mungkin perasaan kalian sakit bila ada musuh dalam selimut di dalam kehidupan kalian.

Hal seperti itulah yang dirasakan seorang gadis muda bernama Anne Adriana. Karena perbuatan temannya, Ayana. Ayana merupakan sahabatnya sejak kecil dan rela menghancurkan sahabatnyasemenjak kecil hanya karena Adriana menceritakan pengalaman buruknya yang tidur (hanya tidur/just a sleep dan tidak having sex) dengan bosnya yang ternyata adalah pacarnya Ayana. Memang hidupnya Adriana cenderung berputar ke dirinya sendiri, tanpa memperhatikan orang lain. Tapi apakah harus ia merasakan ini semua sebagai akibat dari kurang pekanya terhadap sekitarnya? Harus ditelepon oleh para lelaki hidung belang karena nomornya disebar di situs porno, harus ribut dengan pacarnya Rafa, bahkan harus putus. Pahit sekali pembalasan ‘dendam’nya Ayana. Padahal ia hanya mau menyampaikan kepada Adriana agar Adriana lebih peka terhadap sekitarnya.

Lagipula itu juga salah Ayana sendiri. Kenapa ia tidak mau bercerita kepada Adriana mengenai perasaannya, kegelisahannya, atau something about her? Manusia kan tidak mempunyai telepati.Bagian yang aku kesal ialah bagian dimana Ayana marah kepada Adriana pada saat Adriana mengajaknya clubbing gila-gilaan di saat ia dirundung duka karena gagal masuk jurusan TI. Padahal kenapa ia tidak terus terang saja menolak dan berkata ingin menghabiskan waktu saja di kamar. Sebetulnya masalah antara Adriana dengan Ayana, Adriana dengan Rafa, Ayana dengan Vigo adalah karena kurangnya komunikasi. Padahal pentingnya menjaga komunikasi di dalam suatu persahabatan dan pacar dan komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah, bukan satu arah.

Novelnya cukup bagus dibaca oleh remaja. Jalan ceritanya lumayan, namun kekurangan novel ini ialah terletak pada bahasa yang digunakannya. Pengarangnya, Silvia Arnie sepertinya membayangkan berada di suatu negara yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris bersamaan. Ini dapat terlihat dari seringnya penggunaan kalimat-kalimat berbahasa inggris yang cukup baku di dalam novelnya. Dari awal hingga akhir novel, kalian akan menemukan banyak sekali dialog yang menggunakan bahasa Inggris. Latar belakang ceritanya juga agak sedikit berbeda dengan situasi dan kondisi di Indonesia.

1 comment:

  1. Hehehe, gw mah kurang suka buku begituan. Lebih suka yang misteri2 gituh deh :-)

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^