Thursday, July 1, 2010

Demonstrasi di depan gedung MPR-DPR tanggal 3 Maret 2010 (langsung dijepret dari Hape kamera saya yang setia)







FAKTA YANG MENDUKUNG FOTO-FOTO DI ATAS:
Sebanyak 20.000 orang akan mengepung Gedung MPR/DPR/DPD RI pada Selasa (2/3) dan Rabu (3/3), untuk mengawal Sidang Paripurna DPR tentang pengambilan keputusan hasil akhir Pansus Bank Century.
Massa tidak ingin proses Pansus yang digelar terbuka, dan ditonton jutaan rakyat Indonesia selama lebih dari dua bulan, ditelikung begitu saja di Sidang Paripurna. Pasalnya, selama mengikuti proses persidangan, rakyat sudah mengantongi nama-nama yang harus bertanggung jawab dalam kasus Bank Century tersebut. Anggota DPR hanya punya dua pilihan, yakni membelot terhadap koalisi atau hak angket. Jika membelot dari koalisi, maka konsekuensisnya adalah menghadapi realitas ancaman reshuffle kabinet, ataupun tekanan lain.
Jika pilihannya adalah membelot terhadp tujuan awal hak angket, maka konsekuensinya parpol akan berhadapan dengan sanksi sosial dari publik, yang akan semakin skeptis terhadap parpol dan juga DPR. “Sekarang, publik akan menyoroti apakah fraksi-fraksi akan membelot dari tujuan awal hak angket untuk terang-terangan mengungkap kasus Bank Century hanya demi berada dalam koalisi, atau sebaliknya membelot dari koalisi demi mengungkap kebenaran,” kata Ray Rangkuti di Jakarta, Sabtu (27/2).
Adhie Massardi, aktivis Gerakan Indonesia Bersih (GIB) di Jakarta, Sabtu, mengatakan, Sidang Paripurna akan berlangsung seru, karena dikawal aksi unjuk rasa semua elemen masyarakat. “Kami akan melakukan unjuk rasa dengan menurunkan 20.000 orang dari berbagai elemen. Massa nantinya akan terkonsentrasi di depan Gedung MPR/DPR RI Jakarta,” katanya.
Unjuk rasa kali ini, bersifat mengawal, supaya hasil akhir Pansus tidak berubah dalam paripurna. Rakyat melihat, laporan akhir Pansus sudah bisa disimpulkan, bahwa bailout adalah keputusan politik yang salah, dan orang-orang yang bertanggung jawab atas bailout sudah disebutkan.
“Long March”
Adhie memastikan, aksi kali ini berlangsung aman. Tetapi, dia tidak menjamin 100% tanpa tindakan anarki, mengingat jumlah orang sangat banyak.
“Kami hanya membawa spanduk dan foto-foto. Jika hanya membakar foto atau spanduk, tentu tidak bisa dihindari. Tetapi, jika lebih dari itu, maka kami tidak dapat menjaminnya,” katanya.
Sementara itu, lebih 500 petani, buruh, dan mahasiswa, melakukan long march dari Bandung, Jawa Barat menuju Senayan, Jakarta, untuk mengawal paripurna kasus Bank Century dan menolak neoliberalisme yang mencekram Indonesia.
Koordinator aksi long march, Yosep Bachtiar, mengatakan, pihaknya memulai aksi dari Gedung Sate Bandung pada 25 Februari pukul 12.00 WIB, dan rencananya berakhir di Gedung MPR/DPR/DPD RI Senayan, pada 2 Maret 2010, sekitar pukul 07.00 WIB,” katanya.
Selama enam hari berjalan kaki, mereka telah bermalam di beberapa titik yang sudah ditentukan. Mereka mengajak petani setempat, untuk ikut bergabung jalan kaki ke Senayan.
Ketua Umum DTI Ferry J Juliantono mengatakan, aksi long march ini juga sebagai protes terhadap aparat Kepolisian yang melarang perusahaan-perusahaan angkutan penumpang (bus), membawa massa ke Jakarta. Larangan itu disampaikan melalui edaran Polda yang diteruskan ke Polres-Polres.
Sementara itu, Polri sangat menghormati rencana unjuk rasa akbar terkait keputusan akhir Pansus Hak Angket Skandal Bank Century di Jakarta, pekan depan. Namun, aksi massa itu jangan dilakukan dengan membuat lingkungan tidak nyaman, apalagi mengarah anarki.
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang mengatakan, demonstrasi bagian dari hak warga dalam melaksanakan beragam keinginan untuk berinteraksi dan bersosialisasi sesuai tuntutan mereka. Dia berharap, aksi demo bisa berjalan lancar dan tidak sampai menimbulkan keresahan.
Kalau Harus Voting, Golkar Ingin Voting Terbuka
Akhir cerita penyelidikan skandal bank Century di Pansus Century akan diputuskan di Rapat Paripurna DPR pada 2-3 Maret 2010. Partai Golkar terang-terangan menginginkan tidak ada voting dalam mengambil keputusan. Namun, kalau harus voting, Golkar ingin dilakukan secara terbuka.
“Tentu kita menginginkan jika harus dengan voting maka voting harus terbuka,” ujar Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso disela-sela Rakernas I Partai Golkar di Hotel Mercure, Taman Impian Jaya Ancol, Jumat (26/2).
Menurut Priyo, tidak ada alasan bagi paripurna untuk mengambil keputusan atau voting secara tertutup. “Tertutupkan biasanya hanya untuk memilih orang, kalau ini kan tidak untuk memilih orang jadi harus terbuka,” kilah wakil ketua DPR ini.
Senada dengan Priyo, hal senada juga diungkapkan oleh anggota Pansus Century dari fraksi Partai Golkar Bambang Soesatyo. Menurut Bambang, voting tertutup cenderung dekat dengan politik uang. “Kenapa harus tertutup? Justru di sana biasa terjadi manuver-manuver yang mengarah pada money politik. Seharusnya terbuka,” tambah Bambang.
Paripurna penetapan pansus Century sendiri diprediksi akan berlangsung secara alot. Hal ini bisa dilihat dari sikap-sikap fraksi yang masih mempertahankan pendapatnya masing mengenai Skandal Century.
Antisipasi Voting, Anggota Fraksi Golkar Siaga di Jakarta
Tak mau kecolongan di rapat paripurna jika dilakukan voting, Partai Golkar akan kerahkan seluruh anggota fraksinya. Seluruh anggota DPR dari fraksi Golkar tak boleh absen pada tanggal 2 dan 3 Maret saat digelar pengambilan keputusan soal hasil akhir Pansus Century.
“Kita sudah perintahkan ke seluruh anggota DPR dari Fraksi Golkar pada tanggal 2 dan 3 agar tidak meninggalkan ibukota,” ujar Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso usai pembukaan Rakernas Partai Golkar di Hotel Mercure, Taman Impian Jaya Ancol, Jumat (26/2).
Menurut Priyo, hal tersebut perlu dilakukan untuk mengantisipasi paripurna menemukan jalan buntu dan terpaksa diselesaikan lewat voting.
“Mereka harus hadir baik secara absensi maupun fisik dalam paripurna mendatang karena itu sangat penting untuk antisipasi tentunya,” tambah Wakil DPR ini.
Selain melakukan penggalangan di internal partai, Priyo juga mengaku jika pendekatan dengan partai lain juga terus dilakukan partai berlambang pohon beringin ini.
“Tentu, pendekatan dan komunikasi dengan fraksi lain masih terus berjalan. Kita tetap menjalin komunikasi dengan baik,” jawab wakil ketua DPR ini diplomatis.
Digempur Lobi Utusan SBY, Golkar Janji Tetap Pada Sikapnya
Lobi-lobi terus dilancarkan oleh Partai Demokrat terhadap partai lainnya agar satu pandangan dalam Kasus Bank Century, termasuk ke Partai Golkar. Lalu bagaimana Golkar bersikap?
“Kita punya pendirian yang kami yakini kebenarannya. Insya Allah tetap akan kita pertahankan substansinya,” tegas Ketua DPP Golkar Priyo Budi Santoso.
Hal itu disampaikan dia di sela-sela Rakernas Golkar 2010 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (27/2).
Lobi-lobi terkait Pansus Century terhadap kubu beringin gencar dilakukan oleh Partai Demokrat. Setidaknya ada Priyo Budi Santoso dan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tandjung yang ditemui utusan Presiden SBY, Andi Arief dan Velix Wanggai, pada minggu ini.
Dalam pandangan akhirnya, Fraksi Partai Golkar menepati janjinya untuk tetap kritis. FPG menyebut banyak nama-nama yang dianggap bertanggung jawab dalam kasus Bank Century. Mulai dari pemilik Bank CIC, manajemen Bank Century yang lama maupun yang baru, Pejabat BI dalam periode proses penyelamatan Bank Century hingga nasabah Bank Century yang turut menikmati uang penyelamatan itu.
Akbar Bantah 2 Staf SBY Datang Minta Golkar Ubah Sikap
Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung mengaku kedatangan dua staf Presiden SBY ke kediamannya tidak terkait permintaan agar partainya melunak dalam kasus Bank Century. Pertemuan itu hanyalah antar senior dan junior saja, sebagai sama-sama mantan aktivis pemuda.
“Kalau lobi yang mengarah ke perubahan sikap Golkar enggak ada,” kata Akbar saat ditemui wartawan di sela-sela Musyawarah Nasional Golkar 2010 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (27/2).
Justru pada saat itu, lanjutnya, ia memberitahu bahwa sikap Golkar mengenai adanya pejabat negara yang bertanggungjawab dalam bailout Bank Century tidak akan berubah. Meski ada beberapa hal yang diperbaiki, namun substansinya tetap tidak berbeda.
“Mungkin perubahan dari segi rumusan-rumusan, kalimat, atau redaksi tapi tidak mengubah substansi,” jelasnya.
Menurut Akbar, Andi Arief dan Velix Wanggai, dua staf SBY itu, datang dalam kapasitas sebagai juniornya. Hanya saja, pertemuan memang bertepatan dengan memanasnya suhu politik menjelang selesainya kerja Pansus Hak Angket Bank Century.
“Kita bicara biasa-biasa saja. Mereka adalah orang-orang yang di dalam pergerakan lebih junor. Saat menjadi staf khusus saya juga mengucapkan selamat. Saya tekankan agar betul-betul melaksanakan tugas yang baik untuk membantu presiden dan kesempatan untuk lebih menunjukkan dedikasinya kepada presiden,” tandas pria yang juga pernah menjadi Ketua DPR RI ini.
Apakah ada salam dari SBY? “Saya yang sampaikan salam untuk presiden, salam hormat kepada beliau,” pungkasnya.
Golkar Tak Hiraukan Petinggi PD Selain SBY
Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengaku partainya tak menghiraukan statemen Sekjen Partai Demokrat (PD) Amir Syamsuddin yang mengancam akan mengeluarkan Partai Golkar dari koalisi. Menurut Priyo, Partai Golkar hanya menghiraukan pernyataan Ketua Dewan Pembina PD, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
“Kalau cuma statemen petinggi partai seperti yang tadi saya dengar kami tidak bergeming sedikit pun, kecuali dari pak SBY,” ujar Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso usai pembukaan Rakernas I Partai Golkar di Hotel Mercure, Taman Impian Jaya Ancol, Jumat (26/2).
Meski demikian, Priyo mengaku jika sampai detik ini Presiden SBY belum menyatakan jika Partai Golkar resmi dikeluarkan dari koalisi. “Kita belum dengar dari Pak SBY, tapi jika kami dikeluarkan dari koalisi oleh Pak SBY kami juga tidak takut,” tambah Priyo.
Soal penyebutan nama yang dilakukan oleh Fraksi Partai Golkar dalam kesimpulan akhir Pansus bukanlah bentuk pelanggaran dalam koalisi dengan partai pemerintah. Menurutnya, partai pemerintah seharusnya mendukung sikap Golkar yang berani menyebutkan nama tersebut.
“Mestinya mau kalau berniat baik mendukung penyebutan nama dong,” pungkas pria yang menjabat wakil ketua DPR ini.
Tak Gubris Statemen Agitatif PD, Golkar Lebih Percaya SBY
Partai Golkar menilai beberapa pernyataan politisi Partai Demokrat (PD) dalam kasus Bank Century akhir-akhir ini terlalu agitatif. Namun, Golkar enggan menanggapi dan memilih lebih percaya kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
“Kami tidak akan menanggapi pernyataan-pernyataan yang sedikit agak agitatif dari beberapa petinggi Demokrat. Kami berkesimpulan sementara kami abaikan saja. Kami hanya perhatikan betul kalau langsung dari Presiden,” kata Ketua DPP Golkar Priyo Budi Santoso.
Hal itu disampaikan dia di sela-sela Rakor Nasional Golkar 2010 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (27/2).
Priyo menyambut baik niat SBY untuk menyampaikan pidato khusus terkait kasus Bank Century. “Kita akan hargai, karena tentu beliau mempunyai pertimbangan-pertimbangan tersendiri mengenai masalah ini,” cetus Priyo yang juga Wakil Ketua DPR RI ini.
Menurutnya, belum tentu apa yang disampaikan Sekjen PD saat ini sebagai contoh mencerminkan suasana batin SBY. Dan hingga hari ini, lanjutnya, Golkar tidak berubah pikiran sedikit pun kepada SBY.
“Kami sampaikan rasa penghormatan kami terhadap kepemimpinan beliau dan kami tidak akan berubah pikiran sedikitpun,” jelas dia.
Priyo juga optimistis, SBY tidak akan melakukan reshuffle kabinet hanya karena perbedaan pandangan dalam kasus Bank Century. “Golkar yakin tidak ada reshuffle karena hanya ada perbedaan ini,” pungkasnya.
Golkar Cuma Beda di Pansus Century, Lainnya Sama dengan Pemerintah
Partai Golkar sebagai partai koalisi sah-sah saja berbeda pendapat dalam kasus Bank Century. Namun dalam isu-isu lain Golkar tidak berseberangan dan tetap akan menjadi mitra pemerintah.
“Itu kan bukan the only issue dalam kehidupan bernegara. Dalam isu lain kita tetap sependapat dengan pemerintah, sejalan dengan Partai Demokrat,” kata Waketum DPP Golkar Theo L Sambuaga di sela-sela Musyawarah Nasional Golkar 2010 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (27/2).
Menurut mantan ketua Komisi I DPR 2004-2009 itu, kesimpulan akhir FPG dalam kasus Century berdasarkan pada niat untuk mengungkap kebenaran. Sikap tersebut tidak akan berubah hingga nanti di sidang paripurna DPR.
“Itu kan yang ditemukan oleh teman-teman Fraksi Golkar di DPR. Itu yang akan dicerminkan dalam paripurna,” jelas dia.
Kendati demikian Theo menganggap wajar adanya lobi-lobi dari pemerintah belakangan ini kepada Golkar. “Itu upaya yang wajar dari pemerintah atau parpol pendukung pemerintah untuk menyamakan persepsi. Tapi masing-masing sudah mempunyai sikap,” ujar Theo yang digadang-gadang menjadi Calon Gubernur Sulawesi Utara itu.
Sebelumnya dalam pandangan akhir FPG menyebut nama-nama yang bertanggung jawab terhadap terjadinya bailout Bank Century, antara lain mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono dan mantan ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) Sri Mulyani.(SP/detikcom/o/d) http://hariansib.com/?p=113485

Ps: Nih ngambilnya kalo kalian boleh tau adalah dari dalem bus mayasari bhakti 77 jurusan cimone-senen. Kebetulan pas busnya lewat, nih demo masih berlangsung. Agak was-was juga sih ngambilnya. Takut dimarain polisi ama peserta demo. Kasian nyawa saya lah melayang gara-gara ada yang ga suka diambil gambarnya. Hehehehe......

Oh yah, banyak juga koq penumpang bus yang sama seperti saya yang pada norak ambil gambar demonstrasi. Hihihi,....
-Kaya belon pernah liat demo aja?-

2 comments:

  1. Beginilah jadi blogger. Setiap ada kejadian, selalu aja tanpa sadar mulai jeprat jepret kamera. Hehehe.

    Anyway, makasih sudah berkunjung ke blog saya :)

    ReplyDelete
  2. iya juga sih,,...... hahahaha..... yah inilah resikonya jadi blogger. Yang namanya kamera, entah kamera hape,atau apalah harus siap di tangan. Hahahahaha.....

    thank' s yah udah mau repot-repot ke blog gw.....

    ReplyDelete

Pembaca yang baik adalah yang sudi mau meninggalkan komentar. ^_^
Nice reader is the one who will leave lot of words in the comment box. ^_^